...~•Happy Reading•~...
Enni jadi melihat Bagas dengan wajah heran dan bertanya-tanya, sebab tidak mengerti maksud ucapan Bagas yang terlihat serius dan agak marah mendengar proses dia kabur dari tempat Barry.
"Yaa, Pak..? Seperti apa buah dondaing itu?" Tiba-tiba Enni bertanya, sebab dia belum pernah dengar dan tidak tahu seperti apa buah dondaing.
Pertanyaan Enni membuat Bagas terkejut dan melihat dia dengan perasaan tidak enak. Ia tidak menyangka Enni mendengar umpatannya yang pelan dan spontan.
"Hhhhmm... Lupakan... " Bagas berkata cepat sambil mengibaskan sebelah tangannya. Ia segera mematikan alat rekaman, sebelum semua kegeraman dan ucapan asal yang mulai menyimpang didengar oleh boss nya saat mendengar hasil interogasinya.
"Kalau mau tau, lihat saja di google..." Ucap Bagas asal lagi, sebab Enni masih menunggu dan melihatnya dengan bingung. Bagas tahu, itu hanya ucapan asal saat membahasakan sesuatu dengan boss nya.
"Google itu apa, Pak?" Enni makin bingung mendengar ucapan Bagas.
"Enni, kau dari dunia ma na...." Ucapan Bagas terhenti, saat menyadari kehidupan Enni sebelumnya dan Enni sedang melihatnya dengan bingung.
"Maaf, Pak. Saya belum tahu. Sebab 10 tahunan ini saya terisolasi dari dunia luar." Enni berkata dan meminta maaf sambil mengatupkan kedua tangannya di dada, karena dia tidak bisa mengikuti pembicaraan Bagas.
"Jadi kau belum pernah lihat ini?" Bagas mengangkat tangan sambil memegang ponsel dan menggoyangnya di depan Enni.
Enni melihat dengan heran, sambil berpikir tentang benda pipih di tangan Bagas. "Benda apa itu, Pak?" Enni jadi ingin tahu benda di tangan Bagas, sebab pernah melihat benda yang sama digunakan oleh dr Kirana.
"Kapan terakhir anda telpon atau gunakan telpon?" Bagas bertanya sebelum menjawab, agar bisa tahu kehidupan Enni sebelumnya.
"Saat di kampus, Pak. Pakai telpon umum di kampus. Karena di rumah belum ada telpon, kami biasa gunakan telpon umum atau telpon di warnet." Jawab Enni, menjelaskan apa yang dilakukan sebelum peristiwa yang membuat dia terisolasi dari dunia luar.
Semua yang dikatakan Enni membuat Bagas melihat dia dengan serius. "Jadi orang di sekitarmu selama itu, tidak pernah gunakan ini?" Bahas bertanya sambil menggoyang ponsel yang masih dipegangnya.
"Tidak, Pak. Apakah itu telpon?" Tanya Enni yang mulai mengerti arah pertanyaan Bagas.
"Iyaa... Kalau begitu kita tinggalkan ini. Nanti kita bahas tersendiri di lain waktu." Ucap Bagas cepat, sebelum mereka membahas yang belum perlu dibicarakan.
"Sekarang ada yang lebih penting dari menjelaskan ini padamu." Bagas meletakan ponselnya di dalam saku.
"Kita kembali kepada pembicaraan sebelumnya. Anda mengenal orang yang bernama Barry, bukan?" Bagas berusaha serius, walau pikirannya penuh dengan kehidupan Enni yang baru pernah didengarnya.
"Kenal, Pak..." Jawab Enni cepat.
"Anda tau tempat tinggalnya? Maksud saya, tempat anda disekap sebelum melarikan diri." Bagas ingin tahu lebih banyak tentang Barry, sebab Enni tidak tahu nama lain, selain Barry. Sedangkan nama Barry sangat banyak dan umum dijumpai.
"Saya tidak terlalu tau, Pak. Sebab saya tidak lihat alamat rumahnya. Yang saya ingat, dia tinggal di rumah susun tinggi." Enni menjelaskan yang dia ingat, saat bersama Temi menemui Barry.
^^^Dia belum tahu tentang tempat yang disebut apartemen dan lift, jadi dia mengambarkan dengan sangat sederhana kepada Bagas. Bagaimana dia dibawa oleh seorang yang bernama Temi dari rumah Mami Sinna.^^^
^^^Mendengar yang dikatakan Enni, Bagas menandai secara khusus untuk mengetahui tempat yang dimaksudkan. Ia ingin menyelidiki tempat itu terlebih dahulu untuk mengetahui orang yang akan dituntut.^^^
"Baik.... Tolong beritahukan tempat yang anda tinggal setelah pergi dari rumah." Enni menceritakan tempat-tempat yang pernah dia datangi, termasuk anjungan yang disebut oleh Mami Sinna.
"Baik... Sekarang anda istirahat dan tidak usah pikirkan yang lain. Besok pagi saya akan kembali untuk lanjutkan minta keterangan untuk melengkapi yang sudah ada ini."
