Manusia memang hanya bisa berencana dan berusaha. Selebihnya ada takdir yang menentukan.
Rencana yang sudah Safira susun untuk memulai kebahagiaannya bersama ayah kandungnya ternyata hanya sebuah wacana. Pria yang selalu memiliki tempat dihati Safira nyatanya kembali memberi luka pada gadis cantik itu.
Rendy masih membiarkan putri sambungnya menangis dalam pelukannya. Tangannya masih setia mengusap lembut pucuk kepala Safira.
"Fia boleh marah, boleh nangis sepuasnya. Tapi Fia harus inget. Fia itu jagoan Papa yang kuat dan tangguh kayak Bunda. Fia gak boleh larut dalam kesedihan. Buat batasan untuk rasa sedih ataupun kecewa Fia. Supaya setelah rasa itu mencapai batasnya Fia bisa bangkit lagi menjadi yang lebih baik. Tunjukkan ke siapapun kalo Fia bukan orang lemah yang bergantung pada sesuatu atau seseorang."
Penjelasan panjang lebar dari pria yang telah menemaninya sejak kecil membuat gadis itu menghentikan tangisnya, meski masih terisa isakan. Gadis itu mengurai pelukan tersebut. Ia menatap ayah sambungnya yang tampak mengulas senyum hangat padanya.
"Harusnya sejak awal yang jadi suami Bunda itu Papa aja. Biar Fia gak perlu punya dua ayah. Cukup Papa aja."
Rendy tertawa pelan. Tangannya mengusap lembut pipi putri sambungnya yang basah oleh air mata. "Tapi Tuhan punya cara sendiri untuk mempertemukan kita. Cara yang sangat istimewa. Pernah denger 'kan kalo Papa yang selalu nemeni Bunda semasa hamil Fia dulu ?"
Safira mengangguk pelan seraya memulai senyum.
"Itu artinya sejak awal ayah Fia memang cuma satu. Yaitu Papa. Hanya saja status dimata hukum yang menjelaskan kalo Fia gak cuma punya Papa. Tapi juga punya Ayah Arya."
Gadis cantik itu semakin menyempurnakan senyumannya. Ayah sambungnya itu selalu punya cara untuk bisa menghiburnya. Tak hanya kata - kata, namun juga sikapnya mampu membuat hati Safira menghangat dan melambung tinggi.
"Jangan sedih lagi, ya. Udah cukup segitu aja. Sekarang waktunya bahagia."
"Makasih, Pa." ucap gadis cantik itu tulus. "Fia bahagia karna punya Papa yang selalu ngasih kebahagiaan gak cuma buat Fia. Tapi juga buat Bunda. Papa yang terbaik."
"Siapa dulu ?" ucap Rendy sambil menepuk dadanya bangga.
Tawa Safira pecah. Lelaki itu dengan narsisnya membanggakan kehebatan dirinya yang mampu mengukir kebahagiaan dalam hidup Safira.
***
"Wah... Kayaknya ada yang baru jadi sugar daddy, nih."
Kalimat tersebut sontak mengalihkan atensi semua orang yang ada di ruang tengah. Begitu juga dengan dua orang yang baru saja masuk ingin bergabung.
"Opa pengen jadi sugar daddy juga ?" celetuk Sakha yang langsung menangkap sinyal cemburu dari sang kakek.
"Ya pengen lah. Opa udah nunggu buat antrian, nih." sahut Rino sambil melirik dua orang yang masing - masing tangannya penuh dengan paper bag.
"Wah, wah. Kayaknya ada yang lagi kirim sinyal kecemburuan, nih." ucap Diana sambil menahan tawanya.
Safira yang paham dengan situasi tersebut tersenyum. Ia lantas menyerahkan paper bag yang ada di tangannya pada sang ayah, dan langsung berjalan mendekati Rino. Gadis cantik itu langsung menjatuhkan tubuhnya di antara sepasang paruh baya yang masih tampak harmonis layaknya pasangan muda.
"Opa ganteng juga ternyata kalo lagi ngambek gini. Pengen Fia ajak kencan, deh." ucap gadis cantik itu yang selalu saja berhasil meluluhkan hati Rino.
Rendy yang mendengar putri sambungnya tengah membujuk pria yang tak lain adalah ayahnya mengulum senyum. Ia lantas berjalan mendekati sang istri yang duduk di single sofa. Mengecup pelipis wanita yang dicintanya sekilas saat atensi semua orang sedang teralihkan.
