6.~ Sejarah Keluarga Ceng

Pada suatu hari di suatu desa Nelayan , hidup satu Keluarga Ceng, sepasang suami istri dengan tiga orang anak lelaki.

Keluarga yang sangat sederhana, dimana rumah mereka hanya berukuran kecil, semua bahan rumah nya memakai kayu.

Rumah mereka sama dengan rumah rumah warga sekitar nya.

Sepasang suami istri itu bernama Ceng Kun dan Teng Nio, sedangkan ke tiga anak nya bernama Ceng Dao, Ceng Xu dan Ceng Tian.

Ceng Tian adalah anak yang terakhir / bontot , Ceng Xu anak ke dua, dan yang pertama adalah Ceng Dao.

Ceng Tian bersama dengan Ibu nya sedang membuat istana dari pasir.

“Ibu, kenapa siy Ceng Tian tidak di perbolehkan oleh ayah untuk ikut mencari ikan di laut ?”

“ Bukan tidak di perbolehkan, tapi tunggu kamu besar dulu, kan Ceng Tian baru saja berumur lima tahun”, sahut Teng Nio dengan suara yang lembut.

“Baik lah kalau begitu, Ceng Tian akan makan yang banyak biar tubuh Ceng Tian besar, sehingga nanti bisa pergi ke laut bersama dengan Ayah, biar bisa seperti Kakak Ceng Dao.”

Hati Teng Nio sangat bahagia mendengar ucapan Ceng Tian.

Sementara itu tidak jauh dari mereka berdua, terlihat Ceng Dao bersama dengan Ayah nya sedang sibuk membenahi jala.

“Ibu Ayah, Ceng Xu sudah kembali”, teriak seorang anak yang berumur 10 tahun.

Ceng Xu duduk di kereta pengangkut barang, bersama dengan seorang lelaki tua. Kereta yang sederhana, untuk mengangkut ikan ikan dan kemudian ikan tersebut di jual di pasar.

Teng Nio beranjak berdiri, dan tidak sengaja kaki nya menendang Istana pasir nya Ceng Tian.

“Ahh Ibu, Istana Ceng Tian hancur, Ibu harus engganti dengan membuat yang baru,” teriak Ceng Tian.

“Oh maaf maaf Ceng Tian, nanti Ibu akan buatkan yang lebih bagus”, kata Teng Nio dengan serba salah.

“Lah kok nanti, sekarang lah”, Ceng Tian merajuk.

“Hahaha Ceng Tian, Paman Kun punya sesuatu “, seru Kun San, sambil mengulurkan tangan nya.

“Apa itu Paman , cuma kotak hitam (?) , mainan apaan”, kata Ceng Tian.

Pertanyaan Ceng Tian, disambut dengan tawa oleh Kun San, Teng Nio dan Ceng Xu.

“Dasar anak bodoh, itu nama nya permen, masukkan ke dalam mulut kemudian di isap isap perlahan”, kata Ceng Xu.

Dengan wajah yang penuh tanda tanya, Ceng Tian memasukkan permen tersebut ke dalam mulut nya, kemudian raut wajah nya terlihat sangat menikmati nya.

“Bagaimana Ceng Tian, enak kan ?”

“Iya enak banget, manis …. Terima kasih Paman Kun San”.

“Kakak Kun San, silahkan masuk ke rumah ku yang sederhana ini, Teng Nio, tolong buatkan secangkir kopi untuk Kakak Kun San”, seru Ceng Kun.

Kun San adalah seorang duda, dan adalah tetangga dari Ceng Kun.

Kun San datang ke desa nelayan sekitar lima tahun yang lalu, sosok Kun San yang ramah dan tidak segan segan membantu orang orang di desa nelayan tempat Ceng Kun tinggal, membuat Kun San di terima dengan senang hati di desa nelayan.

Kun San yang menyalurkan ikan ikan ke pembeli pembeli.

Dengan ada nya Kun San, ekonomi desa nelayan ini terangkat, dan warga bahagia, tapi kebahagiaan tersebut tidak lah lama, karena dua tahun yang lalu datang rombongan prajurit yang mengangkut para pemuda pemuda sampai pria paruh baya untuk ikut bela negara, karena negara tempat Ceng Kun tinggal mengalami invasi dari negara tetangga.

Desa tempat Ceng Kun tinggal menjadi sepi.

Ceng Kun pada dua tahun lalu belum di rekrut di karenakan di Keluarga Ceng Kun, hanya Ceng Kun sebagai tulang punggung keluarga.

Tiga bulan berlalu dengan cepat.

Di malam hari yang seharus nya sunyi, terdengar suara derap kaki kuda, dan suara keras untuk menyuruh para penduduk keluar dari rumah nya.

“Atas perintah Yang Mulia Raja, penduduk yang sudah dewasa akan di rekrut menjadi tentara kerajaan untuk melawan invasi musuh.”

