Chapture 13.

Hampir setahun kepergian Safira kembali ke Amerika. Selama itu pula gadis cantik itu terus memfokuskan diri dengan pelajarannya. Ia membuat batas pencapaiannya selama enam bulan ke depan. Selama itu dia akan menyelesaikan study akhirnya.

["Kakak beneran gak pulang ? Itu 'kan ulang tahun kita."]

Rengek Sean saat kakaknya itu memberi tahu bahwa tahun ini tak akan kembali ke tanah air.

["Kakak tega buat kita sedih ?"]

Kali ini Skye ikut menimpali. Bocah yang tahun ini akan berulang tahun keempat itu tampak memasang wajah sedihnya.

"Maaf, ya, sayang. Kakak gak bisa pulang. Tapi kakak janji, enam bulan lagi kakak akan pulang dan menetap di rumah. Kakak gak akan pergi jauh lagi ninggalin kalian berdua. Tolong ngertiin kakak, ya." sahut Safira mencoba memberi pengertian kedua adiknya.

Dari layar ponselnya Safira dapat melihat mata kedua adiknya tengah berkaca - kaca. Bahkan Skye sudah beringsut kedalam pelukan sang ibu.

["Kay mau kakak, Bun~"]

Rengek bocah laki - laki itu dalam pelukan ibunya. Membuat tangis Sean yang ada disebelahnya ikut pecah. Kedua bocah tampan itu sudah tak lagi bisa membendung kerinduan mereka pada sang kakak.

["Loh, kok pada nangis jagoan Papa. Jangan sedih gitu, dong. Kasian kakak disana. Ayo, dong, boys. Cup, cup, cup. Jangan nangis lagi. Nanti kakak ikutan nangis."]

Itu adalah suara ayahnya yang tengah menenangkan kedua bocah laki - laki kesayangan Safira.

Sejujurnya gadis cantik itu juga tak sanggup menahan tangisnya. Namun melihat kedua adiknya yang sudah berderai air mata membuatnya harus bisa membendung muara yang siap tumpah itu.

["Kakak gak mau pulang pas ulang tahun kita, Pa."]

Rengek Skye mengurai pelukannya pada sang ibu dan langsung berpindah ke pelukan sang ayah.

["Iya, Pa. Kalo kakak gak pulang, Abang gak mau rayain ulang tahun. Kasian kakak disana, pasti rayain ulang tahun sendirian. Lebih baik gak usah rayain ulang tahun kalo kakak gak pulang. Biar adil."]

Sean ikut menimpali. Tangan mungilnya menghapus jejak air mata di pipinya.

"Kalian jangan nangis, dong. Nanti kakak juga ikutan nangis. Kalo kakak nangis siapa yang peluk kakak."

Ucap Safira yang langsung membuat Skye melepas pelukannya dari sang ayah. Bocah yang belum genap empat tahun itu lantas berhenti menangis dan menghapus air matanya. Diikuti Sean yang sudah mengatupkan bibirnya menahan isakan.

["Kay gak nangis lagi, Kak. Kakak jangan nangis, ya. Maafin Kay, ya, Kak udah bikin kakak sedih."]

["Abang juga udah gak nangis lagi. Kakak jangan sedih, ya. Abang sama Adek nanti gak bisa peluk kakak kalo kakak sedih. Maafin Abang ya masih cingeng, ya, Kak"]

Kalimat yang keluar dari mulut kedua bocil itu membuat Safira tertawa pelan. Dari sudut matanya lolos kristal bening yang berhasil tertangkap netra cokelat milik Skye.

["Kok Kakak tetep nangis ? Kay 'kan udah gak nangis, Kak. Abang juga udah gak nangis."]

Bibir Skye sudah bergetar dan siap menangis. Namun sahutan dari Safira berhasil membuat dua adik laki - lakinya menerbitkan senyuman.

"Kakak gak nangis, sayang. Kakak terharu sama kalian. Kakak bangga punya adik - adik kayak kalian yang sayang dan pengertian banget sama kakak. Maafin kakak, ya kalo tahun ini kita gak ngerayain ulang tahun. Tapi kakak janji, setelah ini setiap tahun kita akan rayain ulang tahun kita sama - sama lagi. Kayak tahun - tahun kemarin."

