Chapture 2.

Safira menatap pantulan dirinya melalui cermin. Ia memakai kaos oversize warna pink dengan celana bahan warna hitam. Tak lupa membalut kakinya dengan sneakers warna putih. Wajahnya hanya dihias dengan make up tipis dengan sebagian rambutnya yang di cepol.

Hari ini gadis cantik itu akan berkunjung ke Toko Roti untuk menggantikan ibunya. Membiarkan wanita yang telah melahirkannya itu untuk beristirahat dirumah bersama dengan para adiknya.

"Bunda... Fia berangkat sekarang, ya", ucap gadis cantik itu seraya menuruni anak tangga.

"Kak Fia mau kemana ?", tanya si bungsu yang langsung mendekati kakaknya.

"Kakak mau ke toko. Sekalian mau bikin kue disana bareng Tante Lisa", jelasnya sambil menjawil kedua pipi gembul bocah laki - laki tersebut.

"Kay boleh ikut ? Boleh, ya, Kak ?", rengek Skye dengan wajah melasnya.

Safira menatap sang ibu untuk meminta persetujuan. Setelah mendapat anggukan dari ibunya, kini pandangan gadis cantik itu beralih pasa bocah laki - laki yang ada disebelah sang ibu.

Bocah laki - laki itu menghela nafas pelan. "Yaudah, sih kalo Skye mau ikut. Abang dirumah aja sama Bunda. Lagian nanti ada Shafiq yang mau kesini. Jadi abang punya temen," ucapnya santai.

Safira mengulas senyum manisnya. Ia menggamit tangan mungil adik bungsunya dan berjalan mendekati ibu dan adiknya.

Cup.

Safira mencium kedua pipi adiknya.

"Baik banget abang Sean. Padahal Kak Fia mau ajak abang ikut tadi," ucap gadis itu menggoda.

"Gak usah, deh, Kak. Abang dirumah aja sama Bunda. Mending Skye aja yang ikut. Skye 'kan suka makan kue. Abang gak apa - apa, kok dirumah sama Bunda", sahut anak laki - laki yang baru saja merayakan ulang tahun kelimanya itu.

Safira mengacak rambut sang adik gemas. Lalu ia mengulurkan tangannya pada sang ibu untuk berpamitan. "Fia pergi dulu, ya, Bun. Skye salim Bunda juga, dong."

Dengan patuh bocah tiga tahun itu meraih tangan sang ibu dan mencium punggung tangannya. "Kay pergi dulu, ya, Bun"

Risa mengusap lembut pucuk kepala anak bungsunya. "Iya, sayang. Jadi anak baik, ya. Nurut apa kata Kakak. Oke ?"

"Oke, Bunda", sahut si kecil Skye dengan penuh semangat.

"Pergi sama Pak Alif 'kan ?", tanya Risa memastikan.

Safira menganggukan kepalanya. "Iya, Bun. Fia 'kan belum punya SIM untuk nyetir sendiri", ucapnya sambil menerbitkan senyum manisnya.

"Yaudah. Kalian hati - hati, ya. Kabari Bunda kalo ada apa - apa," ucap Risa.

Ia mengantarkan kedua anaknya sampai keluar. Setelah memastikan keduanya masuk kedalam mobil dan melesat pergi, barulah Risa kembali masuk ke rumahnya.

***

"Hai. Kamu Sean 'kan ?"

Merasa diajak bicara, bocah laki - laki yang tengah menikmati cheesecake tersebut lantas mendongak. Ia menatap lekat pria yang mengenakan seragam putih abu-abu tersebut. Wajahnya begitu asing untuknya.

"Bukan," sahut bocah itu acuh. Ia kembali menikmati kuenya sambil sesekali melirik kearah pria dihadapannya.

"Masa, sih, bukan ? Kita pernah ketemu loh dirumah kamu. Masa kamu lupa. Ini Mas Adit, loh", ucap pria itu membuat bocah laki - laki itu melayangkan bombastis side eyes nya.

"Dikasih tau, kok ngeyel," gumam bocah laki - laki itu dengan wajah tak sukanya.

Adit tertegun sejenak. Ia memperhatikan lagi wajah anak laki - laki dihadapannya. "Iya, kok, bener," gumamnya pelan.

"Kamu adiknya Fia 'kan ?", tanya Adit memastikan.

