Chapture 14.

Safira masih terdiam di tempat tidurnya. Tubuhnya terasa begitu lelah selepas bekerja tadi. Kepalanya juga mulai terasa pusing karena beberapa hari ini ia memang kurang beristirahat.

"Semangat Fia. Perjuangannya tinggal sedikit lagi. Adik - adikmu udah nunggu dirumah." ucapnya menyemangati dirinya sendiri.

Gadis itu lantas beranjak duduk. Ia meraih laptop dan beberapa buku yang berada di meja belajarnya. Lalu menyalakan komputer lipat itu untuk memulai melanjutkan cicilan skripsinya.

Atensinya teralihkan saat mendengar bunyi notifikasi di ponselnya. Dengan malas gadis itu mengambil ponselnya dari dalam tas yang ada diatas tempat tidurnya.

[Abimanyu : Selamat sore cantiknya Abang Bima :)]

Bibir Safira langsung mengulas senyum bahagia. Tentu saja, karena itu adalah pesan dari orang yang sangat spesial dihatinya. Sejak kepulangan ke tanah air tahun lalu, ia dan teman semasa SMAnya dulu kembali akrab.

[Safira : Selamat pagi Abang Bima yang jelek :D]

Safira tertawa dengan balasan yang ia kirimkan. Sudah bisa ia pastikan saat ini Bima tengah mengerucutkan bibirnya karena kesal dengan balasan yang ia kirimkan.

[Abimanyu : Tega bener ngatain aku jelek. Ganteng gini juga.]

Safira membulatkan matanya saat membaca balasan dari Bima. "Narsis banget, sih."

Jemari lentik itu kemudian mengetik balasan dengan cepat. Jangan lupakan bibir Safira yang masih setia dengan senyum manisnya.

[Safira : Iya, kamu memang ganteng. Kalo liatnya pakek sedotan. :⁠-⁠D]

Gadis itu tertawa pelan setelah memastikan pesannya telah terkirim. Matanya kembali terfokus pada layar laptopnya dengan jari jemarinya yang mulai menari di atas keyboard. Sesekali matanya akan beralih pada buku yang ada di pangkuannya.

Bunyi notifikasi pada ponselnya terdengar. Namun gadis itu mencoba abai. Ia harus fokus dulu agar tugasnya tak lagi tertunda.

Hampir dua jam Safira berkutat pada laptopnya. Hingga ia merasakan tak hanya matanya, tapi tubuhnya juga merasa lelah. Safira akhirnya memutuskan untuk mengakhiri tugasnya. Ia harus menjaga kesehatannya sesuai pesan kedua orang tuanya agar targetnya dapat tercapai.

"Tunggu enam bulan lagi, ya. Setelah itu rindu kita bisa terobati." ucapnya saat layar laptopnya menampilkan poto keluarganya.

Senyum gadis itu terukir indah setiap kali mengingat tentang keluarga bahagianya. Lalu tanpa membuang waktu, Safira langsung beranjak dari tempat tidur menuju kamar mandi.

***

Di lain tempat, Arya yang baru saja selesai berpakaian langsung menuju ruang makan. Disana sudah ada kedua anaknya yang tampak duduk tenang menyantap sarapan mereka.

"Kamu udah putusin mau lanjut kemana, Kak ?" tanya Arya pada putri sulungnya setelah duduk di kursi makan. Tangannya tampak sibuk menyendok nasi goreng ke piringnya.

"Kayaknya, sih ke Garuda, Pa. Temen - temen aku banyak yang kesana soalnya." sahut Aqilah dengan mulut yang masih mengunyah roti selai sebagai sarapannya.

Arya menganggukkan kepalanya. Tatapannya beralih pada putra bungsunya. "Kalo kamu, Dit ?".

"Sama, Pa. Ke Garuda juga ikut Kakak." sahut pemuda itu setelah menandaskan segelas susu miliknya.

Sekedar info, demi mengejar Safira, Adit rela belajar keras agar dirinya bisa mengimbangi gadis yang telah ia sukai sejak kecil. Ia berhasil lompat kelas menyamai sang kakak.

"Ck. Kenapa, sih lo selalu ngikuti gue ? Kampus lain ajalah. Gue males kalo harus satu kampus sama lo. Entar temen - temen gue muji - muji lo melulu kayak sekarang. Gedek gue dengernya."

Omel Aqilah yang merasa keberatan dengan pilihan sang adik.

Pasalnya bukan sekali dua kali ia mendengar teman - temannya memuji adiknya. Bahkan tak jarang dari mereka yang malah terang - terangan membandingkan isi kepalanya dengan sang adik.

"Loh, bagus dong. Jadi Adit bisa jagain kamu kalo sewaktu - waktu ada cowok yang berniat jahat sama kamu. Itu tandanya adik kamu sayang sama kamu."

