...~•Happy Reading•~...
Pengacara Mathias sangat mengenal adik sepupuhnya yang lembut, baik hati dan tidak pernah berbicara kasar. Jadi jika dia seperti ini, berarti kejadian yang dialami pasiennya sangat mempengaruhi hati, pikiran dan juga emosinya.
^^^Walaupun mereka hanya bersaudara sepupu, Mathias sangat mengenal Kirana dan Sari. Terutama Kirana, sebab dia anak tunggal seperti dirinya. Sedangkan Sari masih memiliki seorang adik laki-laki.^^^
^^^Kirana adalah putri dari adik lelaki bungsu Ayah Mathias dan selisih usia mereka cukup jauh. sedangkan Sari putri dari adik perempuan Ayah Mathias, selisih usia mereka tidak terpaut jauh.^^^
^^^Mereka bertiga berbeda profesi, tapi saling mendukung satu sama lain sesuai bidang masing-masing. Sari dan Kirana akan meminta bantuan Mathias, jika bersinggungan dengan masalah hukum.^^^
^^^Selama ini, Mathias terlihat lebih sering bersama Sari dan saling support sebab selain bersaudara, mereka tinggal dalam satu kota. Kantor lama Mathias tidak jauh dari restoran milik Sari. Jadi Mathias sering adakan pertemuan dengan calon client, client atau partner di restoran Sari.^^^
^^^Sedangkan Kirana belum lama kembali dari Amerika, setelah mengambil spesialis bedah plastik di sana. Jadi Kirana agak manja jika sudah bertemu dengan saudara-saudaranya. Terutama dengan Mathias yang sudah seperti kakak lelaki yang tidak dimilikinya.^^^
"Pelan-pelan saja, Dek... Apa dan siapa yang membuat dia jadi pasienmu?" Mathias menenangkan Kirana, sambil memberikan air mineral yang sudah diletakan pelayan di meja.
"Begini, Mas...." Kirana menceritakan kejadian Enni masuk UGD dan kemudian ada pria kekar mencarinya. Mathias mendengar dengan serius, semua yang dikatakan Kirana.
"Setelah ada yang mencarinya dan berbohong bahwa Enni istrinya, aku yakin pria jahat itu takut ketahuan dan kejahatannya terbongkar. Itu termasuk kejahatan, bukan? Jadi kami mau menuntut lelaki itu dan semuanya, deh..." Kirana berkata dengan serius sambil membuka tangannya.
"Kiran, satu, satu... Jawab pertanyaanku. Pasienmu tau siapa lelaki itu? Atau kau tau siapa dia? Selain pria yang kau bilang kekar itu." Mathias berkata pelan tapi serius, sambil menenangkan Kirana. Agar bisa konsentrasi saat mengingat kejadian yang terjadi di rumah sakit.
"Mmmmm.... Pasiennya bernama Enni, dia tidak tau profesi lelaki itu, sebab dikurung bertahun-tahun. Yang dia tau, lelaki itu bernama Barry." Kirana berkata sambil berpikir, apa lagi yang diketahui Enni tentang Barry.
"Baik. Tapi itu belum cukup. Masih kosong. Kita pindah ke lelaki kekar itu, karena kau bilang dia datang cari ke rumah sakit, berarti kau melihatnya. Kau bisa diminta jadi saksi." Mathias mulai memetakan situasi dan orang-orang yang terlibat.
"Mmmm... Ngga papa, Mas. Tapi ada security bersamaku. Jadi dia bisa dimintai keterangan tentang pria kekar itu." Kirana bersyukur, hari itu didampingi oleh security, jadi ada yang bisa mendukungnya.
"Kalau begitu, nanti kau minta security periksa cctv rumah sakit, agar kita bisa lihat dan selidiki siapa pria kekar itu. Kita mulai dari dia." Mathias berbicara serius, mencari jalan yang bisa mereka tempuh untuk mengetahui lelaki yang menyiksa dan mengaku sebagai suami Enni.
"Ooh, itu. Ngga usah lihat di cctv, Mas. Ini aku ada buat video orangnya yang membuat janji untuk mengijinkan istri boss nya dirawat sampai sembuh di rumah sakit." Kirana mengeluarkan ponselnya lalu memperlihatkan video nya kepada Mathias.
"Cerdas..." Ucap Mathias sambil memegang kepala Kirana dan mengacak rambutnya dengan sayang, sebab pria kekar itu terlihat jelas dalam video. Akan sangat mudah mencarinya dan menemukan boss nya.
"Ini juga, Mas. Kwitansi pembayaran lelaki itu. Aku paksa bayar biaya perawatan Enni selama dirawat di UGD." Kirana menunjuk kwitansi pembayaran kepada Mathias.
"Good..." Mathias melihat Kirana dengan wajah tersenyum sambil mengangkat jempol ke arahnya. Keterangan tentang lelaki yang akan mereka cari mulai terbuka.
"Ini bukti awal dia berkaitan dengan Enni. Kau seharusnya jangan jadi dokter...." Mathias kembali memuji Kirana sambil tersenyum dan menahan terusan ucapannya.
