Chapture 3.

Sudah hampir dua minggu Safira berada di rumah. Gadis yang baru saja menginjak usia tujuh belas tahun itu selalu menyempatkan diri untuk ke Kafe, Toko Roti, bahkan ke Resto milik ayah sambungnya untuk sekedar memeriksa laporan ataupun menyapa para karyawan yang telah lama bekerja disana.

Dan hari ini, untuk pertama kalinya, Safira menghubungi ayah biologisnya untuk bertemu. Ia harus bisa menuntaskan rasa penasarannya tentang seluk beluk keluarga dari pihak ayahnya.

Beberapa kali Safira menghubungi pria itu namun tak kunjung mendapat jawaban. Padahal ia sudah menyemangati dirinya sendiri untuk bisa bertemu dengan ayah kandungnya.

"Selalu aja kayak gini. Harusnya aku gak perlu menaruh harapan terlalu tinggi ke Ayah."

Safira memandangi layar ponselnya yang menunjukkan panggilan dengan nama sang Ayah tertera disana.

"Apa aku dateng aja, ya ke rumah Aqilah." ucapnya bermonolog. Namun sedetik kemudian ia menggelengkan kepalanya cepat. "Enggak, enggak. Nanti aku bisa ketemu Adit dan dia langsung ke Ge-eran. Itu gak boleh terjadi."

Safira mengedarkan pandangannya. Saat ini ia tengah berada di salah satu Kafe yang ada di mall. Sengaja memilih tempat itu karena ia juga ingin membeli sesuatu untuk kedua adiknya.

Matanya memicing saat melihat sosok yang sangat dikenalnya. Ia mengerjap beberapa ki untuk memastikan bahwa yang dilihatnya tidaklah salah.

"Ayah ? Sama siapa ?"

Gadis itu lantas kembali melakukan panggilan pada sang Ayah. Sambil menunggu panggilan itu tersambung, Safira memperhatikan interaksi kedua orang tersebut. Disana tampak pria yang ia yakini sebagai ayahnya tengah meraih ponselnya. Lalu pandangan Safira beralih pada ponselnya.

"Direjek ?"

Ia menggelengkan kepalanya tak percaya. Lantas jemarinya bergerak lincah diatas layar ponselnya.

[Safira : Ayah. Ini Fia. Bisa kita bertemu ? Ada yang ingin Fia bicarakan pada Ayah]

Send.

Pesan terkirim. Dan saat itu juga Safira kembali menegakkan kepalanya untuk melihat respon dari sang Ayah. Ia mengetuk - ngetukkan jarinya ke atas meja karena tak sabaran.

Ting.

Ponselnya berbunyi dan dengan sangat cepat Safira melihat notifikasi tersebut.

[Ayah : Maaf Fira. Hari ini ayah sibuk. Gimana kalau besok ?]

"Selalu aja begitu."

Safira mendengus kesal. Ayahnya itu, sungguh tak bisa menyenangkan hatinya barang sejenak. Selalu saja menomor sekiankan dirinya.

[Safira : Oke. Janji, ya ?]

Send.

Safira kembali mendongakkan kepalanya. Namun ia tak lagi menemukan keberadaan sang ayah disana. Pandangannya terus mengedar mencari sosok sang ayah.

"Tadi itu bukan Aqilah. Trus siapa ? Masa iya keponakan Ayah ? Tapi kok... Gak wajar banget sikapnya."

Gadis itu terus bermonolog. Hingga akhirnya ia memutuskan untuk beranjak mencari sang ayah.

Sepertinya nasib baik tengah berpihak padanya. Saat gadis itu menyusuri stand penjual pakaian, ia menemukan ayahnya baru keluar dari sana. Kedua mata Safira terkunci pada lengan sang ayah.

"Mesra banget."

Safira bergumam dari balik persembunyiannya. Ia kembali bergerak secara perlahan sembari berbaur dengan pengunjung yang lain. Matanya tetap awas memantau keberadaan sang Ayah.

"Lah, kok ?"

Safira terperanga saat melihat ayahnya malah kembali memasuki stand penjualan.

"Pakaian dalam wanita ? Ngapain coba ?"

Pikiran Safira mulai menjurus ke arah yang tidak - tidak. Apalagi saat wajah orang yang bersama Ayahnya terlihat tak asing baginya. Kakinya ingin sekali melangkah menghampiri keduanya. Namun sebisa mungkin ia menguasai diri sebelum menemukan bukti yang cukup.

Setelah beberapa saat berada di stand itu dan keluar dengan beberapa paper bag ditangan sang gadis, Ayahnya tampak begitu ceria sambil terus berceloteh ria dengan gadisnya. Safira terus mengikuti keduanya hingga memasuki area parkiran. Dengan sigap, Safira memberhentikan mobil taxi yang lewat didekatnya.

"Pak, ikuti mobil hitam yang ada di depan, ya." ucap Safira setelah duduk di kursi penumpang.

"Baik, Nona."

Taxi yang membawa Safira terus mengikuti mobil sang ayah dengan jarak aman. Hampir dua puluh menit berkendara, mobil mereka berhenti tepat di sebuah gedung yang menjulang tinggi.

"Hotel ?"

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!