17

Tanggal....19...hari Kamis.. Mei..jam 09.02.

"Baiklah.... karena semua nya sudah memakai pelindung, bagaimana kalau kita berangkat sekarang?" tanya Panji yang melihat orang orang sudah mengulung tangan nya dengan kardus, Panji melirik ke arah ku yang tidak memakai apa pun.

"I..itu... Felix apa kau tidak ingin memakai nya? memang tidak efektif.. tapi ini bisa melindungi kita dari gigitan Zombie...." ucap Panji sambil menawarkan kardus kepada ku.

Aku melirik ke arah kardus itu namun aku langsung mengalihkan pandangan ku sambil berkata

"Tidak terimakasih... itu hanya akan membuat ku tidak enak bergerak... " ucap ku dengan nada dingin

Panji langsung lesu saat mendengar ucapan ku yang dingin"Ugh.. baiklah...."

Panji melirik ke arah Amel yang tidak memakai kardus, karena khawatir Panji mencoba menawarkan nya kepada Amel.

"Inspektur tidak ingin memakai juga?"

"Tidak terimakasih Panji, aku lebih suka seperti ini..." jawab Amel sambil tersenyum.

Panji menghela nafas panjang "oke lah kalau begitu...."

"Oh ya Fel.. apa aku bisa meminjam pistol mu? pistol milik ku tertinggal..." Ucap Amel kepada ku yang sedang memasang kacamata.

"Ah tentu saja, ini silahkan... " ucap ku sambil memberikan pistol itu kepada Amel.

Setelah kami selesai bersiap, Amel masuk ke Ventilasi duluan lalu membantu ku menaiki ventilasi dan aku membantu Panji masuk ke ventilasi, begitu seterus nya sampai semua orang yang berada di sana masuk ventilasi..

kami mulai menyusuri ventilasi dengan Amel yang memimpin jalan.

"Oi Fel... bukankah tadi kau terlalu berlebihan?" tanya Amel.

Aku heran mendengar itu "Hah?"

"Kau mengancam anak remaja hanya karena dia membaca undang undang... bukan kah itu berlebihan.. maksud ku kau kan bisa cara yang lebih lembut dari itu..."

Aku menghela nafas dan berkata "memakai cara lembut hanya akan membuang waktu.... lebih baik sedikit memakai cara kasar.... bukan kah kau juga dulu seperti itu? memakai cara lembut tidak mempan... sekali pakai cara kasar langsung tobat..."

Amel menatap ku dengan tatapan suram "Ugh... waktu itu benar benar sakit tahu! kepala ku hampir bocor!"

Amel berhenti sejenak dan membuka pintu ventilasi, ia memasukkan kepala nya ke dalam ruangan dan mengecek apakah tempat nya aman.... ia menoleh ke sana dan kemari, Ada satu Zombie yang menyadari keberadaan Amel dan Zombie itu langsung mencoba menerkam Amel, Amel dengan cepat menarik kepala nya dan menutup ventilasi lalu lanjut berjalan.

"Tapi tetap saja Fel... apa yang kau tabur.. itu yang akan kau tuai... jadi dalam keadaan seperti ini lebih baik menggunakan cara baik..."

Aku tidak menjawab saat Amel bicara seperti, aku melirik ke arah remaja perempuan yang berada di belakang Panji.

"Apa yang kau tabur itu yang akan kau tuai kah? kurasa lebih baik seperti itu....." batin ku.

Amel menghela nafas melihat sikap ku yang seperti itu "Yah.... jika sudah seperti ini... aku peringatkan pada mu untuk berhati hati kedepan nya Fel, kau juga tahu kan? kalau orang orang yang dibelakang kita adalah musuh terbesar kita..."

Aku dengan percaya diri menjawab "Ah... tenang saja... aku akan berhati hati kedepan nya.... ngomong ngomong bagaimana dengan kedua orang tua mu? apa kau sudah menelepon mereka?"

"Hah... Bagaimana cara ku menelepon mereka? sinyal saja sudah tidak ada... aku hanya menerima pesan kalau mereka baik baik saja..." ucap Amel sambil tersenyum kecil kepada ku.

"Begitukah? ya.. karena orang tua mu tinggal di desa... semoga saja baik baik saja...."

