Safira masih menatap pesan tersebut. Cukup lama ia menimang hingga akhirnya memutuskan untuk membukanya.
[Ayah : Fira kapan pulang, Nak. Ayah kangen. Kita bahkan belum sempat ketemu.]
"Salah sendiri. Kenapa lebih memilih sugar baby ketimbang anak." sahut Safira tanpa berniat membalas.
Moodnya seketika anjlok. Membaca pesan itu membuatnya kesal sekaligus sesak. Rindu itu selalu ada untuknya. Bahkan tak pernah hilang meski ayahnya itu selalu membuatnya luka. Namun sebenci apapun ia terhadap ayahnya, tetap saja rasa sayangnya yang hanya seujung jari itu mampu menutupi semua luka yang telah ayahnya perbuat.
"Kapan, sih aku bisa ngerasain kasih sayang dari dia. Dari pria yang udah membuatku hadir ke dunia ini." ucapnya lirih.
Bibirnya telah bergetar menahan tangis yang siap untuk pecah. Ia lebih tak ingin bulir bening itu tumpah hanya karena pria yang tak pernah menganggapnya ada selama belasan tahun. Membiarkan dadanya sesak menahan luka.
"Kenapa juga aku gak pernah bisa benci dia. Padahal dia selalu buat aku kecewa. Selalu menorehkan luka ke hati ini. Bahkan... Sedikitpun dia gak pernah kasih perhatiannya ke aku. Kenapa dia harus jadi ayahku."
Safira telah tergugu di tempat. Ia menarik bantal untuk menutup wajahnya yang telah basah air mata. Di tekannya kuat bantal diatas wajahnya lalu berteriak sekencangnya dalam benaman bantal tersebut. Dadanya terlalu sesak mengingat setiap kenangan buruk yang selalu ayahnya ciptakan.
Disela - sela tangisnya, ponselnya berdering panjang tanda panggilan masuk. Safira mengatur nafasnya yang tak beraturan. Tangannya menghapus jejak air mata yang telah berhasil menerobos bendungan.
Arsena
Nama yang tertera di layar ponsel Safira saat gadis itu berhasil duduk dan menajamkan penglihatannya.
"Ini lagi. Kenapa, sih gak peka juga kalo aku gak mau deket - deket sama dia." gerutu Safira dengan sisa isak tangisnya.
Safira membiarkan panggilan tersebut. Tak berniat sama sekali untuk mengangkatnya. Matanya melirik sekilas ke benda pipih yang layarnya telah kembali menghitam. Tak lama, karena setelahnya layar tersebut kembali menyala.
Aditya
Gadis itu memutar bola matanya jengah. Dua pria dengan nama belakang yang sama tengah menghubunginya diwaktu yang hampir bersamaan.
"Kenapa, sih mereka gak ada kapoknya aku cuekin. Pusing aku lama - lama." ucapnya sembari merebahkan tubuhnya kembali.
Sama seperti Arsena, Aditya juga tak pernah lelah menghubunginya meski jarang mendapat respon. Safira tak ingin kedua pria itu menganggap ia telah memberi harapan karena respon yang ia berikan.
"Ayah." ucap Safira yang tiba - tiba saja teringat akan pria tersebut. Ia langsung mendudukkan tubuhnya dan meraih ponselnya.
Jari lentik gadis itu langsung menari di layar ponsel. Setelahnya ia mendekatkan benda pipih tersebut ke telinganya. Cukup lama ia menunggu hingga akhirnya terdengar sahutan dari seberang sana.
[Assalamualaikum, Nak. Apa kabar ?]
"Waalaikumsalam, Yah. Alhamdulillah Fia baik. Ayah apa kabar ?"
[Ayah juga baik. Fia kapan pulang, Nak ?]
Safira menghela nafas pelan. "Paling cepat enam bulan lagi, Yah. Oh, iya, Yah. Fia mau nanya sesuatu. Sebenernya udah lama banget mau menanyakannya. Tapi kayaknya waktu gak berpihak sama kita."
[Mau menanyakan apa, sayang ?]
"Tapi ayah janji harus jawab jujur. Fia udah pusing dengan semua ini. Hidup Fia terlalu rumit karena banyak hal yang dirahasiakan."
Ucap Safira dengan nada frustasi.
[Ayah akan jawab jujur. Fira mau tanya tentang apa ?]
"Apa ayah punya adik laki - laki ?" tanya Safira langsung ke intinya.
