...~•Happy Reading•~...
Barry tidak bisa menghilangkan pikirannya dari RS Sopaefams dimana Enni pernah dirawat di sana. Sebuah rumah sakit swasta untuk kalangan menengah ke atas. Hanya orang-orang berduit yang bisa dirawat di sana.
'Apa mungkin Winda dirawat oleh seseorang di suatu tempat atau di rumah sakit itu? Apa ada yang menemukan dia di luar rumah sakit dan mengembalikan dia ke sana lagi?' Barry terus berpikir dan makin kesal dengan kondisi tubuhnya yang belum bisa lakukan sesuatu.
'Apa dia ditolong oleh para medis rumah sakit itu?' Barry terus berpikir dan bertanya lagi dalam hati.
'Aahh, tidak mungkin. Apa lagi sikap para tenaga medis yang tidak berperikemanusiaan itu. Sangat ngotot agar aku harus membayar perawatan Winda di UGD yang hanya beberapa jam.' Barry terus berpikir mencari kemungkinan yang bisa diterima dan memungkinkan.
"Kau keluar lagi untuk beli makan siang seperti biasa buat saya. Untukmu terserah yang kau suka." Barry memberi ATM kepada Bashu untuk membeli makanan dan minuman, juga obat-obatan yang dia perlukan.
...~▪︎▪︎▪︎~...
Di sisi yang lain ; Menjelang sore, Kirana tiba di rumah sakit setelah istirahat dan akan memeriksa pasien. Ia masuk ke ruangannya sambil diikuti oleh Keni yang diajaknya sebelum dia pulang.
"Tolong ceritakan kejadian tadi. Bagaimana kalian bisa lolos dari pria itu...." Dr Kirana penasaran dengan apa yang terjadi. Mengapa pria kekar itu masih datang mencari Enni di rumah sakit dan jadi kepikiran.
^^^Keni menceritakan semua yang terjadi dan bagaimana Bagas membuntuti pria kekar itu dengan naik motor security. Kirana mendengar dan mengangguk dengan hati lega, mereka yang dimintai tolong bisa bekerja dengan baik.^^^
"Sekarang kau sudah boleh pulang. Saya mau menemui dan memeriksa pasien." Dr Kirana berkata kepada Keni, lalu mengambil paper bag yang dibawa dari rumah. Kemudian Kirana ikut keluar dari ruangannya, lalu menepuk pundak Keni sebagai ungkapan rasa terima kasih.
Setelah memeriksa para pasiennya, dr Kirana menemui Enni untuk memeriksanya. Kirana tertegun melihat Enni sedang duduk di kursi sambil makan roti, sangat santai.
"Asyik sekali... Habisin saja dulu, nanti baru saya periksa." Kirana berkata sambil tersenyum, melihat Enni dengan cepat meletakan roti di tangannya ke dalam kotak roti.
Enni kembali mengambil potongan roti yang dia letakan dalanm kotak roti, lalu menghabiskan sisanya. "Makan saja dulu..." Dr Kirana mempersilahkan Enni makan roti yang masih ada, tidak usah disisahkan.
"Cukup, dokter. Sayang kalau langsung dihabiskan semua. Rotinya sangat enak..." Enni berkata dengan malu-malu, lalu meletakan kotak roti di atas meja kecil di samping ranjang.
"Kalau enak, dihabisin saja. Nanti kita minta Pak Bagas bawa lagi yang banyak..." Dr Kirana tersenyum melihat kepolosan Enni. Kirana berpikir, mungkin Enni baru pernah makan roti yang dibawa Bagas.
"Nanti saja, dok. Saya mau periksa dulu. Sepertinya kaki saya sudah tidak terlalu sakit lagi, dok." Enni jadi semangat untuk lekas sembuh, sebab tidak enak pada Kirana yang sangat perhatian dan sayang padanya.
"Kalau begitu, berbaring. Saya akan periksa, agar kau bisa makan malam lebih awal." Dr Kirana meminta suster yang mendampinginya untuk membuka perban di kaki Enni dan juga di bagian tubuh yang lain.
"Iya, semua prosesnya bagus... Tidak usah diperban lagi dan mulai latih berjalan dalam ruangan ini, ya." Dr Kirana berbicara kepada suster dan juga Enni.
"Trima kasih dokter, suster..." Enni berkata dengan hati senang, sebab semua usahanya untuk lekas sembuh tidak sia-sia. Dia tidak pernah garuk atau membuat luka-lukanya basah dan terus menjaga agar tidak kotor.
"Ok. Ini buku buat mengisi waktu..." Dr Kirana memberikan beberapa buku yang dikeluarkan dari paper bag. Agar Enni bisa mengisi waktu dengan membaca, sebab luka-lukanya sudah mulai kering.
"Trima kasih, dokter..." Enni menerima buku yang diberikan, lalu memeluknya dengan rasa terima kasih yang tak terhingga. Sebab sudah sangat lama tidak membaca sesuatu, apa lagi sebuah buku.
"Baca perlahan saja. Saya tinggal dulu..." Dr Kirana segera meninggalkan Enni bersama suster untuk melanjutkan tugas berikutnya sebelum tiba waktu makan malam.
