...~•Happy Reading•~...
Mendengar ucapan Enni, dr Kirana jadi tersenyum dalam hati. Dia sendiri sudah lapar, sebab sepanjang malam hanya sempat minum kopi instan. Jadi dia telah minta perawat membawa sarapan ke kamar Enni.
"Tunggu... Sebentar lagi sarapannya akan diantar ke sini. Sementara menunggu, saya mau ingatkan, jangan sampai semua lukamu basah. Terutama yang di kaki, supaya lekas sembuh. Jadi kalau mau ke kamar mandi, panggil suster. " Dr Kirana berkata setelah memeriksa kaki Enni yang terluka karena berlari tanpa alas kaki.
"Iya, dokter, trima kasih..." Enni berkata dengan suara bergetar dan mata mulai tergenang. Dia sangat terharu, merasakan perhatian tidak terduga dari seorang dokter yang tidak dia kenal dan juga tidak mengenalnya. Cara Dr Kirana memperlakukan dia lebih dari seorang pasien, seperti keluarga sendiri membuat hatinya penuh, meluap dan ingin menangis.
"Tidak baik, sedih di pagi hari. Mulai sekarang harus kuat dan semangat, agar semua luka ini bisa lekas sembuh." Dr Kirana berkata tanpa melihat ke arah Enni. Dia tahu Enni sedang sedih dari getaran suaranya, jadi menyemangatinya.
^^^Dr Kirana ingin Enni lekas sembuh, agar bisa tahu apa yang bisa dia lakukan buat hidupnya dan juga buat orang yang sudah menyakitinya.^^^
"Ayooo, sarapan... Suster, tolong rapikan posisi pasien untuk makan." Ucap dr Kirana kepada suster yang sudah mengantar sarapan untuk mereka dan melihat Enni agak kesulitan duduk.
Suster membantu Enni, lalu segera mendorong meja makan pasien ke arah Enni yang sudah duduk untuk sarapan. Dr Kirana juga sudah duduk di sofa yang ada dalam ruangan itu untuk sarapan bersama Enni.
"Ada lagi yang mau dibantu, Dok..." Tanya suster, pelan dan sopan. Dia mengira pasien adalah keluarga dr Kirana, sebab dr Kirana mau makan bersama dengannya di kamar pasien.
^^^Selain itu suster tahu, pasien belum terdaftar di ruangan mawar. Jadi makin menguatkan dugaannya, pasien adalah keluarga dr Kirana. Jadi mungkin masuk dan dirawat di bagian itu lewat jalur khusus.^^^
"Nanti saya ke ruangan untuk bicara dengan suster kepala." Ucap dr Kirana setelah selesai sarapan, lalu meletakan bekas perangkat makan di meja.
"Baik, Dok..." Suster segera merapikan perangkat makan Enni dan dr Kirana, lalu keluar meninggalkan mereka berdua.
"Masih bisa duduk?" Tanya dr Kirana, sambil berjalan mendekati ranjang Enni setelah suster menutup pintu di belakangnya.
"Iya, dok. Masih ingin duduk." Jawab Enni pelan, lalu bersandar ke kepala ranjang. Dr Kirana mengambil bantal, lalu letakan di punggung Enni agar dia bisa lebih nyaman bersandar. Lalu menaikan bagian kepala ranjang.
"Kau benar bernama Enni?" Tanya dr Kirana sambil duduk di samping ranjang Enni. Dr Kirana ingin tahu untuk meyakinkan dirinya, mana yang benar. Sebab asisten suaminya mengatakan dia bernama Winda.
"Iya, dok, benar. Dari mana dokter tau nama saya?" Tanya Enni bingung, sebab nama itu sudah tidak pernah digunakan sangat lama dan hampir terlupakan.
"Dari kau sendiri. Kau lupa, pernah mengatakan namamu padaku tadi malam? Tepatnya, dini hari." Dr Kirana bertanya, tapi mulai mengerti, Enni mengatakan namanya tanpa dia sadari.
^^^Enni menggeleng kepala sambil berpikir, kapan dia mengatakan namanya. Dia sendiri tidak tahu bahwa sudah pindah ruangan. Semuanya terasa sama baginya.^^^
"Ooh, dari saya... Maaf, dokter. Saya tidak ingat pernah bilang itu." Ucap Enni pelan sambil mengingat-ingat, tapi tidak ingat sama sekali.
"Iyaa, kau katakan namamu saat baru siuman. Kau dalam keadaan pingsan saat dibawa ke sini. Ada yang mau kau tanyakan?" Dr Kirana bertanya, sebab melihat Enni agak bingung melihat ruangan dia dirawat.
"Dok, boleh tahu, ini tahun berapa?" Enni tiba-tiba bertanya, sebab dia baru pernah melihat semua yang ada di sekitarnya. Ada televisi berlayar datar di dalam kamar yang baru pernah dilihatnya.
