...~•Happy Reading•~...
Perawat Keni merespon panggilan dr Kirana dengan berjalan cepat, tapi sambil berpikir. 'Apa rencana dr Kirana gagal?' Perawat Keni membatin, karena melihat dr Kirana memanggilnya dengan wajah serius. "Yaa, Dok..." Ucap perawat Keni saat sudah di dekat dr Kirana.
"Tolong siapin rincian biaya perawatan pasien yang dirawat di ranjang ini. Pria ini mau membayar biaya perawatannya selama dirawat di UGD." Dr Kirana berkata dengan cepat dan menekankan kata UGD, agar perawat Keni bisa mengerti. Hanya biaya perawatan Enni di UGD yang akan ditagih.
"Baik, Dok, segera..." Perawat Keni mengerti maksud dr Kirana, lalu berjalan cepat kembali ke ruang jaga perawat. Walau belum mengerti kenapa dr Kirana meminta itu, dia segera lakukan yang diminta, tanpa bertanya lagi.
^^^Sambil menunggu perawat Keni kembali dengan rincian biaya perawatan Enni, pria kekar menghubungi boss nya untuk melapor apa yang sedang terjadi di UGD dan juga keberadaan Enni yang kabur dari rumah sakit.^^^
^^^Mendengar penjelasan anak buahnya, Barry jadi emosi dan sangat marah. Dia membentak dan memarahinya dengan suara yang keras. Sehingga pria kekar itu agak menjauh dari dr Kirana dan security, agar ucapan kasar Barry padanya tidak didengar oleh mereka.^^^
^^^Dia khawatir, dr Kirana atau security mendengar ucapan boss nya, sehingga jadi curiga dan mengaitkan dengan luka-luka Enni. Mungkin mereka akan berpikir boss nya sudah lakukan KDRT dan melapor pada pihak yang berwajib.^^^
"Sebutkan angkanya ke sini dan lekas cari dia." Perintah Barry dengan kasar dan marah. Sebab dia sendiri sedang merasa sakit, akibat apa yang dilakukan Enni padanya.
^^^Tanpa diketahui oleh asistennya, Barry sedang berada di apartemen bersama dokter pribadinya. Barry meminta dokter pribadi datang memeriksa kondisi alat kelaminnya di apartemen. Dia tidak mau pergi periksa di rumah sakit, karena malu dengan apa yang akan dia periksakan.^^^
^^^Oleh sebab itu, dia menghubungi dokter pribadi untuk datang ke apartemen untuk memeriksa dan mengobatinya. Sekalian bisa memantau proses pencarian Enni. Dia khawatir Enni ditemukan oleh orang lain, sebab dia tahu ada banyak luka di tubuh Enni yang belum sembuh.^^^
"Siap boss, ini jumlahnya..." Pria kekar berkata cepat sambil mengambil kwitansi yang diberikan perawat Keni padanya.
"Pak, difoto saja kwitansinya, supaya sebagai bukti anda tidak berbohong. Juga itu bisa sekalian memberikan nomor rekening rumah sakit ini." Dr Kirana memberikan saran kepada pria kekar, agar persoalan bisa cepat selesai.
^^^Walau pria kekar itu menghindar dari mereka, dr Kirana sempat mendengar suara bentakan orang yang bicara dengannya di ujung telpon. Dia tahu, pria kekar itu sedang dimarahi boss nya. Sehingga dr Kirana mempermudah urusan, agar bisa lekas selesai.^^^
^^^Pria kekar mengangguk, lalu melakukan saran dr Kirana. Setelah semua bukti pembayaran difoto, dia segera kirim kepada Barry yang sedang menunggu dengan tidak sabar. Emosi Barry makin meningkat, sebab mengetahui Enni telah kabur lagi dari rumah sakit.^^^
^^^Tidak lama kemudian, pria kekar itu menunjukan layar ponselnya kepada perawat Keni, bahwa boss nya sudah membayar semua biaya perawatan Enni yang tercantum di kwitansi.^^^
"Ken, tolong berikan nomor telponmu buat bpk ini, agar beliau bisa kirim bukti pembayarannya. Supaya buktinya bisa dilampirkan pada copy kwitansi pembayaran." Dr Kirana berkata serius, membuat Keni segera memberikan nomor telponnya kepada pria kekar tanpa bertanya lagi.
"Sudah, Dok." Perawat Keni berkata cepat, setelah memberikan nomor ponselnya kepada pria kekar, lalu telah dikirim bukti pembayaran padanya.
"Silahkan tanda tangan di sini, Pak." Perawat Keni tanda tangan dan cap, lalu berikan kepada pria kekar untuk tanda tangan. Kemudian dia mengambil yang diberikan untuknya, lalu segera berjalan cepat keluar dari UGD.
