...~•Happy Reading•~...
Semua pertanyaan yang ada dalam kepala dr Kirana membuat ia penasaran tentang apa yang terjadi dengan Enni.
"Jadi siapa pria berbadan kekar yang dini hari tadi datang mencarimu itu? Katanya dia asisten suamimu." Tanya dr Kirana dengan alis bertaut, sebab profesi Enni dan statusnya sebagai istri, perlu dipertanyakan kebenarannya.
Sontak Enni mencengkram tangan dr Kirana. "Dokter, tolong selamatkan saya dari pria itu. Saya tidak tau siapa dia dan saya belum menikah." Enni memohon sambil menggenggam tangan dr Kirana dengan tangan yang bergetar. Air matanya langsung mengalir membasahi pipi, saat memohon. Dia berharap dr Kirana tidak menyerahkan dia kepada Barry.
^^^Dr Kirana merapatkan kursinya ke ranjang Enni, lalu memegang tangan Enni dengan tangan satunya untuk menenangkan Enni. Dr Kirana bisa merasakan pergolakan batin Enni dan rasa takut yang sangat kuat.^^^
"Jangan menangis. Itu tidak baik untuk proses penyembuhanmu." Dr Kirana mengelus kedua tangan Enni yang menggenggam tangannya.
^^^Enni mau menghapus air matanya, tapi tidak bisa sebab terhalang oleh perban yang ada di bagian wajah dan pingiran matanya.^^^
Dr Kirana melepaskan tangan Enni lalu mengambil tissu untuk menghapus air mata Enni. "Jangan menangis lagi. Kau aman di sini." Ucap dr Kirana sambil terus membersihkan wajah Enni, agar luka lecet dan tergores tidak basah.
^^^Kemudian, dr Kirana memanggil suster untuk mengobati dan mengganti perban di wajah Enni. Dr Kirana berharap, setelah sembuh, semua luka yang ada tidak meninggalkan bekas di tubuh Enni, terutama di wajahnya.^^^
^^^Melihat apa yang dilakukan dokter dan suster untuk wajahnya, Enni menguatkan hatinya agar tidak menangis lagi. Supaya tidak merepotkan dokter dan suster. Dia menyadari, mengapa dr Kirana melarang dia untuk tidak menangis.^^^
"Kau mau menceritakan apa yang terjadi denganmu? Mengapa kau mengalami luka seperti ini?" Tanya dr Kirana setelah suster yang mengobati Enni keluar kamar meninggalkan mereka.
"Saya bertanya ini, agar bisa tau, mau menolongmu dari mana." Dr Kirana berkata pelan tapi serius untuk meyakinkan Enni, bahwa dia siap mendengar dan mau menolongnya, jika perlu.
^^^Enni mengangguk, lalu menceritakan tentang dia dari saat kuliah (seperti yang diingatnya tadi), sampai peristiwa malam terakhir yang terjadi di kamar Barry dan melarikan diri darinya.^^^
^^^Dr Kirana tidak bertanya di selah cerita Enni, walau hatinya tidak tahan untuk berkomentar atau bertanya. Setiap Enni menceritakan kisah hidup yang dialami dan dijalani membuat dr Kirana melihatnya dengan tercengang.^^^
^^^Semua yang diceritakan Enni membuat dr Kirana mendengar dan melihatnya dengan perasaan campur aduk. Marah, sedih, geram, semuanya silih berganti mempengaruhi emosi dan perasaannya.^^^
^^^Dr Kirana menarik nafas panjang berkali-kali untuk meredam amarah dan emosinya. Dia menyadari, Enni sudah cukup menderita, jadi dia tidak perlu menambahnya lagi dengan komentar atau rasa geramnya.^^^
"Huuuuuuu...." Dr Kirana menghembuskan nafas dengan kuat, untuk melegakan hatinya, saat Enni berhenti menceritakan kisah hidup yang dialaminya.
"Tuhan telah membawamu ke sini, dan saya dokter jaga tadi malam. Saya percaya, tidak kebetulan saya mengantikan tugas jaga rekan dokter yang berhalangan dinas tadi malam." Dr Kirana berkata pelan sambil mengelus tangan Enni dengan hati yang sangat sedih.
^^^Ada seorang wanita baik-baik seusianya diperlakukan seperti hewan oleh orang yang bernafsu hewan. Rasa marah dan geramnya berubah jadi sedih. Hatinya benar-benar sedih membayangkan semua yang terjadi dengan Enni.^^^
"Enni... Walau sepuluh tahun usiamu telah berlalu di tempat kotor, tapi masih ada banyak waktu untuk kau bersihkan kotoran yang menempel akibat lingkunganmu." Ucap dr Kirana serius, sambil menepuk pelan tangan Enni.
