Safira mengerjap pelan saat matanya bersitatap dengan orang disebelahnya. Berbeda dengan orang tersebut yang tampak berbinar saat menyadari siapa teman sebangkunya.
"Safira ? Kamu flight ke Amerika juga ?" tanya orang itu tampak antusias.
"Iya, Pak."
"Jangan bilang kalo kamu lanjut study ke sana ?" tebak orang itu yang hanya diangguki oleh Safira.
"Iya, Pak." sahutnya dengan senyum kaku.
"Waw. Saya rencananya mau menetap disana. Karena ada beberapa urusan yang mau saya selesaikan. Sepertinya kita bisa jadi teman disana. Nanti kalau kamu ada waktu kita bisa jalan bareng." ucap Arsena dengan binar dimatanya.
Safira hanya mengulas senyuman. Ia bingung harus menjawab apa. Ingin menolak tak enak hati, namun jika ia menerima ajakan tersebut dapat dipastikan mereka akan sering bertemu. Sedang gadis itu ingin menjaga jarak dengan pria yang masih memiliki hubungan darah dengannya.
'Kalo aja kemaren ayah gak berulah, mungkin aku udah dapet info tentang siapa Arsena. Kalo udah begini gimana caranya aku menghindari dia, Tuhan ? Mana mungkin dia percaya dengan ucapanku tanpa bukti.'
ucap Safira dalam hati. Andai saja ia bisa mengesampingkan egonya kemarin, pasti saat ini ia bisa menjauhi Arsena dengan alasan yang tepat.
"Oh, iya. Kamu berangkat sendiri ?" tanya Arsena. "Orang tua kamu gak ikut nganter kamu ?"
Gadis cantik itu menggelengkan kepala pelan. "Saya berangkat sendiri, Pak. Sudah biasa." sahutnya seraya tersenyum simpul.
"Sudah biasa ?" tanya Arsena dengan kening yang mengerut. "Bukannya ini tahun pertama kamu mulai kuliah, ya ?"
Safira menggelengkan kepalanya pelan. "Ini tahun kedua saya, Pak."
Sebisa mungkin gadis itu menjawab dengan singkat. Berharap pria di sampingnya menyudahi percakapan mereka. Namun sepertinya dugaan Safira salah. Pria itu terlihat semakin gencar mengajaknya berbicara.
"Itu artinya kamu lulus lebih dulu dari angkatan kamu, dong ? Wah... Berarti kamu termasuk jenius dong, ya bisa lompat kelas. Saya semakin kagum sama kamu."
Ucap Arsena dengan mata yang berbinar. Terlihat jelas disana raut penuh kekaguman terhadap gadis disampingnya.
'Tidak salah aku menaruh hati padanya.' ucapnya membatin seraya mengagumi kecerdasan Safira.
"Terima kasih, Pak." sahut Safira singkat.
"Oh, ngomong - ngomong. Umur kamu berapa, Fira ? Delapan belas ?" tanya Asena sekaligus menebak.
Safira yang tadinya sudah kembali menatap keluar jendela kini kembali menolehkan kepalanya. Menatap pria yang tampaknya tak ingin interaksi mereka terputus begitu saja.
"Tujuh belas, Pak."
Mata Arsena membulat, namun detik berikutnya kedua sudut bibirnya terangkat menghiasi wajah tampan pria itu.
"Waw. Dan diusia kamu yang masih sangat muda kamu sudah memasuki tahun kedua perkuliahan ?" tanya Arsena memastikan.
Sementara Safira hanya menjawabnya dengan anggukan. Tak lupa senyum tipis yang tersemat dibibir mungil gadis cantik itu.
'Kalo dia senyum gini, semakin mirip sama Ayah.' ucap Safira membatin.
Semakin kuat keyakinan gadis itu akan hubungan darah diantara keduanya. Hanya saja ia tak bisa langsung mengungkap siapa dirinya mengingat statusnya yang hanya seorang anak rahasia.
"Orang tua kamu pasti bangga." ucap Arsena lagi.
Safira mengulas senyum simpul. "Alhamdulillah, Pak. Orang tua saya selalu bangga dengan pencapaian saya. Sekecil apapun itu."
Ucap safira membuat kekaguman Arsena pada gadis cantik itu semakin bertambah.