"Pak, tolong melapor kepada saya, jika melihat pria tadi datang lagi ke sini. Jangan biarkan dia memeriksa atau meminta keterangan dari perawat atau pasien tentang pasien yang dirawat di sini." Dr Kirana berkata tegas kepada security, lalu mengambil selembar copy kwitansi dari tangan perawat Keni.
"Nanti kau jelaskan ini kepada bendahara. Ooh iya, tolong kirim bukti transfer tadi ke saya juga." Dr Kirana berkata serius, sambil memasukan salah satu lembar bukti pembayaran ke saku jas dokter nya.
Perawat Keni mengangguk, lalu mengotak-atik ponselnya. "Itu, sudah, Dok..." Ucap perawat Keni, setelah mengirim apa yang diminta oleh dr Kirana.
"Bagaimana kondisi pasien yang kau antar tadi. Apa sudah bangun?" Tanya dr Kirana setelah security meninggalkan mereka berdua.
"Sampai saya tinggalkan ruangan, belum, Dok..." Jawab perawat Keni.
"Kalau begitu, kau rapikan ranjang ini untuk pasien lain." Dr Kirana berkata sambil menunjuk ranjang bekas Enni dirawat, lalu berjalan cepat ke tempat jaga para perawat.
Saat sedang siap-siap untuk pergantian jaga, sayup-sayup terdengar bunyi sirine ambulance menuju rumah sakit. Dr Kirana segera menghubungi suster Lisa untuk kembali ke UGD meninggalkan Enni di ruangan perawatan mawar.
^^^Bagi dr Kirana, yang penting pria kekar itu sudah pergi dari rumah sakit dan tidak ada yang tahu Enni dirawat di ruangan mawar.^^^
Setelah ambulance tiba di rumah sakit, dr Kirana dan para perawat yang sudah berkumpul di UGD disibukan dengan beberapa pasien yang mengalami kecelakaan lalu lintas.
Dr Kirana terus menangani pasien sampai lewat waktu tugas jaga. "Sudah, dr Kiran, silahkan istirahat. Thanks sudah bantu kami." Dokter yang sudah waktunya bertugas menggantikan dr Kirana, sangat berterima kasih, telah dibantu oleh dr Kirana menangani pasien akibat kecelakaan beruntun.
"Ok, thanks. Aku mau istirahat, jadi jangan ada yang hubungi aku, sampai nanti malam, ya. Aku ngga bisa istirahat dengan mulus dari malam." Ucap dr Kirana sambil tersenyum melihat rekan dokternya yang hampir tertawa melihatnya.
"Selamat bertugas..." Ucap dr Kirana sambil menepuk pundak rekan dokternya. Kemudian dia keluar dari ruangan jaga perawat, lalu berjalan cepat ke ruangannya untuk menyimpan jas dokter dan perlengkapan dokter lainnya.
^^^Tidak lama kemudian, dr Kirana berjalan ke lift, menuju ruangan mawar untuk memeriksa kondisi Enni.^^^
"Selamat pagi..." Sapa dr Kirana saat melihat Enni sudah bangun, tapi masih kebingungan melihat ruangan dia dirawat.
"Selamat pagi, dokter..." Jawab Enni pelan dan sangat lemah. Dia berusaha bangun untuk duduk, dan mau menopang tubuhnya dengan tangan. Namun dia meringis kesakitan.
"Berbaring saja. Agar kau bisa lekas sembuh." Ucap dr Kirana sambil mengangkat tangannya, melarang Enni untuk bangun dan duduk.
"Nanti setelah saya periksa, bisa bangun duduk, kalau sudah lebih baik." Ucap dr Kirana sambil mengeluarkan perlengkapan medis dan ponsel dari tas yang dibawanya, lalu menghubungi perawat.
"Apa yang kau rasakan sekarang?" Tanya dr Kirana sambil memeriksa detak jantung dan pernafasan Enni. Kemudian memeriksa semua luka lecet dan goresan yang tidak diperban dengan teliti.
"Sudah lebih baik, dokter. Tapi saya merasa lapar..." Enni berkata pelan, ragu dan malu, sambil melihat dr Kirana. Dia tidak tahan untuk mengatakan itu, sebab dia sudah sangat lapar. Sikap dan cara dr Kirana memperlakukan dia, membuat Enni berani mengatakan apa yang dia rasakan kepada dr Kirana.
...~▪︎▪︎▪︎~...
...~●○¤○●~...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 159 Episodes
Comments
Gendhis
yuhhhhh🙈🙈🙈🙈 berfungsi lagi gak tuh joni nyaa 🤣🤣🤣
2024-12-26
0
☠ႦαRAkudA
semoga hari pembalasan buat si durjana segera tiba
2024-09-06
1
🍌 ᷢ ͩ🤎ᴰᵉᵈᵉรωεεƭყˡᵉⁿ💋•§¢•
Dihhh.... Semoga itu Otong cidera parah lah sama kaya enni rasakan 🤭🤭🤭
2024-05-27
0