...~•Happy Reading•~...
Suatu sikap yang sudah sangat lama hilang dari ingatannya. Bahkan dia hampir tidak percaya, ada orang tulus di dunia ini.
"Baik. Mulai sekarang, apa yang dialami sebelum ini, sekecil apa pun jangan diceritakan kepada siapa pun, selain dokter Kirana dan team pengacara saya."
"Dan kepada kami, informasi sekecil apa pun, tolong beritahu, agar kami bisa menolongmu. Bisa mengerti?" Mathias berbicara dengan serius penuh penekanan, agar Enni bisa mengerti, mereka serius membantunya.
^^^Enni kembali mengangguk kuat, sambil menguatkan hatinya yang masih terharu dengan sikap Mathias. Dalam sikap tegas dan ucapan serius, Enni merasakan kebaikan hati dan ketulusan yang diberikan padanya.^^^
"Baik. Sambil menyembuhkan semua luka ini, Enni pikirkan dan ingat-ingat lagi nama tempat dan nama orang yang berkaitan denganmu selama ini. Harus sesuai dan benar, jangan berubah. Agar semua yang dikatakan kepada kami, sama dengan yang dikatakan kepada polisi atau di ruang pengadilan, jika menjadi saksi." Ucapan Mathias membuat tangan Enni bergetar, sebab akan berhubungan dengan polisi. Dia teringat kepada Bargani.
"Tidak usah takut, ada kami. Kita harus melewati proses ini, jika mau menuntut pihak-pihak yang terkait denganmu." Mathias berusaha menguatkan Enni dengan memberi pengertian, supaya bisa kuat dan tenang.
"Sekarang istirahat, nanti kita bicara lagi." Ucap Mathias, lalu pamit kepada Enni dan Kirana.
"Trima kasih, Pak..." Tiba-tiba Enni berkata dengan suara bergetar, sebelum Mathias keluar dari ruangan.
^^^Hal itu membuat Mathias kembali mendekati ranjang Enni, sebab mengerti apa yang dirasakan Enni dan perasaannya yang sedang berkecamuk.^^^
"Harus kuat, supaya bisa berjuang. Tidak ada gunanya kami berjuang, jika Enni sendiri sudah merasa takut sebelum lakukan sesuatu." Ucap Mathias sambil menepuk tangan Enni untuk memberi semangat. Enni kembali mengangguk kuat, dengan mata berkaca-kaca.
^^^Mathias segera meninggalkan ruangan Enni ditemani Kirana, walau banyak yang ingin ia tanyakan. Semua gerakan dan respon Enni menyiratkan banyak hal dan kejadian buruk yang menggugah rasa ingin tahu Mathias dan mau menolongnya.^^^
"Dek, nanti aku kirim salah satu rekanku selama aku di luar kota, agar bisa minta keterangan dari Enni. Biasakan dia bersinggungan dengan perawat atau dokter pria, agar dia terbiasa dengan dunia yang normal. Sebab dia akan hadapi dunia hetero selayaknya orang normal." Mathias mengingatkan Kirana sambil berjalan di lorong rumah sakit.
"Tapi kalau bisa jangan langsung dia sendiri, sebelum lihat Enni sudah bisa beradaptasi dan mulai tenang dengan lingkungannya." Mathias melanjutkan lagi.
"Jika kau ngga sibuk, yaa, tolong ada di dekatnya. Agar kau bisa tenangkan dia, jika terjadi sesuatu. Saya berharap dia bisa terbuka saat berbicara dengan rekan pengacaraku." Mathias berkata serius saat mereka sudah berada dalam lift.
"Iyaa, Mas. Aku sudah melihatnya. Jika dia tidak bereaksi begitu, berarti ada masalah dengan jiwanya. Jika apa yang dia alami tidak berdampak, berarti dia sudah membunuh semua rasa. Syukur dia tidak berusaha menutupi rasa trauma nya. Jadi kami mudah menyembuhkan dia secara menyeluruh." Kirana berkata serius, saat mengamati interaksi Enni dengan Mathias.
"Reaksinya memberikan sinyal baik, dia masih hidup. Jadi kita bisa membantunya, mengembalikan rasa percaya diri pada berbagai hal. Orang yang alami kekerasan fisik saja traumanya tidak mudah disembuhkan. Apalagi yang dialami Enni kekerasan psikis dan fisik." Kirana membenarkan yang dikatakan Mathias.
"Jika tidak ditangani dengan benar dan orang yang tepat, akan makin merusak jiwanya dan makin lama proses penyembuhannya." Ucap Kirana sambil Mathias mengambil helmnya.
"Iya. Semoga dia tidak berusaha melupakan kejadian buruk yang dialami, agar semua keterangan bisa menolongnya peroleh keadilan. Kita hanya punya keterangan dari Enni untuk mencari bukti." Mathias berkata sebelum memakai helm.