Memang baik Adit, Aqilah dan juga keluarganya tak tahu mengenai adik bungsu Safira. Mereka hanya tahu jika gadis itu memiliki satu adik, yaitu Sean.

"Hm"

Adit sedikit terkejut dengan jawaban anak laki - laki tersebut. Sangat dingin dan ketus. Ia menghela nafas pelan lalu mencoba mengulas senyuman.

"Nama kamu siapa ?"

Belum sempat bocah laki - laki itu menjawab, terdengar suara sapaan dari arah samping mereka.

"Loh. Adek sama siapa, nih ?"

Kedua laki - laki beda generasi itu lantas menoleh saat sebuah suara yang begitu lembut menyapa mereka.

"Fia...," panggil Adit dengan mata yang berbinar cerah.

"Oh, hai, Adit. Lagi disini juga ?", tanya Safira sedikit canggung.

Bibi pria itu melengkung sempurna. "Iya. Kebetulan banget, ya, kita ketemu disini. Kamu mau beli kue juga ?"

"Ha ?"

Safira sedikit kaget dengan pertanyaan Adit hingga ia terlihat bingung harus menjawabnya.

"Mau beli kue ? Kak Fia mau buat kue disinilah. Apaan, sih ?"

Skye yang kesal langsung menyahuti Adit dengan ketus. Entah kenapa anak laki - laki tampak tak suka dengan keberadaan Adit disana.

"Mau buat kue ? Emang kamu kerja disini, Fi ?", tanya Adit yang bingung.

Skye berdecak kesal. Ia meletakkan asal sendok kuenya ke piring hingga bunyi dentingan.

"Kamu gak tau, ya kalo toko kue ini punya Bunda ? Ngapain juga Kak Fia kerja disini. Kak Fia disini lagi belajar resep baru, tauk"

"Dek...," tegur Safira sambil mendekat pada sang adik. "Gak boleh gitu, ih. Gak sopan namanya"

Safira mencoba memberi pengertian pada sang adik. Ia dapat melihat jika adik bungsunya itu tampak tak suka dengan Adit.

"Maaf," cicit bocah tiga tahun itu seraya menatap Adit.

Adit tersenyum lembut lantas mengangguk. "Iya gak papa. Tadi namanya siapa ?"

Skye melirik sekilas sang kakak, lalu menatap pria yang ada dihadapannya. "Cekay"

"Oh, namanya Cekay." ucap Adit mengulangi.

Skye mendengus kesal. "Cekay cekay", gerutunya pelan.

"Namanya Skye, Dit," ucap Safira membenarkan nama sang adik.

"Oo. Namanya Skye. Maaf, ya. Mas Adit salah sebut," ucapnya tulus. Ia kemudian beralih pada Safira. "Oh, iya, Fi. Kamu udah siap buat kuenya ? Mau ngafe bareng aku, gak ?"

"Kay mau pulang"

Safira menoleh pada sang adik. Dilihatnya wajah Skye yang tampak lesu. Lalu pandangannya beralih pada pria dihadapannya. "Maaf, ya, Dit. Kayaknya gak bisa, deh. Soalnya ini waktunya Skye tidur. Aku harus bawa dia pulang." ucapnya.

Adit memaksa senyumnya. Sejujurnya ia merasa kecewa dengan penolakan yang diberikan oleh Safira. "Yaudah, gak papa. Tapi lain kali harus mau, ya ?"

Safira hanya mengulas senyum. Ia enggan memberikan jawaban pada adik seayahnya itu. Biar bagaimanapun sikap Adit padanya bukan sikap seorang adik pada kakaknya. Melainkan sikap seorang pria terhadap wanita yang disukanya.

"Aku gak janji, ya, Dit."

Senyum Adit memudar perlahan. Namun ia tetap menganggukkan kepalanya untuk memaklumi.

"Kalo gitu aku pamit dulu, ya."

Safira langsung membawa Skye dalam gendongannya. Lalu berjalan keluar menuju parkiran tempat dimana Pak Alif berada.

Adit hanya memandangi punggung gadis yang ia sukai sejak kecil. Rasa sukanya telah berubah menjadi sayang seiring berjalannya waktu. Ia bahkan sudah sering mengungkapkan perasaannya itu pada Safira meski tak pernah mendapat jawaban dari gadis cantik itu.

"Aku akan berjuang lebih keras lagi, Fi"

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!