Sesuai kesepakatan, Safira sudah berada di salah satu Kafe yang tak jauh dari kantor tempat Rendy bekerja. Ia sengaja memilih tempat itu karena juga telah memiliki janji pada ayah sambungnya.
Hampir setengah jam Safira menunggu, namun orang yang dinantinya tak juga menampakkan diri. Gadis itu masih bersikap santai karena beberapa menit lalu Arya memberi kabar bahwa mertuanya tengah berkunjung.
Sembari menunggu kedatangan sang ayah, gadis cantik itu berseluncur ke sosial medianya.
"Safira..."
Mendengar namanya dipanggil, gadis cantik itu lantas mendongak. Keningnya sedikit mengerut saat mendapati sosok pria yang tampak tak asing baginya.
"Tadi aku pikir salah. Ternyata benar ini kamu. Apa kabar Safira ?"
Tanya orang itu sambil duduk dikursi kosong tepat di seberang kursi Safira duduk.
Gadis cantik itu memaksakan senyumnya. Meski ia tak begitu mengingat siapa pria di hadapannya. "Alhamdulillah, baik."
"Omong - omong, selamat ulang tahun, ya. Semoga berkah Tuhan selalu menyertai kamu." ucap pria itu mengingat baru dua minggu yang lalu gadis cantik itu berulang tahun.
"Terima kasih." balas gadis itu singkat.
Safira masih memindai pria dihadapannya. Ingatannya terus berputar untuk menemukan siapa orang yang saat ini tengah duduk dengannya.
Melihat Safira yang menatapnya dingin, pria itu lantas tertawa pelan. "Pasti kamu gak inget siapa saya ?", tebaknya yang langsung mendapat anggukan dari Safira.
"Saya Arsen. Terakhir kita bertemu sewaktu di Jogja saat kamu menjadi perwakilan sekolah kamu untuk olimpiade disalah satu sekolah yang ada disana."
Jelas pria itu membuat mata Safira seketika membulat.
'Dia ?'
"Sudah ingat ?" tanya pria itu seraya tersenyum ramah.
Sementara Safira hanya mengangguk kaku.
"Kamu... Sama siapa kesini ?"
Safira menegakkan tubuhnya sejenak. Lalu kepalanya menoleh kesana kemari. "Saya lagi nunggu seseorang, Pak." sahutnya saat belum menemukan keberadaan sang ayah.
Arsena mengangguk pelan. "Kebetulan saya tadi sedang bertemu teman. Lalu saat ini pulang malah gak sengaja liat kamu." ucapnya seolah memberi tahu Safira tentang alasannya ada di tempat itu.
Safira hanya menanggapinya dengan senyuman. Ia sangat canggung dengan situasi saat ini. Belum juga ia mendapatkan jawaban tentang silsilah keluarganya dari pihak ayah kandungnya. Safira malah harus dipertemukan dengan salah satu orang yang memiliki nama belakang yang sama dengan sang ayah.
"Oh, iya. Kamu sudah lulus sekolah 'kan ? Melanjutkan study kemana ?"
Safira terdiam sejenak. Memang jika ia mengikuti kelasnya secara normal, gadis itu baru lulus sekolah tahun kemarin. Namun karena ia mengikuti kelas akselerasi, membuatnya lulus lebih cepat dari teman seangkatannya.
"Saya melan..."
"Fia ? Kamu disini juga ?"
Belum sempat Safira menjawab pertanyaan tersebut, sebuah suara yang sangat dikenalnya terdengar disusul dengan si pemilik suara yang kini tengah berdiri tepat di hadapan gadis itu.
"Hai, Dit." sapa gadis itu yang terlihat bingung dengan situasi saat ini.
"Ini siapa, Fi ?" tanya Adit penuh selidik.
Pemuda yang masih mengenakan seragam putih abu - abu dengan hoodie hitam yang membalut tubuhnya tampak memindai pria disampingnya.
'Keliatannya udah dewasa banget. Apa mungkin... Gak, gak, gak. Gak mungkin. Jangan simpulin dulu, Dit. Belum tentu sesuai dengan apa yang lo pikirkan.' batin Adit yang menyangkal isi pikirannya.
"Ini Pak Arsen. Dia pernah ngisi acara sewaktu ada event di sekolah aku dulu." jelas Safira yang langsung bisa menyimpulkan jika kedua pria beda generasi itu memang tak saling kenal.
"Pak Arsen, kenalkan ini Adit. Teman saya sejak kecil." ucap Safira memperkenalkan saudara seayahnya.
