Tanggal....19...hari Kamis.. Mei..jam 07.43.
"Puahah terimakasih telah membantu ku! aku hampir mati tadi karena kehabisan stamina..." ucap ku yang selesai minum dan sedang duduk beristirahat.
"T. tidak.. sudah sewajar nya kita saling membantu di situasi apa pun" ucap pria memakai seragam polisi yang menolong ku saat aku hampir mati.
Aku menutup botol ku lalu menaruh nya kembali pada tas ku "Haha! siapa sangka kalau disini masih ada orang yang hidup!! entah kenapa aku turut senang"
Semua orang yang berada di sana menatap ku dengan tatapan yang aneh, mereka memanggil pria berpakaian polisi itu dan berbisik, kelompok itu ada sekitar 6 orang bersama satu anak kecil dan ditambah polisi itu.
"Pak polisi! apa tidak masalah membawa orang luar kesini?" tanya salah satu orang.
"Betul pak bagaimana jika dia terinfeksi??"
"Bapak liat juga kan? dia bawa senapan api! bagaimana kalau dia membunuh kita semua??"
Polisi yang mendengar itu melirik ke arah ku yang sedang mengusap senapan runduk ku sambil bersenandung santai, tidak memperdulikan bisikan orang orang.
Polisi itu terlihat ragu dan berbisik "B..baiklah.... kalau begitu akan saya sita dulu senapan orang itu"
Polisi itu kemudian berjalan mendekati ku yang sedang mengecek kacamata ku yang retak.
"Uhh.... gara gara aku jatuh dua kali... siapa sangka kacamata ku bakal retak.... "
"I..itu... pak..."
Aku tersentak dan menoleh ke arah Polisi itu yang berada di hadapan ku "hmm?"
Polisi itu menunjukkan kartu nama nya, dia bernama Muhammad Panji
"B..begini pak... karena saya dari pihak kepolisian, bolehkah saya meminta senjata anda?"
"Semua?" tanya ku yang heran.
"Iya semua pak...."
Aku bingung saat mendengar itu kemudian bertanya "Memang nya untuk apa? saya punya izin senjata kepemilikan senjata api..."
"T..tapi pak bisa kah saya menyita nya terlebih dahulu, orang orang disini merasa tidak enak dan merasa khawatir jadi bisa kah saya meminta senjata anda?" ucap polisi itu yang ragu ragu
Aku menghela nafas melirik ke arah orang orang yang berada di belakang polisi, kemudian aku berdiri
"Maaf... aku tidak bisa memberikan nya...karena senjata ini ku gunakan untuk melindungi diri ku sendiri dari situasi ini...."
"Ya,, aku tahu kalau situasi sekarang senjata api dibutuhkan tapi bisakah saya menyita nya terlebih dahulu setidak nya sampai anda berniat berpisah dengan kami..."
Aku menghela nafas panjang "Biar ku tebak... mereka khawatir karena takut aku menodongkan senjata ke arah kalian kan?"
Aku menodong senapan ku tepat di kepala polisi itu sambil berkata "Bagaimana saat aku memberikan senapan ku kalian malah menodongkan senjata ini ke arah ku?"
Panji terlihat ragu dan gelisah "I..itu tidak mungkin...."
"Bagaimana bisa aku mempercayai itu?, apa ada jaminan dari perkataan mu tadi? di situasi ini orang orang asing seperti kalian bisa jauh lebih berbahaya dari Zombie yang ada diluar sana, sekalipun kau seorang polisi tapi tetap saja kau ini manusia bukan malaikat..."
Orang orang yang berada disana menatap ku dengan tatapan kesal, mereka berbisik bisik sambil menatap ku.
"KALAU BEGITU MAU MU LEBIH BAIK KAU KELUAR DARI SINI!!" Teriak remaja perempuan.
"ITU BENAR! JIKA KAU TIDAK MAU DIATUR LEBIH BAIK KELUAR DAN CARI TEMPAT SENDIRI!!"
"KELUAR KAU!!"
"KELUAR SAJA KAU!! HOO!!"
Panji menoleh ke arah orang orang dan berusaha menenangkan nya "S..semua nya... tenang lah..."
"PAK POLISI! KITA GOTONG SAJA ORANG ITU KELUAR AGAR DIA TAHU RASA!!!"
"IYA ITU BENAR!! KELUARKAN DIA!!"
"KELUARKAN! KELUARKAN! KELUARKAN!!" Sorak semua orang yang berada disana, Panji mencoba menenangkan nya tapi dia tidak sanggup.
Tiba tiba seorang wanita berseragam polisi keluar dari Ventilasi yang ada di ruangan itu dan membawa keresek putih.
"Hadeh... hadeh... baru saja ku tinggal sebentar sudah ribut saja.... Panji! kau ini bagaimana sih?" tanya Wanita itu.
"Ah...inspektur... anu itu tadi ada..."
Sebelum Panji menyelesaikan perkataan nya, Wanita itu menoleh ke arah ku dan menyadari sesuatu "Felix?"
Panji tersentak mendengar itu dan menoleh ke arah ku "Eh?"
"Kau Felix kan?" tanya wanita itu.
"YOHA! Lama tidak berjumpa! Amel!" ucap ku sambil tersenyum.
"KYA!!! FELIX!!" wanita yang bernama Amel itu langsung berlari ke arah ku dan memeluk ku.
