Berkat peta dan keterangan dari Kakek Biao, Ceng Dao mengetahui lokasi Bajak Laut yang berada di Karang Hitam.
Perahu kecil milik Keluarga Ceng melaju dengan kecepatan dua kali lipat.
Perahu tersebut melaju tanpa ada seorang pun yang mendayung dan tanpa ada angin yang mendorong nya.
Seluruh Keluarga Ceng tertidur dengan pulas, di buritan depan, Sun Ciang sedang bermeditasi.
Setelah dua hari dalam perasaan was was , membuat seluruh Keluarga Ceng susah untuk tidur, dengan ada nya Sun Ciang, rasa takut mereka hilang, dan baru kali ini lagi, mereka bisa tidur dengan tenang.
Malam berlalu dengan cepat, sorot matahari pagi membangunkan mereka, kecuali Sun Ciang yang masih bermeditasi dengan tenang dan damai nya.
“Kalau saya se sakti Guru, maka saya akan pergi bertualang ke manapun juga.” kata Ceng Xu.
“Kakak, kalau Ceng Tian ingin bisa membasmi semua kejahatan.”
“Eh bagaimana dengan Kakak Ceng Dao ?” tanya Ceng Tian.
“Kalau Kakak hanya akan menaati perintah Guru dan selalu berusaha berada di sisi Ibu, sehingga bisa setiap saat melindungi Ibu.”
Nyess, perasaan Teng Nio sangat bahagia dan terharu mendengar ucapan Ceng Dao.
“Semua anak Ibu memang membuat Ibu bangga.”
Sekitar tiga jam kemudian Sun Ciang membuka mata nya.
Berdiri dan menunjuk ke arah depan, seperti benda benda hitam.
“Kalian lihat karang karang di depan, perahu kita harus melewati karang karang tersebut, di dekat karang karang itu ada arus yang kuat, baik kapal kecil apalagi yang besar yang pada hancur menabrak karang karang itu, ketika perahu ini berusaha melewati karang karang, kalian harus tetap tenang, dan berpegangan pada perahu ini.” Sun Ciang menerangkan dengan panjang lebar.
“Tugas kalian hanya duduk manis dan berpegangan pada perahu ini, sisa nya serahkan pada kU.”
Tak berapa lama, perahu Keluarga Ceng telah melewati beberapa karang, dan pecahan pecahan kayu kapal, bahkan ada terlihat beberapa tengkorak manusia di beberapa karang, ada tengkorak yang utuh, dan beberapa hanya tulang tulang dari anggota tubuh, seperti tangan, kepala, dan lain nya.
Setengah perjalanan telah di lewati, sehingga pulau sarang bajak laut makin terlihat jelas, terlihat ada sebuah benteng di depan.
Perahu yang di tumpangi oleh Keluarga Ceng cs kembali melewati beberapa karang.
Di dalam benteng, terlihat beberapa orang yang melihat ke arah cermin bulat besar, di cermin tersebut terlihat perahu Keluarga Ceng cs. Seperti nya pengambilan gambar tersebut di lakukan dari atas perahu Keluarga Ceng cs.
Beberapa meter di belakang beberapa orang yang memandang ke arah cermin bulat, terdapat delapan orang yang duduk bersila dalam posisi delapan mata angin, kedua tangan dari delapan orang tersebut mengeluarkan cahaya yang di tujukan ke bola yang melayang di tengah tengah mereka.
“Tambah tenaga dan aktifkan kabut darah.” seru pemimpin bajak laut.
Cahaya yang keluar dari delapan orang tersebut berubah , dari hijau menjadi merah, dan urat urat keluar dari tangan dan juga dahi mereka.
Sementara itu sekarang , seluruh anggota Keluarga Ceng, tidak ada satupun yang bisa melihat apapun di jarak lebih dari satu meter, semua nya di penuhi oleh kabut gelap berwarna merah.
Dan perahu Keluarga Ceng cs mulai sedikit bergoyang goyang.
“ Ibu , Ceng Tian takut.”
“Tenang nak, jangan takut.” hibur Teng Nio, walaupun sebenar nya dalam hati Teng Nio juga ada rasa takut.”
“Pergi .” teriak Sun Ciang.
Kabut merah yang berada di dalam perahu mendadak lenyap dan terlihat ada bola cahaya yang melindungi perahu Keluarga Ceng cs.
“ Hahaha, menarik…. menarik, tidak kU sangka, di karang hitam ini terdapat permainan semenarik ini.” seru Sun Ciang.
Sehabis bicara, di susul oleh tinju Sun Ciang ke atas.
“Boom, terdengar ledakkan di atas perahu.”
Di dalam benteng, tiba tiba terlihat cahaya yang sangat terang, yang keluar dari kaca bulat besar, hampir semua nya menutup mata, cahaya yang hanya sebentar.
Pemimpin bajak laut dan anak buah nya, untuk sementara menutup mata nya.
Setelah mereka membuka mata dan melihat ke cermin bulat besar, cermin tersebut sudah gelap, tidak ada gambaran apapun.
