...~•Happy Reading•~...
Kirana terdiam, tapi meneruskan senyumnya dalam hati. Dia sudah sering mendengar ucapan asal Mathias, tapi ia tetap tidak bisa menahan untuk tidak tertawa.
^^^Dia mengetahui, apa yang dikatakan Mathias itu adalah benar. Tapi karena kata kiasan yang diucapkan dengan wajah serius dan tepat sasaran, membuat dia tidak jadi marah, tapi malah tersenyum sendiri.^^^
"Dek, cukup senyum-senyumnya. Tolong kirim semua foto dan video ini buatku, juga kwitansi pembayaran dan bukti transfer orang itu. Kita jadikan bukti dan dokumen awal untuk lakukan penyelidikan." Mathias mengembalikan ponsel Kirana, untuk mengalihkan pikiran Kirana dari ucapan asalnya tentang ular tidak bermata.
^^^Kirana mengerti maksud Mathias, jadi dia segera lakukan yang diminta dengan hati senang. Semua yang dia lakukan untuk dokumentasi tidak sia-sia, bisa menolong Enni.^^^
^^^Mathias mengeluarkan ponselnya untuk menerima transfer data dari Kirana. Ia mulai ke mode serius agar bisa konsentrasi untuk menindak lanjuti bukti yang diperoleh oleh Kirana. Namun ia kembali jadi emosi melihat kondisi Enni di foto yang dikirim Kirana untuknya.^^^
"Nanti kita mampir ke rumah sakit sebentar. Aku mau bicara dengan Enni sebelum ke luar kota." Mathias bicara dengan rahang masih kaku, karena emosinya belum surut melihat kebrutalan orang yang lakukan kekerasan kepada Enni.
^^^Kirana yang melihat kegeraman Mathias, merasa senang. Dia yakin akan mendapat dukungan penuh dari kakak kesayangannya. Enni akan peroleh keadilan atas apa yang dialaminya. Kirana berkata dalam hati dengan yakin, melihat respon Mathias.^^^
"Ayoo, dimakan dulu. Berdua serius sekali..." Sari yang baru datang bersama pelayan, jadi terkesima melihat keseriusan Mathias dan Kirana. Ia meminta pelayan menata menu di atas meja, lalu duduk di samping Kirana.
"Ada apa, Thias? Apa terjadi sesuatu dengan Bu'de?" Tanya Sari yang tahu kondisi kesehatan Ibu Mathias yang sedang sakit.
"Ngga, Ri. Ibu masih seperti dulu. Tapi sekarang lebih baik, setelah Miracle lahir. Sudah ngga sering ke rumah sakit lagi." Mathias menceritakan sedikit tentang kondisi Ibunya.
"Alhamdulillah... Silahkan, makan dulu." Sari mempersilahkan Mathias dan Kirana makan.
"Ri, kami ngga lama di sini, ya. Aku ada meetimg lagi dan persiapan mau ke luar kota. Kami ke sini karna Adekmu ini ada kesulitan dengan pasiennya, jadi minta tolong aku tangani. Kami mau ajukan gugatan hukum." Mathias tidak membicarakan kasus yang akan ditangani, agar tidak panjang membahasnya.
"Mohon pengertiannya, ya, Mba. Aku perlu tidur juga, karna belum istirahat sejak kemarin." Kirana berkata sambil mengangkat dua jari di samping pipinya, tanda peace dan minta pengertian Sari.
"Nanti setelah kasus ini kelar, aku datang ke sini lagi untuk makan sepuasnya. Sekarang lagi ngga bisa bersenang-senang, ada yang mengganggu hati dan pikiran." Kirana selalu kepikiran sejak berbicara dengan Enni tentang yang dialaminya.
"Iyaa, ngga papa. Sekarang juga, aku ngga bisa temani makan, karna ada yang mau pakai ruangan privat buat acara arisan. Jadi aku mau bantu karyawan untuk nyiapin yang diperlukan." Sari meminta maaf juga, karena kesibukannya mengelolah restoran.
^^^Dia tidak tahu kedua saudaranya akan datang makan di tempatnya, jadi dia yang menangani langsung persiapan acara, dibantu oleh beberapa karyawan. Apa lagi sekarang bersamaan dengan waktu makan siang, sangat sibuk.^^^
"Ok. Silahkan dikerjakan. Nanti selesai makan, kami hubungi untuk pamit." Mathias berkata cepat, sebab ia ada pertemuan yang tidak bisa dihindari atau ditunda.
"Ok. Selamat makan. Kalau ada yang kurang, bilang saja sama pelayan. Aku tinggal, ya." Sari mempersilahkan Mathias dan Kirana makan, lalu segera meninggalkan mereka.
...~▪︎▪︎▪︎~...
Beberapa waktu kemudian, Mathias dan Kirana sudah tiba di rumah sakit. Karena mereka menggunakan motor, jadi tidak terhalamg oleh jalanan yang macet di waktu jam makan siang.
