Chapture 17.

Safira mengerjapkan matanya perlahan. Meski terasa berat ia tetap memaksanya untuk tetap terbuka. Sebab ponselnya sudah berteriak membangunkannya sejak tadi.

Tangannya terulur meraba sisi ranjangnya, tempat dimana terakhir kali ia meletakkan benda pipih milik sejuta umat itu. Saat menemukannya, Safira langsung mendekatkan ke arah wajahnya.

"Udah pagi ternyata." ucapnya saat melihat jam di ponselnya.

Safira beranjak duduk dan langsung berjalan kearah kamar mandi setelah dirasa tubuhnya telah seimbang.

Tak sampai lima belas menit berada di kamar mandi, Safira telah keluar dengan handuk kimononya. Ia lantas berjalan ke arah lemari untuk mengambil pakaiannya dan langsung memakainya.

Setelah berpakaian, gadis cantik itu lantas menyiapkan sarapan untuknya. Sereal dan segelas cokelat panas.

"Gak pernah sedikit." gumamnya saat memeriksa ponselnya yang dipenuhi notifikasi.

Mata gadis itu sedikit membesar saat jemarinya tanpa sengaja membuka pesan dari Adit.

[Aditya : Fi, aku lagi di depan sekolah kamu. Kamu masih di kelas, ya ?]

Aditya tiga panggilan tak terjawab

[Aditya : Lama banget keluarnya ? Kamu ada les atau ekskul ?]

[Aditya : Tadi aku tanya sama salah satu siswi kelas dua belas, tapi kok gak ada yang kenal sama kamu, ya, Fi ? Malah ada yang bilang gak ada yang namanya Safira Mazayya di Harapan Bangsa. Apa kamu pindah sekolah ?]

Aditya tiga panggilan tak terjawab.

[Aditya : Fi, ayo, dong bales.]

Aditya lima panggilan tak terjawab.

Safira menghela nafas kasar. "Kenapa juga harus kesana ? Jelaslah gak ada yang kenal samaku, aku 'kan udah lama lulus." gerutunya lalu menyesap cokelat panasnya.

Lalu ia beralih lagi pada pesan lainnya. Orang kedua yang tak pernah absen menghubunginya.

Arsena dua panggilan tak terjawab.

[Arsena : Gimana sama tawaran aku tadi ? Kamu bisa 'kan temeni aku jalan malam ini ?]

[Arsena : Safira, kamu udah tidur, ya ?]

Arsena satu panggilan tak terjawab.

[Arsena : Kamu lagi telponan dengan siapa ? Kalo sudah selesai, tolong kabari aku, ya.]

Safira kembali menghela napas berat. Dua pria itu tak pernah bosan menghubunginya yang sama sekali tak merespon mereka dengan baik.

"Ayah bilang Arsena bukan adiknya. Tapi kenapa mereka bisa mirip ? Gak mungkin cuma kebetulan 'kan ?"

Gadis cantik itu menatap nanar sereal yang baru beberapa suap ia nikmati. Rasanya ia sudah tak berselera lagi menikmati sarapannya. Namun ia kembali teringat pesan ibu dan ayah sambungnya agar tetap menjaga kesehatannya.

"Kenapa kalo mengingat kalian berdua kepalaku jadi pusing ? Moodku jadi buruk." gerutunya lalu menyuap sarapannya dengan tak berselera.

Saat ia hendak membersihkan bekas sarapannya, ponsel yang ada diatas ranjang berdering. Safira melirik benda pipih itu sekilas, lalu kembali melanjutkan kegiatannya yang akan segera selesai. Setelahnya dengan segera tangan Safira meraih ponselnya sembari menggeser simbol hijau di layar.

"Hal..."

"Assalamualaikum, Cantiknya Abang Bima."

Senyum manis dari bibir Safira terbit saat mendengar suara lembut dari seberang sana. "Waalaikumsalam, Abang Bima yang jelek." sahutnya seraya terkekeh pelan.

"Ck. Gak bisa banget bikin orang seneng." gerutu orang diseberang sana yang langsung membuat tawa Safira kembali terdengar.

"Ketawa terosss."

"Lah, bukannya kamu seneng, ya kalo aku ketawa ? Kok sekarang suara kamu kedengaran gak seneng gitu, sih ?"

Goda Safira membuat si penelpon berdecak kesal.

"Iya, aku seneng liat kamu ketawa. Tapi bukan ngetawain aku juga, Fia. Itu namanya ngeledek."

"Tapi yang penting aku ketawa 'kan ?"

Tanya Safira masih terus menggoda pria yang menelponnya. Terdengar suara helaan nafas berat dari sana. Safira mengulum senyum agar tawanya tak kembali meledak.

"Iya, iya, aku seneng. Seneng banget malah kalo udah denger ketawa kamu. Tandanya kamu bahagia karena aku."

"Kalo aku bahagia karna kamu, kamu juga ikut bahagia gitu ?" tanya Safira.

"Iya, dong, pasti. Bahagiamu adalah bahagiaku. Meski kita belum bersatu. Assekk. Udah kayak pujangga aja gue 'kan. Hahahaaa"

Terdengar gelak tawa dari Bima yang ternyata menular pada Safira. Gadis cantik malah sudah kembali berbaring di atas ranjang karena menikmati suara pria tersebut.

"Eh, Fi. Disana udah pagi 'kan ? Kamu udah sarapan ? Pergi magang jam berapa ?"

Safira kembali mendudukkan tubuhnya. Ia melirik sekilas jam yang ada di atas meja belajarnya. "Aku udah sarapan, kok. Sebentar lagi aku bakal berangkat. Tapi bukan untuk magang, sih. Aku ambil kerja part time gitu. Cuma tiga jam tapi lumayan bisa nambah tabungan. Setelah itu aku baru ke tempat magang."

"Yang penting kamu inget buat istirahat. Jaga kesehatan. Pengalaman emang penting, tapi kesehatan jauh lebih penting."

Hati Safira menghangat. Entah kenapa pria itu selalu berhasil membuatnya senang dan nyaman meski hanya lewat perhatian kecil.

"Kamu udah kayak Papa sama Bunda kalo ngomong."

"Tapi kamu seneng 'kan ? Tau banget aku, mah. Sekarang pasti pipi kamu lagi merah terus bibir kamu lagi senyum. Hayo ngaku lo"

Sontak saja membuat Safira melunturkan senyumannya dan langsung beranjak mendekati cermin. Matanya membulat saat mendapati kedua pipinya yang memerah.

'Astaga, bener lagi.' rutuk Safira dalam hati saat apa yang dikatakan Bima terjadi padanya.

"Lagi liat cermin, ya ?"

Mata Safira kembali membulat saat mendengar ucapan Bima yang diiringi dengan tawa pria itu.

"Apaan, sih ? Udah, ah. Aku mau berangkat dulu. Takut telat. Bye."

"Assalamualaikum. Hati - hati di tempat kerja, ya, cantik."

Gadis itu tertegun sejenak, sebelum akhirnya sahutan salam lolos dari bibirnya. "Waalaikumsalam."

Safira masih memandangi layar ponselnya yang telah menghitam. Sedangkan di bibirnya masih tersemat senyum hangat yang terbit saat mendengar suara pria yang entah sejak kapan selalu ia rindukan.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!