"Hati-hati, Mas..." Ucap Kirana saat Mathias sudah duduk di atas motor sportnya. Mathias hanya mengangkat tangan dan jarinya membentuk tanda OK.
...~▪︎▪︎▪︎~...
Beberapa waktu kemudian, Mathias sudah di jalan raya dan menjalankan motornya di atas kecepatan normal, agar tidak terlambat tiba di kantor. Ada yang perlu disiapkan sebelum pertemuan dengan para partner pengacara yang bernaung dibawa Firma Hukumnya.
Saat sudah di dalam ruang kerjanya yang luas, Mathias meminta Bagas masuk ke ruangannya. Tidak lama kemudian, bunyi ketukan di pintu ruang kerjanya. "Masuuukk..." Ucap Mathias.
"Pak, lain kali mau keluar, info. Semua pada nanya, bapak kemana." Ucap Bagas yang sudah masuk ke dalam ruangan Mathias tanpa memberi salam.
^^^Hanya Bagas yang berani protes atau marah pada Mathias. Sebab ia dari awal bersama dan mendampingi Mathias berkarier sebagai pengacara.^^^
^^^Bagas adalah asistennya dari kantor lama sampai sudah di kantor baru. Dan sekarang Bagas telah menjadi salah satu pengacara senior yang mendampingi Mathias setelah lulus ujian pengacara.^^^
^^^Walau ikut menangani berbagai kasus bersama Mathias, ia tetap tidak mau lepas jabatannya sebagai asisten Mathias. Ia akan jadi pengacara dalam situasi tertentu, untuk kasus tertentu saja. Ia lebih senang mendampingi Mathias yang sangat disayang dan dikaguminya.^^^
^^^Mathias juga tidak pernah sakit hati atau tersinggung dengan ucapan atau sikap bebas Bagas padanya. Sebab ia sangat mengenal Bagas dan sayang padanya. Orang yang bisa dipercaya, setia mendampinginya dan mengerti keinginannya.^^^
"Tidak usah protes. Duduk di situ... Kasus yang kau tangani sudah sejauh mana?" Tanya Mathias yang sudah berdiri dari kursi kebesarannya menuju sofa yang ada dalam ruang kerjanya.
"Sudah 70 %, Pak. Semua dokumen sudah hampir rampung. Sambil menunggu rampung, saya akan mempersiapkan client untuk hadapi sidang." Bagas menjelaskan posisi kasus yang sedang ditanganinya.
"Kalau begitu, kau minta tolong salah seorang pengacara yang kau anggap bisa membantumu untuk rampungkan itu. Nanti saat sidang baru kau yang dampingi clientnya." Ucapan Mathias membuat Bagas yang duduk di depannya, melihat dengan alis bertaut.
"Ngga usah melihatku seperti itu. Mau saya buat jalan baru di antara alismu?" Ucap Mathias sambil menunjuk alis Bagas yang sedang bertaut dengan ujung jarinya.
"Ngga usah, Pak. Saya bisa buat sendiri jalannya." Ucap Bagas sambil memegang antara alisnya dengan jari tengah dan telunjuk, lalu menggerakan ke kiri dan ke kanan untuk menormalkan jarak alisnya. Tindakan Bagas membuat Mathias tersenyum dalam hati.
"Mengapa harus minta tolong yang lain? Bapak tidak percaya, saya bisa selesaikan kasus ini?" Bagas kembali protes dan melihat boss nya dengan serius.
^^^Bagas baru pernah mendengar permintaan boss nya seperti itu, dalam posisi kasus yang dikerjakan sudah mau selesai. Bagas melihat Mathias dengan heran dan bertanya sendiri dalam hati tentang perubahan sikap boss nya.^^^
"Justru saya percaya, maka berikan kasus itu untuk kau tangani. Sekarang ada kasus TQ yang perlu kau tangani dan saya hanya percaya padamu. Kau sudah lama ngga tangani kasus TQ, kan?" Mathias bertanya sambil melihat Bagas dengan serius.
"Kasus TQ, Pak?" Alis Bagas kembali bertaut, ia heran dengan permintaan boss nya. Kasus TQ apa yang membuat boss nya mau menangani secara khusus. Padahal ada banyak pengacara di kantor lama yang bisa menangani itu.
...~▪︎▪︎▪︎~...
...~●○¤○●~...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 159 Episodes
Comments
𝐙⃝🦜ֆɦǟզʊɛɛռǟ🍒⃞⃟🦅👻ᴸᴷ
untung saja enni gak sampai gila ya
2024-05-28
0
🍌 ᷢ ͩ🤎ᴰᵉᵈᵉรωεεƭყˡᵉⁿ💋•§¢•
Cerita saja semua nya Enni, semua perbuatan buruk mereka yang membuat mu menderita selama ini.. ❣️
2024-05-27
0
Meyti Diana Sari ✅
mending buat sendiri ya/Facepalm/
2024-05-27
0