Chapture 11.

Waktu bergulir begitu cepat. Rasa - rasanya baru kemarin Safira menginjakkan kakinya ke rumah itu, tapi sekarang dia harus kembali meninggalkan rumah itu demi melanjut pendidikannya.

Dan disinilah mereka sekarang. Bandara. Mengantarkan princess kesayangan mereka dengan iringan haru biru.

"Jaga kesehatan, ya, sayang. Inget makan tepat waktu. Luangkan waktu sekecil apapun untuk istirahat. Dan jangan lupa bersyukur. Bunda akan selalu tunggu kabar Fira. Sesingkat apapun itu. Doa Bunda selalu menyertai Kakak."

Ucap Risa seraya menahan sesak karena harus kembali berpisah dengan putri semata wayangnya. Mata wanita itu telah berembun dengan bibirnya yang bergetar menahan tangis.

Safira mengulas senyum manisnya. Senyum yang membuat dirinya semakin mirip dengan sang ibu. "Bunda tenang aja. Fia akan selalu inget pesen Bunda. Fia akan belajar giat supaya Fia bisa cepet pulang kesini dan berkumpul sama kalian semua."

Risa merengkuh tubuh putrinya yang tingginya kini telah melebihi dirinya. Putrinya itu, entah sejak kapan ia menyadari jika putri yang ia rawat seorang diri kini telah beranjak dewasa.

"Udah, dong, pelukannya. Mama Mira juga pengen peluk anak gadis Mama. Gantian dong." ucap Mira yang merusak suasana antara ibu dan anak tersebut.

"Mama seneng bener, deh, Pa ngerusak suasana. Bunda 'kan lagi nikmati moment sama Kak Fia." ucap Sakha pelan pada sang ayah.

"Papa pengen larang, tapi takut kalo Mamamu ngambek. Tau sendiri 'kan gimana Mama kamu itu." sahut Andra yang juga ikut memelankan suaranya.

Kedua orang tua Sakha menyempatkan diri untuk ikut mengantar kesayangan mereka karena memang kedua orang itulah yang paling sedikit menghabiskan waktu dengan Safira.

"Tantrumnya bakal ngelebih Shafiq. Gak sanggup ngadepinnya." sambung Sakha membenarkan ucapan sang ayah.

Risa mengurai pelukannya pada putri semata wayangnya. Ia membingkai wajah cantik milik putrinya. "Semangat LDRannya, kakak!" ucapnya diiringi tawa.

Gadis cantik itu beralih menatap Mira yang sudah mencebikkan bibir bawahnya, siapa untuk menangis. "Mama... Fia bakal kangen banget sama Mama." ucapnya sambil memeluk erat ibu dari Sakha.

"Mama juga bakal kangen, sayang. Apalagi kita gak banyak ngabisin waktu bersama." sesal wanita itu yang akhir - akhir ini mulai sibuk menemani sang suami.

"Nanti Mama harus luangkan waktu buat vidcall Fia. Biar bisa ngurangi rasa kangen." ucap gadis itu seraya mengurai pelukannya.

Setelah Safira memeluk satu persatu anggota keluarganya yang ikut mengantar. Minus Manda yang tengah pulang ke kampung halaman Alfin, sang suami.

Pelukan terakhir Safira berikan pada pria yang telah menemani harinya sejak ia kecil. Memberikan kebahagian dalam hidupnya yang selalu merindukan kasih sayang sosok ayah.

"Jaga Bunda, ya, Pa. Jangan biarin Bunda sedih karena jauh dari Fia."

"Itu udah tugas Papa, sayang. Fia juga harus jaga diri disana. Inget semua pesen Bunda, kesehatan lebih penting saat kita jauh dari keluarga." ucap pria itu sambil mengusap lembut punggung putrinya.

"Jangan pernah benci Ayah Arya, ya. Kecewa boleh, tapi jangan biarkan amarah menguasai dan berujung benci. Biar bagaimanapun Fia ada didunia ini karena Ayah Arya. Kalo bukan karna Ayah Arya, Papa gak akan mungkin bisa ketemu dan memiliki jagoan cantik seperti Fia."

Safira semakin mengeratkan pelukannya pada sang ayah. Pria itu, meski tak ada darahnya yang mengalir ditubuhnya namun ia bisa mengerti Safira dengan sangat baik.

"Fia akan coba, Pa." jawabnya singkat.

Rendy mengecup lembut pucuk kepala putri sambungnya. Lalu setelah mengurai pelukan mereka. Tangan besarnya membingkai wajah sang putri yang semakin lama terlihat seperti dirinya.