"SIAPA SANGKA KITA BISA BERTEMU LAGI DISINI!!" ucap Amel yang kelihatan sangat senang sambil mengusap kepala ku berulang kali, semua orang yang disana terlihat bingung.
"A..anu inspektur?... anda kenal orang ini?" tanya Panji.
"Tentu saja kenal! kami dulu satu sekolahan! "
Aku hanya tertawa kecil saat Amel memperkenalkan ku kepada orang orang.
"Jadi? Kalian tadi meributkan apa?" tanya Amel.
Panji pun menjelaskan tentang masalah senjata api yang membuat orang orang khawatir dan merasa kesal.
"Hmm hmm hmm... baiklah.... aku memahami situasi nya..." ucap Amel sambil mengangguk kepala nya.
Amel melirik ke arah ku yang masih dipeluk oleh nya, kemudian Amel menghela nafas dan menepuk tangan sekali.
"Baiklah semua nya tolong perhatikan kesini...."
"Biar ku jelaskan dulu.... Felix adalah seorang tentara... lebih tepat nya mantan tentara... jadi tidak masalah kan dia membawa senjata api, selama dia tidak menyalahkan gunakan senjata nya! dan menggunakan nya untuk membantu kita "
Salah satu orang bertanya "T..tapi bagaimana jika dia menembak orang?"
"Aku akan bertanggung jawab sepenuh nya dalam mengawasi orang ini... bagaimana?, lagian... orang bodoh mana yang memakai senapan runduk yang cukup berat untuk menembak orang orang disini? apa ada orang yang protes lagi? " tanya Amel.
Semua orang tidak berkata dan suasana menjadi hening.
"BAIKLAH!! KITA SEPAKAT! TIDAK ADA YANG BOLEH PROTES.. dan Felix... jika kau macam macam akan ku sita senapan kesayangan mu itu...."
Aku menghela nafas dan menjawab "aku tahu kok!"
Suasana pun kembali tenang, Amel membagikan makanan yang ia bawa di keresek kepada orang orang ke seluruh orang yang berada disana...
"Jiah... tapi aku benar benar tidak menyangka bisa bertemu dengan mu disini Fel!" ucap Amel yang duduk di samping ku.
"Aku juga sama... siapa sangka bisa bertemu dengan mu disini...." ucap ku yang senang melihat Amel baik baik saja..
"Setahu ku terakhir kita bertemu saat ada kompetisi menembak kan? waktu kau masih menjadi seorang tentara, waktu itu aku tidak menyangka akan melawan mu.."
"Haha... tapi seingat ku itu cukup menyenangkan, yah... walau aku menang sih hehe..."
"Hah... padahal kau cukup hebat dalam menembak.. .tapi kau malah keluar...."
"Yah... aku punya alasan pribadi...."
Amel memperhatikan wajah ku sambil tersenyum "Baiklah baiklah.. aku faham.. percuma saja aku bertanya lebih lanjut... kau pasti akan mengganti topik..."
Aku tertawa kecil dan bertanya "Ngomong ngomong... Amel.. apa yang kau lakukan disini?"
"AH.. kami mendapatkan banyak telepon dari pihak mall yang mengatakan kalau mereka diserang... jadi aku bersama anggota ku datang kesini saat keadaan sudah memburuk... siapa sangka kalau itu adalah Zombie... banyak anggota kami yang menjadi seperti mereka dan hanya tersisa aku dan Panji..."
"Hoohh... seperti nya Kau sangat beruntung ya bisa selamat dari situasi itu..."
"Entahlah... aku jadi merasa bersalah melihat anggota ku menjadi seperti mereka...."
"Felix sendiri bagaimana? apa kau kesini sendirian?"
"Tidak... aku datang kesini bersama Herdi... dia menunggu di luar dan berada di gedung... dan aku masuk kedalam Mall untuk mencari persediaan..."
"Herdi.... kalau tidak salah dia suami nya Linda kan? kalau begitu bagaimana keadaan Linda? bukankah kalian sering bertemu?"
Aku tidak menjawab bagian itu dan hanya menunduk kebawah, Amel yang melihat itu faham dan merasa sedih juga.
"Begitu ya... pasti sulit ya untuk kau dan Herdi, ditambah kau dan Linda cukup dekat... lalu bagaimana dengan anak anak nya?"
"Anak anak nya selamat kok... tenang saja..."
"Syukurlah.... aku ikut senang mendengar nya.."
Panji yang dari tadi melihat kami berbincang dengan akrab hanya tercengang..
"I..Inspektur yang biasa nya bar bar dan terlihat seperti iblis.... menjadi baik hati dan cantik saat bertemu dengan nya?" batin Panji yang terkejut.
"Ditambah.. mereka terlihat sangat dekat.... bagaimana cara Felix dekat dengan nya? aku sudah berusaha yang terbaik untuk bisa berbicara dengan nyaman tapi tidak pernah berhasil..."
"A..apa jangan jangan mereka pacaran?.. tidak tidak... saat aku bertanya kepada Inspektur, ia berkata berkali kali kalau dia tidak pacaran dengan siapa pun... lalu kenapa mereka terlihat seperti pacaran? tidak... lebih dekat... MEREKA TERLIHAT SEPERTI SUAMI ISTRI!!" batin Panji
Bersambung
awikwok
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 109 Episodes
Comments