Hari - hari Safira terlewati dengan begitu cepat. Meski lebih banyak diisi dengan belajar dan bekerja karena gadis cantik itu ingin mencapai targetnya dengan segera. Namun tak membuat Safira menyesal. Sebab perjuangan kerasnya telah mencapai puncak.
Saat ini gadis cantik itu sudah menunggu kedatangan orang tuanya di bandara. Setelah menempuh beberapa bulan untuk menyelesaikan penelitiannya, lusa, putri semata wayang Risa dan Rendy akan melaksanakan graduation dengan gelar yang sama seperti sang ayah.
"Kakak~~"
Pekik duo bocil kesayangan Safira ketika melihat sang kakak melambaikan tangan ke arah mereka.
"Kangen banget sama kalian." lirih Safira saat kedua adiknya berada dalam pelukannya.
"Kay juga kangen sama kakak." cicit si bungsu yang matanya sudah berkaca - kaca.
Safira mengurai pelukan keduanya. Tangannya terulur mengusap air mata yang telah membasahi pipi Sean. "Kok Abang nangis, sih ?"
Skye melirik kearah Sean yang sejak tadi diam saja. "Padahal tadi Abang yang bilang ke Kay gak boleh nangis. Kenapa sekarang malah Abang yang nangis ?" cibirnya pelan.
"Salahin air matanya yang minta keluar seenaknya." celetuk Sean membuat Safira tertawa pelan.
Gadis cantik itu beralih pada kedua orang tuanya. "Mama sama Papa Andra gak ikut ?"
Risa tersenyum sambil menggelengkan kepalanya pelan. "Shafiq lagi sakit. Mama Mira juga lagi kurang fit. Kecapekan karena sering ikut Papa Andra ke tempat kerja."
"Opa capek, ya ?" tanya Safira saat melihat wajah lelah kakeknya.
Rino tersenyum simpul. "Efek umur. Ternyata Opa udah gak muda lagi."
"Yaudah, kalo gitu langsung ke hotel aja. Biar Opa sama Oma bisa langsung istirahat." ajak Safira sambil mengambil alih koper milik kakek neneknya.
"Gak ada salju, ya, Kak ?" tanya Sean saat mereka sudah di dalam taxi.
"Ini udah musim semi, Bang. Saljunya udah meleleh." sahut Skye yang terus menatap keluar jendela.
"Kok Kakak gak wisuda pas musim salju aja, sih ? Abang 'kan ikut karena pengen liat salju." protes Sean dengan wajah kesalnya.
"Kalo pas musim dingin, yang ada kita sakit pas sampek sini. Tubuh kita belum terbiasa sama cuaca dingin disini."
Lagi - lagi si kecil Skye yang menyahuti ucapan Sean. Kegemarannya terhadap buku membuat bocah empat tahun itu mampu mengetahui banyak hal. Bahkan tahun ini ia sudah duduk di bangku sekolah dasar. Di kelas yang sama dengan Sean. Tentunya setelah melewati beberapa tes wawasan.
"Nanti kalo udah besar Abang mau sekolah disini juga. Biar bisa ngerasain musim dingin." celetuk Sean seraya tersenyum lebar.
"Belajar yang rajin. Jangan main game mulu."
Sean menatap sengit kearah adik laki - lakinya. "Ngejawab mulu kayak aunty google." gerutunya.
Skye hanya mengendikkan bahunya acuh. Membuat Safira yang sejak tadi memperhatikan kedua adiknya tertawa pelan seraya menggelengkan kepala.
"Udah, ih, berdebatnya. Nanti kesel trus malah makin capek. Mending nikmati aja dulu perjalanan ini. Berkhayalnya nanti kalo udah mau tidur. Biar langsung kebawa mimpi." ucap Risa melerai kedua putranya.
Sean yang berada duduk di sisi kanan sang ibu lantas memalingkan wajahnya keluar jendela. Wajahnya yang tadi kesal mendadak berubah senang saat melihat bangunan tinggi nan mewah.
***
Hari kelulusan Safira pun tiba. Gadis cantik itu memakai kebaya putu warna pink muda dipadukan dengan rok batik yang melilit pas di tubuhnya. Wajahnya tampak anggun dengan make up tipis hasil karyanya sendiri.
