Safira keluar dari Kafe dengan wajah muram. Ia terus mengayunkan kakinya menapaki jalan trotoar melewati halte bus. Kepalanya menoleh ke kanan dan kiri saat ingin menyeberang jalan.
Suasana hatinya mendadak anjlok saat membaca notifikasi yang masuk ke ponselnya tadi.
"Bisa - bisanya dia bohongi aku setelah melambungkan tinggi harapanku. Dia pikir aku boneka apa. Bajingan!"
[Ayah : Maaf, Fira. Ayah sepertinya tidak bisa menemui kamu hari ini. Karena Omanya Aqilah mengajak ayah dan istri ayah juga Adit dan Aqilah untuk pergi ke suatu tempat. Lain kali kita buat janji lagi, ya ? Maafkan Ayah, Fia. Jangan sedih, ya, sayang!]
"Jelas - jelas Adit ada di depan mataku. Berani - beraninya dia bohongi aku padahal baru aja aku kasih kesempatan."
Gerutu gadis cantik itu.
Kesal sekali rasanya saat kalimat dari pesan tersebut melintasi kepalanya. Membuat Safira semakin mengerang kesal.
Safira mengatur nafasnya lebih dulu. Setelah dirasa normal barulah gadis cantik itu melangkahkan kakinya memasuki kantor ayah sambungnya.
Dari kejauhan, Safira dapat melihat seorang wanita tengah tersenyum hangat padanya dari balik meja kerjanya.
"Selamat siang Nona Safira."
"Selamat siang, mbak Karin." sambut gadis itu hangat.
"Mau bertemu dengan Pak Rendy, ya ?"
Safira tersenyum seraya mengangguk. "Papa belum keluar 'kan, mbak ?" tanyanya.
"Belum, Nona. Kebetulan hari ini ada klien Pak Rendy yang datang dan beliau tengah bersama kliennya di ruang pertemuan. Sepertinya ada kemungkinan sebentar lagi akan selesai." jelas resepsionis tersebut.
Safira kembali mengangguk. "Kalau begitu boleh saya menunggu di ruangannya, mbak ?" tanyanya sungkan.
"Boleh, Nona. Mari saya antar." tawar petugas dengan name tag Karina itu.
Mengikuti langkah kaki petugas resepsionis, Safira sesekali mengedarkan pandangannya ke sisi kanan dan kirinya. Keduanya kemudian memasuki lift untuk menuju ruangan tempat Rendy bekerja.
"Mari, Nona." ajak Karina ketika pintu lift telah terbuka dilantai tujuan mereka.
Safira kembali mengikuti langkah petugas wanita tersebut. Lalu mereka berhenti tepat disebuah ruangan paling ujung. Di depan ruangan tersebut tampak seorang pria yang masih kelihatan muda tengah berkutat dengan layar laptopnya.
"Permisi, Mas Irfan." tegur Karina ketika sampai di dekat pria tersebut.
Pria itu lantas berdiri dari duduknya dan tersenyum hangat pada keduanya. "Ya, mbak Karina. Ada yang bisa saya bantu ?" tanyanya sopan.
"Ah, itu. Perkenalkan, ini Nona Safira. Putri Pak Rendy. Tadi Pak Rendy sudah memberitahu saya bahwa beliau memiliki janji temu dengan putrinya. Tolong Mas Irfan antar Nona Safira ke ruangan Pak Rendy." ucap Karina hati - hati.
Irfan lantas menoleh sekilas pada Safira lalu ia kembali beralih pada Karina. "Oh, iya, mbak Karina. Tadi Pak Rendy juga sudah berpesan pada saya mengenai putrinya yang akan datang. Terima kasih karena mbak Karina sudah mengantarnya sampai kemari."
"Kalo begitu saya permisi dulu, Mas Irfan, Nona Safira." pamit Karina sopan.
"Mari, Nona Safira." ucap Irfan setelah Karina berjalan menjauhi mereka.
Safira mengangguk sopan dan mengikuti langkah pria dihadapannya.
"Silakan tunggu disini, Nona." ucap Irfan sambil menunjuk sofa yang ada di sudut ruangan.
"Terima kasih, Mas." ucap Safira sambil sedikit menunduk.
