...~•Happy Reading•~...
Dr Kirana mengatakan demikian, sebab Enni bisa menceritakan profesinya sebagai wanita penghibur tanpa ragu kepadanya. Jadi dr Kirana berkesimpulan, Enni adalah wanita kuat dan bisa memilih dan membuat keputusan sendiri untuk hidupnya.
"Tidak, dokter. Saya sudah tidak merasa malu untuk hadapi publik, karena itu sudah jadi bagian hidup saya. Dan saya sadar, yang saya lakukan selama ini memang memalukan." Enni berkata pelan dan pasrah. Baginya, jika harus melalui itu untuk menemukan keadilan bagi dirinya, dia akan lakukan.
"Baik. Kau masih ingat alamat rumahmu?" Tanya dr Kirana lagi, untuk melengkapi keterangan Enni.
"Masih ingat, Dok..." Enni menjawab dan langsung menyebut alamat rumahnya. Dr Kirana segera mencatat alamat yang diberikan Enni di ponselnya. Enni memperhatikan yang dilakukan dr Kirana dengan ponselnya. Dia makin takjub melihat dr Kirana menggunakan benda pipih di tangannya.
"Kau punya kartu identitas atau tanda pengenal sebagai mahasiswa?" Tanya dr Kirana lagi untuk melengkapi data diri Enni, yang mungkin akan diperlukan.
"Tidak, dokter. Semuanya tertinggal di rumah dan selama 10 tahun ini, mereka tidak berikan kartu identitas yang mereka janjikan buat saya." Enni menjelaskan janji Mami Sinna yang mau berikan kartu identitas baru untuknya dengan nama baru. Tapi sampai dia dijual lagi ke Barry, Mami Sinna tidak memberikan kartu identitas baru untuknya.
"Baik. Sekarang kau istirahat dulu. Saya mau ke kantor untuk mendaftarmu di sini. Agar ada perawat yang datang melayanimu, jika saya tidak ada di sini." Dr Kirana berdiri lalu menurunkan posisi tubuh Enni, supaya bisa berbaring.
"Trima kasih, dokter..." Enni merebahkan tubuhnya dengan perasaan haru, diperlakukan begitu baik oleh seorang dokter cantik yang tidak dikenalnya.
"Saya akan mendaftarmu dengan nama Enni atau Winda?" Tanya dr Kirana sebelum keluar dari kamar, sebab kedua nama itu tetap bermasalah jika digunakan. Baik Enni atau Winda, ada pihak yang mencarinya, yaitu Bargani dan Barry.
"Enni saja, dokter..." Jawab Enni pelan, sebab nama Enni memiliki resiko lebih kecil, jika dia ditemukan.
"Good... Pilihan yang bagus." Jawab dr Kirana, sambil mengangkat jempol ke arah Enni, sebab yang dia pikirkan sama dengan Enni. Dr Kirana sengaja bertanya, agar Enni yang putuskan. Dia harus belajar memutuskan sesuatu yang baik buat hidupnya.
^^^'Lebih baik dia memakai nama Enni dan ditemukan keluarga, dari pada nama Winda dan ditemukan penjahat kela*min.' Dr Kirana berkata dalam hati, lalu keluar menuju kantor perawat ruangan mawar.^^^
"Selamat siang, Dok. Belum pulang?" Tanya suster kepala, saat melihat dr Kirana masuk ke ruangannya.
"Belum. Saya ada tambahan pasien di mawar. Nanti sore baru saya periksa pasien saya yang lain, ya." Ucap dr Kirana setelah duduk dalam ruangan suster kepala.
"Ooh, pasiennya baru masuk, dok?" Tanya suster kepala sambil melihat daftar pasien yang dirawat di ruangan mawar.
"Tadi pagi saya pindahkan dari UGD ke mawar..." Dr Kirana menjelaskan apa yang terjadi dan minta pengertian suster kepala untuk mengawasi Enni secara khusus.
"Siap, Dok... Tolong berikan datanya, biar saya masukan ke dalam daftar pasien." Suster kepala berkata cepat, sebab mengerti maksud dr Kirana. Dia sudah sering berhubungan dengan dr Kirana untuk pasien-pasien yang perlu penanganan khusus.
"Cukup cantumkan nama, usia dan sakitnya saja. Alamat dan lainnya tidak usah. Saya yang tanggung jawab, jika kabur." Ucap dr Kirana sambil tersenyum. Suster kepala juga ikut tersenyum, sebab jika dr Kirana sudah bilang begitu, ia yang akan membayar biaya perawatan pasiennya.
"Ok, Dok. Siaap..." Suster kepala berkata sambil tersenyum setelah menginput data Enni, agar lebih mudah dilayani oleh semua perawat di bagian mawar.
"Ok. Tolong minta suster untuk mengawasinya, agar semua lukanya bisa cepat kering. Nanti catatan medis tambahan tentang sakit pasien, saya minta bagian UGD kirim ke sini." Dr Kirana menjelaskan secara detail tentang kondisi Enni, lalu keluar dari kantor perawat.
Sebelum kembali ke kamar Enni untuk melihat kondisi terakhir dan juga pamit, dr Kirana teringat untuk menelpon seseorang sebelum masuk ke kamar Enni.