Jika terus menerus menunggu sang ayah memiliki waktu untuk bertemu, rasanya akan mustahil. Sehingga Safira memutuskan untuk membicarakannya lewat telpon saja. Toh, pria itu yang lebih dulu menghubunginya.
[Seingat Ayah ada. Itu adalah adik laki - laki ayah dari ibu yang berbeda.]
"Opa Thomas punya istri lain ?" tebaknya memastikan.
[Iya. Tapi kalo kamu tanya soal nama, ayah kurang inget siapa namanya. Cuma kalo wajahnya ayah masih hafal karena sempat beberapa kali bertemu. Memangnya kenapa, Nak ?]
Safira menghela nafas pelan. Sudah dapat ia pastikan jika orang itu adalah Arsena. Dan dari situ juga sudah dapat Safira simpulkan jika Arsena adalah pamannya.
"Fia cuma mau mastiin, Yah. Soalnya ada laki - laki yang lagi deketin Fia. Dan nama belakang dia itu sama kayak ayah. Fia udah cuekin orang itu, tapi kayaknya dia gak gampang nyerah dan malah semakin gencar ngehubungi Fia."
[Tapi 'kan yang punya nama belakang Jayadi gak cuma keluarga Papa. Ada beberapa keluarga lain yang punya nama belakang sama tapi gak ada kaitannya dengan Ayah. Kamu punya potonya ? Ayah cuma mau mastikan apa dia benar adik Ayah, atau hanya kebetulan punya nama belakang yang sama.]
"Ada, Yah. Sebentar." ucap Safira lalu mengotak atik ponselnya untuk beberapa saat. Setelahnya ia kembali mendekatkan benda pipih itu ke telinganya. "Udah Fia kirim, Yah."
[Oke, sebentar, ya, Sayang.]
Safira hanya berdehem pelan menanggapinya. Jantungnya mulai berdetak tak karuan menunggu kabar dari sang ayah.
[Bukan dia, sayang. Ayah gak kenal sama dia. Kebetulan ayah punya kontaknya dan sudah ayah kirimkan poto adik laki - laki ayah ke kamu. Mungkin dia hanya punya nama belakang yang sama dengan Papa.]
Penjelasan tersebut tentu saja membuat Safira terkejut. Ia bahkan mengerjap beberapa kali memastikan telinga tak salah mendengar. Lalu detik berikutnya ia tersadar dan langsung melihat pada pesan yang baru dikirim ayahnya.
"Gak mungkin. Terus dia siapa ?" gumamnya setelah berhasil melihat wajah dari adik laki - laki ayahnya.
[Fira. Kamu masih disitu, Nak ?]
Safira yang samar mendengar suara sang ayah langsung kembali meletakkan ponselnya ke dekat telinga. "Iya, yah. Maaf karena Fia masih bingung dengan semua ini."
[Kalo laki - laki itu udah buat kamu gak nyaman, lebih baik kamu meminta tolong pada teman terdekat kamu supaya bisa menjauhkan dia. Jangan coba - coba hadapi dia sendirian.]
"Iya, Yah."
Safira masih belum bisa berkata - kata. Fakta jika pria yang selalu dihindarinya ternyata tak memiliki hubungan darah dengannya memang tak sepenuhnya ia percayai begitu saja. Terlalu sulit bahkan. Sebab wajah Arsena terlihat begitu mirip dengan Adit.
[Lebih baik kamu istirahat aja. Sepertinya kamu sudah lelah. Apalagi disana pasti sudah sangat malam. Kamu harus jaga kesehatan kamu agar Bunda tidak khawatir.]
"Iya, Yah. Ayah juga jaga kesehatan. Kurangi main 'daun muda'. Inget, Ayah punya dua anak gadis yang bahkan sepantaran dengan bayi gula Ayah."
Ucap Safira yang berhasil membuat Arya disana diam membeku. Sepertinya pria itu melupakan kejadian dimana Safira memergoki dirinya tengah berada dalam satu kamar hotel dengan seorang gadis.
[Maaf sayang.]
Suaranya terdengar begitu tulus. Mungkin memang tengah menyesal dengan perbuatan buruknya. Atau bahkan disana mulutnya tengah mengumpat karena ketahuan. Entahlah. Safira tak bisa menebaknya.
"Sama satu lagi."
Safira menjeda kalimatnya sejenak. Ia menghela nafas pelan untuk menetralkan amarahnya. "Bilang ke Adit kalo Fia itu kakaknya. Supaya dia gak menaruh harapan lebih ke Fia."
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 67 Episodes
Comments