Chapture 7

Safira sedikit terkejut mendengar nama pemuda tersebut. Terdengar tidak asing. Bukan karena kedua adiknya yang memiliki nama tengah seperti itu. Melainkan karena ia merasa begitu akrab dengan nama tersebut.

"Udah, deh. Gak usah dipaksa kalo Fianya gak kenal. Bikin gak nyaman orang aja." ucap Sakha membuat pemuda didepannya terkekeh pelan.

"Galak bener. Pacar kamu, Fi ?"

"Kalo iya kenapa ? Gak suka ?"

Bukan Safira yang menjawab melain Sakha yang kesabarannya setipis tissue dibagi dua. Remaja laki - laki itu sudah melayangkan tatapan permusuhan sejak tadi. Memang jika dilihat dari postur tubuh, Sakha sudah terlihat seperti siswa SMA. Sehingga pemuda tampan itu menyimpulkannya seperti itu.

"Oke, oke. Maaf." Pemuda itu tertawa pelan, batu setelah berdehem dan melanjutkan kalimatnya. "Tapi, Fi. Coba, deh kamu inget - inget lagi. Kita dulu emang deket, kok. Masa kamu bener - bener lupa sama aku ?"

Safira tersenyum canggung. Gadis cantik itu memang sedikit pelupa jika menyangkut lawan jenis. Karena isi kepalanya selalu dipenuhi dengan pelajaran dan keluarga saja. Sehingga saat bertemu dengan pemuda dihadapannya ia sama sekali tak mengingatnya. Namun yak dipungkiri ada perasaan aneh dalam dadanya saat mendengar suara pemuda tersebut.

"Maaf. Tapi aku..."

"Ini, neng pesenannya."

Kalimat Safira harus terjeda ketika Penjual telur gulung menginterupsi. Dengan segera gadis cantik itu menerima dua bungkus telur gulung dan langsung membayarnya.

"Lah, katanya pacar Fia. Kok Fia juga yang bayar jajanannya ? Mau morotin Fia doang lu, ya ?" ucap pemuda itu diselingi tawa.

Sakha langsung membolakan matanya mendengar kalimat tersebut. Wajahnya kembali memerah dan siap meledak. "Heh. Lu ben..."

"Sakha"

Belum sempat Sakha menyelesaikan kalimatnya, sepupu cantiknya itu sudah menginterupsi dan menggelengkan kepala saat mata mereka bersitatap.

Dengan menahan kesal, remaja laki - laki tersebut mengambil alih bungkusan telur gulung tersebut dari tangan Safira. "Aku cari tempat duduk dulu." ucapnya dan langsung pergi meninggalkan sepupunya.

Safira melirik sekilas pemuda tersebut yang lamat - lamat jika diperhatikan wajahnya memang sangat tak asing dimatanya. Apalagi saat pemuda tersebut menerbitkan senyumannya. Gadis cantik itu merasakan kehangatan yang menelusup dalam dadanya.

"Masih belum inget ?" tanya pemuda itu yang langsung dijawab dengan gelengan kepala oleh Safira.

Pemuda itu tertawa pelan. Tangannya mengisyaratkan agar mereka berjalan. "Oke. Em... Gimana, ya biar kamu inget ?" ucap pemuda itu seraya meletakkan tangannya di dekat dagu untuk berpikir.

"Nah." pemuda itu menjentikkan jemarinya setelah beberapa detik. Ia lantas berdehem pelan. "Adek... Masih belum inget sama abang Bima yang ganteng ini ?" tanya pemuda itu dengan suara yang begitu lembut.

Sejenak Safira tertegun. Gadis itu menatap intens mata pemuda dihadapannya. Tanpa sadar kepala Safira sampai miring ke kiri untuk menguras ingatannya.

"Bima ?" ulang Safira membuat pemuda itu mengangguk. Detik berikutnya mata gadis itu membulat dengan bibir terbuka. "Bima yang anak baru itu ? Yang gak pernah pakek pakaian rapi itu 'kan ?"

Kalimat terakhir Safira membuat pemuda itu meledakkan tawanya. Sambil terus melanjutkan langkahnya, pemuda itu menganggukkan kepalanya.

"Kamu inget banget ya sama bagian pakaian aku yang gak pernah rapi. Tapi gak papa, kok. Yang penting kamu inget aku lagi."

"Aku juga inget, kok kalo kamu pernah anterin aku pulang sewaktu aku sakit." ucap Safira membuat Abimanyu membulatkan matanya.

"Wah. Gak nyangka, sih kalo kamu bakal inget bagian itu juga. Dan itu pertama kalinya aku nganterin cewek pulang ke rumah. Mana langsung ketemu Papa kamu lagi."

Safira tertawa melihat perubahan raut wajah Bima. "Taku ? Papa aku baik kok."

