...~•Happy Reading•~...
Bagas segera keluar dari kamar perawatan Enni, lalu berjalan cepat ke lift. Ia tidak mau buang waktu dan juga kesempatan yang tidak terduga untuknya.
Setelah tiba di lobby, ia mencari perawat Keni sambil melihat sekeliling. "Gimana, orangnya ada di mana?" Tanya Bagas yang sudah mendekati Keni, saat melihatnya sedang berbicara dengan seorang suster.
"Sudah, Pak. Untung bapak bilang dan saya cepat turun. Orangnya cepat kembali ke lobby. Mungkin dia tidak pergi ke ruangan yang dikasih tau suster. Sebab itu bukan pasien yang dicari." Keni menjelaskan apa yang dilakukan suster di bagian informasi kepada Bahsu.
Bagas mengangguk sambil tersenyum membayangkan apa yang dipikirkan pria kekar itu, setelah mendapat informasi tentang Winda yang berbeda. Bukan Winda yang dia cari, tapi tidak bisa mengelak untuk tidak pergi ke ruangan yang diberikan suster.
^^^Apa yang dipikirkan Keni dan suster di bagian informasi juga Bagas adalah benar. Bashu tidak pergi ke ruangan yang diberikan, sebab dia tahu itu bukan Winda yang dia cari. Sehingga dia hanya naik lift menuju lantai tiga dan keluar. Dia tunggu sebentar di dekat lift, lalu kembali masuk lift untuk turun ke lobby.^^^
"Trima kasih buat bantuannya..." Bagas berkata sambil memegang lengan Keni sebagai ungkapan rasa terima kasih.
"Sama-sama, Pak. Ayoo..." Keni mengajak Bagas untuk mengikutinya. Mereka berjalan keluar dari lobby menuju tempat parkir.
"Itu orangnya, Pak..." Keni menunjuk Bashu yang sedang berbicara dengan security di dekat tempat parkir motor.
"Anda sudah dapat orang yang bisa bantu saya?" Tanya Bagas setelah melihat Bashu sudah selesai bicara dengan security.
"Sudah, Pak. Itu security yang sudah selesai dinas dan mau pulang. Beliau sudah bersedia antar bapak kemana saja." Keni menjelaskan, sambil memanggil security yang dimaksud dengan menggapai ke arahnya.
"Trima kasih..." Bagas kembali mengucapkan terima kasih dan menyalami Keni yang sudah membantunya.
"Sama-sama, Pak..." Keni balas menyalami Bagas.
"Sudah siap, Pak?" Bagas bertanya kepada security yang baru datang mendekati mereka.
"Sudah, Pak. Ini saya sudah pinjam helm teman buat bapak." Security tersebut menyerahkan salah satu helm di tangannya.
Bagas mengangguk dan mengambil helm dari tangan security. Kemudian mereka pamit pada Keni, lalu berjalan cepat ke tempat parkir motor.
"Ok. Mari kita pergi..." Bagas berkata sambil menepuk jok motor.
"Kita mau membuntuti saja, Pak?" Tanya security sebelum pakai helm.
"Iya... Usahakan ikuti pria itu. Hanya mengikuti, jadi ngga perlu dekat-dekat. Saya mau lihat dia kemana setelah dari sini." Bagas menjelaskan kepada security sebelum pakai helm. Ia menjelaskan rencananya tanpa menunjuk Bashu yang sedang menghidupkan motornya.
^^^Bashu yang belum pernah bertemu Bagas, tidak curiga pada mereka, walau sempat saling melihat. Sebab security tersebut parkir motornya tidak jauh dari Bashu.^^^
^^^Melihat Bashu mulai menjalankan motornya, Bagas segera pakai helm, lalu duduk di belakang security yang sudah menyalakan motornya. Dia bergerak cepat, agar tidak kehilangan jejak orang yang diincarnya.^^^
"Tidak usah terlalu dekat. Saya hanya mau lihat saja, lalu kembali ke rumah sakit. Mobil saya ada di parkiran rumah sakit ini." Bagas menjelaskan sambil mereka keluar dari pos parkir motor. Security hanya mengangguk, tanda mengerti maksud Bagas.
Setelah lama membuntuti, beberapa waktu kemudian mereka melihat Bashu masuk ke salah satu apartemen mewah, tapi lumayan jauh dari rumah sakit. Hal itu membuat Bagas agak heran, mengingat cerita Enni bahwa dia disekap di gedung bertingkat. Jika benar Enji disekap di tempat itu, dia telah berlari sangat jauh hingga tiba di RS Sopaefams.
^^^Karena ada beberapa apartemen di sekitar rumah sakit, sehingga Bagas ingin mamastikan apartemen mana tempat Enni disekap, agar ia bisa gampang mencari penghuni yang bernama Barry.^^^
"Mari kita kembali ke rumah sakit. Saya sudah dapat yang dicari." Ucap Bagas sambil menepuk pundak security, agar mereka kembali ke rumah sakit.