“Sial, bagaimana dia bisa tahu ?” umpat pimpinan Bajak laut itu.
Pimpinan Bajak itu keluar dari ruangan dan naik ke atas benteng, untuk melihat situasi.
“Keluarga Ceng, seluruh nya, pegangan yang erat ke perahu, karena perahu ini akan melaju dengan cepat.” perintah Sun Ciang.
Dan benar saja, perahu Keluarga Ceng cs melaju cepat seperti motor boat.
“Awas karang “. teriak Ceng Dao.
Baru saja selesai bicara, karang tersebut sudah menyentuh bagian luar bola cahaya, dan yang hancur adalah karang tersebut.
“Jangan teriak teriak yang tidak berguna”. maki Sun Ciang.
“Maaf kan saya Guru.” kata Ceng Dao dengan malu hati.
Dari atas benteng, para bajak laut tidak bisa melihat apa apa, karena tertutup kabut merah pekat, akan tetapi mereka mengetahui bahwa perahu musuh telah makin mendekati mereka, karena bunyi ledak kan, semakin lama semakin keras.
Tak lama kemudian sebuah perahu muncul dari kabut darah , dan tetap melaju ke arah pintu gerbang benteng ( tempat keluar masuk nya kapal bajak laut).
Lima meter sebelum perahu mencapai pintu gerbang, Sun Ciang mengayunkan tinju nya ke arah pintu gerbang tersebut.
Ka Blam …. Terdengar bunyi yang sangat memekakkan telinga.
Sebagian besar pintu gerbang itu hancur, sehingga perahu Keluarga Ceng cs bisa tetap melaju.
Ketika sampai di dok, perahu Keluarga Ceng cs berhenti, dan Sun Ciang melompat dari kapal ke tangga, untuk menemui para bajak laut.
Tiba tiba Sun Ciang berbalik ke arah Keluarga Ceng cs yang selalu mengikuti ke arah manapun Sun Ciang berjalan.
Terlihat Sun Ciang sedang berpikir sesaat.
“ Sangat berbahaya.” gumam Sun Ciang.”
Seluruh Keluarga Ceng cs tiba tiba tubuh nya mengecil dan masuk ke dalam cincin milik Sun Ciang.
Kemudian Sun Ciang memasuki beberapa ruangan, tapi semua nya sepi.
Akhir nya Sun Ciang masuk ke suatu ruangan yang cukup luas, ketika melangkah ke depan, terdengar bunyi klik dan kemudian meledak.
Untung Sun Ciang sempat melompat, walaupun begitu, celana Sun Ciang robek robek.
Baru saja kaki Sun Ciang mendarat di tanah, beberapa sinar pukulan sudah mengarah ke beberapa bagian tubuh Sun Ciang.
Dengan tinju nya, Sun Ciang meninju semua pukulan cahaya tersebut.
Dan secepat nya melesat ke arah musuh terdekat, serangan balik secepat kilat tersebut, tidak terduga, dan satu pukulan telah mengenai dada bajak laut, bajak laut tersebut langsung KO.
Yang menyerang Sun Ciang adalah delapan orang yang tadi nya mengendalikan kabut darah.
Satu jatuh, tanpa mengurangi kecepatan nya, Sun Ciang sudah meninju orang ke dua.
Bajak laut yang ke dua sempat menyilangkan tangan nya untuk menahan tinju Sun Ciang, yang berakibat tulang tangan bajak laut tersebut patah, dan pukulan ke dua dari Sun Cian membuat bajak laut itu KO juga.
Ke enam bajak laut tersebut langsung berkumpul bersama, mengarah kan cahaya energi mereka ke bola yang mengambang di atas mereka, seketika bola tersebut mengeluarkan cahaya yang menerjang ke arah Sun Ciang.
Tanpa pikir panjang, Sun Ciang langsung menghajar tembakkan cahaya tersebut dengan tinju nya.
Blam ….. Kali ini tubuh Sun Ciang yang terlempar ke belakang, membuat tubuh nya menembus dua tembok dan terhenti di tembok ke tiga.
“Asem … aku terlalu terburu buru.”
Tak lama, Sun Ciang langsung melesat, balik ke tempat Bola tersebut.
Bola tersebut kembali menembakkan cahaya ke arah Sun Ciang, dan Sun Ciang tetap tidak menghindar, kedua tangan nya di tangkup kan, dan tubuh nya berputar seperti bor, Tahap Formasi Jiwa dua, Tahap Formasi Jiwa Tiga … dan Duar bola tersebut meledak ketika tangan Ceng Tian menyentuh Bola tersebut.
Ledakkan Bola tersebut membuat ke enam bajak laut ahli formasi tersebut memuntahkan darah segar dan KO/pingsan.
Plok plok plok , terdengar suara tepuk tangan.
“Anda sungguh hebat, bagaikan banteng ketaton yang menyeruduk semua lawan nya, bagaimana kalau anda ikut bergabung dengan kami, menjadi salah satu tetua dari kelompok kami ?”