"Kak Fia..."

Hampir saja keduanya melewati tempat dimana Sakha duduk jika tidak mendengar seruan remaja laki - laki tersebut.

"Ck. Lambat banget kayak siput." sungut remaja tersebut saat keduanya telah duduk dihadapannya. Sakha mengangsurkan dua cup minuman milk tea pada kedua orang tersebut.

"Buat gue juga ?" tanya Bima memastikan dan hanya dijawab dengan deheman oleh Sakha.

"Tapi kayaknya aku inget siapa dia, Fi." ucap Bima lagi sambil menatap lekat Sakha. Sementara yang ditatap malah melayangkan bombastis side eyes. "Dia sepupu kamu itu 'kan ? Keponakannya Papa kamu."

Sakha memicingkan matanya seraya berpikir. Lalu raut wajahnya kian berubah. "Lo... Cowok yang pernah kena sidang Om Endy karena nganterin Kak Fia pulang 'kan ?"

Bima mengangguk sambil tertawa pelan. "Berasa kayak tersangka gua kalo lo bilang kena sidang. Tapi ia, sih. Suasananya mendadak kayak ada di ruang interogasi waktu itu."

"Wajar, dong. Kak Fia itu anak perempuan satu - satunya di keluarga kita. Kalo ketemu Opa Rino lebih gawat lagi pasti."

"O ya ?" Bima tampak tak percaya dengan apa yang diucapkan remaja tersebut.

"Opa Rino pasti langsung usir lo pulang. Bahkan gak akan biarin lo sampek masuk ke rumah."

Bima tersenyum seraya menatap Safira. Sebegitu berharganya gadis dihadapannya hingga setiap pria yang ada di dekatnya akan menjaganya layaknya seorang putri kerajaan.

"Wajar, sih. Mungkin kalo gue yang jadi Kakak laki - lakinya Fia bakal ngelakuin hal yang sama kayak Opa Rino. Gak perlu ajak masuk ke rumah. Interogasi diluar biar kayak lagi pelatihan militer."

Sakha tertawa mendengarnya. Remaja tampan itu sepertinya mulai menyukai karakter teman lama sepupunya. Terbukti dengan sikapnya yang perlahan mulai melunak dan semakin akrab dengan Bima.

***

"Udah selesai kencannya ? Cepet banget ?"

Safira dan Sakha yang awalnya ingin langsung naik ke lantai dua mengurungkan niat mereka saat mendengar suara yang berasal dari ruang keluarga.

"Opa disini ?" tanya Safira yang langsung duduk disamping pria yang tak lagi muda itu.

"Iya. Oma minta nginep sini. Katanya kangen sama cucu perempuannya." ucap Rino sambil mengusap lembut pucuk kepala gadis cantik itu. "Kapan giliran kencan sama Opa ? Jangan mentang - mentang Opa udah tua, malah dilupain."

Safira tertawa mendengarnya. Sudah menjadi kebiasaan setiap kali gadis itu liburan maka ia akan melakukan kencan dengan semua pria dikeluarganya. Selama beberapa hari kemarin Safira terus quality time bersama para bocil secara bergantian. Dan sepertinya mulai besok ia harus bisa membagi lagi waktunya untuk para orang tua.

"Besok aja, sih kalo saran aku. Mumpung Opa ada disini. Malam waktunya Oma, trus siang waktunya Opa." saran Sakha dan langsung membuat Rino mengangguk setuju.

"Bagus juga, tuh. Gimana Fia ? Bisa 'kan ?"

Safira tampak meringis. Tak lama ia menggelengkan kepalanya pelan. "Besok Fia ada janji Opa. Maaf, ya."

"Janji sama siapa ? Bima ? Cancel aja, deh kalo sama dia. Utamain yang berumur dulu" ucap Sakha yang juga disetujui oleh Rino.

Namun detik berikut kakek dari kedua orang tersebut membulatkan matanya. "Bima siapa ? Pacar Fia ?"

Safira langsung menggelengkan kepalanya cepat. "Enggak Opa. Itu temen Fia waktu SMA. Fia juga gak punya janji, kok sama dia."

"Trus janji sama siapa besok ?" tanya Sakha yang sudah dalam mode posesif.

Safira menatap kakek sambungnya. Ia lantas mendekat dan membisikkan sesuatu pada Rino. Setelahnya gadis itu meringis. "Maaf, ya, Opa. Giliran Opa lusa aja, ya ?"

Rino mengulas senyum dan mengangguk. "Kalo orang itu Opa gak berani ganggu gugat, sih." ucapnya sambil mengusap kepala cucunya.

Sakha yang sama sekali tak tahu siapa yang orang yang dimaksud keduanya hanya terus menatap Safira dan Rino secara bergantian. Bertanyapun kedua orang itu tak memberi jawaban pasti padanya.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!