^^^Ketika berbicara dengan Enni tentang rencana penuntutan dan Enni setuju, dr Kirana langsung berpikir, siapa yang bisa membela Enni. Ia mengambil ponsel lalu mencari nomor telpon orang yang dimaksudkan.^^^
^^^Setelah menghubungi dan bunyi panggilan beberapa kali belum dijawab, dr Kirana melihat jam tangannya. 'Apakah Mas Thias sedang sibuk?' Dr Kirana bertanya sendiri dalam hati. Menyadari kemungkinan itu, dia hendak mematikan ponselnya.^^^
📱"Deeek..." Dr Kirana terkejut, tapi tersenyum senang. Dia tidak jadi mematikan ponselnya, saat mendengar dan melihat ada sapaan dari Mathias.
📱Allooo, Mas. Lama sekali, jawabnya." Dr Kirana protes, menjawab sapaan Mathias.
📱"Dek, ini jam berapa? Kau lupa kalau jam segini, jam sibukku? Kau sendiri, apa ngga sibuk?" Jawaban protes dari seberang membuat dr Kirana tersenyum, lebar.
📱"Hehehe... Ngga sih, Mas. Mau tidur, lelaaa..." Dr Kirana jadi tertawa sendiri, sebab memang ini jam sibuknya. Hanya ia tugas malam menggantikan rekan dokter yang berhalangan, jadi semua schedule nya berubah, dimundur ke sore hari.
📱"Lagi sibuk, ya, Mas. Sorriiii..." Dr Kirana tertawa membayangkan orang yang ditelpon kesal dan dia penyebabnya.
📱"Ngga usah basa basi yang sudah basi. Ada apa telpon Mas jam segini?" Ucap yang di seberang sambil geleng kepala, tapi ia berjalan keluar dari ruang meeting. Sambil menunjuk jam tangannya pada peserta meeting, sebagai tanda minta waktu sebentar.
📱"Kangen sama Miracle..." Dr Kirana tidak meneruskan ucapannya, karena di potong oleh Mathias.
📱"Kangen? Bukannya kau sudah sandra mereka di rumah sakit beberapa hari lalu?" Mathias pergunakan kesempatan untuk protes.
📱"Dilaporin, yaa..." Dr Kirana jadi tersenyum lebar mengingat kelakuannya.
📱"Ngga dilaporin. Mas yang nanya, karna mereka pulang sangat telat dari rumah sakit. Lain kali, jangan dimanjain lagi. Atau Mas pindahin mereka periksa ke rumah sakit lain." Mathias mengancam dengan nada serius.
📱"Eeeh, jangan Mas Thias. Ok, ok.. Aku akan ngerem, tidak bablas lagi. Abis mereka berdua sangat menggemaskan." Dr Kirana buru-buru mencegah.
📱"Sekarang bilang yang sebenarnya. Ada apa telpon Mas jam segini." Mathias mengulang pertanyaan sebelumnya, karena ia tahu, jika tidak ada yang penting tidak akan telpon di jam sibuk. Paling hanya kirim pesan untuk menanyakan kabar atau sesuatu.
📱"Ooh, iyaa... Mas Thias masih tangani kasus TQ?" Tanya dr Kirana cepat sebelum ditutup oleh Mathias. Dia butuh kepastian, sebelum membuat keputusan tentang kasus Enni.
📱"Seorang dr Kirana mau menyodorkan kasus TQ untukku? Sejak kapan kau bermasalah dengan fuluusss?" Mathias bertanya dengan heran, sebab ia tahu dr Kirana bisa membayar pengacara jika bermasalah dengan hukum.
...(Kasus TQ adalah adalah kasus untuk orang tidak mampu membayar pengacara, jika bermasalah dengan hukum. Mathias menyediakan bantuan hukum dan biasanya, mereka akan membayar jasanya dengan ucapan terima kasih/TQ)....
...~●○¤○●~...
...~▪︎▪︎▪︎~...
...Kisah tentang pengacara Mathias dapat diikuti di Novel "MANUSIA PARASIT"...
...Novel "MENGHAPUS JEJAK" adalah juga lanjutan dari Novel tersebut di atas....
...~▪︎▪︎▪︎~...
...~●○¤○●~...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 159 Episodes
Comments
🍌 ᷢ ͩ🤎ᴰᵉᵈᵉรωεεƭყˡᵉⁿ💋•§¢•
Semoga 10 tahun mu akan segera terbayar ya Enni..❣️
2024-05-27
0
🍁FAIZ❣️💋🄻🄴🄱🄰🅁🄰🄽👻ᴸᴷ
saya sampai bingung mau mengatakan apalagi untuk mengungkapkan kebaikan-kebaikan dokter Kirana.. udah di biayain pengobatan nya sekarang malah di carikan pengacara❣️
2024-05-27
0
𝐙⃝🦜ֆɦǟզʊɛɛռǟ🍒⃞⃟🦅👻ᴸᴷ
wkwk yg sudah basi itu apa mass,eh tapi kok tahu kalau dr kirana membutuh kan bantuan mu mas🤭🤣❣
2024-05-27
1