Ratusan tentara berkuda, beberapa turun dari kuda nya dan masuk memeriksa semua rumah.

“Keluarga kami dua tahun lalu sudah di rekrut dua orang, tolong jangan ambil lagi anak kami”, seru seorang Ibu tua.

Teriakkan protes dan tangisan tidak menghentikan para prajurit untuk merekrut orang orang dari desa nelayan.

Ceng Tian sangat ketakutan mendengar dan melihat hal tersebut, tubuh nya sampai menggigil karena ketakutan dan hanya bisa menangis.

Tentara hendak membawa Ceng Kun dan Ceng Dao.

“Maaf Pak, anak muda ini masih berumur 16 tahun, masih di bawah umur untuk menjadi tentara,sudi sekira nya melepaskan anak ini,” kata Kun San.

“Siapa kamu berani tawar menawar dengan pasukan kerajaan, kalau kamu tidak tua bangka, sudah kuseret untuk ikut jadi tentara,” bentak tentara itu dengan mata melotot.

“Maaf kan saya, ini ada kenangan untuk Bapak.”kata Kun San, sambil melakukan salam tempel. “Angin barat bertiup, burung Phoenix menari “, Kun San berkata dengan suara perlahan.

Tentara tersebut memandang ke arah Kun San.

“Baiklah, hei kamu lepaskan anak itu”, kata tentara itu kepada bawahan nya, sambil jari nya menunjuk ke arah Ceng Dao.

Tak lama kemudian, orang orang yang telah di rekrut tersebut, naik ke arah kereta barang.

Teng Nio menangis dengan amat sedih nya, seakan merasakan ini adalah untuk terakhir kali nya ia melihat Ceng Kun.

Melihat Ibu nya menangis, maka tangis Ceng Tian bertambah kencang.

“Ibu …. Ayah kemana Ibu … Ibu … Ayah dibawa ke mana ?”tangisan Ceng Tian menyayat hati yang mendengar.

Desa Nelayan pada malam ini diliputi oleh kesedihan.

Kun San dengan sabar nya membujuk dan menghibur anggota Keluarga Ceng.

Hari hari berlalu dengan cepat.

Ceng Dao menggantikan peran Ayah nya, dan sekarang ini Ceng Dao yang pergi ke laut untuk menangkap ikan.

Seperti biasa ,Ceng Xu bersama dengan Kun San di bagian pengiriman.

Ceng Tian menjadi pendiam.

“Ibu kenapa ada perang ? “. “Ibu kenapa manusia itu serakah?” . Banyak pertanyaan pertanyaan Ceng Tian yang susah di jawab oleh Teng Nio, karena Teng Nio hanyalah wanita desa yang sederhana.

Pada suatu hari, beberapa tentara yang cacat dan tidak bisa bertempur lagi, pulang kembali ke Desa Nelayan. Kepulangan mereka di sambut gembira oleh Keluarga masing masing.

Teng Nio pun mendatangi beberapa Keluarga tersebut, untuk mengetahui informasi keberadaan suami nya.

“Teng Nio, suami mu seorang yang gagah berani, berkat suami mu dan rekan rekan nya, kami terbebas dari kepungan musuh.”

“Untuk tahu di mana suami mu berada, kami hanya tahu bahwa regiments suami mu kemudian di tugaskan ke utara, untuk menembus masuk ke wilayah negara Zian”.

Setelah mengobrol dan berbasa basi, akhir nya Teng Nio mohon pamit.

Teng Nio melangkahkan kaki nya ke rumah Kun San.

Tok tok tok tok … “Kakak Kun San … kakak Kun San.”

Tak lama kemudian pintu terbuka.

“Silahkan masuk Teng Nio, angin apa yang membawa kamu kemari ?” kata Kun San sambil tersenyum.

“Kakak Kun San pernah bilang kenal dengan petinggi/komandan tentara, bisa kah membantu agar suami ku di pindah tugas.”

“Maksud Teng Nio bagaimana ? Aku kurang mengerti.”

“Teng Nio dapat informasi bahwa suamiku di tugaskan ke garis depan, untuk menembus perbatasan negara Zian, kan Kakak Kun San punya banyak kenalan, bisakah minta tolong agar suamiku di pindah ke tempat yang tidak terlalu berisiko.”

“Hmm bagaimana ya, baiklah saya akan coba, tapi tidak bisa janji apa apa .”

“Terima kasih Kakak Kun San, Teng Nio mohon pamit.”

Keesokan hari nya, pada sore hari setelah pulang dari menjual ikan, Kun San mendatangi rumah Teng Nio.

“Maaf Teng Nio, aku sudah berusaha, tapi suami mu ke front terdepan atas keputusanlangsung dari Yang Mulia Raja.”

Teng Nio yang mendengar hal tersebut terhenyak sesaat, kemudian tersenyum dengan kecut.