Arsen dengan sopan mengulurkan tangannya untuk menyalami pemuda yang lebih muda darinya. "Arsen."
Dengan menutupi rasa tak sukanya Adit menyambut tangan pria tersebut. "Adit."
Singkat. Keduanya langsung melepas jabatan tangan tersebut dan seolah tengah mendapat arahan, dua pria itu langsung menatap kearah Safira.
"Woi, Dit. Kita disini."
Panggil salah satu teman Adit yang telah duduk tak jauh dari tempat mereka saat ini.
Adit menoleh pada teman - temannya. Ia melambaikan tangannya sebagai isyarat bahwa ia tahu keberadaan mereka. "Gue disini bentar." sahutnya yang langsung mendapat acungan jempol oleh ketiga temannya.
Tanpa permisi, Adit lantas menggeser kursi yang ada di antara Safira dan Arsena lantas langsung menjatuhkan bobotnya disana.
"Gak masalah 'kan kalo aku duduk disini bentar ?" tanya Adit sambil menoleh ke arah Safira.
Gadis itu lantas tersenyum dan langsung menggelengkan kepalanya. "Gak papa, kok, Dit. Lagian orang yang aku tunggu belum dateng."
Adit mengangguk pelan. Ia melirik sekilas pada pria yang ada disebelahnya yang tampak tak peduli dengan keberadaannya.
"Safira, saya kesana dulu, ya. Sepertinya pesanan saya sudah selesai." pamit Arsena sopan lantas langsung berjalan menuju kasir setelah melihat anggukan kepala Safira.
Adit menatap Safira yang tampak memperhatikan Arsena. "Kamu ada hubungan sama dia, Fi ?"
Safira seketika menoleh kearah Adit. Kepalanya miring ke kiri karena bingung dengan pertanyaan tersebut. "Maksud kamu ?"
Pemuda itu menghela nafas pelan. Ia lantas menatap teduh gadis cantik itu. "Tolong kamu liat aku sebagai seorang cowok, Fi. Jangan liat aku sebagai adik dari teman kamu." ucapnya lirih.
Tentu saja Safira mengerti maksud yang tersirat dari kalimat tersebut. Namun sebisa mungkin gadis itu mengendalikan perasaannya agar tak mempengaruhi raut wajahnya.
"Ya 'kan pada ke..."
"Safira. Saya duluan, ya. Semoga lain waktu kita bertemu lagi. Saya permisi dulu." pamit Arsena sopan lalu pandangan pria itu beralih pada Adit dan ia menundukkan kepalanya untuk berpamitan.
Safira hanya menanggapinya dengan anggukan dan senyuman. Ia lantas melirik pada Adit yang tengah menunjukkan raut tak sukanya terhadap Arsena.
'Sok kegantengan.' batin Adit yang semakin kesal.
Pemuda itu menoleh pada Safira. Ia menghela nafas pelan lalu memalingkan wajahnya kearah tempat dimana teman - temannya berada.
"Aku kesana dulu, ya, Fi. Lain kali kita jalan bareng, ya ? Mau 'kan ?" ajak Adit penuh harap.
Safira menahan nafasnya sejenak sebelum akhirnya menghela nafas secara perlahan. "Nanti aku sesuain sama jadwal aku aja, ya. Soalnya aku juga harus bantu Bunda jaga adin - adik aku." ucapnya yang secara tidak langsung menyelipkan kalimat penolakan atas ajakan tersebut.
"Oke. Aku tunggu saat itu, Fi. Aku ke tempat temen - temen aku dulu, ya. Kamu gak papa 'kan aku tinggal sendiri ?" tanya Adit berharap gadis cantik itu akan mencegah kepergiannya.
"Gak papa, Dit. Kamu ke temen - temen kamu aja. Gak enak juga 'kan kalo mereka harus nunggu kamu supaya bisa makan makanan pesanan kalian." jelas Safira yang tentu saja membuat Adit sedikit kecewa.
Dengan memaksakan senyumannya, Adit beranjak dari sana dan langsung menuju ke arah teman - temannya duduk.
Safira kembali memperhatikan ponselnya. Memperhatikan layar ponselnya yang menunjukkan ada sebuah notifikasi pesan masuk disana. Tangannya bergerak membuka isi pesan tersebut.
Wajah gadis cantik itu terangkat seraya menatap Adit yang tampak bersenda gurau dengan teman - temannya. Lalu Safira kembali memperhatikan ponselnya. Detik berikutnya kepalanya menggeleng pelan.
'Brengsek' umpatnya dalam hati.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 67 Episodes
Comments