Sebelum kembali ke mejanya, Irfan sempat menanyakan tentang ingin minum apa atau membutuhkan sesuatu pada Safira. Namun gadis itu langsung menjawabnya dengan gelengan kepala. Karena memang Safira belum menginginkan apa - apa. Ia hanya butuh ketenangan untuk saat ini.
Safira memindai ruang kerja ayah sambungnya yang nampak luas dan tertata rapi. Matanya menangkap sesuatu yang ada di meja kerjanya. Langkah kakinya langsung membawa gadis cantik itu untuk menghampiri meja kerja sang ayah.
Kedua sudut bibir gadis itu tertarik keatas. Di meja kerja sang ayah ada dua bingkai poto yang berhasil menghilangkan rasa kecewanya. Tangannya terulur untuk mengambil salah satu bingkai bermotif hati berwarna merah muda.
"Bahagia banget ya, Bun ?" ucapnya seolah tengah bertanya pada bingkai poto tersebut.
Itu adalah poto sang ibu dengan ayah sambungnya yang diambil beberapa bulan setelah pernikahan keduanya. Dikembalikannya bingkai tersebut ke tempat semula. Lalu ia mengambil bingkai poto yang lebih besar dari sebelumnya.
Mata cokelat gadis itu memindai poto tersebut, dan masih dengan senyum yang sama Safira kembali merasakan kehangatan dalam dadanya.
"Senyum Bunda gak pernah berubah. Sebahagia itu, ya Bunda sama Papa ?"
Ucapnya seraya mengusap permukaan bingkai tersebut. Itu adalah poto keluarganya dengan formasi lengkap yang diambil beberapa bulan sebelum dirinya menetap di Amerika untuk melanjutkan pendidikannya.
"Wah... Anak gadis Papa udah lama nunggu kayaknya."
Safira sedikit tersentak saat suara bariton yang selalu membahagiakannya terdengar. Ia meletakkan bingkai tersebut ke tempat semula dan gegas menghampiri sang ayah.
"Fia baru aja sampek, kok. Jangan bilang Papa jadi buru - buru ketemu sama klien karena tau Fia udah nyampek ?" tebak gadis itu membuat pria yang tak lagi muda itu memicingkan matanya.
"Kata siapa ? Pertemuannya emang udah selesai kok. Kamu aja yang kayaknya kecepetan datengnya. Curiga Papa. Ada something yang bikin mood kamu gak baik sampek harus dateng ke kantor Papa. Padahal kita janjian masih sekitar dua jam lagi."
deg!
Gadis itu langsung terdiam seketika. Pria itu, meski bukan ayah kandungnya tapi tetap saja ia bisa mengerti akan perasaan Safira dengan sangat baik. Bahkan melebihi sang ibu.
Melihat perubahan sang putri, Rendy langsung menghampiri gadis itu dan menuntunnya untuk duduk di sofa.
"Jangan melamun. Nanti kalo kamu kesurupan Papa bingung ngobatinya." seloroh pria itu.
Safira mendengus kesal. Ia menatap sinis pria yang merupakan ayah sambungnya itu. "Fia gak ngelamun, kok." ucapnya dengan bibir yang telah mengerucut.
"Wanna sharing ?"
Safira mengangkat dagunya seolah bertanya 'apa' pada sang ayah.
"Kamu tau 'kan ? Gak ada yang bisa kamu tutupi dari Papa dan Papa bisa tau apapun yang kamu sembunyiin dari Papa."
glek!
Safira menelan salivanya susah payah. Sangat sulit memang untuk menyembunyikan apapun dari pria dihadapannya. Ia menunduk menatap jari - jemarinya yang saling memilin.
"Fia... Kesel. Ayah... Di kesempatan keduanya malah berani bohongi Fia. Pengen marah, tapi dia orang tua Fia juga."
Gadis cantik itu mengangkat wajahnya dan menatap ayah sambungnya. "Boleh gak, sih, Pa. Fia gak perlu lagi temui apalagi kasih kesempatan untuk laki - laki itu ? Boleh gak, sih, Fia hapus laki - laki itu dalam ingatan Fia ? Dia udah cukup buat Fia sakit hati, Pa. Gak dulu, gak sekarang. Kelakuannya bukan berubah malah semakin buruk."
Pecah sudah tangis gadis cantik itu. Sedari tadi ia memang sudah menahannya dan berusaha kuat. Namun saat melihat wajah dan sikap ayah sambungnya, ia malah merasa lemah.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 67 Episodes
Comments