...~•Happy Reading•~...
Bagas mendengar cerita Enni dengan serius. Sebab apa yang dikatakan Enni bukan suatu bukti kongkrit yang bisa ditambahkan dalam tuduhan. Tetapi apa yang diceritakan bisa menjadi benang merah untuk mengaitkan semua tindakan Bargani terhadap Enni sebelum yang lainnya.
Melihat Bagas hanya menyimak, Enni menceritakan juga tentang kejadian selanjutnya. Bagaimana Bargani tiba-tiba menikahi kakaknya dan tinggal di rumah bersama mereka. Begitu juga dengan kejadian Bargani datang menjemput dia di kampus tanpa sepengetahuan kakaknya.
Bagas mendengar dengan serius. Semua yang dikatakan Enni tanpa bertanya atau memotong yang diceritakan. Dia bisa mengerti kecurigaan Enni terhadap kakak dan kakak Iparnya. Mungkin dialah penyebab Bargani menikahi kakaknya.
^^^Menurut Bagas, Enni wanita yang cantik secara wajah dan fisik. Apakah kondisi kakaknya seperti dia atau Enni lebih dari kakakknya. Sehingga menarik perhatian Bargani padanya.^^^
"Baik. Kita simpan dugaanmu itu. Mungkin bisa kita gunakan suatu waktu, jika perlu." Bagas berkata setelah melihat Enni berhenti cerita. Dia berpikir, Enni sudah selesai dengan dugaannya terhadap sikap Iparnya dan kakaknya.
^^^Bagas sebagai laki-laki bisa menerjemahkan sikap Bargani dengan baik. Dia mulai mengaitkan dengan tindakan pemerkosaan yang dilakukan Bargani kepada Enni.^^^
^^^Apa lagi dia seorang pengacara yang bisa mengulik sampai ke hal-hal sekecil apa pun untuk membela clientnya. Dia bisa memahami apa yang diduga Enni, sebab dia pun mulai menduga ke arah itu. Apa lagi Enni yang bisa melihat dan merasakan aura di sekitar ipar dan kakaknya.^^^
"Apa yang saya pikirkan salah, Pak? Saya tidak cemburu pada kakak saya, loh. Saya hanya tidak suka, bahkan jijik dengan sikap orang itu." Enni berkata cepat saat melihat Bagas tidak mengomentari atau merespon apa yang dia pikirkan, tanpa menyebut nama Bargani.
"Tidak ada yang salah. Saya sedang merangkai semua yang anda ceritakan tadi, supaya bisa mengaitkan satu dengan yang lain." Bagas menjelaskan dengan serius, agar Enni tahu apa yang dia ceritakan ada artinya.
"Kalau perihal cemburu, menurutku, itu bukan cemburu. Tetapi kepekaan pada hal-hal yang ada di sekitar kita. Semua orang punya radar dalam diri untuk memberikan sinyal terhadap sesuatu yang baik dan tidak baik." Bagas berkata sambil melihat Enni dengan serius.
"Kadang rasa cinta yang over bisa membuat radar dalam diri seseorang tidak berfungsi dan memberikan sinyal yang keliru. Jadi dia merasa baik-baik saja. Tanpa sadar, dia sudah berada di zona yang berbahaya." Bagar meneruskan dan meyakinkan Enni, agar dia tetap mau menceritakan yang terjadi dan diduganya.
"Atau kakakmu, mungkin tau dan curiga terhadap sikap suaminya. Tapi hatinya menolak rasa itu, karna pikirnya, tidak mungkin suaminya bisa lakukan hal buruk terhadap adiknya."
"Sebab jika kakakmu mengakui itu, berarti dia diperhadapakan pada satu kesimpulan, dia bukan saja telah menikahi orang yang salah, tetapi juga menikahi orang jahat." Bagas berkata serius sambil terus melihat Enni untuk meyakinkan.
"Kakakmu mencoba berpikir ke arah yang lain, dengan mendengar dan menerima semua argumen atau alasan yang diberikan suaminya. Dia berusaha percaya pada apa yang dikatakan suaminya, walau ragu."
"Kondisi itu membuat dia tidak mendengar peringatan hati kecilnya, bahwa dia sudah di zona kotor dan berbahaya, ciptaan suaminya." Bagas berkata dengan serius. Agar bisa menenangkan Enni dan tidak terlalu sakit hati terhadap kakaknya.
Namun semua yang dikatakan Bagas tentang situasi kakak Enni dan suaminya membuat ia tersenyum sendiri dalam hati. Tapi tanpa disadari, ada senyum di pinggir bibirnya.
"Kenapa, Pak?" Tanya Enni yang heran, sebab melihat senyuman tipis selintas di wajah Bagas.
"Mmmm... Ada apa?" Tanya Bagas, sambil mengangkat wajahnya dan melihat Enni tanpa tersenyum lagi.
"Apa yang saya pikirkan tadi lucu, Pak?" Tanya Enni agak heran dengan senyuman Bagas tadi.