“Maaf saya tidak tertarik dengan tawaran anda, tujuan saya kemari hanya untuk meminjam kapal anda dan kru anda, untuk menyebrangi samudera ini.”
“Dengan bayaran apa anda hendak meminjam perahu kami?”
“Tentu nya dengan tinju ini.” kata Sun Ciang dengan yakin nya.
“Kamu menilai diri mu terlalu tinggi, makan pedang ini.” kata pemimpin Bajak Laut, sambil menusuk kan pedang nya.
Sun Ciang mengelak, dan tangan kanan nya balas meninju, tapi tinju nya di halangi oleh perisai yang berada di tangan kiri kepala bajak laut.
Tangan kiri Kepala Bajak Laut sangat sakit.
“Hantu Laut dan Tengkorak hitam, bantu aku untuk membunuh orang ini.” perintah Pimpinan Bajak Laut.
Senjata yang di pakai Hantu Laut adalah sebuah trisula panjang, sedangkan tengkorak hitam memakai tongkat yang di bagian atas nya ada sebuah kepala tengkorak.
Mereka bertiga sampai di tahapan Formasi Jiwa tingkat dua, sedangkan Sun Ciang memakai Formasi Jiwa tingkat tiga.
Kombinasi serangan mereka bertiga yang kompak, sangat menyulitkan Sun Ciang, terlihat baju nya sudah compang camping dan ada beberapa goresan darah.
Ketiga Bajak Laut tersebut sebenar nya juga pada kesakitan, ada beberapa lebam lebam di beberapa bagian tubuh mereka.
Akhir nya Sun Ciang menjadi tidak sabar, dan menaik kan tahapan ilmu nya sampai Tahap Transformasi Jiwa Pertama.
Seketika itu juga tiga Bajak Laut tersebut terpental ke belakang, otomatis mereka terpisah.
Dan dengan gerak kan secepat kilat, Sun Ciang melesat ke arah Pimpinan Bajak Laut.
Pimpinan Bajak Laut dalam posisi terlempar ke belakang, masih sempat mengayunkan pedang nya ke arah Sun Ciang, tapi kali ini serangan nya jadi melambat ketika mendekati Sun Ciang ( *karena di Tahapan Transformasi Jiwa, ada wilayah/domain yang melindungi).
Melambat nya gerakkan pedang tersebut sudah cukup untuk Sun Ciang masuk ke area pertahanan lawan, dan mengirim pukulan ke kepala lawan, yang mengakibatkan kepala lawan hancur.
“Cincin penarik jiwa, jangan biarkan lawan ku kabur.”
Seketika itu juga, jiwa bajak laut tersebut tersedot ke dalam Cincin penarik jiwa.
“Bagaimana, apakah kalian tetap ingin melanjutkan pertarungan ini.” kata Sun Ciang sambil tersenyum.
Semua pengikut Bajak Laut yang sempat melihat senyuman Sun Ciang, malah pada ketakutan.
“Kami menyerah .” Kata Hantu Laut dan Tengkorak Hitam.
Seluruh anggota Bajak Laut berlutut dengan ketakutan.
Kalau kamu menyerah, untuk Hantu laut,Tengkorak hitam, dan delapan ahli formasi , syarat nya adalah kalian melakukan kontrak jiwa.
Hantu Laut dan Tengkorak Hitam sebenar nya sangat tidak ingin terikat dengan kontrak jiwa, karena mereka akan menjadi seperti budak, dan apabila Sun Ciang mati, maka Hantu Laut dan Tengkorak Hitam akan mati juga.
Lama tidak ada jawaban baik dari Hantu Laut maupun Tengkorak Hitam.
“Ayo Bagaimana, atau kalian lebih memilih jiwa kalian berada di dalam cincin ku ini ?”
“Ya Tuan, kami bersedia.” jawab mereka dengan ketakutan.
Singkat cerita Hantu Laut, Tengkorak Hitam dan Delapan Ahli Formasi akhir nya terikat kontrak jiwa dengan Sun Ciang.
Tak lama kemudian kapal ex bajak laut berangkat berlayar untuk menyeberangi samudera.
Enam jam setelah Sun Ciang cs berlayar, kapal kapal Kerajaan pada berdatangan menyerbu karang hitam, pada mula mula nya mereka menembakkan batu batu dengan alat ketapel ke Benteng Bajak Laut, karena walaupun sekarang air di karang karang hitam pada tenang, mereka takut itu hanya jebak kan.
Setelah satu jam tanpa ada reaksi dari pihak Bajak Laut, mereka menurunkan sekoci sekoci ke arah Benteng Bajak Laut, dan memeriksa Benteng Bajak Laut (*untuk mencari Keluarga Ceng).
Total tiga jam, Kapal kapal Kerajaan menghabiskan waktu di daerah Bajak Laut.
Dari sembilan kapal Kerajaan, akhir nya di putuskan enam kembali dan tiga menyebrangi Samudera.
Bersambung. Terima kasih banyak yang sudah berkunjung.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 47 Episodes
Comments