Chapture 6.

Safira pulang ke rumah dengan wajah yang sangat cerah. Meski hanya sebentar ia bertemu dengan sang ayah, namun obrolan hangat yang tercipta selama beberapa jam itu mampu menciptakan kebahagiaan tersendiri untuk gadis cantik itu.

"Happy banget yang abis dari luar."

Gadis cantik itu berjengkit kaget saat mendengar sebuah seruan. Ia bahkan tak menyadari keberadaan orang tersebut karena saking senangnya.

"Sampek kaget gitu denger suaraku. Hayo, loh. Pasti abis ketemu cowok 'kan makanya sampek gak nyadar tempat."

Lanjut orang itu lagi membuat Safira tersenyum malu. Gadis itu lantas menghampiri dan langsung duduk disebelahnya.

"Sakha... Kangen, deh." ucap Safira sambil memeluk lengan sepupunya.

"Kingin, dih." ucap Sakha menye - menye sambil mengulang kalimat kakak sepupunya. "Bullshit banget omongannya. Dua minggu disini gak pernah ngasih kabar. Malah sibuk mulu ngurusi Kafe, Toko, sama Resto."

"Lah, ngambek ? Salah kamu juga 'kan yang gak mau mampir kesini. Pulang sekolah juga kamu langsung pulang ke rumah Oma Rahma. Padahal bisa tuh mampir kesini bentaran buat nengokin Kakak."

Cerocos gadis cantik itu membuat Sakha membulatkan matanya.

"Heh. Aku udah mampir kesini, ya. Kak Fianya aja yang selalu gak ada. Aku nunggu sampek dua jam tapi Kak Fia gak pulang - pulang juga. Kurang apa coba pengorbanan waktu aku buat Kakak. Eh, malah sekalinya ketemu bikin kesel gini."

Safira tertawa melihat sepupunya itu yang meluapkan emosinya. Sungguh ia sangat senang melihat wajah sepupunya yang bak kepiting rebus karena terbawa emosi.

"Iya, deh, iya. Maafin Kakak, ya. Kak Fia emang terlalu sibuk sampek jarang dirumah." ucap Safira sambil memasang wajah melasnya.

"Nyenyenye. Cewek selalu kayak gitu. Pasang muka melas biar dimaafin." sungut anam laki - laki yang mulai beranjak remaja itu.

"By the way. Nginep 'kan ?" tanya Safira mengalihkan pembicaraan.

"Iya nginep. Mama sama Papa mau pergi ke acara temen kerja Papa. Shafiq juga nginep disini." jelas remaja laki - laki tersebut.

"Gimana kalo nanti malem kita nge-date ? Makan pinggir jalan tempat biasa. Mau ?"

Tentu saja tawaran tersebut langsung disetujui oleh Sakha. Remaja laki - laki itu bahkan telah menerbitkan senyum miringnya.

"Kakak yang traktir 'kan ?"

Safira mencebikkan bibirnya, lantas mengangguk pasrah. "Iya. Kakak traktir. Tapi nanti kita keluarnya setelah makan malem, ya. Biar bisa nikmati masakan bunda. Kakak tinggal dua minggu lagi loh disini. Jadi mau puas - puasin makan masakan Bunda."

Sakha tersenyum simpul sambil mengacungkan jempolnya. "Asiap. Yang penting setelah itu bisa jajan sepuasnya." ucapnya dengan kedua alis yang dinaik turunkan.

Safira hanya membalasnya dengan anggukan disertai tawa. Sepertinya ia harus bisa membagi waktu untuk banyak orang selama liburan kali ini.

***

Malamnya, tepat setelah makan malam. Setelah berhasil bernegosiasi dengan tiga bocil kesayangan orang tua masing - masing, Safira dan Sakha akhirnya bisa sampai di taman dekat komplek rumahnya.

"Tadi kakak udah pesen ke Pak Alif 'kan buat jemput kita lagi ?"

Safira mengendikkan bahunya. "Mau bilang tapi takut ngerepoti. Kamu gak merhatiin mukanya Pak Alif ? Keliatan pucet gitu. Jadinya kakak gak bilang minta jemput. Cuma bilang nanti di kabari lagi."

Sakha tampak mengingat - ingat. "Aku, sih gak terlalu merhatiin. Tapi kalo dari suaranya, emang agak beda. Kayak suara orang yang lagi flu gitu."

