...~•Happy Reading•~...
Perawat Keni segera mendekati bagian tempat Enni dirawat, lalu menutup semua tirai. Dia memeriksa ranjang yang masih kosong di bagian deretan ranjang Enni, lalu memeriksa kondisi Enni. Dia merasa lega dan bersyukur, saat melihat Enni sedang tidur lelap.
Dia melepaskan infus, lalu perlahan mengangkat selimut dari tubuh Enni ke arah kaki. Kemudian dia menutup tubuh Enni dengan selimut baru diambil dari ranjang yang akan digunakan untuk memindahkan Enni.
Setelah merapikan selimut, dia mengangkat Enni perlahan dengan kedua tangannya. Tangan kanannya di bagian punggung dan tangan kiri di bagian bawah paha Enni. Dia mengangkat secara pelan dan hati-hati seperti yang diingatkan dr Kirana.
^^^Sebelum melakukan tindakan itu, perawat Keni terus berdoa dan berharap, Enni tidak terbangun saat diangkat. Situasinya akan menjadi kikuk atau ricuh dan di luar kendali, jika Enni berontak atau berteriak.^^^
Saat mengangkat Enni, dia bisa melihat banyak luka di tubuh Enni. 'Pantas dr Kiran bersikap demikian.' Perawat Keni membatin, sambil meletakan Enni di ranjang yang baru. Dia makin mengerti tindakan dr Kirana yang mau menolong pasiennya, sebagai sesama perempuan yang diperlakukan seperti hewan.
Hatinya sangat lega, saat bisa meletakan Enni di ranjang yang baru, dengan mulus. Kemudian dia menutupi sekujur tubuh Enni dengan selimut, lalu mendorong ranjang dengan cepat, tapi tetap berhati-hati.
Dia terus berharap, Enni tidak kaget bangun selama ranjangnya didorong ke ruangan mawar di lantai dua. Supaya dia tidak mengalami kesulitan atau menarik perhatian orang yang sedang mencarinya.
Saat ranjang Enni akan melewati ruangan jaga, dia hanya melirik sekilas ke arah dr Kirana. Lalu memberikan tanda OK dengan jarinya sebagai isyarat, semuanya berjalan dengan baik. Dia berharap rencana dr Kirana selanjutnya bisa berjalan dengan baik, setelah dia sudah bisa membawa Enni. Dr Kirana mengangguk pelan sebagai tanda mengerti, maksudnya.
"Suster Lisa, tolong ikuti mereka. Kau tolong temani pasiennya di kamar. Saya akan menggantimu di sini. Bilang Keni segera kembali ke sini." Bisik dr Kirana kepada suster jaga, agar bisa menggantikan perawat Keni menemani Enni. Dr Kirana khawatir, Enni terbangun dan histeris saat melihat dia dan Keni sendiri dalam kamar.
^^^Perawat yang lain sedang keliling melihat dan memeriksa pasien, dan yang lain sedang istirahat. Jadi hanya ada Suster Lisa dan perawat Keni sedang berjaga di UGD.^^^
"Siap, dok..." Suster Lisa segera berdiri dan mengambil perlengkapan yang dibutuhkan, lalu berjalan cepat menyusul perawat Keni untuk mengantar pasien ke kamar mawar.
Setelah melihat ranjang Enni telah masuk ke lift khusus pasien, dr Kirana menghubungi pos security supaya membawa masuk pria kekar ke UGD.
Sambil menunggu kedatangan mereka, Dr Kirana meletakan kedua tangan di atas meja lalu meletakan dahinya ke atas lengannya, seakan sedang istirahat. Dia menunggu dan berpikir strategi yang baik menghadapi pria kekar itu untuk menolong Enni.
"Selamat pagi, Suster." Sapa security saat mendekati dr Kirana di tempat jaga para perawat. Dr Kirana mengangkat wajahnya, seakan terbangun karena sapaan security.
"Oh, maaf ganggu, dokter Kiran. Saya kira suster jaga." Security minta maaf, karena tidak menyangka dokter Kirana yang tidur di ruang jaga para perawat.
"Tidak apa-apa, Pak. Selamat pagi. Ada yang bisa saya bantu?" Tanya dr Kirana sambil merapikan baju dokternya, lalu berdiri mendekati security. Dia bersikap profesional sebagai dokter, jika ada yang membutuhkan bantuan medis.
"Begini, dok. Bapak ini, sedang mencari seorang wanita yang mungkin datang ke sini untuk dirawat di rumah sakit ini." Security menjelaskan, sesuai yang dikatakan pria kekar itu padanya.
"Seorang wanita? Baru datang ke sini? Siapa namanya?" Tanya dr Kirana serius dan beruntun, seakan belum tau maksud kedatangan pria itu.