"Mas, kita langsung saja ke kamar Enni. Mungkin dia baru selesai makan, jadi belum keburu tidur." Kirana mengajak Mathias naik lift khusus pasien, agar bisa cepat dan tidak terganggu oleh sapaan para perawat dan dokter yang berpapasan dengan mereka.
^^^Para perawat atau rekan dokter akan menanyakan banyak hal, jika berpapasan dengannya. Jadi Kirana sengaja menghindar, agar Mathias tidak terganggu. Apa lagi mendengar rekan dokter berdehem, karena melihat ia jalan berdampingan dengan seorang pria.^^^
"Ok. Semoga belum istirahat, agar aku bisa bertemu dan bicara sebentar dengannya." Mathias berkata setelah mereka sudah di dalam lift.
Beberapa saat kemudian mereka tiba di ruangan mawar. "Selamat siang. Sudah makan?" Sapa dr Kirana, saat melihat Enni sedang duduk bersandar.
"Selamat siang, dokter..." Namun secara refleks, Enni menarik selimut menutupi tubuhnya sampai ke leher, saat melihat Kirana masuk bersama seorang pria. Hal itu tidak luput dari perhatian Mathias dan Kirana.
"Selamat siang..." Sapa Mathias berusaha tenang, seakan tidak memperhatikan dan tidak tahu gerakan dan perubahan Enni.
"Selamat siang, P a k." Ucap Enni pelan, sambil memegang pinggiran selimutnya dengan erat.
"Enni, ngga papa... Ini pengacara yang akan membantumu." Kirana coba menenangkan Enni yang terus melihat Mathias sambil tetap memegang pinggiran selimutnya.
"Namamu Enni?" Mathias coba mengajak Enni bercakap-cakap untuk mencairkan suasana.
"Iy a a, P a k..." Jawab Enni pelan dan ragu.
"Bisa saya mendekat?" Tanya Mathias sebelum melangkah, minta persetujuan Enni.
"Iyaa, P a k..." Jawab Enni lagi. Pelan dan singkat.
"Perkenalkan, saya Mathias..." Ucap Mathias setelah dekat dengan ranjang Enni dan mengulurkan tangannya untuk memgetahui reaksi Enni.
Perlahan Enni melepaskan pinggiran selimut, lalu mengulurkan tangannya untuk menyalami Mathias. Ucapan Kirana bahwa Mathias adalah pengacara yang akan membantunya, membuat Enni agak tenang.
^^^Kirana dan Mathias merasa lega, melihat respon Enni terhadap uluran tangan Mathias.^^^
"Saya belum bisa banyak bicara dengan anda, sebab saya ada pertemuan. Sekaramg saya datang untuk berkenalan dulu, supaya tau apa yang akan dibantu dan siapa yang bisa membantumu." Mathias membuka percakapan, agar mereka bisa berkomunikasi dengan baik, setelahnya.
"Sekarang konsentrasi untuk kesehatan, agar bisa lekas pulih. Setelah itu, baru kita bisa lakukan tindakan selanjutnya." Mathias berusaha menyemangati, dan makin lega melihat Enni mengangguk, mengerti.
"Ooh iya, di Firma hukum saya tidak ada pengacara wanita, jadi harus belajar menerima dan semoga bisa terbiasa dengan pengacara laki-laki." Mathias langsung mengatakan itu, agar Enni bisa tahu, terima dan beradaptasi.
^^^Enni kembali mengangguk mengerti, dia menyadari reaksinya saat pertama melihat Mathias yang membuat Mathias berbicara demikian. Dia masih belum hilang rasa trauma saat berdekatan dengan lelaki.^^^
"Beberapa waktu ke depan, rekan saya yang akan datang untuk menanyakan seputar kejadian yang menimpah anda. Jadi saya harap, bisa kerja sama dengannya. Supaya kita bisa lakukan penuntutan secepatnya, agar pihak-pihak yang terlibat tidak melarikan diri atau bersembunyi." Mathias berkata dengan serius dan penuh penekanan.
^^^Mathias bisa berkata seperti itu, sebab melihat Enni adalah wanita yang bisa diajak bicara. Matanya menunjukan dia wanita yang cerdas. Apa lagi menurut Kirana, dia pernah kuliah.^^^
"Enni bisa mengerti maksud saya?" Tanya Mathias. Enni mengangguk kuat dengan mata berkaca-kaca. Dia jadi terharu, melihat sikap Mathias padanya.
...~▪︎▪︎▪︎~...
...~●○¤○●~...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 159 Episodes
Comments
Bambut That
trauma
2024-08-14
1
🍌 ᷢ ͩ🤎ᴰᵉᵈᵉรωεεƭყˡᵉⁿ💋•§¢•
Aku yg baca juga geram lhoo... ❣️
2024-05-27
0
🍃⃝⃟𝟰ˢ🫦𝐀⃝🥀➳ᴹᴿˢ᭄°Ꮓ𝒶ℝ𝒶𓆊
trauma sudah tentu ,,pasti sangat trauma,,aplg enni seorang perempuan yang harus di perlakukan dengan baik ❣️
2024-05-08
2