“Tidak kenapa napa Kakak Kun San, terima kasih atas usaha nya.”

Setelah kepulangan beberapa tentara yang cacat, desa nelayan tidak sesepi seperti kemarin kemarin.

Empat bulan kemudian, Kun San memberi kabar yang duka, bahwa seluruh anggota regimen suami nya Teng Nio, telah gugur dalam tugas.

Seluruh tentara cacat yang pernah di tolong jiwa nya oleh Ceng Kun, pada berdatangan, memyatakan duka cita kepada Keluarga Ceng.

Teng Nio dengan mata yang sembab dan berkaca kaca, berusaha untuk tegar di hadapan tamu tamu nya yang pada berdatangan.

Satu tahun kemudian, Tentara tentara kembali melakukan perekrutan di Desa Nelayan, dan kali ini Ceng Dao yang mendapat giliran serta tidak dapat mengelak lagi, karena umur nya sudah tujuh belas tahun plus beberapa bulan.

Teng Nio kemudian kembali mengunjungi rumah Kun San, memohon bantuan nya perihal Ceng Dao.

Yang membuat Teng Nio penuh harapan adalah Kun San bisa membuat Ceng Dao terbebas dari medan perang.

Akan tetapi syarat yang di minta Kun San, membuat Teng Nio terhenyak.

Ibarat burung yang terbang tinggi mendadak lepas kendali dan meluncur ke bawah.

Beberapa hari kemudian Ceng Dao kembali ke desa nelayan, tepat satu bulan kemudian di langsungkan parnikahan antara Teng Nio dengan Kun San.

Enam bulan berlalu.

Sudah tengah malam, tapi baik Kun San maupun Ceng Xu, kedua nya belum pulang ke rumah, Teng Nio sangat mengkhawatirkan Ceng Xu.

Terdengar kereta kuda datang, tok tok tok .

Teng Nio yang sudah setengah terlelap langsung bangun dan membuka pintu.

Ceng Xu masuk dan langsung mendorong ibu nya ke dalam.

“Ada apa Ceng Xu, kenapa wajahmu banyak darah ? dan kemana ayah mu Kun San ?”

“Kun San tidak pantas menjadi ayah ku”.

“Ibu lekas kita bangunkan semua, dan kita lekas pergi.”

“Pergi, pergi ke mana dan ada apa ?”

Tanpa memperdulikan Ibu nya, Ceng Xu membangunkan Ceng Dao dan Ceng Tian.

“Ceng Xu ada apa , lebih baik tenang dulu dan jelaskan semua nya .”kata Ceng Dao.

“Baik lah, aku telah membunuh Kun San, karena Kun San sebenarnya anak Gubernur Jiaye, dia lah yang mengatur agar Ayah di tugaskan ke front terdepan untuk gugur, dengan tujuan akhir agar bisa menikahi Ibu”, Ceng Xu menerangkan panjang lebar.

Setelah berdiskusi beberapa saat, akhir nya mereka memakai perahu untuk melarikan diri, dan mayat Kun San di buang ke laut.

Terungkap nya penyamaran Kun San, terjadi ketika Ceng Xu berpisah karena Ceng Xu hendak membeli pakaian dan permen untuk Ceng Tian, sedangkan Kun San hendak bertemu dengan beberapa teman teman nya.

Kun San dan Ceng Su akan kembali bertemu di depan toko Cahaya Abadi.

Dan ketika Ceng Su beberapa meter dari toko Cahaya Abadi, terdengar keributan antara seorang wanita dengan Kun San.

Dari pertengkaran tersebut, Inti nya wanita tersebut adalah istri Kun San, dan Kun San adalah anak Gubernur Jiaye.

Setelah wanita tersebut pergi, Ceng Xu tidak langsung menemui Kun San, berbalik arah , dan baru setengah jam kemudian menemui Kun San.

Seminggu kemudian Ceng Xu memberikan minuman ber alkohol yang telah di campur suatu cairan khusus (*Ceng Xu mendapatkan cairan tersebut dari seorang yang mengaku diri nya adalah ahli kimia) kepada Kun San.

Di tengah hutan yang sepi, Kun San yang mabuk dengan alkohol special tersebut, menjawab semua pertanyaan Ceng Xu.

Ketika mendengar bahwa Kun San lah yang mengatur agar Ceng Kun di kirim ke front terdepan untuk mati, dengan tujuan akhir menikahi Ibu nya, serta rencana nya untuk mencari mangsa baru, amarah Ceng Xu meledak, tanpa pikir panjang lagi, pisau untuk buah, kali ini di tusukkan ke arah Kun San.

Ceng Xu yang baru pertama kali membunuh, setelah melihat mayat Kun San, langsung panik.

Setelah 2 jam menenangkan diri, Ceng Xu memasukkan mayat Kun San ke dalam karung dan membawa serta ke Desa Nelayan.

Bersambung… 🙏🏼

Episodes

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!