...~•Happy Reading•~ ...
Barry yang masih frustasi dan was-was akan situasi yang terjadi, melihat Bashu dengan emosi yang meluap.
"Coba kau kembali ke rumah sakit itu. Mungkin dia kembali ke situ untuk dirawat..." Barry tidak meneruskan dugaannya, sebab dia tahu luka-luka Enni perlu perawatan.
"Kau tidak usah bertanya, tapi cek nama pasien yang bernama Winda. Mungkin dia kembali ke situ, untuk mengobati luka atau pingsan lagi, lalu dirawat lagi." Barry menduga demikian, sebab dia berpikir Enni tidak mungkin berjalan jauh dari rumah sakit itu dengan kondisinya.
^^^Apa lagi dia kabur dari tempatnya dengan menuruni tangga darurat, tanpa alas kaki. Barry yang setelah sadar dan mengetahui Enni telah kabur, berpikir dia tidak akan bisa berlari jauh dari apartemennya.^^^
^^^Sehingga dia memerintah Bashu mencari di sekitar tangga darurat dan apartemen. Dia tidak menyangka Enni bisa berlari jauh dengan kondisi tubuh serta berpakaian seadanya yang dia berikan untuk pakai di kamar.^^^
"Baik, boss... Besok pagi saya ke rumah sakit Sopaefams untuk memeriksa lagi." Bashu berkata cepat untuk menenangkan boss nya.
"Mengapa tunggu sampai besok? Sekarang saja ke sana." Barry tidak mau berlama-lama, sebab dia sangat khawatir Enni ditemukan oleh orang lain.
"Kslau sekarang, rumah sakit sepi, boss. Saya akan terlihat sama security. Kalau besok pagi agak rame, jadi saya tidak terlalu menyolok di lobby rumah sakit." Bashu menjelaskan rencananya, sebab dia pernah lama di UGD dan postur tubuhnya yang kekar, bisa mudah diingat oleh tenaga medis atau security.
"Sudah, turun beli bir dingin buat saya." Perintah Barry sambil memberikan ATM kepada Bashu. Dia ingin minum sesuatu yang beralkohol untuk mengurangi rasa frustasinya.
^^^Bashu mengambil ATM dari tangan boss nya dengan hati bertanya-tanya tentang kondisi boss nya yang lebih sering berbaring di tempat tidur Enni, tanpa beraktivitas di luar.^^^
^^^'Apakah boss nya merindukan wanita yang selama ini disiksanya? Atau ada rasa bersalah atau ada penyesalan?' Bashu terus bertanya, walau sudah ada dalam lift.^^^
^^^Dia tidak tahu apa yang terjadi dengan boss nya dan bagaimana Enni bisa kabur dari apartemen. Padahal kamar dan pintu apartemen selalu dikunci.^^^
^^^Dia agak curiga juga, sebab pernah lihat dokter datang ke apartemen. Padahal, saat Winda terluka, tidak ada dokter yang datang. Apa boss nya terluka? Bashu jadi berpikir demikian, karena mengingat Enni pernah menyiapkan botol air mineral berisi air sabun.^^^
Sampai Bashu kembali membawa bir dingin ke kamar boss nya, dia tidak menemukan jawaban yang tepat tentang kondisi boss nya.
...~▪︎▪︎▪︎~...
Ke esokan harinya, setelah sarapan, Bagas tidak ke kantor, tapi langsung ke rumah sakit untuk menemui Enni. Ia berharap, bisa bertemu Kirana sebelum lepas jaga.
Namun harapannya pupus, sebab jalanan macet. Saat tiba di rumah sakit, Kirana sudah pulang untuk istirahat. Bagas langsung menuju ruangan tempat Enni dirawat dengan kartu akses yang diberikan padanya, sebab belum waktu besuk pasien.
"Haaiiii... Selamat pagi..." Sapa Bagas yang sudah ketuk pintu dan masuk ke ruangan Enni. Dia terkejut melihat seorang suster sedang menyisir rambut Enni yang sangat panjang melewati pinggang.
"Selamat pagi, Pak..." Jawab Enni dan suster bersamaan, lalu menggulung rambut Enni dan menjepit di tengkuk.
"Anda terlihat lebih segar..." Bagas tidak bisa mrnyembunyikan apa yang dilihatnya. Sebab Enni sudah mandi dan keramas, jadi lebih segar dan cerah. Semua perban di wajahnya sudah dibuka, jadi wajahnya bisa terlihat dengan baik. Hanya terlihat bekas lebam samar dan goresan yang sudah kering.
"Terima kasih, Pak..." Jawab Enni dengan hati senang dan tersenyum malu.
"Suster, saya bisa minta kursi roda? Saya mau ajak pasien keluar sebentar, mumpung masih pagi dan udara masih bersih." Bagas menjelaskan maksudnya meminta kursi roda. Suster mengangguk mengerti, lalu segera meninggalkan kamar Enni.
