Safira diam terpaku di tempat. Dadanya masih bergemuruh menatap sosok pria yang merupakan ayah biologisnya tampak berinteraksi dengan petugas resepsionis.
"Ayah bawa dia ke hotel ?", gumamnya masih tak percaya. "Ck. Padahal dia punya dua anak perempuan."
Rasa kecewa dalam dirinya terhadap sang ayah semakin membesar saat melihat kenyataan bahwa pria yang telah ikut andil menghadirkannya ke dunia malah penyuka daun muda.
Perlahan Safira berjalan mendekat. Mencoba curi dengar percakapan sang ayah. Ia sudah membulatkan tekad untuk menemui sang ayah saat ini juga.
"Ini kuncinya, Pak. Kamar nomor 83, lantai empat. Ada barang yang perlu kami bawakan, Pak ?"
Safira terus melirik pada petugas wanita yabg tampak tersenyum ramah.
"Tidak ada. Kami permisi dulu."
"Baik, Pak. Selamat beristirahat."
Safira terus memperhatikan kepergian ayahnya. Ia telah mendapatkan kamar yang disewa pria itu.
"Ck. Anak muda zaman sekarang rela menyerahkan tubuhnya pada pria hidung belang demi uang. Kayak gak ada jalan lain aja."
Ada rasa tak terima dalam hati Safira saat mendengar ayahnya disebut sebagai pria hidung belang. Namun kenyataan di depan matanya membuat rasa kecewanya tak juga menyurut.
Safira menghela nafas pelan. Ia harus mengendalikan emosinya agar tak meluap sembarangan. Ia tentu tidak ingin membuat keributan di tempat umum hingga berakhir mempermalukan dirinya sendiri.
Setelah menunggu hampir lima belas menit, Safira beranjak menuju lift. Segera ia tekan tombol pada dinding besi itu menuju lantai empat. Perasaannya sudah tak karuan. Ia hanya bisa berharap saat ia datang sang ayah belum melancarkan aksinya.
Ting.
Bunyi denting lift berbunyi seraya terbukanya pintu. Safira mengambil nafas dalam dan menghembuskannya perlahan. Lalu membawa kakinya melangkah menuju pintu dimana sang ayah berada.
Diketuknya perlahan pintu tersebut. Gadis cantik itu menunggu beberapa saat. Setelah dirasa tak ada jawaban, Safira kembali mengetuk pintu tersebut. Hingga ketukan ketiga kali barulah pintu itu terbuka.
Safira menatap datar perempuan yang berdiri diambang pintu. Gadis itu menelisik penampilan perempuan dihadapannya ya g sudah berganti menjadi gaun sexy yang tembus pandang.
'Padahal kalo dilihat dari wajah, dia seumuran denganku. Bisa - bisa... Ck'
Safira menyayangkan perempuan dihadapannya yang mengambil jalur pintas hanya demi mendapat apa yang diinginkan. Demi mengikuti gaya yang tengah trend masa remajanya harus dihabiskan dengan menjadi pelayan sex.
"Gue bisa tebak. Lo pasti salah satu mantan babynya daddy yang gak mau lepas 'kan ? Ck. Gue kasih tau, ya. Daddy itu kalo udah bosen gak bakal mau 'makeknya lagi. Jadi jangan buang tenaga lo dengan datang dan ngerusak kesenangan daddy sama gue."
Safira hanya mendengarkan celotehan perempuan tersebut. Wajahnya sama sekali tak menunjukkan perubahan saat mendengar kalimat yang keluar dari mulut perempuan tersebut.
"Panggil daddy lo keluar. Suruh temui gue."
Safira memerintah tanpa mempedulikan raut tak suka dari perempuan dihadapannya.
Perempuan itu menatap tak suka pada Safira. Ia menelisik wajah Safira yang nampak tak asing diingatannya.
"Muka lo gak asing. Lo..."
Perempuan itu menggantung kalimatnya dengan mimik wajah berpikir.
Sementara Safira, gadis itu memutar bola matanya jengah. Perempuan itu hanya membuang waktunya saja.
"Mending lo cepetan panggil dad--"
"Lo Safira 'kan ?"
Kalimat Safira terpotong oleh ucapan perempuan dihadapannya. Safira memicing menatap perempuan tersebut.
"Lo anak bea siswa dari SMA Harapan Pertiwi 'kan ? Ck. Gak nyangka gue. Ternyata lo juga sugar baby. Tapi iya, sih. Jaman sekarang gak bisa cuma mengandalkan bea siswa untuk melanjutkan hidup. Tapi juga tubuh."
Safira masih belum mengubah raut wajahnya. Ia mengangguk pelan saat ingatan tentang perempuan dihadapannya muncul.
"Kalula. Kita ada dikelas yang sama sewaktu kelas sepuluh. Gue baru inget. Tapi gak penting juga untuk dibahas. Sekarang bukan waktunya bernostalgia. Panggilin daddy lo sekarang. Bilang gue mau ketemu dia."
Perintah Safira lagi.
Tentu saja hal tersebut membuat Kalula mendengus kesal. Bukannya menuruti perintah Safira, perempuan itu malah melipat tangannya di depan dada.
"Jangan mimpi lo bisa dapetin daddy lagi. Dia udah punya gue. Lo itu udah dibuang dan gak bakal dipungut lagi."
Kalula mengucapkannya dengan penuh penekanan. Ia sudah memasang wajah sinisnya saat mata keduanya bersitatap.
"Lo panggilin sekarang atau gue yang masuk ?", tanya Safira mengancam.
Mata Kalula membelalak saat mendengar ancaman tersebut. Tapi bukannya menyingkir perempuan tersebut malah maju selangkah hendak mendorong Safira.
"Sayang, kenapa lama ?"
Suara bariton dari arah kamar membuat keduanya menoleh. Dari dalam sana muncul Arya yang berjalan menuju ambang pintu. Pria itu hanya membalut tubuhnya dengan handuk putih yang melilit di pinggangnya.
"Ada apa, sayang ?", tanya pria itu lagi sambil menarik pinggang Kalula untuk mendekat.
'Menjijikkan', umpat Safira dalam hati.
Sungguh kesabarannya benar - benar diuji hari ini. Ayahnya itu bahkan tak memalingkan tatapannya dari Kalula.
"Daddy. Ada baby daddy yang belum move on. Kayaknya dia gak rela lepas dari daddy. Ketagihan uang sama 'senjata' daddy."
Arya tertawa pelan mendengar suara manja gadisnya. Tanpa mempedulikan orang yang ada dihadapannya, Pria itu membubuhkan kecupan di pipi Kalula.
"Gak usah ngambek, ya ? Daddy 'kan sekarang milih kamu." ucapnya sambil menjawil dagu gadisnya.
'Sumpah. Gue mau muntah.'
Safira kembali mengumpat dalam hati. Ia sungguh jengah dengan sikap sang ayah yang melebihi anak remaja. Gadis itu menatap Kalula yang tampak tersenyum sinis ke arahnya.
'Semoga Papa dijauhi dari perempuan kayak dia.'
Safira mengatur nafasnya kembali. Lalu ia berdehem sedikit kencang untuk mengalihkan atensi Arya.
"Tuh, 'kan, dad. Dia udah kepanasan liat kita." ucap Kalula membuat ayah gulanya tertawa geli.
Arya lantas mengangkat wajahnya. Menatap orang yang sejak tadi ia acuhkan. Senyumnya pria itu perlahan memudar saat mendapati siapa yang ada dihadapannya.
"Fira ?"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 67 Episodes
Comments