Setelah kepergian Safira, Arya lantas bergegas mengenakan pakaiannya. Ia mengabaikan Kalula yang sedari tadi merengek mencegah kepergiannya.
"Daddy kenapa, sih ? Bukannya daddy sendiri yang bilang kalo daddy gak akan pernah makek barang yang udah daddy buang. Tapi sekarang kenapa daddy malah mau nemui Safira ?"
Ya. Tadi sewaktu Arya bertemu dengan Safira yang tak lain adalah putri kandungnya, pria itu langsung mengiyakan ajakan Safira untuk berbicara. Dan hal itu yang menyebabkan Kalula sampai uring - uringan seperti bayi yang sedang tantrum.
"Maaf, Kalula. Tapi daddy tidak bisa menolak permintaan Fira." ucap Arya membuat Kalula semakin meradang.
"Memangnya setangguh apa Safira itu diatas ranjang ? Kalo daddy sampai buang dia, itu artinya dia gak lebih hebat dari aku."
Arya menghembuskan nafas kasar. Ada rasa nyeri dalam dadanya saat bayi gulanya menilai rendah putrinya. Namun ia tak mungkin juga melampiaskan rasa kesalnya begitu saja pada Kalula. Ia takut jika nanti sikapnya akan berimbas pada Safira.
"Kalula, sayang. Dengarkan daddy. Kamu yang terhebat. Daddy cuma ingin menyelesaikan urusan daddy dengan Fira. Setelah itu kita main sampai puas. Bila perlu sampai besok."
Ia harus memenangkan hati bayi gulanya jika tak ingin membuat Safira kecewa. Sudah cukup masa kecil putrinya yang ia sia - siakan. Sekarang ia akan berusaha menebus semua kesalahannya di masa lalu.
"Daddy pergi dulu, ya. Kamu istirahat aja dulu disini. Daddy janji ini cuka sebentar." ucap Arya lalu membubuhkan kecupan singkat dibibir gadisnya.
Kalula tak menjawab. Namun raut wajahnya sudah menunjukkan bahwa ia tak terima jika pria itu lebih mengutamakan Safira ketimbang dirinya.
"Awas aja lo, Fira. Gue bakal buat perhitungan sama lo." gerutu Kalula setelah ayah gulanya pergi.
***
Safira menatap lamat ayahnya yang terus mengukir senyuman di bibirnya. Wajah tampan sang ayah tak jauh beda sejak terakhir mereka bertemu sebelas tahun yang lalu.
Saat ini mereka masih berada di hotel. Tepatnya di restoran. Arya sendiri yang meminta dan langsung me-reservasinya pada pihak hotel untuk Safira.
"Fira apa kabar, Nak ?"
Ada kehangatan yang menelusup dalam hati Safira saat kata 'Nak' meluncur dari bibir pria dihadapannya. Selama hidupnya, ia bahkan tak pernah mendengar sang ayah memanggil namanya.
"Baik. Seperti yang Ayah lihat." sahut Safira datar.
Hening. Tak ada lagi sahutan dari keduanya. Tampaknya Safira enggan memulai percakapannya dengan sang ayah.
Sementara Arya, pria itu masih tak menyangka akan bertemu dengan putrinya setelah sekian lama. Bahkan setelah putri hasil dari buah cintanya dengan mantan istri sekarang telah tumbuh menjadi remaja yang sangat cantik.
"Kamu sangat mirip dengan Bunda. Cantik." ucap Arya tanpa memudarkan senyumannya.
Safira menghela nafas pelan. Ia mulai mengendurkan sikap dinginnya. "Kalo Fira ganteng bukan perempuan namanya."
Kalimat candaan dari gadis cantik itu sontak membuat Arya mengelakkan tawanya. Tak menyangka jika putri cantiknya itu bisa bersikap humoris.
"Maaf. Ayah terlampau senang. Gimana dengan sekolah Fira ?"
"Fira udah kuliah ayah."
Jawaban gadis cantik itu tentu saja membuat Arya terkejut. "Kok ? Secepat itu ? Bukannya Fira seumuran dengan Aqilah 'kan ? Harusnya masih kelas sebelas."
