...~•Happy Reading•~...
Pria kekar itu merasa lega, saat melihat layar ponsel dr Kirana. "Benar, dokter. Ini istri boss saya yang bernama Winda..." Pria kekar berkata cepat sambil menunjuk layar ponsel dr Kirana, saat melihat wajah Enni yang sudah diobati dan ditutupi perban di beberapa tempat.
"Baik. Saya percaya pada ucapan anda. Tapi anda harus berjanji, akan membiarkan wanita ini dirawat di sini sampai luka-lukanya sembuh." Dr Kirana berkata tegas dan mendesak. Dia sengaja lakukan itu untuk memastikan keselamatan Enni, lalu memasukan ponselnya ke dalam saku jas dokternya.
"Baik, dok. Saya berjanji atas nama boss saya." Pria kekar itu berkata cepat sebelum dr Kirana berubah pikiran. Baginya yang penting sudah menemukan Winda.
^^^Dia sangat khawatir, sebab yang menangani wanita boss nya adalah dokter wanita. 'Dengan luka yang ada pada wajah Winda, bisa membangkitan rasa empati sebagai sesama wanita.' Itu yang ada dalam pikiran pria kekar itu.^^^
^^^Sehingga dengan cepat dia menyanggupi permintaan dr Kirana. Dia yakin boss nya akan setuju dengan keputusannya, sebab yang penting dia sudah tahu keberadaan Winda dan dia tidak melakukan tindakan yang merugikan boss nya.^^^
"Sebentar, saya harus membuat video sebagai bukti anda sudah berjanji untuk membiarkan istri boss anda dirawat di sini." Ucap dr Kirana cepat, lalu mengeluarkan kembali ponselnya dari kantong jas.
^^^Security yang berdiri bersama dengan mereka hanya bisa memperhatikan, tanpa mengerti maksud tindakan dr Kirana. Suatu tindakan yang tidak biasa dilakukan oleh dokter atau perawat di rumah sakit itu. Oleh sebab itu, dia hanya mengamati dan berjaga-jaga.^^^
^^^Security itu tidak mengerti situasi, sebab dia yang bertugas di pos setelah Enni ditemukan oleh security yang lepas tugas jaga sebelumnya. Jadi dia tidak tahu seberapa luka wanita yang menjadi pasien di UGD dan sedang dicari oleh pria kekar itu.^^^
"Silahkan diulang lagi janji anda tadi, Pak." Dr Kirana berkata sambil mengarahkan kamera ponsel ke arah pria kekar yang sudah tidak bisa menghindar lagi.
^^^Tanpa berpikir panjang dan curiga, dia mengulang janji yang diucapkan sebelumnya. Dia hanya berpikir, yang penting sudah menemukan Winda. Dia juga setuju, agar semua luka Winda ditangani oleh pihak medis. Bukan hanya sekedar diobatin dengan obat yang diberikan boss nya.^^^
^^^Setelah melihat luka yang dialami Winda, dia tidak bisa lakukan sesuatu untuk mengobati. Sebab dia hanya bisa menuruti perintah boss nya. Membawa obat yang diberikan, tanpa bisa lakukan sesuatu yang lain. Padahal dia tahu bisa terjadi infeksi, akibat tidak tertangani dengan baik.^^^
"Baik, trima kasih." Dr Kirana memasukan ponsel kembali ke kantong jasnya setelah pria kekar selesai mengucapkan janjinya. Kemudian dr Kirana mengajak pria kekar dan security ke ranjang, tempat Enni dirawat.
"Pasiennya belum kami berikan nama, sebab dia ditemukan dalam keadaan pingsan. Tapi saya dokternya, karna saya yang sedang bertugas di UGD." Dr Kirana menjelaskan kejadian Enni ditemukan kepada pria kekar yang mendengar dengan serius.
^^^Pria itu jadi was-was dan bahkan mulai takut mendengar penjelasan dokter tentang luka-luka yang dialamj oleh Enni. Sebab selama ini dia tidak pernah melihat luka Enni di bagian tubuh yang lain, selain di wajahnya.^^^
^^^Karena setiap kali dia masuk ke kamar untuk mengantar keperluan Enni, dia melihat Enni selalu berada di balik selimut. Enni tidak pernah turun dari tempat tidur, jadi dia tidak tahu luka yang lain.^^^
"Loh, di mana pasien di sini?" Tanya dr Kirana sambil menunjuk ranjang Enni yang sudah kosong dengan wajah panik.
"Tadi malam dia dirawat di sini. Ini buktinya..." Dr Kirana berkata sambil menunjuk papan yang mencantumkan keterangan pasien di bagian kaki ranjang. Di situ tercantum nama pasien dengan inisial 'NN', juga nama dokter yang merawat adalah dr Kirana.