"Makanya itu Kakak jadi gak enak mau bilang minta jemput. Mending nanti minta jemput Papa aja. Biar Pak Alif bisa istirahat."

Safira berhenti ke gerobak penjual telur gulung. "Telur gulungnya lima ribu, ya, Pak. Dua bungkus."

"Iya, Neng. Ditunggu, ya." sahut Bapak tersebut sambil tersenyum ramah.

"Sesekali kita harus ngerepoti Om Endy, Kak. Biar mantan playboy itu gak mesra - mesraan terus sama Bunda.", ucap Sakha yang langsung disambut tawa oleh Safira.

"Biar playboy gitu, tetep Om kamu loh. Muka kamu juga lama - lama mirip sama Papa. Cara ngomong kamu juga." ucap gadis cantik itu membuat Sakha mencebikkan bibirnya.

"Jangan sam..."

"Fia..."

Baik Safira maupun Sakha menoleh ke sumber suara. Keduanya tampak heran menatap seorang pemuda yang tampak tersenyum ramah pada mereka.

"Iya 'kan kamu Fia ? Safira Mazaya." ucap pemuda tersebut dengan senyum yang semakin mengembang.

"Sok akrab." cibir Sakha setelah melihat raut bingung diwajah sepupunya.

Safira melirik sekilas pada Sakha yang sudah memalingkan wajahnya. Lalu ia berdehem pelan sambil mengulas senyum. "Maaf. Tapi aku gak inget kamu siapa."

Senyum yang sejak tadi tersemat diwajah pemuda tampan itu berlahan pudar. Namun beberapa detik berikutnya ia malah tertawa pelan.

"Kita satu kelas dari mulai kelas sepuluh sampek kelas sebelas. Trus pas naik kelas dua belas kamu malah gak keliatan lagi disekolah. Sewaktu aku tanya ke pihak sekolah, ternyata kamu ikut kelas akselerasi. Jadinya kamu lulus duluan."

Pemuda itu menjelaskan panjang lebar. Namun sepertinya ingatan Safira tengang pemuda dihadapannya belum muncul. Terbukti dengan reaksi gadis itu yang tampak menggaruk kepalanya yang tak gatal.

"Bilang aja mau kenalan. Modus banget." ucap Sakha yang terlihat kesal dengan tingkah pemuda tersebut.

"Sakha..." tegur Safira sambil menjawil lengan sepupunya. Ia lantas tersenyum canggung pada pemuda dihadapannya. "Maaf, ya. Tapi aku masih belum inget siapa kamu."

Dengan memaksakan senyumnya, pemuda itu kembali berkata, "Ah... Itu biasa kayaknya. Orang - orang pinter yang selalu sibuk belajar memang jarang mengingat orang sekitar."

"Tuh tau."

Sahut Sakha membuat Safira kembali menyenggol lengan sepupunya. Mata gadis itu membulat seolah memperingati Sakha agar bisa menjaga sikapnya.

"Maaf, ya. Dia memang suka ceplas ceplos orangnya."

"Gak papa. Aku maklumi, kok. Kita 'kan baru ketemu. Jadi mungkin dia ngerasa gak nyaman dengan kehadiran aku." ucap pemuda itu mencoba memahami.

"Akhirnya sadar juga."

Kembali Sakha berujar. Kali ini Safira hanya meliriknya sekilas dan berusaha tetap senyum pada pemuda dihadapannya. Entahlah. Rasanya Safira takut membuat pemuda itu tersinggung. Padahal biasanya ia akan bersikap sama seperti Sakha saat bertemu dengan pria asing yang mencoba sok akrab dengannya.

Pemuda itu tersenyum seraya mengangguk pelan. Ia menghela nafas berat saat laki - laki yang tampak lebih muda darinya kembali berbicara ketus.

Safira menatap lamat pemuda di depannya. Ada rasa aneh saat matanya tanpa sengaja bersitatap dengan pemuda tersebut.

'Tatapannya gak asing. Tapi siapa, ya ?' ucap Safira membatin.

Seolah dapat membaca pikiran Safira, tiba - tiba saja pemuda itu kembali bersuara.

"Abi."

"Hah ? Ngomong apa ?" tanya Safira sambil menoleh ke kanan dan kiri. Berharap ada pria paruh baya disekitarnya yang merupakan ayah atau kerabat dari pemuda hadapannya. "Kamu tadi bilang Abi ?"

Pemuda itu mengangguk. "Namaku Abi. Abimanyu Xavier Kairendra."

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!