"Masih ada kesempatan untuk memulai yang baru, walau itu dari nol. Semuanya dimulai dari sini." Dr Kirana menunjuk dada Enni. Bagi dr Kirana, hati Enni perlu dibersihkan dari semua rasa amarah dan dendam terhadap orang-orang yang telah menyakitinya.
Sebab bagi dr Kirana, luka di hati Enni tidak mengeluarkan darah, tapi sakitnya lebih dari semua luka berdarah yang terlihat. Luka di hatinya, hanya Enni sendiri yang bisa menyembuhkannya.
Dengan demikian, bukan saja luka terlihat di sekujur tubuh Enni yang sembuh. Tetapi terutama luka hati dan batinnya di sembuhkan terlebih dahulu.
"Sudah cukup mengingat semua yang membuat hatimu makin terluka. Kau harus berusaha menyembuhkan luka hatimu, agar bisa berpikir jernih dan berjuang untuk hidup dan masa depanmu." Dr Kirana terus berbicara, sambil menggenggam tangan Enni, agar dia tidak menangis lagi.
^^^Dr Kirana bisa melihat dan merasakan emosi dan perasaan Enni silih berganti bersamaan dengan emosinya yang makin meningkat. Ia juga melihat Enni sedang berusaha mengendalikan amarahnya. Jadi dia merasa cukup, agar tidak membuat Enni terbebani dan sedih.^^^
"Sekarang saya tanya, apa kau mau bertemu dengan keluargamu? Mungkin saja mereka sedang mencarimu." Dr Kirana mulai menyelidiki keinginan Enni, agar dia bisa tahu apa yang bisa dia lakukan dan tidak bersalahan dengan keinginan Enni.
Enni menggelengkan kepalanya, kuat. "Tidak dalam kondisi seperti ini, dokter. Dan saya tidak mau lagi bertemu Bargani, kakak ipar saya itu." Ucap Enni pelan, sambil menahan emosinya.
"Baik. Jadi kalau semua lukamu sudah sembuh dan tidak bertemu dengan ipar sont...(dr Kirana tidak meneruskan ucapan kasarnya, agar tidak membuat Enni makin emosi), kau mau bertemu dengan keluarga intimu?" Dr Kirana ingin tahu keinginan Enni lagi, makin jauh ke dalam hatinya.
"Jika suatu waktu bisa bertemu, saya hanya mau bertemu dengan adik saya, Acel." Mata Enni kembali berkaca-kaca mengingat adiknya.
"Tapi saya tidak mau dengan Mba Nestri. Dia mencintai suaminya, mungkin dia tidak akan percaya yang saya bilang. Atau dia kasih tau saya ada di mana buat suaminya." Enni benar-benar tidak mau bertemu dengan Bargani.
"Baik. Saya mengerti, maksudmu. Sekarang kita lanjut lagi sebelum kau istirahat." Dr Kirana ingin tahu keinginan dan rencana Enni setelah sembuh.
"Jika semua luka ini sudah sembuh, kau mau menuntut orang-orang yang sudah lakukan tindak kekerasan ini padamu?" Tanya dr Kirana sambil melihat Enni dengan serius. Sontak Enni yang tadinya sedang merasa sedih, melihat dr Kirana dengan tatapan yang berbeda.
^^^Bagi dr Kirana, semua yang dialami oleh Enni adalah tindakan kekerasan dan kejahatan. Bukan hanya luka biasa terjadi, karena unsur kekerasan yang tidak sengaja. Tapi semua luka dan apa yang dialami Enni adalah suatu tindakan kejahatan yang terus-menerus dan Enni harus dapatkan keadilan.^^^
"Mau, dokter..." Jawab Enni cepat, sambil menganggukan kepalanya dengan kuat, lalu menggenggam tangan dr Kirana.
^^^Ucapan dr Kirana membangkitkan semangatnya. Sebab itu yang selalu ada dalam hati dan pikirannya, tapi belum tahu bagaimana cara memberikan pelajaran buat orang-orang jahat itu.^^^
"Baik. Jika itu terjadi nanti, kau tidak malu, kalau profesimu diketahui publik?" Tanya dr Kirana lagi untuk memastikan kesiapan Enni. Dia mengajak Enni bicara tentang itu, sebab bisa saja terjadi. Enni akan berhadapan dengan ucapan miring atau hinaan dari publik.
...~▪︎▪︎▪︎~...
...~●○¤○●~...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 159 Episodes
Comments
☠ႦαRAkudA
lanjuuut
2024-09-06
1
Bambut That
gassssss
2024-08-13
1
🍌 ᷢ ͩ🤎ᴰᵉᵈᵉรωεεƭყˡᵉⁿ💋•§¢•
Ayo cerita kan saja ❣️
2024-05-27
1