'Dia selalu bersyukur dan rendah hati dengan apa yang dimilikinya.' ucap Arsena kagum
Sepanjang perjalanan di pesawat Safira lebih banyak diam. Terlebih saat orang disebelahnya tampak selalu ingin berinteraksi dengan dirinya. Hanya tidur yang menjadi satu - satunya alasan gadis cantik itu untuk mengurangi interaksi antara mereka berdua.
Hingga tak terasa pesawat mereka telah landing di bandara terakhir.
Arsena dengan setia menunggu Safira hingga mendapatkan koper milik gadis itu.
"Kamu tinggal dimana ? Boleh saya antar ?" tanya Arsena menawarkan diri.
"Saya tinggal di asrama, Pak. Kebetulan tadi setelah sampai saya sudah meminta teman saya untuk menjemput. Mungkin sebentar lagi akan sampai."
Sahut Safira sambil menoleh sekilas pada pria tersebut.
"Itu teman saya, Pak." ucap Safira sambil menunjuk ke arah kerumunan orang.
Arsena mengikuti arah tunjuk Safira. Disana ia dapat melihat seorang gadis yang tampak lebih tua dari Safira tengah mendekat kearah mereka.
"Kamu sudah lama menunggu ?" tanya gadis itu dalam bahasa inggris.
Safira menggelengkan kepala. "Aku juga baru sampai."
"Mau langsung pergi ?"
"Sure."
Safira menoleh pada pria disampingnya. "Saya duluan, ya, Pak. Permisi." pamitnya sopan.
Arsena mengangguk pelan. "Hati - hati, Fira. Kalo kamu butuh sesuatu, kamu bisa hubungi saya. Jangan sungkan." ucapnya sungguh - sungguh.
Safira hanya menjawabnya dengan anggukan. Selanjutnya gadis cantik itu berlalu meninggalkan Arsena yang masih setia menatap punggungnya.
"Kamu semakin membuatku tertarik, Safira. Aku yakin, siapapun yang mendapatkan kamu pasti akan beruntung. Termasuk aku." ucap Arsena lebih kepada dirinya sendiri.
Senyumnya masih tersungging meski gadis yang dikaguminya telah hilang dipelupuk mata.
***
"Siapa dia ?" tanya teman Safira sambil melangkah menuju parkiran mobil.
"Siapa ?"
Meski Safira tahu maksud dari temannya itu, namun gadis cantik itu memilih pura - pura tak mengerti dengan pertanyaan Rebecca.
"Lelaki yang bersamamu tadi. Aku tau, kau pasti sudah banyak berbicara padanya saat di pesawat. Dia terlihat peduli padamu." terang Rebecca yang bisa menangkap gelagat Arsena.
"Dia pernah hadir di acara sekolahku dulu sebagai bintang tamu. Hanya itu." jelas Safira yang tak ingin menganggap hubungan mereka dekat.
"Sepertinya dia pria dewasa. Usianya pasti sudah melebihi kita." tebak Rebecca. "Kamu tau, pria dewasa itu sangat menggairahkan. Dan tentunya terlihat begitu sexy."
Safira hanya tersenyum simpul. Temannya itu memang sudah menjalani hidup bebas. Bahkan gaya berpacarannya saja sudah seperti pasangan suami istri. Itu sebabnya pemikiran pertama yang terlintas di kepala Rebecca tentang Arsena selain ketampanannya adalah tubuh atletisnya yang tampak sexy dimatanya.
"Jangan pikirkan pria lain saat kamu sendiri masih memiliki Rega disisimu." ucap Safira mengingatkan.
"Hei, hei. Jangan melibatkan Rega. Ini tentang kau dan pria itu. Aku berkata seperti itu supaya kau membuka hatimu untuk pria tampan itu." sahut Rebecca yang tak ingin dianggap berkhianat dengan kekasihnya. "C'mon, Safira. Kau tau jelas kalau aku tipikal orang yang setia."
"Setiap tempat selalu ada maksudmu." ucap Safira bergurau.
Rebecca hanya mencebikkan bibirnya. Temannya itu memang selalu begitu. Mengalihkan setiap pembahasan mengenai pria. Entah karena tak berminat atau malah karena tak normal. Kalimat itu yang selalu muncul di kepala Rebecca saat mengingat sikap temannya yang enggan membahas soal pria.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 67 Episodes
Comments