"Mmmmm.... Tidak. Bukan apa yang anda pikirkan itu lucu. Tapi apa yang saya ucapkan itu, agak menggelitik hati." Bagas kembali tersenyum sendiri.
"Boss saya kalau dengar yang saya katakan tadi, akan tertawa guling-gulingan..." Bagas jadi tersenyum lebar karena ucapannya.
"Boss bapak, Pak Mathias?" Tanya Enni heran dengan sikap Bagas.
"Iya, Pak Mathias. Sssssstttt.... Yang saya bilang tadi itu, copy ucapan beliau. Jadi kalau beliau dengar saya bilang itu, pasti akan tertawa guling-gulingan. Hahahaha...." Bagas jadi tertawa dengan pemikiran dan ucapannya.
"Hehehe...." Enni sontak menutup mulut dengan tangan untuk menahan tawa, mendengar ucapan Bagas tentang boss nya.
"Mengapa anda ikutan tertawa?" Tanya Bagas sambil berhenti tertawa, tapi tetap tersenyum.
"Saya sedang membanyangkan Pak Mathias yang tinggi kekar itu, tertawa guling-gulingan. Pasti ruangan akan berantakan." Enni kembali menutup mulutnya, menahan tawa.
"Hahaha... Pikiranmu bikin ancur..." Bagas jadi tertawa membayangkan yang dikatakan Enni tentang boss nya. Saat ia mengucap asal, tidak terpikir Enni akan tanggapi dengan serius, dan membayangkan boss nya lakukan itu.
"Eeeeh, seru sekali. Ada apa, nih..." Kirana terkejut dan heran melihat Bagas sedang tertawa, sedangkan Enni sedang menutup mulut sambil menahan tawa.
"Enni lagi membayangkan boss saya tertawa guling-gulingan, dok." Bagas berhenti tertawa dan menjelaskan dengan senyum di wajah.
"Bukan saya, dokter. Pak Bagas yang bilang, Pak Mathias akan tertawa guling-gulingan mendengar ucapannya. Jadi saya bilang, ruangan pasti berantakan kalau beliau guling-gulingan. Maaf, dok." Enni jadi serius, sambil mengatup kedua tangan di dada.
"Pak Mathias bisa tertawa guling-gulingan? Jika bisa begitu, mungkin air bisa membeku." Kirana jadi ikut tersenyum, mengingat kakak sepupuhnya yang serius dan tenang. Bagas dan Enni jadi tersenyum mendengar ucapan Kirana tentang Mathias.
"Aaah, dokter. Boss saya itu hanya luarnya saja yang garang. Tapi hatinya selembut isi tahu yang digoreng stenga matang." Bagas jadi ikut ngerasanin boss nya. Kirana langsung mendekat dan memukul pundak Bagas, sambil tertawa.
"Benar, dokter. Beliau sangat baik. Tapi kalau berhadapan dengan orang yang tidak jujur dan berlaku khianat, ngga ada ampun." Bagas berkata serius untuk meyakinkan kedua wanita yang sedang melihatnya.
"Client yang berbohong dan mau memanfaatkan kebaikan hati beliau untuk menang di pengadilan, dibiarkan kalah dan bayar yang sangat mahal." Bagas jadi serius mengingat boss nya.
"Lutut saya pernah bergetar seperti ini, gara-gara beliau marah sama pacarnya yang berkhianat. Habis nangkap pacarnya, beliau lalu bawa motornya, ngebut." Bagas berdiri sambil mempraktekan lututnya yang bergetar. Membuat Kirana dan Enni jadi tertawa.
"Saya peluk beliau ngalahin cewe kasmaran yang sedang peluk cowonya. Saya bukan kasmaran sama beliau, tapi takut terbang seperti daun kering. Hahaha..." Bagas jadi tertawa mengingat peristiwa boss nya ngebut, setelah menangkap pacarnya selingkuh. Ia tidak mau menceritakan tentang mantan pacar boss nya, agar tidak panjang dan lebar.
"Kalau beliau ngebut, masih bisa diterima akal, Pak. Cocok dengan postur tubuh beliau. Tapi kalau ketawa guling-gulingan...." Enni tidak meneruskan yang ada di pikirannya tentang boss Bagas, tapi langsung menutup mulutnya dengan tangan agar tidak tertawa.
...~▪︎▪︎▪︎~...
...~●○¤○●~...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 159 Episodes
Comments
Bambut That
guling guling
2024-08-14
1
🍌 ᷢ ͩ🤎ᴰᵉᵈᵉรωεεƭყˡᵉⁿ💋•§¢•
Ya ampun 🙈🙈 apa iya kakak nya setega itu, ikut terlibat dalam menjual adik nya sendiri. Kejam sekali ckckck..❣️
2024-05-27
0
Meyti Diana Sari ✅
betul sekali pak pengacara, aku pun kadang gitu seperti sinyal pertanda baik atau buruk
2024-05-27
0