Di kaki bukit, dekat aliran sungai, terlihat Ceng Hua dan Ceng Dao sedang berjalan mengendap endap.
“Ceng Dao, sungguh mengerikan, tak kusangka, belut kecil itu sungguh ganas.”kata Ceng Hua.
“Iya benar,.… , padahal ketika kita melewati nya, belut tersebut sama sekali tidak menyerang … pantas saja Guru menjadikan area sumur tersebut sebagai area terlarang.”kata Ceng Dao.
“Sekarang apa langkah kita selanjut nya (?) … kita harus menyelamatkan Ceng Gong , tapi di sisi lain, kita juga tidak bisa meninggalkan saudara saudara kita yang tengah bertempur .”kata Ceng Hua.
“Hmm serba salah … mudah mudahan Ceng Gong sudah menghubungi Guru, kamu Ceng Dao selamatkan Ceng Gong, sedangkan aku akan bergerilya menghadapi musuh satu persatu.”kata Ceng Hua.
Ceng Dao : “Tapi ..”
“Sudahlah tidak usah membantah, bukan nya hendak menyombongkan diri, Ilmu ku lebih tinggi dari mu, dan seperti nya para pengepung yang berada di bawah tidak terlalu tinggi ilmu nya.” Ceng Hua memotong pembicaraan suami nya.
Ceng Dao ingin membantah, tapi setelah di pelototi oleh Ceng Hua, akhir nya Ceng Dao mengalah.
“Baiklah Ceng Hua, hati hati.”kata Ceng Dao, sambil jalan menuruni gunung.
......................
Kembali ke Ceng Gong.
Ceng Gong , setelah melalui jalur bawah tanah yang panjang dan berliku, sampai akhir nya berakhir di sebuah jalan buntu.
Di jalan buntu tersebut terdapat tangga untuk naik ke atas.
Setelah menaiki tangga, pada tangga terakhir , Ceng Gong melangkah ke lantai di dekat tangga, ruangan sekeliling Ceng Gong berbentuk bulat , dan di atas Ceng Gong juga atap nya bulat tapi lebih kecil daripada lantai yang di injak oleh Ceng Gong.
Ceng Gong merasa bingung karena tidak menemukan pintu keluar.
Setelah diamati dengan cermat , ternyata terdapat sebuah lempengan giok yang di gantung.
Ceng Gong mengambil lempengan giok tersebut dan mengamati nya untuk sesaat.
“Hmm apakah giok ini semacam kunci pintu, kalau iya berarti aku harus mencari lubang kunci nya.”pikir Ceng Gong.
Setelah dengan pengamatan seksama, ternyata terdapat coakkan yang ke dalam (lubang kunci), yang terdapat kira kira tiga inci di atas lantai.
Setelah kunci giok di masukkan … di depan Ceng Gong mendadak ada bulatan kecil yang terbuka, dari bulatan kecil yang terbuka, makin lama terbuka makin besar.
Ceng Gong melangkah keluar, setelah Ceng Gong keluar, bulatan tersebut menutup kembali.
Setelah mengamati sesaat, Ceng Gong akhir nya tahu bahwa Ceng Gong baru saja keluar dari pohon yang besar.
Suasana boleh di kata cukup gelap, karena sudah jam satu pagi.
Ceng Gong pada saat sekarang baru berumur sepuluh tahun.
Walau berumur sepuluh tahun, Ceng Gong adalah seorang pemberani.
Posisi Ceng Gong sudah berada di kaki gunung.
Setelah berjalan selama lima puluh lima menit, terdengar suara orang yang memanggil nya.
“Tuan Muda Ceng Gong … Tuan Muda Ceng Gong.”
Ceng Gong menengok ke arah orang yang memanggil nya, seseorang yang memakai seragam Partai Naga Sejati.
“Tuan Muda, syukurlah anda selamat.”kata orang tersebut sambil tersenyum.
“Kakak, aku selamat karena Ibu bersama ku.” kata Ceng Gong.
“O ya, lantas di mana Ibu mu.” tanya orang tersebut dengan terkejut.
“Kakak, bukankah Ibu ku ada di belakang mu.”jawab Ceng Gong.
Pada saat orang tersebut menengok ke belakang, Ceng Gong melempar bola kecil sebesar buah kenari ke arah orang tersebut.
Melihat tidak ada orang di belakang nya … timbul amarah orang tersebut.
“Setan kecil kau .,,,, “
Belum sampai selesai orang tersebut bicara … tubuh nya sudah meledak.
“Maaf kakak, walaupun aku kecil, tapi aku tidak bodoh …. “kata Ceng Gong, sambil berlari.