Safira menjadi lulusan termuda dan tercepat untuk angkatannya. Jangan lupakan nilainya yang nyaris sempurna. Bahkan pihak kampusnya pun telah menawarkan bea siswa untuk study lanjutnya. Namun sepertinya gadis cantik itu lebih memilih untuk rehat dan pulang ke kampung halamannya.
"Selamat, ya, Sayang. Oma bangga sama kamu." ucap Diana seraya memeluk erat cucu perempuan kesayangannya.
"Makasih Oma."
Lalu pandangannya beralih pada pri di sebelah Diana. "Hallo sugar daddy. Fia tunggu hadiahnya." ucapnya seraya tertawa pelan.
"Haa. Sugar baby-nya Opa. Perasaan baru kemarin Opa anter kamu pakek seragam putih merah. Sekarang malah udah wisuda aja." ucap Rino membalas cucu kesayangannya. "Pasti Yangkung kamu bangga melihat pencapaian cucu wedok satu - satunya. Sayang sekali dia tak bisa ikut."
Safira tersenyum simpul. "Kesehatan Uti lebih penting, Opa. Nanti setelah kita pulang, kita rayain sama - sama di warung Uti, ya."
Rino mengangguk. Mana pernah bisa ia menolak permintaan cucu kesayangannya itu.
Safira lalu beralih kepada kedua orang tuanya. Sama seperti Rino dan Diana, Rendy dan Risa juga mengucapkan selamat atas keberhasilan putri semata wayang mereka.
"Gelar kita sekarang sama, Pa. Walau dalam bahasa yang berbeda." ucap Safira diiringi tawa. "Maunya, sih ikutin Bunda. Tapi profesi Papa lebih menantang."
Risa tertawa pelan mendengar penuturan putri sulungnya. Gadis cantik itu memang sangat mengidolakan ayah sambungnya yang berprofesi sebagai pengacara.
"Nanti kamu masih bisa lanjut kuliah lagi kalo mau dapet gelar yang sama kayak Bunda." sahut Rendy seraya merangkul pundak sang istri.
"Kakak~"
Pekik duo bocil yang sedari tadi belum mendapat pelukan oleh sang kakak.
"Happy graduation, sister." ucap Sean sambil menyodorkan setangkai bunga mawar merah yang ia ambil dari salah satu bucket milik Ayahnya saat masih berada di hotel.
"Manis banget Abang Sean. Makasih, sayang" ucap Safira yang telah menerima bunga tersebut.
"Kay juga punya bunga buat kakak." ucap adik bungsu Safira tak mau kalah. Lalu tangan mungil itu menyerahkan tabung transparan yang didalamnya terisi air dan setangkai bunga aster warna putih. Itu sengaja ia siapkan dari rumah dan tentunya diambil dari salah satu tanaman milik Oma Diana.
"Cantik banget." puji Safira sambil menerima hadiah kecil dari si bungsu.
"Itu bukannya bunga yang ada di kebun Oma ?" tanya Rendy memastikan.
Skye menganggukkan kepalanya. "Kay udah minta sama Oma, kok."
"Kreatif banget anak bocil satu ini." ucap Rino pelan karena takut Sean merasa kecil hati.
"Bunganya kayak kak Fia. Cantik. Malah lebih cantik Kak Fia." ucap Sean memuji sang kakak.
"Pasti kalo Abang Bima liat, dia langsung melongo liat Kak Fia." celetuk Skye membuat Safira membulatkan matanya.
"Tenang aja, Kak. Opa sama Papa udah jinak sama Abang Bima. Berkat Bang Sakha." bisik Sean pelan sambil menaik turunkan alisnya.
Safira menghela nafas pelan. Duo bocil kesayangannya itu sudah berhasil membuat jantungnya berdegup kencang karena membahas Bima.
Gadis cantik itu melirik sekilas pada sang ayah dan kakeknya yang tampak berbicara dengan seorang fotografer yang memang sudah mereka sewa jasanya. Lalu atensinya teralihkan pada seseorang yang tengah mendekat kearah mereka.
Sementara orang yang tengah mendekat pada keluarga bahagia itu tampak melambaikan tangannya seraya berlari kecil. Di tangannya terdapat bucket bunga lily putih.
Orang lantas langsung memeluk Safira erat dan tentu saja tindakannya membuat duo bocil bahkan orang tua dan kakek nenek Safira membelalakkan mata mereka.
"Happy graduation my beauty angel"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 67 Episodes
Comments