Safira terbangun dari tidur panjangnya. Setelah kemarin ia dan keluarganya sampai ke tanah air dengan selamat, gadis itu langsung mendekam di kamarnya. Matanya baru terbuka ketika merasakan suara berisik dari luar kamarnya.
"Jam berapa, sih sekarang ?" tanyanya dengan suara serak khas bangun tidur.
Mata indahnya mengerjap pelan saat tanpa sengaja berpapasan dengan cahaya matahari yang masuk dari sela - sela jendela kamarnya.
"Terik banget kayaknya diluar." ucapnya bermonolog.
Dengan sedikit paksaan Safira mengajak tubuhnya untuk bangkit dari ranjang. Ia berjalan ke arah kamar mandi untuk membersihkan diri.
Hampir lima belas menit, gadis cantik itu keluar dengan wajah dan tubuh yang segar. Ia segera mengenakan pakaian yang baru diambilnya dari dalam lemari. Segera setelahnya gadis cantik itu keluar kamar untuk mencari suara - suara menggemaskan itu.
"Ssst. Jangan bicik. Nanti Kak Fia bangun. Tadi 'kan Buna udah bilang kalo Kak Fia lagi bobok." ucap salah satu bocah lebih muda dari Skye.
"Tadi juga suara kamu yang paling kedengeran." timpal bocah yang wajahnya mirip dengannya. "Sekarang malah belagak sok anteng."
"Tapi 'kan aku gak bawel kayak abang." sahutnya dengan tatapan sengit.
"Yang penting kamu juga ikutan berisik." sahut bocah yang lebih tua darinya.
"Tapi aku..."
"Ssst. Udah diem, deh. Kalian malah makin berisik tau. Kita pindah aja ke taman belakang, Sean. Mereka itu gak bakal bisa diem." sela seorang bocah lagi yang seumuran dengan Sean.
"Tapi kita harus jaga Satria bareng - bareng, ya. Jangan teledor kayak waktu itu." ucap Sean saat mengingat kejadian dimana Syahnan hampir tercebur ke kolam renang.
"Ck. Syahnan itu 'kan adiknya Shamir. Ya seharusnya Shamir, dong yang jaga adiknya." ucap bocah seumuran Sean yang tak lain adalah Shafiq.
Sean mendengus sebal sambil menatap tajam pada sepupunya itu. "Trus kalo Satria ? Dia memang gak punya abang. Tapi kita ini 'kan juga abangnya. Dia itu anak adiknya Bunda. Otomatis dia adik kita juga."
"Iya. Satria itu anaknya Tante Manda, adiknya ayah aku. Jadi Satria juga adik aku." sahut Shamir yang sudah selesai berdebat dengan Syahnan, adiknya.
Shafiq menghela nafas kasar. Ia menatap satu per satu sepupunya. Lalu terakhir Satria yang tampak menatapnya dengan mata yang terus mengerjap pelan.
"Oke, deh. Kita kerja sama jagain Satria." ucap Shafiq pasrah.
"Janji, ya ? Nanti jangan ada yang saling tunjuk kalo semisal ada apa - apa sama Satria." ucap Sean memastikan.
"Iya, bawel." sahut Shafiq sambil melirik kearah bocah dua tahun yang sedari tadi tampak tenang dengan mobil - mobilannya. "Kamu jangan mencar sama kita - kita nanti. Mainnya tetep disekitaran kita. Trus kalo mau apa - apa bilang sama salah satu dari kita. Bia diambilin atau dianterin."
Satria hanya mengangguk meski ia tak sepenuhnya paham dengan apa yang diucapkan Shafiq.
"Yaudah, ayok." ajak Shamir sambil meraih tangan Satria agar mengikuti mereka.
Tanpa mereka sadari sejak tadi Safira telah memperhatikan kelima bocah tersebut. Ia senang jika akhirnya lima bocah itu dapat dengan kompak menjaga satu sama lain.
Setelah kelima bocah tersebut meninggalkan ruang bermain, Safira yang hendak ke dapur untuk mengambil minum mengurungkan niatnya saat mendapati adik bungsunya tengah duduk di kursi meja makan.
"Skye ngapain ? Kok gak gabung sama yang lain ?"
Bocahnya yang namanya baru dipanggil itu lantas mengangkat wajahnya. "Lagi baca bentar, Kak. Tanggung." sahutnya lalu kembali fokus menatap buku bacaan dihadapannya.
Meski Skye baru menginjak usia empat tahun, namun kemampuannya dalam menghapal dan menggabungkan huruf alias membaca patut diacungi jempol. Skye bahkan sudah mampu duduk dikelas yang sama dengan Sean, abangnya.
"Belajar boleh, tapi jangan lupa luangkan waktu untuk berbaur dengan yang lain. Gak punya temen itu gak enak loh. Kakak udah pernah ngerasainnya. Bukan karena mereka semua saudara kamu, kamu bisa seenaknya gak ikut main sama mereka. Bisa aja nanti mereka ngerasa tersinggung dengan sikap kamu yang seolah sombong karena terus memikirkan kesenangan kamu." ucap Safira dengan lembut.
Bibir gadis cantik itu mengulas senyuman saat mendapati wajah sedih sang adik. "Sesekali boleh belajar tanpa mengenal waktu. Tapi usahakan untuk lebih sering berinteraksi dengan yang lain. Mereka juga gak setiap hari kesini 'kan ?"
Skye mengangguk pelan. Ia lantas melihat pada buku bacaannya yang masih terbuka. Sepertinya ia ingin menyelesaikan bacaannya sejenak. Sebab setelah itu tampak bocah empat tahun itu melipat ujung lembaran tersebut sebelum menutup buku bacaannya.
"Skye suka liat bintang ?" tanya Safira saat melihat sekilas sampul buku bacaan adiknya.
Skye menatap sampul buku bertuliskan 'Tata Surya' dengan gambar astronot dan beberapa planet di sekitarnya. Ia lantas mengangguk seraya tersenyum. "Kay baru baca sampek Venus. Kalo dari ciri dan arti Venus sendiri, planet itu mirip kakak. Cantik, Indah. Pantes aja abang Bima selalu bilang kalo Kak Fia itu Venusnya."
"Emang kenapa ?" tanya Safira menelisik.
Skye tersenyum manis. "Karena kakak seperti fajar dan senja. Hangat." ucapnya lalu beranjak pergi meninggalkan sang kakak yang masih mematung di tempat.
Safira mengerjap pelan. Mulutnya terbuka seolah ingin berbicara namun sedetik kemudian kembali menutup karena bingung ingin berkata apa. Gadis itu lantas menggelengkan kepalanya pelan lalu gegas mengambil minum yang sejak tadi urung ia lakukan.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 67 Episodes
Comments