"Iya, dok, seorang wanita muda. Mungkin tadi malam ke sini... Namanya Win da." Jawab pria kekar itu pelan dan ragu-ragu menyebut nama Enni.
"Winda? Sebentar, saya periksa..." Dr Kirana kembali ke ruang jaga untuk memeriksa nama pasien di komputer. Pria kekar dan security mengikuti dr Kiran dari belakang.
"Mungkin dia datang ke rumah sakit ini, sebab sedang sakit. Dia pergi dari rumah tanpa pamit, dok." Pria itu menambahkan keterangan untuk lebih meyakinkan dr Kirana yang sedang sibuk di depan komputer tanpa menunjukan rasa curiga padanya.
"Tidak ada pasien bernama Winda yang datang ke sini. Dia sakit apa?" Dr Kirana bertanya tenang, sebab ingin tahu tentang pria itu dan Enni.
^^^Pria itu jadi bingung mendengar pertanyaan dr Kirana tentang sakit wanita yang dicari. Dia tidak tahu mau mengatakan Enni sakit apa, sebab bossnya hanya menyuruh dia memeriksa kantor polisi dan rumah sakit terdekat dengan apartemen untuk mencari Enni yang kabur dari apartemen.^^^
^^^Dia berpikir keras dan cepat tentang sakit Enni, agar dr Kirana dan security tidak curiga padanya.^^^
"Ooh, dia kurang sehat pikirannya, jadi sering mengamuk. Mungkin ada beberapa bagian tubuhnya yang luka." Pria kekar mengatakan apa yang terpikirkan olehnya, sesuai dengan yang dia tahu tentang Enni.
"Ooh, karna luka?" Dr Kirana berdiri dari depan komputer, lalu melihat pria kekar dengan serius.
"Iya, dok. Mungkin dia ke sini untuk mengobati luka-lukanya." Pria kekar jawab sesuai apa yang terlintas di pikirannya.
"Tadi malam ada wanita yang pingsan di depan rumah sakit, dan ada banyak luka di tubuhnya. Anda siapanya? Keluarganya?" Dr Kirana bertanya dengan serius.
"Bisa dibilang seperti itu, dok." Jawab pria kekar cepat dan merasa lega bisa temukan Winda, wanita boss nya.
"Bisa dibilang seperti itu? Anda harus katakan dengan jelas hubungan anda dengan pasien. Kami tidak akan berikan informasi pasien kepada sembarang orang." Dr Kirana berkata tegas dan serius. Bukan saja karena pasiennya Enni, tapi itu adalah tugasnya sebagai dokter untuk menjaga kerahasiaan pasiennya.
"Maaf, Bu dokter. Saya asisten suaminya. Suaminya sedang sakit, jadi minta saya mencari istrinya." Pria kekar itu tidak bisa mengelak, jadi terpaksa berbohong agar bisa bertemu dengan Enni.
^^^Dr Kirana makin curiga dengan pria yang ada di depannya dan juga pria yang diakui sebagai suami Enni yang sedang sakit. Sakit apa yang membuat seorang suami tidak mencari istrinya saat kabur dari rumah.^^^
^^^'Mungkin terjadi perkelahian antara suami istri dan saling melukai, sehingga Enni kabur dari rumah? Tapi semua luka-luka itu, apa dilakukan oleh seorang suami?' Apa suaminya sakit jiwa?' Dr Kirana berpikir dan bertanya sendiri dalam hati, sebab semua luka yang dialami oleh Enni tidak mungkin dilakukan oleh seorang suami yang waras.^^^
^^^Memikirkan mungkin suami Enni yang sakit jiwa, dr Kirana makin ingin tahu lebih banyak tentang suami Enni. Agar bisa melindungi Enni dari suami yang sudah menyakitinya.^^^
"Kalau begitu, coba lihat foto ini. Apa benar wanita yang anda cari itu, yang ini atau bukan." Dr Kirana mengeluarkan ponsel dari saku jas, lalu otak-atik ponselnya dan perlihatkan salah satu foto Enni kepada pria kekar itu.
...~▪︎▪︎▪︎~...
...~●○¤○●~...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 159 Episodes
Comments
☠ႦαRAkudA
bener2sadis yg nyiksa ya...sereem
2024-09-06
1
🍌 ᷢ ͩ🤎ᴰᵉᵈᵉรωεεƭყˡᵉⁿ💋•§¢•
Serem amat banyak luka nya 🤧🤧
2024-05-27
2
☠ᵏᵋᶜᶟ🍃⃝⃟𝟰ˢ🫦🐝⃞⃟⃝𝕾𝕳ɳҽˢ⍣⃟ₛ♋
semoga eni selamat dari lelaki kekar itu❣️
2024-05-27
3