"Siapa dulu, mentornya. Kakakku yang tidak ada duanya, saat menyelidiki dan apa lagi sudah berdiri di ruang sidang...." Kirana jadi terdiam saat Mathias mengangkat tangannya.
"Pujianmu selalu berubah-rubah. Waktu itu bilang Mas mu keren di atas motor. Sekarang ruang sidang. Tanpa pujianmu, Mas akan bantu. Jadi ngga usah balas memujiku. Teruskan yang tadi." Ucapan Mathias membuat Kirana tersenyum.
"Padahal aku ngga muji, loh. Itu fakta tentang kakakku." Ucap Kirana sambil mengangkat tangannya, agar Mathias tidak protes.
"Begini, Mas. Aku kan, pernah dibantu Mas Thias untuk selesaikan kasus penuntutan pasien waktu itu. Jadi mulai dari itu, aku selalu mengambil bukti-bukti yang mungkin akan menolong jika diperlukan. Agar ngga diakalin atau dikibulin pasien." Kirana mulai jelaskan yang dia lakukan.
"Aku lakukan ini, supaya pengacara ngga menyelidiki dari nol. Sedikit banyak, rumah sakit sudah punya modal, jika berurusan dengan hukum atau balik menuntut."
"Itu yang Mas ajarkan waktu itu, kan? Jadi aku sering praktekan saat sedang tugas atau berhubungan dengan pasien yang agak, agak..." Kirana menjelaskan dengan wajah tersenyum, sebab apa yang ia lakukan sudah tepat menurut Mathias.
"Apa lagi saat melihat pasiennya masuk pertama kali di UGD dalam keadaan pingsan dengan banyak luka. Bisa dibilang instingku mengatakan untuk mendokumentasikan semua tentang pasien itu. Siapa tau akan diperlukan jika terjadi sesuatu. Ada bukti buat aparat hukum." Kirana menjelaskan apa yang dipikirkan dan dilakukannya.
"Good. Belajar dari pengalaman, agar ngga terulang berada pada situasi yang merugikan lagi. Kau bisa ajarkan itu pada para tenaga medis di rumah sakit, agar bisa diterapkan. Sedikit banyak bisa melindungi rumah sakit dari orang-orang yang bermaksud jahat." Mathias sangat setuju dengan apa yang dilakukan Kirana.
"Ooh, iya. Mas bisa lihat kondisi Enni, saat masuk ke UGD. Jadi Mas Thias bisa mengerti, mengapa aku dokumentasikan semua dan minta tolong Mas Thias yang tangani secara pribadi." Kirana kembali mengotak-atik ponselnya, lalu menyerahkan ponselnya kepada Mathias.
"Itu foto dan video saat Enni baru ditangani di UGD. Kalau Mas Thias lihat yang sekarang, sudah ngga sesadis itu. Kami sudah merawatnya dan mengobati luka-lukanya." Mathias menggenggam ponsel Kirana dengan kuat. Rahangnya mengeras sambil menggeser layar ponsel Kirana untuk melihat foto-foto Enni, saat di UGD.
"Benar katamu... Lelaki ini bukan manusia, tapi binatang...." Mathias berkata dengan nada emosi dan geram.
"Aku jadi penasaran dengan lelaki yang bernama Barry ini. Jangan, jangan dia pakai rok atau daster. Beraninya sama wanita." Ucap Kirana kesal dan jadi emosi, mengingat perlakuan Barry kepada Enni.
"Simpan rasa penasaranmu. Biar Mas dan aparat hukum yang tangani. Dia mau pakai rok atau daster, tapi punya ular ngga bermata. Sudah lihat kelakuan ularnya buat Enni bukan? Menjauuu..." Ucap Mathias serius, tapi membuat Kirana tertawa sambil menutup mulutnya dengan tangan.
"Jangan tertawa... Mas serius. Biarkan kami yang tangani." Mathias baru menyadari, ia sedang bicara dengan Kirana bukan dengan sesama pengacara atau Bagas. Ucapan asalnya, kadang lepas tanpa bisa direm, jika sudah emosi.
...~▪︎▪︎▪︎~...
...~●○¤○●~...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 159 Episodes
Comments
🍌 ᷢ ͩ🤎ᴰᵉᵈᵉรωεεƭყˡᵉⁿ💋•§¢•
Yang kita kenal lembut pun pasti punya sisi kasar ❣️
2024-05-27
0
🍃⃝⃟𝟰ˢ🫦𝐀⃝🥀➳ᴹᴿˢ᭄°Ꮓ𝒶ℝ𝒶𓆊
dr kirana sangat cerdas seperti sudah tau pa yang harus di butuh kan 👍❣️
2024-05-08
1
🎀🤎⃟ ♔↬sᷠ͜aⷷs̰ᷠa̰ᷛ↫❀∂я
mathias aja emosi denger ceritanya nya enni. apalagi kita para readers yg baca, udah emosi ampe ubun²
2024-04-22
3