Ucap Arya memberi pengertian.

Aqilah berdecak keras. Matanya menatap tak suka pada sang adin yang tampak acuh padanya. "Aku, tuh gak suka, Pa kalo temen - temen aku muji - muji Adit terus bandingin aku sama Adit."

"Ya kalo gitu kamu harus belajar lebih giat supaya kamu dipuji sama temen kamu. Harusnya kamu contoh Adit yang rajin belajar. Bukan malah rajin nongkrong di tempat kekinian." timpal Arya membuat anak gadisnya mendengus sebal.

Ini bukan kali pertama Arya meminta Aqilah untuk belajar. Bahkan sudah sering kali, mengingat nilai akademiknya yang selalu pas - pasan.

"Itu semua juga demi kamu, Kak. Demi masa depan kamu. Nilai akademik itu akan menjadi pertimbangan untuk menerima kamu di tempat kerja." sambung Arya saat melihat wajah kesal putrinya.

"Aku masih punya Opa yang kaya. Yang bisa ngasih aku uang tanpa harus kerja. Buat apa juga harus capek - capek kerja." sahut Aqilah acuh.

"Gak selamanya Opa bisa ngasih apa yang kita mau, Kak." ucap Adit mengingatkan.

"Selagi masih bisa ya manfaatkan. Urusan belakangan kalo udah gak bisa lagi. Lagian kebahagiaan anak itu 'kan dijamin sama orang tuanya. Jadi Papa yang harus lebih kerja keras lagi untuk penuhi kebutuhan aku sebagai anak."

Setelah mengucapkan hal tersebut, tanpa mempedulikan tatapan dingin sang ayah, Aqilah langsung bangkit dari duduknya dan pergi meninggalkan ruang makan. Ia bahkan tak berpamitan pada sang ayah yang masih menatapnya.

Adit menggelengkan kepalanya melihat sikap tak sopan kakaknya. "Adit berangkat sekolah dulu, Pa. Jangan terlalu diambil hati omongan kakak. Dia cuma mau cari perhatian Papa aja."

Ucap pemuda itu lalu menyalami takzim ayahnya.

"Kamu hati - hati bawa motornya. Jaga Kakak baik - baik."

Pesan Arya sambil mengusap pelan kepala putranya.

Adit hanya mengangguk sekilas. Ia lantas pergi meninggalkan sang ayah yang tampak tidak berselera melanjutkan sarapan.

"Andai itu Safira. Dia sudah pasti akan menghargai aku sebagai orang tua." ucapnya lirih.

Tangannya lantas merogoh saku celananya. Mengambil benda pipih yang menjadi andalan sejuta umat. Jemari tampak menari diatas layar ponsel tersebut. Ia menghembuskan napas pelan.

"Maafkan Ayah, Nak." lirihnya.

***

Safira sudah bersiap untuk tidur. Tadi setelah membersihkan diri, gadis cantik itu langsung menyiapkan makan malam ala kadarnya. Lalu setelah kembali memeriksa tugasnya sebelum besok ia konsultasikan kepada pembimbingnya.

Atensinya teralihkan pada benda pipih yang sejak beberapa jam lalu ia abaikan. Sudut bibirnya terangkat saat melihat nama sang ibu ada diantara beberapa pesan yang masuk.

[Bundaku : Jangan begadang, ya, Kak. Belajar secukupnya dan istirahat yang cukup. Sayang dan rindu kakak selalu.]

"Rindu Bunda juga." ucapnya seraya mengetikkan balasan untuk pesan sang ibu. Setelahnya ia beralih pada pesan selanjutnya.

[Abimanyu : Gitu, dong. Aku 'kan jadi seneng.]

[Abimanyu : Yaudah. Kalo gitu selamat beristirahat cantikku. Jaga kesehatan. Juga jaga rindu dan cintamu padaku. Assekk :D]

"Jaga kesehatanmu juga." ucap Safira sebagai balasan pada pesan Bima.

Senyum gadis itu perlahan memudar saat membaca nama pengirim pesan selanjutnya.

[Aditya : Selamat pagi Fia cantik. Semangat menjalani hari ini. Aku sayang kamu.]

"Jangan sayang yang seperti itu. Dilarang keras."

Safira hanya menyahutinya tanpa ingin membalas. Itu adalah rutinitas yang selalu dilakukan Adit. Ia tak ingin adik seayahnya itu menjadi salah pengertian dengan tanggapannya. Karena itu akan semakin menyulitkan dirinya jika pemuda itu menaruh perasaan lebih padanya.

Mata bening gadis itu terpaku pada satu pesan yang belum di bukanya. Ada keraguan dalam hati untuk membaca pesan tersebut. Hatinya terlalu murah jika berurusan dengan perasaan.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!