"Ada yang perlu saya siapkan, sekalian surat penunjukan kami sebagai pengacaramu." Bagas berkata cepat, saat melihat Enni mulai lelah. Ia segera merapikan semua alat kerja ke dalam tasnya.
"Trima kasih, Pak." Ucap Enni pelan.
"Ok. Sampai ketemu besok." Bagas menjinjing tas kantornya, lalu keluar dari ruangan Enni untuk menemui Kirana untuk pamit.
Tidak lama kemudian, Bagas menemui Kirana. "Dr Kiran, saya pamit dulu. Minta ijin, besok pagi saya akan menemui Enni. Jadi kalau dokter mau istirahat, silahkan saja. Saya akan langsung ke ruang rawat Enni." Bagas berkata cepat, saat melihat Kirana sedang berbicara dengan para tenaga medis.
"Ok, Pak... Silahkan. Saya akan buat kartu akses, agar Pak Bagas bisa menemui Enni kapan saja." Kirana mengajak Bagas ke ruangan khusus untuk membuat kartu akses.
"Besok saya selesai dinas, akan beritahu Enni sebelum pulang, agar dia bisa siap-siap." Kirana menyetujui usul Bagas, sebab sudah tidak sabar mengungkap dan menuntut orang-orang yang jahat kepada Enni,
...~▪︎▪︎▪︎~...
Di sisi yang lain ; Barry masih tinggal di apartemen sambil diobati oleh dokter yang setiap waktu datang mengobatinya, jika diperlukan oleh Barry.
Barry masih tidak nyaman dan kadang merasa nyeri pada alat kela*minnya, jadi dia belum bisa beraktivitas normal seperti sebelumnya di luar. Hal itu membuat emosinya sering berada pada level yang tidak stabil dan cendrung tinggi.
Sehingga saat mendengar laporan pria kekar yang belum menemukan Enni, dia sangat marah. Dia jadi tidak tenang dan was-was, sebab belum mengetahui keberadaan Enni.
"Bashu, kau bilang dia baru kabur dari rumah sakit, tapi kau tidak bisa susul dan temukan dia?" Barry bertanya dengan nada tinggi dan amarah yang meluap.
"Tidak ada, Pak. Saya sudah cek sekitar rumah sakit dan juga ke semua kantor polisi terdekat. Tetapi tidak ada laporan atau ada orang yang melapor ke kantor polisi." Bashu menjelaskan yang dia kerjakan dengan cepat, sebab melihat boss nya sedang emosi.
"Tidak ada orang yang menemukan dia di mana pun juga?" Tanya Barry jadi frustasi dan makin cemas. Dia khawatir Enni ditemukan oleh orang yang bisa percaya pada ucapannya tentang kondisi lukanya.
^^^Barry mau minta tolong Temi untuk mencari Enni, tapi dia khawatir akan ditanyakan banyak hal tentang kaburnya Enni. Apa lagi nanti Temi bicarakan atau minta tolong pada Yabet, teman mereka.^^^
^^^Barry mau minta Bahsu untuk mencari ke rumah Mami Sinna, tapi dia berpikir lagi. Tidak mungkin Enni ke tempat Mami Sinna. Jika dia sudah ke Mami Sinna, Temi akan tahu. Mami Sinna akan cari Temi dan minta pertanggungan jawabnya. Sebab Mami Sinna mengadakan transaksi untuk membeli Enni adalah Temi.^^^
"Kau pernah kembali ke rumah sakit Sopaefams untuk periksa di sana?" Barry agak curiga, sebab Enni tidak mungkin cepat meninggalkan rumah sakit dalam kondisi luka-lukanya.
"Belum lagi, Pak. Hanya sekali itu, lalu cari di sekitarnya." Jawab Bahsu sambil berpikir apa yang ditanyakan boss nya. Dia bertanya dalam hati, mengapa tidak balik lagi ke rumah sakit itu untuk mengecek lagi.
...~▪︎▪︎▪︎~...
...~●○¤○●~...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 159 Episodes
Comments
Meyti Diana Sari ✅
kalau ada di posisi ENNI beh gila lah bisa bundir diluan aku, dan astaga bisa bisanya ada orang begitu ya di kurung dan gak tau dunia luar seperti apa, belum lagi sih barry itu ih penjahat kelamin ❣️
2024-05-27
3
🎀🤎⃟ ♔↬sᷠ͜aⷷs̰ᷠa̰ᷛ↫❀∂я
segitu nya Barry ngurung enni, sampe keadaan dunia luar aja dia gk tau, bahkan handphone aja dia gk tau sama sekali, kasian bnget🥲
2024-05-13
3
🍃⃝⃟𝟰ˢ🫦𝐀⃝🥀➳ᴹᴿˢ᭄°Ꮓ𝒶ℝ𝒶𓆊
enni masa gtau google 🤧kasian bgt sih kamu enn ,,smoga kebahagiaan sellu hadir dlm hdup mu enn
2024-05-10
3