"Apakah dia sudah siuman?" Tanya dr Kirana sambil melihat sekeliling, seakan sedang mencari Enni. Begitu juga dengan pria kekar dan security yang tidak mengerti.
"Itu infusnya dilepas begitu saja..." Dr Kirana menunjuk alat infus yang masih tergantung dan juga botol cairan infus yang isinya masih tersisa.
"Pak, tolong periksa toilet, mungkin pasien sedang ke toilet." Ucap dr Kirana pelan tapi serius kepada security, sebab khawatir membangunkan pasien lain yang ada di UGD
^^^Security langsung ke toilet diikuti oleh pria kekar untuk memeriksa. Dr Kirana berdiri diam dekat bekas ranjang Enni sambil berpikir untuk menolong Enni, selanjutnya.^^^
"Tidak ada, dok. Kamar mandi kosong..." Security menjelaskan, setelah kembali dari toilet bersama pria kekar.
"Apakah pasiennya kabur, saat siuaman?" Tanya pria kekar yang menyadari kondisi Winda, mungkin tidak mau ditemukan oleh boss nya, jadi melarikan diri lagi.
"Mungkinkah...?" Tanya dr Kirana pelan, sambil terus berpikir bagaimana bisa memberikan penjelasan yang masuk akal dan bisa diterima oleh pria kekar.
"Kalau begitu, saya akan mencarinya di luar, sebelum dia jauh dari sini." Ucap pria kekar buru-buru, lalu hendak keluar mencari Enni.
"Tunggu sebentar, Pak. Anda harus membayar semua tindakan medis yang sudah kami lakukan kepada istri boss anda." Dr Kirana menahan langkah pria kekar itu untuk tidak keluar dari UGD.
"Tapi saya, tidak bawa uang tunai, dokter." Pria itu berkata cepat dan bingung mendengar permintaan dr Kirana.
"Silahkan telpon boss anda untuk membayar perawatan istrinya di sini." Dr Kirana tidak bergeming, karena mau tahu lebih banyak tentang suami Enni.
^^^Pria kekar itu tertegun mendengar permintaan dr Kirana. Dia tidak menyangka, dokter yang terlihat baik dan ramah bisa berkata seperti itu untuk masalah uang. Dia berpikir, dr Kirana akan lebih mengutamakan rasa kemanusiaan.^^^
"Nanti saya kembali lagi, dok. Saya harus mencari istri boss dulu, sebelum kehilangan dia lagi." Pria kekar coba memberikan alasan yang bisa diterima oleh dr Kirana.
"Maaf, Pak. Kalau anda langsung hubungi suami pasien, bisa cepat selesai. Ini bukan masalah kemanusiaan, tapi masalah peraturan di rumah sakit ini."
"Kami sudah merawat pasien, tanpa ada identitas apa pun karena rasa kemanusian. Tapi sekarang sudah ada keluarga yang bertanggung jawab, jadi silahkan telpon suaminya untuk bertanggung jawab pada istrinya."
"Tadi anda lihat foto pasien bukan? Kami membuat itu sebagai persiapan memposting di sosial media untuk mencari keluarganya, jika sampai pagi dia belum siuman dan tidak ada yang mencarinya."
"Jadi anda sekarang bisa pikirkan kondisi kami jika melepaskan anda tanpa jaminan apa pun dan pasien sendiri belum ada datanya di rumah sakit ini." Dr Kirana tetap mempertahankan sikapnya sebagai dokter yang bertanggung jawab di ruang UGD.
^^^Dengan berat hati pria kekar itu mengeluarkan ponsel dari saku untuk menghubungi boss nya. Sebab dia melihat security berdiri siaga di dekatnya. Sedangkan dr Kirana diam menunggu apa yang akan dia lakukan.^^^
"Berapa biaya yang harus dibayar, dok?" Akhirnya pria kekar itu menyerah dan bertanya tentang biaya perawatan Winda sebelum menghubungi boss nya.
"Sebentar..." Dr Kirana memanggil perawat Keni yang baru kembali ke ruang jaga para perawat dan sedang melihat ke arah mereka, dengan melambaikan tangan.
...~▪︎▪︎▪︎~...
...~●○¤○●~...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 159 Episodes
Comments
☠ႦαRAkudA
cerdas sekali kau dokter..
2024-09-06
0
🍌 ᷢ ͩ🤎ᴰᵉᵈᵉรωεεƭყˡᵉⁿ💋•§¢•
Nah benar apa yang dilakukan oleh dokter, video bisa menjadi bukti yg diperlukan kelak.
2024-05-27
0
☠ᵏᵋᶜᶟ🍃⃝⃟𝟰ˢ🫦🐝⃞⃟⃝𝕾𝕳ɳҽˢ⍣⃟ₛ♋
semoga eni ilang hanya akal2an dokter aja
2024-05-27
0