...~▪︎▪︎▪︎~...
Sudah hampir seminggu Enni dirawat di rumah sakit dan kondisi fisiknya sudah hampir pulih. Hal itu membuat dia tidak tenang dan agak kepikiran. Dia akan keluar dari rumah sakit, tapi belum tahu mau kemana dan harus berbicara dengan dokter dan pengacaranya.
^^^Sebab setelah peristiwa dengan Bashu datang ke rumah sakit, Bagas belum datang lagi ke rumah sakit. Sehingga Enni bertanya-tanya dalam hati, apa terjadi sesuatu dengan Bagas. Begitu juga dengan dr Kirana yang belum menemuinya.^^^
^^^Sekarang Enni tidak bisa membuat keputusan sendiri. Dia harus bicarakan dengan dr Kirana sebelum ambil tindakan.^^^
^^^Sedangkan dr Kirana sedang tidak ada di tempat. Menurut suster yang merawatnya, dr Kirana sedang ikut pertemuan para dokter yang dinas di rumah sakit swasta di luar kota.^^^
Jadi ketika melihat dr Kirana datang menjelang sore di akhir pekan, Enni tersenyum senang dengan hati girang.
"Sorry, beberapa hari ini tidak datang kontrol, karna ada sibuk di luar." Kirana berkata sambil meletakan paper bag berisi kotak roti kesukaan Enni.
"Trima kasih, dok..." Enni menerima kotak roti lalu mencium kotaknya. Dia tidak bisa menyembunyikan rasa senangnya mencium wangi roti.
"Makan dulu rotinya, saya keluar sebentar..." Dr Kirana keluar lagi dari ruangan, sebab apa yang dilaporkan perawat tentang perkembangan kesehatan Enni adalah benar. Dia sudah hampir pulih, tinggal memeriksa psikisnya.
Setelah di koridor, Kirana mengotak-atik ponselnya lalu menelpon.📱"Sore, Mas Thias... Masih di luar kota?" Tanya Kirana pelan, saat Mathias merespon panggilannya.
📱"Iya, Dek. Belum selesai. Ini baru kembali ke hotel. Gimana?" Tanya Mathias cepat. Ia yakin, Kirana sedang perlu dengannya, sebab langsung telpon tanpa kirim pesan untuk bertanya tentang kesibukannya.
📱"Ooh, gini, Mas. Mau minta tolong beberapa hal. Terutama nasehat atau ide, sebab aku lagi ngga konsen." Kirana berkata cepat, sebab tahu kesibukan Mathias.
📱"Ok, Dek. Sekarang saja, sebelum makan malam. Mas mau keluar dengan client untuk makan malam."
📱"Ini tentang Enni, Mas. Sekarang sudah bisa dibilang semua lukanya hampir sembuh, tinggal konsul untuk tahu traumanya."
📱"Ooh, ok. Senang mendengarnya. Jadi Pak Bagas sudah bisa lanjutkan prosesnya. Nanti aku hubungi untuk bicarakan kelanjutannya."
📱"Makasih, Mas. Tapi aku mau ajak bicara Mas Thias, bukan tentang kasusnya, tapi kondisi paskah sembuhnya. Dia tidak bisa tinggal di rumah sakit terus, Mas."
📱"Ooh, ok. Aku mengerti. Dia mau keluar dari rumah sakit, tapi belum bisa berkeliaran di luar sebelum ada penuntutan dan kasusnya di sidangkan. Jadi kau mau ajak dia tinggal denganmu?"
📱"Naah, itu dia, Mas. Makanya aku mau ajak bicara Mas Thias. Kalau dia tinggal di tempatku, ngga baik untuk perkembangan mentalnya. Dia akan sering tinggal sendiri di apartemen. Mas tau sendiri kondisi dan tempat tinggal dia sebelum tiba di rumah sakit ini." Kirana berkata pelan dan berharap ada solusi dari Mathias.
...~▪︎▪︎▪︎~...
...~●○¤○●~...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 159 Episodes
Comments
🎀🤎⃟ ♔↬sᷠ͜aⷷs̰ᷠa̰ᷛ↫❀∂я
bersyukur banget enni ketemu orang sebaik dokter Kirana, bahkan sampai keadaan buat kedepannya udah di pikirin ama dia
2024-05-13
3
𝓐𝔂⃝❥🍁●⑅⃝ᷟ◌ͩṠᷦụᷴfᷞi ⍣⃝కꫝ🎸❣️
untung ketemu doktor kirana yg baik hati dan prihatin ya, kalau ngak mungkin enni ngak ada yg tolongin, si barry udah mulai curiga tuh semoga ngak berpihak pada kecurigaan dia ya, biar gagal terus nyari enni sampai dia bener2 sembuh.
2024-04-15
3
𝐀⃝🥀senjaHIATᴳ𝐑᭄⒋ⷨ͢⚤🤎🍉
dokter Kirana baik banget ya,dia bahkan sudah memikirkan kehidupan Enni kedepannya. semoga ada jalan keluar agar Enni bisa terus menghindari Barry dan anak buahnya...
2024-04-02
3