"Pengen ngambek biar dibujuk - bujuk. E... ini hati murah banget. Baru juga dibilang ganteng, udah langsung meleleh aja." ucap Rino yang disambut tawa oleh semua orang.
"Lagian Opa apaan coba, pakek ngambek - ngambek segala. Kayak anak ABG yang lagi puber aja." ujar Sakha mencibir.
"Lah. Biar panggilannya Opa, tapi jiwa harus tetap muda. Gini - gini masih cocok, kok dipanggil 'Mas'." sahut Rino yang tak mau kalah.
"Iya masih cocok. Kalo yang manggilnya seumuran sama Oma." sambung Sakha yang kembali disambut tawa oleh yang lain.
"Yang penting masih cocok 'kan ?"
"Iya, deh, iya. Dari pada ngambek." ucap Sakha mengalah.
"Jadi gimana, Fi ? Besok mau 'kan jadi sugar baby-nya Opa ?" tawar Rino sambil menaik turunkan alisnya.
Safira meletakkan jari telunjuknya ke dagu. Seolah tengah berpikir. "Gimana, ya ?"
Rino sedikit menjauhkan tubuhnya untuk menatap cucu perempuan satu - satunya itu. "Di serobot orang lagi antrian Opa ?" tanyanya sinis.
Gadis cantik itu tertawa pelan. Kepalanya langsung menggeleng pelan. "Enggak, kok, Opa. Tenang aja. Besok waktu Fia seharian full buat Opa. Siapin dompet yang tebel sama jangan lupa bawa kartu debit yang ada saldonya. Biar Fia kuras abis isinya." ucapnya lalu mengerlingkan sebelah matanya.
"Gampang itu, mah." ucap Rino sombong. Lalu pandangannya beralih pada wanita disebelah Safira. "Sayang, besok Mas jadi sugar daddy dulu, ya. Kamu juga boleh sewa Sakha jadi berondong. Nanti Mas bekali kartu debit yang no limit."
"Nah... Kalo itu Sakha setuju. Ayo Oma. Jadi sugar Mommy-nya Sakha. Jadiin Sakha berondong sehari aja. Biar Sakha bisa kuras isi kartu debit Opa yang sombong itu." ucap Sakha yang selalu berhasil menciptakan tawa diantara mereka.
"Seneng banget liat Fira bahagia." ucap Risa pelan sambil menatap kearah putri semata wayangnya yang masih sibuk dengan ocehan sepupunya.
"Dia akan selalu bahagia kalo Bundanya juga bahagia." sahut Rendy sambil mengusap lembut pundak sang istri.
Risa mendongak untuk menatap wajah sang suami. "Makasih, ya, sayang. Karena selalu memikirkan kebahagiaan Fira."
"Fira itu putri sulungku. Putri semata wayangku yang akan selalu ku jaga kebahagiaannya. Sudah jadi tugasku menghapus semua dukanya tanpa kamu minta." ucap pria itu tulus.
Tatapan matanya sangat teduh hingga membuat Risa selalu bangga memiliki pria sepertinya.
Tangan Risa terulur membelai pipi suaminya. "Terima kasih." ucapnya tulus disertai senyum manisnya.
"Anytime, sweetheart."
"Om sama Bunda kalo mau mesra - mesraan, sok atuh. Dilanjut ke kamar aja. Mata Sakha agak tercemar dengan adegan layak sensor itu."
Ucap remaja laki - laki itu yang tentu saja berhasil mengalihkan atensi Rendy dan Risa.
Rendy menatap sinis keponakannya. "Sirik aja lo, bocil."
"Lah. Siapa yang sirik. 'Kan aku ngomong yang sebenernya Om. Umur aku belum layak liat adegan kayak tadi." sahut Sakha yang selalu tak ingin kalah dari Omnya.
Sementara Safira hanya memperhatikan interaksi mereka yang mampu membuat siapa saja mengulum senyum. Rasa sedih dan kecewa yang siang tadi ia rasakan kina telah hilang sempurna.
Ayah sambungnya itu benar. Rasa kecewa itu harus dijadikan sebagai pijakan untuk mencapai kebahagiaan yang lain. Tak perlu larut dalam kesedihan yang hanya akan membuatmu semakin terpuruk.
'Terima kasih, Tuhan karena telah menghadirkan pria seperti dia sebagai Papa untukku dan adik - adikku. Sebagai suami untuk Bunda. Aku bersyukur, Tuhan!'
Batin Safira saat matanya bersitatap dengan Rendy.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 67 Episodes
Comments