"Tapi kenyataannya Fira udah kuliah, Yah. Semester tiga. Sekarang Fia lagi libur semester."
Jelas gadis itu yang semakin membuat sang ayah merasa kagum. Ia jadi teringat saat dulu ingin mengambil hak asuh Safira karena kecerdasan putrinya itu. Namun gagal karena Risa tahu rahasianya. Dan sekarang sepertinya putrinya ini juga tahu tentang rahasianya.
"Maaf, karena sikap acuh Ayah selama ini. Ayah hanya takut kehilangan keluarga baru Ayah."
"Dan membiarkan darah daging Ayah tumbuh tanpa kasih sayang dari Ayah kandungnya ?" Safira mendengus kesal. Ia tak menyangka ayahnya itu akan memilih kata - kata itu sebagai alasan. "Ayah bahkan baru kali ini bisa luangin waktu buat Fia. Mungkin kalo Fia gak sengaja ketemu Ayah, kita gak bakal pernah ketemu. Karena jujur, Fia gak percaya sama janji ayah yang akan nemui Fia besok."
Arya menelan ludahnya susah payah. Anak gadisnya ini sungguh pandai membaca pikiran sang ayah. Persis seperti ibunya.
"Tapi Fia beruntung. Masih ada Papa Rendy yang sayang sama Fia dan Bunda. Papa Rendy bisa kasih apa yang gak Ayah kasih ke Fia."
Kalimat yang baru saja ia dengar sungguh menyayat hatinya. Bagaimana mungkin ia bisa kuat mendengar putrinya memuji dan membandingkan pria lain dengan dirinya.
"Kalo bukan karena Bunda, mungkin Fia gak bakal mau ketemu sama Ayah lagi. Fia cukup sakit hati dengan segala harapan yang Ayah kasih ke Fia. Yang sayangnya gak pernah satupun yang menjadi kenyataan."
"Maafkan Ayah, Fira. Jika diberi kesempatan, Ayah mau menebus semua kesalahan Ayah dimasa lalu pada Fira." ucap Arya penuh sesal.
Sorot mata pria itu tampak sangat tulus mengatakannya. Tak ada kebohongan yang Safira tangkap di kedua netra cokelat milik ayahnya.
"Fira mau 'kan kasih Ayah kesempatan ?", tanya pria itu lagi saat belum mendapatkan jawaban dari putrinya.
Menghembuskan nafas pelan, Safira akhirnya mengangguk. Ia ingat akan kata - kata ibunya untuk bisa memberikan kesempatan pada sang ayah jika suatu saat ayahnya ingin memperbaiki kesalahannya.
"Oke. Tapi Ayah gak boleh lagi ngelakuin kesalahan yang sama. Ayah harus tebus semua waktu yang Ayah siakan untuk Fia."
Arya tersenyum senang mendengarnya. "Ayah janji dan akan berusaha untuk menebus semua waktu itu. Kapan kita memulainya ?"
Sudut bibir Safira tertarik keatas. Tak dapat dipungkiri ia merasa senang dengan reaksi sang ayah yang tampak antusias. "Mulai besok. Jatah liburan Fia tinggal dua minggu lagi. Setelah itu Fia bakal balik ke Amerika buat kuliah."
"Fira kuliah di Amerika ? Wah... Putri ayah selalu hebatnya sejak dulu." puji Arya membuat pipi Safira bersemu merah.
"Ayah senang karena kamu bisa mendapatkan pendidikan yang layak. Bahkan yang terbaik. Ayah akan selalu dukung apapun keinginan Fira."
Safira merasa hatinya tengah dipenuhi ratusan kupu - kupu. Pujian seperti inilah yang selalu ia harapkan dari sang Ayah. Rasa bangga pria itu akan kemampuannya mampu membuat hati Safira semakin menghangat. Hal yang sejak dulu selalu menjadi impiannya, perlahan mulai terwujud. Ia hanya perlu bersabar untuk bisa menantikan kebahagiaan yang nyata setelah ini.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 67 Episodes
Comments