"Amiinn.... tapi kalau sudah meninggal... mau bagaimana lagi? tidak ada yang bisa menghindari takdir..."

Kami menyusuri ventilasi cukup lama, terkadang kami hampir jatuh dan terkadang kami hampir diterkam oleh Zombie saat mengecek ruangan.

"Nah.. ayo kita turun kesini..." ucap Amel sambil menunjuk ke bawah.

"Inspektur... apa kau yakin? anda selalu bilang seperti itu dan saat anda hampir turun malah hampir diterkam Zombie...." ucap Panji yang meragukan Amel.

Amel melirik ke arah ku dan berkata "Tenang saja, mari kita gacha..."

"Gacha?" ucap Semua orang yang bingung.

"Yes! dengan cara melempar orang yang bernama Fortune!" ucap Amel yang langsung mendorong ku dalam ruangan, untung nya aku berhasil mendarat dengan selamat.

"WOI! NGOTAK DIKIT DONG!! KALAU AKU PATAH TULANG BAGAIMANA!!" Ucap ku yang marah kepada Amel yang tiba tiba mendorong ku.

"Hehe maaf! tolong periksa dong!" ucap Amel yang merasa tidak bersalah.

Aku menghela nafas dan memeriksa sekitar, aku berada di ruangan toilet perempuan dan terlihat sepi disini... tidak ada tanda tanda darah maupun Zombie, aku menoleh ke atas sambil berkata.

"Disini aman!, disini juga ada tangga jadi tunggu sebentar aku akan mengambil kan nya...."

"AMAN? OKE GAS!!" ucap Amel yang langsung terjun kebawah.

"Tu..tunggu sebentar inspektur!" Panji yang melihat itu tersentak kaget, ia buru buru  melihat keadaan Amel di bawah sana, disana ia melihat Amel yang digendong oleh ku.

"Kan sudah ku bilang untuk tunggu dulu...." ucap ku yang kesal.

"Wlee.... kapan lagi coba digendong sama Felix heheh..."

Aku langsung menjatuhkan Amel sambil berkata

"Kau ini tidak pernah berubah ya.... dari dulu selalu saja mengambil kesempatan di kesempitan...." aku pun berjalan pergi mengambil tangga besi yang berada di pojok ruangan.

"Sakit...... kau ini kenapa sih selalu saja kasar pada ku, Beda kalau ke Linda..... dasar pilih kasih...." ucap Amel yang bangkit berdiri sambil mengusap pantat nya.

Aku menaruh tangga itu di dekat ventilasi agar semua orang bisa turun dengan aman, setelah semua orang turun aku berlutut dan mulai mengecek keadaan di luar pintu..

"Bagaimana keadaan nya?" tanya Panji yang membawa alat pendorong WC saat mampet .

Aku menutup pintu nya dan bangkit berdiri sambil menghela nafas

" Ada kabar buruk dan kabar baik.... mana yang ingin kalian dengarkan terlebih dahulu?" tanya ku.

Semua orang diam sejenak dan berpikir lalu remaja berkacamata berkata "bagaimana kalau kabar buruk dulu?"

"Baiklah.... kabar buruk nya.... ada sebuah truk  yang menabrak mall dan itu memancing para Zombie yang berada di lantai tiga turun ke lantai dua.... "

"Lalu kabar baik nya apa?" tanya remaja perempuan.

"kabar baik nya toilet ini dekat dengan eskalator menuju lantai tiga...."

"Kalau begitu tidak ada beda nya dengan ruangan tadi, kita cuman dekat dengan eskalator saja..." ucap wanita yang membawa anak laki laki nya dan terlihat cemas.

"Ibu... aku belum selesai berbicara ya... jangan dipotong dulu, ada kaca yang bisa kita gunakan untuk mengalihkan perhatian para Zombie,  saat aku menembakkan peluru dan memecahkan kaca kita akan lari secepat kalian bisa..."

Semua orang disana mengangguk mengerti, aku sedikit ragu saat melihat mereka yang ragu ragu tapi yasudah lah toh aku juga tidak peduli, aku berlutut dan membuka sedikit pintu lalu mulai membidik ke arah kaca toko yang sedikit jauh...