Ucap Safira yang tentu saja membuat dua bocah laki - laki itu melupakan kesedihan mereka. Safira terus mengajak kedua adiknya bercerita, hingga keduanya memutuskan untuk beristirahat karena memang sudah waktunya tidur.

["Berapa lama lagi Fia selesai magang ?]

Tanya Rendy setelah istrinya mengantar kedua anaknya ke kamar masing - masing.

"Dua minggu lagi, Pa. Setelah itu Fia langsung fokus sama skripsi Fia. Insya Allah Fia tiga atau empat bulan setelahnya Fia langsung sidang. Supaya bisa langsung daftar wisuda untuk tahun ini."

Dari layar ponselnya Safira dapat melihat jika sang ayah tengah tersenyum seraya menganggukkan kepalanya.

["Kakak semangat belajarnya, ya. Hati - hati di tempat magang. Selalu dengarkan setiap nasehat baik dari para senior. Ambil setiap ilmu yang mereka berikan. Supaya kelak bisa Kakak terapkan dimanapun kakak ditempatkan bekerja."]

Safira mengangguk menanggapi nasehat sang ayah.

["Satu lagi, dan yang paling penting. Selalu ingat dan minta pada Allah untuk dipermudahkan segala urusan kakak. Papa sama Bunda akan selalu mendoakan yang terbaik buat Kakak."]

"Makasih, Pa. Fia akan selalu inget pesan Papa. Sekarang Papa istirahat, ya. Supaya Bunda juga bisa istirahat. Fia juga udah mau mulai kerja lagi. Papa jaga kesehatan, ya. Jaga Bunda juga."

Ucapnya sebelum mengakhir panggilan video mereka.

Safira menghela nafas pelan saat melihat layar ponselnya telah kembali ke halaman utama. Ia mencoba memaksakan senyumannya meski hatinya pilu menahan rindu.

"Safira ?"

Gadis cantik itu menegakkan tubuhnya saat mendengar suara yang sangat familier di telinganya. Ia menoleh ke kanan dan langsung mendapati sosok pria yang beberapa bulan ini tengah gencar mendekatinya.

"Kebetulan sekali, ya kita ketemu disini. Kamu baru pesan juga ?" tanya pria itu sambil duduk di kursi kosong yang ada dihadapan Safira.

Gadis itu mengangguk pelan seraya tersenyum tipis. Tak ada kata yang keluar dari bibir mungil gadis cantik itu.

"Oh, iya. Malam ini kamu ada acara ? Mau ikut jalan - jalan dengan saya ?" tanga Arsena sambil menatap lekat wajah cantik gadis dihadapannya. "Saya harap kali ini kami bisa. Mengingat sudah lama sekali kita tidak keluar bersama."

Ya. Beberapa kali memang Safira selalu menyetujui ajakan Arsena, meski lebih sering menolaknya. Safira melakukan itu semata - mata ingin menjaga jarak agar pria itu tak mengharap lebih padanya.

"Saya usahakan, Pak." sahut Safira

"Ck. C'mon, Fira. Sudah berapa kali saya bilang, jangan panggil saya Pak. Memangnya setua itu saya dimata kamu ?"

Safira menggeleng ragu. "Maaf, Pak."

"Panggil saya 'Mas'. Saya pikir itu lebih cocok dengan usia dan wajah saya." ucap Arsena dengan senyum yang merekah dibibirnya.

'Mas ? Bahkan aku mungkin seharusnya manggil dia Om.' ucap Safira membatin.

"Tolong dibiasakan, ya, Fia. Saya cuma gak mau aja orang - orang mikirnya saya sudah setua itu. Padahal 'kan saya baru dua puluh delapan tahun."

'Padahal aku gak nanya.' batin Safira lagi.

"Oiya, Safira. Bentar lagi kamu ulang tahun 'kan ? Gimana kalo kita bikin acara kecil - kecilan untuk merayakannya. Undang temen terdekat kamu untuk ikut merayakannya. Saya yang akan urus tempatnya."

Tawaran tersebut tentu saja membuat Safira terdiam. Jika Arsena mengatakan demikian sudah pasti pria itu yang akan mengeluarkan uang untuk acara tersebut. Safira sangat yakin dengan hal itu mengingat betapa loyalnya pria itu terhadapnya.

"Gimana Safira ?"

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!