"Anda tidak repot dengan rambut sepanjang seperti itu?" Tanya Bagas kepada Enni setelah ditinggal suster.
"Sangat repot, Pak. Sudah lama sekali tidak pernah dipotong. Dulu di tempat Mami Sinna, ada orang dari salon datang untuk meotong rambut kami. Tapi semenjak di tempat lelaki itu, tidak pernah lagi potong rambut." Enni menjelaskan dengan sedikit emosi, mengingat rambutnya yang terus panjang dan dia harus menyisir dengan jari. Sebab Barry tidak mengijinkan ada sisir di kamarnya, apa lagi gunting.
"Ini dibantu sama suster, karna kusut dan banyak yang rontok." Enni menjelaskan lagi, sebab berharap rambutnya bisa digunting.
"Baik. Nanti saya bicara dengan dr Kiran, agar beliau bisa tolong jika anda ingin potong rambut." Bagas berkata demikian, sebab lihat Enni agak repot menangani rambutnya.
"Iya, Pak. Trima kasih..." Enni berkata dengan hati lega, sebab dia sendiri mau minta tolong dr Kirana untuk menggunting rambutnya.
"Baik. Kita tunggu suster bawa kursi roda untuk kita jalan-jalan di luar." Bagas berkata demikian sebab melihat kondisi Enni lebih baik. Ia berharap Enni bisa berinteraksi dengan orang lain di dunia luar. Enni mengangguk, mengiyakan.
"Oh iya, simpan ini. Mungkin anda suka." Bagas menyerahkan paper bag yang ada di tangannya kepada Enni.
Enni menerima pemberian Bagas, tanpa sadar dia menarik nafas dalam lalu memaluk paper bag yang diberikan Bagas.
"Ada apa? Mengapa, begitu?" Tanya Bagas sambil tersenyum, melihat Enni masih mencium paper bag.
"Bau rotinya sangat enak, Pak." Ucap Enni tidak bisa menutupi rasa sukanya pada harum roti yamg dibawa Bagas.
"Silahkan makan, kalau mau. Mumpung masih angat." Ucap Bagas senang melihat Enni suka pada bawaannya.
"Tidak usah Pak. Nanti setelah pulang saja." Enni tidak enak makan rotinya, sebab khawatir suster datang dengan kursi roda dan dia masih makan. Dia sendiri ingin keluar buat lihat-lihat, setelah bertahun-tahun hanya dalam kamar.
"Ini kursinya, Pak. Mau saya yang dorong ke bawah?" Tanya suster sambil menyiapkan Enni untuk duduk di kursi roda. Bagas melipat selimut, lalu letakan di paha Enni untuk menutupi kakinya yang masih ada banyak perban.
"Trima kasih, Sus. Saya yang antar saja. Sekalian ada yang mau saya tanyakan." Bagas mencegah suster untuk mengantar Enni turun ke lantai bawah.
Tidak lama kemudian, Bagas dan Enni sudah di taman rumah sakit yang sejuk dan tenang. Walau mereka tidak sendiri, ada beberapa pasien yang ditemani oleh keluarga mereka. Suasana tetap nyaman dan menenangkan.
"Trima kasih, Pak..." Ucap Enni setelah melihat sekitar taman yang begitu asri dan tenang.
"Besok-besok, minta tolong suster untuk berada di lingkungan seperti ini." Bagas berkata sambil duduk di salah satu kursi taman. Ia berharap dengan sering lakukan seperti itu, psikis Enni makin cepat pulih.
"Iya, Pak. Trima kasih. Nanti kalau sudah lebih pulih, saya akan minta ijin sama dr Kiran." Enni sangat menyetujui dengan usul Bagas, sebab sudah lama tidak berada di luar.
Saat Bagas mengeluarkan alat rekam untuk merekam pembicaraannya dengan Enni, tiba-tiba ponselnya bergetar. Ketika melihat nama di ponselnya, Bagas merespon dengan cepat.
...~▪︎▪︎▪︎~...
...~●○¤○●~...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 159 Episodes
Comments
Meyti Diana Sari ✅
Barry tidak bisa kah kau lepas kan ENNI?, belum cukup siksaan yang ku berikan kepada Enny, andai kata ada lelaki di dunia nyata seperti Barry ku santet bah❣️
2024-05-27
3
🍃⃝⃟𝟰ˢ🫦𝐀⃝🥀➳ᴹᴿˢ᭄°Ꮓ𝒶ℝ𝒶𓆊
bener bner ya si barry,,kasian enni, smpe sisir pun gda ,, nyisir smpe pke jari ,, handphone gtau ,,ihh emosi 😤
2024-05-24
3
🎀🤎⃟ ♔↬sᷠ͜aⷷs̰ᷠa̰ᷛ↫❀∂я
kasian banget jadi enni, ampe sisir pun gak ada lohh, cman pke tangan doang. bener" si barry makin esmosi aja aku ama dia
2024-05-13
3