Aku mulai menarik pelatuk dan Prangg!! satu kaca pecah yang membuat para Zombie berlari ke arah suara, namun itu belum cukup aku membidik ke arah kaca di samping nya dan PRANGG!! akhir nya hampir semua Zombie di lantai dua berlari ke arah suara.

Aku langsung membuka pintu dan mengajak semua orang untuk bergegas lari, aku mulai berlari ke arah eskalator diikuti oleh Panji yang membawa alat pendorong WC, Amel dan keenam orang itu.

Awal nya lancar saja aku dan Amel berhasil menaiki Eskalator itu duluan, namun ada satu Zombie yang memiliki pendengaran yang buruk namun memiliki penglihatan yang bagus, Zombie itu berlari ke arah remaja laki laki yang terlihat lemah berlari dan sedang beristirahat sebentar, remaja itu tidak sadar kedatangan Zombie dan ia diterkam.

Remaja perempuan yang melihat itu berteriak histeris "KYAAA SAYANG!!!" teriakan nya itu memanggil para Zombie yang teralihkan oleh suara kaca langsung berlari berbondong mengejar remaja perempuan yang diam tidak berkutik.

"WOMEN SIALAN!!" batin ku yang kesal.

Satu Zombie yang berlari kencang melompat dan berusaha menerkam remaja perempuan itu namun DOORR!!! peluru mengenai kepala Zombie itu dan tumbang, pria berjas langsung memegang tangan remaja itu dan berlari menaiki eskalator.

"CEPAT! CEPAT!!" Teriak Amel yang menembak beberapa Zombie yang muncul, aku membantu Amel menembak Zombie menggunakan Senapan runduk.

Panji yang berhasil menaiki lantai tiga langsung diserang oleh Zombie yang masih ada di lantai tiga, namun Panji berhasil menghindari lalu memukul Zombie itu menggunakan pendorong WC yang ia bawa, tanpa ia sadari dibelakang nya ada Zombie yang mencoba menerkam nya namun ada seorang pria kekar yang langsung menendang Zombie itu.

Panji yang melihat itu mengacungkan jempol "NICE MAN!"

Pria itu mengacungkan Jempol nya juga sambil tersenyum, disaat semua orang sudah menaiki lantai tiga aku dan Amel langsung berlari sambil dikejar banyak Zombie, kami berhasil menaiki lantai tiga dan lanjut berlari menuju suatu ruangan yang ada didepan kita.

"KESANA!! CEPAT!!" Teriak Panji yang memimpin jalan sambil menunjuk ke arah ruangan itu, saat Panji dan pria itu sudah didepan ruangan itu lalu berhasil membuka nya dengan cara mendobrak nya, mereka berdua menunggu orang orang yang masih berlari.

Satu persatu orang mulai masuk dan tersisa aku, Amel dan remaja berkacamata yang dikejar banyak Zombie, Remaja berkacamata itu melirik ke arah Amel dan saat sudah mendekati pintu Remaja itu sengaja menjatuhkan Amel, aku yang melihat itu berhenti sejenak dan berlari ke arah Amel yang jatuh sedangkan remaja itu terus berlari kedepan sambil melirik ke arah ku dan tersenyum licik.

Aku buru buru membantu Amel berdiri dan lanjut berlari menuju namun Saat Remaja itu ingin masuk ia memaksa pria kekar itu masuk lalu mendorong Panji hingga jatuh dan remaja itu buru buru menutup pintu lalu mengunci nya.

Panji yang melihat terkejut dan berusaha membuka Pintu "WOII!! WOI!! BUKA PINTU NYA!!!" Teriak Panji memukul pintu itu.

"Bagaimana ini.. mereka tidak ingin membuka pintu nya!!" ucap Panji kepada Amel yang baru sampai di depan pintu bersama ku.

Amel menoleh kebelakang dan melihat banyak Zombie yang berlari mengejar nya

"Sial! Jika tahu begini lebih baik aku tidak membawa mereka.." ucap Amel yang kesal dan mulai menodongkan pistol nya kepada Zombie Zombie itu.

Saat Amel ingin menembak, Aku langsung memegang tangan nya Amel dan berkata "LEWAT SINI CEPAT!!!" Teriak ku sambil berlari, melihat aku dan Amel berlari. Panji mau tidak mau berlari mengikuti kami berdua...

Bersambung

awiakwiiwaiaw

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!