(*orang yang meledak tubuh nya adalah penjaga menara pengawas, yang sebelum nya membunuh kakak seperguruan nya).
“Berbahaya sekali, untung Kakek Guru pernah mengajarkan bahwa seorang yang memakai baju tugas penjaga menara, ketika sedang perang, tidak seharus nya berada di kaki gunung.”pikir Ceng Gong.
Ledakkan bola peledak tadi terdengar oleh beberapa serigala dan juga Ceng Dao.
Setelah berpikir beberapa saat, Ceng Dao tidak menuju ke arah ledakkan tapi ke arah pohon di mana Ceng Gong tadi keluar.
......................
Di atas gunung , Topeng emas, Tetua Fu dan seorang Nenek yang memakai senjata cakar elang sedang mengelilingi Tetua Yuchen.
Tubuh Tetua Yuchen tertutup oleh kabut racun asam yang berwarna hijau.
Baik Topeng emas, Tetua Fu dan Nenek cakar elang terlihat agak takut dengan kabut asam yang berwarna hijau tersebut.
Masuk nya Nenek cakar elang dalam medan pertempuran lah yang membuat Tetua Yuchen mengeluarkan kartu truf nya.
“Ilmu racun hijau belum sempurna, paling lama hanya bertahan lima jam , sial nya mereka susah di dekati.”pikir Tetua Yuchen.
“Tetua Yuchen … lebih baik ikut bersama kami … hidup senang dan mendapat kitab kultivasi.”bujuk Tetua Fu.
“Kawan kawan kami akan berdatangan kemari, lebih baik menyerah secepat nya .”kata Topeng Emas.
“Huhh lebih baik mati daripada menjadi pengkhianat.”jawab Tetua Yuchen.
......................
Puluhan serigala mengejar Ceng Gong.
Duar Duar … beberapa kali Ceng Gong melemparkan bola peledak ke arah pengejar nya.
Walaupun sudah ada beberapa serigala yang tewas ataupun terluka parah, yang lain nya tetap mengejar Ceng Gong.
Ceng Gong baru di tahapan Kondensasi Qi tingkat 7, sedang para pengejar nya berada di tahapan Pemantapan Pondasi, tahapan ilmu di atas Ceng Gong.
Pada suatu ketika, para serigala sudah dekat dengan Ceng Gong … Ceng Gong berbalik dan hendak melemparkan bola peledak nya …. Serigala serigala tersebut langsung lompat mundur …. ternyata Ceng Gong malah lari kembali.
“Akan kami bunuh kau bocah kecil.” teriak serigala.
Kembali terjadi kejar kejaran .
Sementara itu Ceng Dao telah sampai di pohon tempat keluar nya Ceng Gong.
“Waduh celaka…. salah prediksi.”pikir Ceng Dao.
Ceng Dao kali ini menuju ke arah ledakkan sebelum nya.
Kali ini kembali serigala mendekati Ceng Gong…. Ceng Gong berbalik dan seperti hendak melemparkan bola peledak … dan kali ini para serigala tetap berlari …, Duar…. beberapa serigala tewas.
“Roar …. bocah, kau akan kami cabik cabik.”teriak para serigala.
Walaupun sudah banyak serigala yang tewas, tapi jumlah pengejar bukan nya berkurang, bahkan bertambah, karena bunyi ledakkan seakan mengundang para serigala lain untuk berdatangan.
Ceng Gong terlihat mulai panik ketakutan.
“Celaka … bola peledak yang di berikan Kakek, hanya tersisa satu.”pikir Ceng Gong.
Tiba tiba dari arah depan nya Ceng Gong , terbang seorang pria yang membawa pedang, menuju ke arah Ceng Gong.
Ketika orang tersebut mencabut pedang nya, di mata Ceng Gong hanya terlihat cahaya yang menyilaukan, yang membuat Ceng Gong menutup mata nya.
Ketika Ceng Gong membuka mata nya, orang tersebut sudah tidak ada, dan ketika berbalik ke belakang, di lihat nya seluruh serigala tersebut telah tewas.
“Aneh , siapakah sang penolong ?”pikir Ceng Gong.
......................
“Akhir nya lawanku datang.”kata seorang misterius.
Orang misterius ini datang bersama dengan rombongan penyerang, di saat team penyerang bertempur, orang ini tidak melakukan apa apa untuk membantu, bahkan asyik minum arak dan tidur di bawah pohon.
......................
Tak jauh dari kaki gunung, pasukan bala bantuan dari kota Dazia dan sepasang suami istri pendekar sudah tiba.
......................
Bagaimana kah kelanjutan pertempuran mereka …. (?)
Bersambung …, Terima kasih pembaca 🙏🏼😃
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 47 Episodes
Comments