^^^Dia melihat juga, dr Kirana berbicara dengan orang lewat bendah pipih di telinga. Semua itu menarik perhatian dan rasa ingin tahunya.^^^
Sedangkan dr Kirana melihatnya dengan alis bertaut sambil bertanya-tanya dalam pikirannya. 'Apa sebenarnya yang terjadi dengan Enni? Suatu pertanyaan yang tidak biasa.' Rasa penasaran membuat Dr Kirana menyebutkan tanggal, bulan dan tahun kepada Enni sambil melihat reaksinya dengan serius.
"Ooh, makasih, dokter. Jadi sekarang saya hampir berusia 30 tahun..." Enni mengingat usia terakhir saat dia sedang kuliah. Dia baru melewati usia 19 tahun, lalu diperkosa oleh Bargani.
^^^Dia menarik nafas panjang, mengingat masa mudanya, masa-masa indah menurut kata orang dan buku cerita terlewati begitu saja. Sepuluh tahun lebih usianya sangat sia-sia.^^^
^^^Semua yang telah berlalu kembali terbayang di ingatannya. Masa indah saat kuliah, hidup bersama kakak dan adiknya. Kejadian diperkosa oleh Bargani, ikut bersama Lusina. Dijual oleh Lusina kepada Mami Sinna, kemudian dijual lagi oleh Mami Sinna kepada Barry.^^^
^^^Semuanya berputar dalam ingatannya, tanpa dia sadari. Hanya perubahan tubuhnya yang dia rasakan sesuai pertambahan usia. Dia lebih tinggi dari saat masih kuliah.^^^
^^^Enni jadi menyadari, sudah sepuluh tahun hidup bersama orang-orang barbar. Hal itu membuat air matanya mengalir tanpa bisa dicegah.^^^
"Apa maksudmu? Selama ini kau tidak tau tahun-tahun berlalu? Apa kau pernah mengalami amnesia?" Tanya dr Kirana, heran. Dia teringat ucapan pria kekar, bahwa istri boss nya sakit dan suka mengamuk.
'Apakah benar, Enni sakit, sehingga tidak tahu waktu telah berlalu?' Dr Kirana terus membatin sambil melihat Enni dengan serius. Dia jadi berpikir untuk memeriksa kesehatan mental Enni setelah luka-lukanya sembuh.
"Tidak dokter. Hanya saya tidak pernah melihat kalender, jadi tidak tahu pergantian waktu." Jawaban Enni membuat dr Kirana bingung, seakan Enni berada di dunia yang tidak sama dengan dirinya. Sebab dia melihat waktu setiap saat, secara otomatis dengan fasilitas yang tersedia.
Dr Kirana mengalihkan topik pembicaraan, agar bisa mengerti kesehatan pikiran dan mental Enni. "Kau tahu, siapa wanita yang bernama Winda?" Tanya dr Kirana lagi, sekaligus untuk confirmasi. Dia mau memastikan hubungan Enni dengan pria kekar yang mencarinya.
"Itu juga, nama saya, dokter." Jawab Enni, kembali dengan suara bergetar dan matanya mulai berkaca-kaca. Nama itu mengingatkan dia pada kehidupan kelamnya bersama orang-orang yang menyanderanya.
"Nama keduamu, Winda?" Tanya dr Kirana serius.
"Bukan, dokter. Itu nama yang diberikan oleh seorang Mami saat saya dijadikan wanita penghibur..." Enni menjawab makin pelan dan menunduk malu. Dia tidak berani memandang wajah dr Kirana saat menyebutkan profesinya.
Ucapan Enni membuat dr Kirana terhenyak. Semua hal tentang Enni yang ada dalam pikirannya buyar seketika. Sikap dan mata Enni tidak mencerminkan bahwa dia adalah seorang wanita yang bergelut di bidang itu.
Lalu semua luka-luka yang ada pada tubuhnya ini, akibat dari profesinya? Tiba-tiba dr Kirana menutup mulut dengan tangan kanannya sambil melihat Enni dan berpikir ke berbagai arah.
'Apa yang membuat dia bertahan lakukan profesi itu dan mau saja menerima diperlakukan kasar oleh para lelaki jahat? Apakah uang yang jadi motivasi, hingga dia terus bertahan?' Banyak pertanyaan yang berkecamuk dalam benak dr Kirana.
...~▪︎▪︎▪︎~...
...~●○¤○●~...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 159 Episodes
Comments
Gendhis
saking lama nya di sekap oleh berry, untuk di jadikan budak pemuas nafsu,
2024-12-26
0
☠ႦαRAkudA
berdoa lah, Krn usaha tanpa doa bagai sayur tanpa garam
2024-09-06
0
🍌 ᷢ ͩ🤎ᴰᵉᵈᵉรωεεƭყˡᵉⁿ💋•§¢•
Jalur langit sus 🤭
2024-05-27
0