^^^Bagi Bagas, selanjutnya ia sendiri atau teamnya yang akan selidiki untuk lebih mengetahui siapa pria yang bernama Barry dan juga profesinya.^^^
^^^Jika dia bisa tinggal di apartemen mewah, berarti bukan orang kebanyakan. Baik dia punya apartemen sendiri atau menyewa, tetap harus punya banyak uang.^^^
Security mengerti maksud Bagas, jadi dia segera mencari jalan untuk putar balik ke arah RS Sopaefams.
Setelah tiba di tempat parkir motor, Bagas mengeluarkan lembaran uang lalu berikan kepada security. "Terima ini, untuk ganti bensin, ya." Security menolak dengan mengangkat kedua tangannya.
"Terima saja. Kalau saya sewa ojek, sama saja harus bayar, tapi ngga aman. Trima kasih." Bagas memasukan lembaran uangnya ke saku celana security, lalu berjalan cepat menuju tempat parkir mobil.
Bagas tidak kembali ke kamar Enni tapi langsung ke kantor. Ada yang perlu ia siapkan sebelum lakukan penyelidikan tentang orang-orang yang berhubungan dengan Enni.
...~▪︎▪︎▪︎~...
Di sisi lain ; Bashu yang sudah tiba di apartemen, langsung melapor apa yang terjadi di rumah sakit kepada Barry yang sudah menunggunya dengan tidak sabar. Bashu katakan, dia tidak menemukan Winda di rumah sakit.
Apa yang dilaporkan Bashu membuat Barry meradang. Dia tidak bisa berpikir dengan baik, sebab belum sembuh dengan baik. Sehingga dia tidak bisa keluar untuk meminta tolong pada orang-orang atau aparat yang biasa membantunya.
Dia juga tidak bisa meminta tolong Temi seperti biasanya, sebab Temi sudah beberapa kali minta bertemu dengannya. Tapi dia beralasan sedang berada di luar kota, jadi belum bisa bertemu dengan teman-temannya.
"Kau kembali lagi ke sana dan cek di kamar jenasah. Mungkin terjadi sesuatu dengannya." Barry berkata sesuai dengan yang terlintas di pikirannya, sebab dia tidak tahan belum mengetahui keberadaan Enni.
^^^Dia ingin memastikan posisi Enni. Sebab baginya, dia harus menemukan Enni sebelum orang lain. Ini bukan karena masalah sek*s, tetapi karena kondisi luka dan apa yang dia lakukan selama ini akan terbongkar dan bisa mengancamnya.^^^
^^^Amarahnya dan merasa terhina dengan apa yang dilakukan Enni dan Mami Enni Sinna membuat dia kehilangan kontrol dan ingin membalasnya. Sehingga ketika melihat Enni, emosinya meningkat dan ingin menyakitinya.^^^
"Boss, jika saya kembali lagi sekarang, pihak rumah sakit akan curiga. Apa lagi dokter yang pernah melihat luka Nona Winda akan melapor saya." Bashu memberikan alasan, sebab dia merasa khawatir, tidak enak dan malu untuk kembali ke rumah sakit.
"Maaf, boss... Saya hanya bertanya saja, apa Nona Winda tidak kembali ke keluarganya? Mungkin sekarang dia sudah bertemu dengan keluargga dan merawatnya." Bashu mencoba menyampaikan yang terpikirkan olehnya.
Barry jadi melihat Bashu dengan serius, saat mendengar dugaannya. 'Mungkinkah dia sudah kembali ke rumah Mami Sinna? Tapi kalau sudah kembali, Temi pasti sudah tahu. Sebab Mami Sinna akan hubungi dia untuk minta pertanggungan jawab.' Pikir Barry.
'Atau dia sudah kembali ke keluargga aslinya?' Barry terus berpikir, sebab Enni tidak memiliki uang untuk terus dirawat di RS Sopaefams. Dia makin meradang, sebab tidak tahu tentang Enni dan keluarganya.
...~▪︎▪︎▪︎~...
...~●○¤○●~...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 159 Episodes
Comments
🎀🤎⃟ ♔↬sᷠ͜aⷷs̰ᷠa̰ᷛ↫❀∂я
keren banget si bagas, dalam sekejap bisa segera dapat bukti bukti nya, lanjutkan terus bagas, moga dapat bnyak bukti yang bisa buat barry masuk penjara
2024-05-13
3
𝓐𝔂⃝❥🍁●⑅⃝ᷟ◌ͩṠᷦụᷴfᷞi ⍣⃝కꫝ🎸❣️
Bagas emang pengecara yg bisa diandalkan ,cari bukti yg banyak biar ditahan si barry itu sama yg terlibat, emang enni buat apa sampe segitu parah kau lukai barry? dasar hati iblis. tunggu aja kau kejerat hukum ntar.
2024-04-15
3
𝐀⃝🥀senjaHIATᴳ𝐑᭄⒋ⷨ͢⚤🤎🍉
Bagas keren deh langsung dapat petunjuk tentang Barry.semoga kebenaran segera terungkap dan semua orang yang menyakiti Enni segera mendapatkan balasan 🤲
2024-04-02
3