Safira mengedarkan pandangannya pada semua anggota keluarga seraya tersenyum. "Fia berangkat, ya. Jangan rindu."

"Karena rindu berat. Cuma Dylan yang bisa nanggungnya." sahut Sakha dengan memaksa senyumnya.

Safira melambaikan tangannya sambil berjalan mundur dengan sebelah tangan menggeret koper sedang miliknya.

"Hati - hati, Kak Fi."

Ucap Sean, Shafiq, Shamir dan Skye bersamaan.

Empat bocil tampan itu sudah banjir air mata meski tak ada isak tangis.

Gadis cantik itu terus melambaikan tangannya. Setelah beberapa saat barulah Safira berbalik dan langsung menuju pintu penerbangannya.

***

Safira duduk manis di kursinya. Matanya masih menatap keluar jendela meski dari sana ia juga tak bisa melihat keberadaan keluarganya. Bibirnya terus mengukir senyuman seolah seluruh keluarganya tengah melihatnya.

"Doa kalian selalu menyertai Fia. Begitu juga dengan doa Fia yang selalu menyertakan kalian." gumam gadis itu pelan.

Ponsel dalam saku hoodie-nya bergetar. Sepertinya ia lupa belum menukar mode ponselnya. Tanpa menunda gadis cantik itu langsung mengeluarkan bend sejuta umat itu.

Sudut bibirnya melengkung keatas dengan kelopak mata yang ikut menyipit saat mendapati sebuah notifikasi yang muncul dilayar ponselnya.

[Abimanyu : Adek jahat banget sama Abang Bima. Balik ke Amrik gak pakek pamitan. Ketemu baru bentar, udah ditinggal lagi. Sedih amat nasib Abang, dek. :(]

Safira bahkan telah tertawa membaca isi pesan dari Bima. Pria itu selalu saja begitu. Alay.

[Safira : Gak usah lebay. Jatuhnya jadi playing victim. Bilang ketemu baru bentar, tapi setiap aku ajak ketemuan selalu banyak alesan. Dasar cowok...]

Gadis itu sengaja menggantung kalimatnya untuk menggoda pria itu. Ia bahkan telah terkekeh geli di tempatnya.

[Abimanyu : Cowok apa maksud kamu, ha ? Aku 'kan beralasan yang sesuai. Kamunya aja yang terlalu gengsi buat bujuk aku.]

Safira menautkan alisnya saat membaca kalimat terakhir dari pesan tersebut. "Gengsi ? Ini ceritanya jadi kebalik, ya ? Bukannya dimana - mana cowok yang bujuk cewek, ya ? Bima ini ada - ada aja, deh." gumamnya sambil menahan tawa.

[Safira : Udah kayak cewek, ya. Pengennya dibujuk - bujuk. Yang ada entar aku bejek - bejek kamu. Mau ?]

Sepertinya pria itu sedang menganggur dan hanya menantikan balasan dari Safira. Terbukti dengan cepatnya datang balasan pesan yang baru gadis itu kirim untuknya.

[Abimanyu : Jangan dibejek - bejek, dong. Disayang - sayang aja. Masa iya ganteng begini malah dibejek - bejek, sih. Yanga ada nanti malah gak ada lagi yang mau sama aku.]

Safira sudah menutup mulutnya dengan sebelah tangannya. Takut tawanya meledak karena pria itu sudah berhasil membuat hatinya merasa tergelitik.

Gadis itu mengatur nafasnya sejenak sebelum kembali menarikan jari - jemarinya dilayar ponsel.

[Safira : Mulai lagi cosplay jadi buayanya. Udah, ah. Pesawatnya udah mau takeoff. Nanti aku kabari lagi kalo udah sampek. Babay, Abang. :)]

Gadis tertawa pelan. Tanpa menunggu balasan dari Bima, ia langsung mengganti mode ponselnya dengan mode penerbangan. Lalu menyimpan kembali benda pipih tersebut kedalam saku hoodie-nya.

Safira kembali menatap keluar jendela dengan senyum manisnya. Sepertinya setelah ini ia akan lebih giat belajar agar bisa lekas kembali ke tanah air. Sebab banyak hal yang harus ia selesaikan.

Safira menoleh ke samping kanannya saat merasakan seseorang baru saja berada di sebelahnya. Seketika tubuhnya membeku saat menyadari siapa yang ada disebelahnya.

'Kok bisa... ?'

Batin Safira bingung.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!