Sampai di rumah, Ceng Xu memasukkan kereta barang tersebut ke tempat taruh kuda dan kereta.
Ceng Xu masuk ke rumah dan membangunkan Ibu nya yang tertidur di kursi panjang seperti sofa.
Teng Nio tertidur di bangku panjang, karena menunggu Kun San dan Ceng Xu.
“Kamu sudah pulang, lantas di mana ayah mu ?”
“Kun San tidak pantas menjadi ayah ku, hati nya keji.”sahut Ceng Xu.
“Apa yang terjadi, kenapa kamu bisa berkata kata seperti itu, nak?”
“Ibu bangunkan dahulu Ceng Dao, nanti Ceng Xu ceritakan semua nya, setelah Ceng Dao bangun.”
Kemudian Ceng Xu menceritakan semua kejadian sampai dengan pembunuhan terhadap Kun San.
“Apa, Kun San adalah anak Gubernur, dan kamu membunuh nya.” seru Teng Nio dengan kaget.
“Ibu, Ceng Xu bersalah, Ceng Xu akan menghadap ke pengadilan besok.”
“Tidak Ceng Xu, kamu anak Ibu, Ibu tidak Mau kehilangan kamu.”
“Ceng Xu, kamu membunuh anak pejabat tinggi, hukuman nya mati dan mungkin kita semua juga akan ikut bersama sama ke liang kubur.”
“Lebih baik kita melarikan diri sekarang.”
Kemudian Ceng Dao lah yang mengusulkan untuk melarikan diri lewat jalur laut, dengan pertimbangan apabila melalui jalur darat akan lebih banyak bahaya nya.
Mereka sekeluarga akan menuju ke selatan, ke negara Mora.
Berkat didikan dari Ceng Kun dan pengalaman di laut, maka Ceng Dao sangat mahir dalam mengemudikan perahu kecil nelayan.
Perahu Ceng Dao tidak terlalu jauh dari garis pantai, sehingga apabila ada keperluan seperti misal nya menambah persediaan air, perahu Ceng Dao akan merapat di pantai untuk sementara.
Pada permulaan, Ceng Dao yang jarang sekali naik perahu, merasa pusing , mual mual, dan muntah karena mabuk laut,sehingga perahu merapat ke pantai sebanyak dua kali, setelah di berikan obat , perasaan Ceng Tian agak membaik. Yang ke tiga kali nya, perahu merapat di suatu Desa Nelayan, itu juga setelah Ceng Dao mengamati suasana di Desa tersebut dengan menggunakan teropong.
Di Desa nelayan tersebut ada seorang kakek tua yang mengenal Ceng Dao, karena Ceng Dao pernah beberapa kali datang ke Desa Nelayan ini.
Ayah Ceng Dao ( Ceng Kun) dan Ceng Kun, memanggil nya dengan sebutan Kakek Biao.
“Kakek Biao, kenapa Desa ini sepi sekali, hanya ada Kakek dan anak anak kecil ?” “Ceng Dao, kemarin Tentara Kerajaan baru saja merekrut semua orang, baik laki maupun perempuan, beberapa yang tidak setuju dan atau melawan, telah di habisi oleh mereka.”
“Eh di mana ayahmu ? (Ceng Kun).” “Ayah sudah gugur di medan perang.”
“Turut berduka cita untuk ayahmu.”
“Terima kasih Kakek Biao, maaf apakah Kakek punya persediaan air ?”
“Persediaan air (?) …. ( jeda beberapa saat, seperti sedang berpikir) … o iya ada di belakang, masuk saja ke dalam rumah Kakek, di sana ada dua drum air.”
“Cuma saja, Kakek sudah tua, tidak kuat mengangkat nya.”
“Oh iya Kek, tidak kenapa, kami yang akan mengangkat nya.”
Tak lama kemudian, Ceng Dao dan Ceng Xu secara bersamaan mengangkat satu buah drum air bersih, dan menyisakan satu drum di rumah Kakek Biao.
“Kakek Biao, terima kasih banyak, ini uang untuk pembayaran air nya.” kata Ceng Dao.
“Oh tidak usah repot - repot Ceng Dao, ambil saja, Kakek ikhlas.”
“Kakek, anggap saja uang ini untuk tambahan biaya anak anak kecil yang Kakek urus.”
Setelah diam sejenak.
“Baiklah, hati hati di jalan, oh tunggu sebentar, Kakek punya peta laut dan pantai,yang Kakek gambar.”
Kakek Biao menyerahkan peta dan menerangkan isi peta tersebut untuk sesaat.
“Terima kasih Kakek.”
Perahu Keluarga Ceng kembali melaju ke arah selatan.
Dan malam pun tiba, Ceng Dao memotong ikan mentah dan memakan nya.
“Kakak Ceng Dao, kok makan ikan mentah, kan kita ada persediaan makanan matang (?).” Kata Ceng Tian.
“Adik, Kakak ketika melaut bersama dengan mendiang ayah, kakak dan ayah sudah terbiasa makan ikan mentah.
Dan juga persediaan makanan matang kita sangat terbatas.
Empat puluh delapan jam setelah Ceng Xu cs kabur, di ex desa tempat mereka tinggal, kedatangan rombongan tamu tak di undang, yaitu para tentara .
Para tentara tersebut mengelilingi Desa Nelayan.
Seorang Tentara turun dari kuda nya dan mengetuk rumah Kun San.
“Tuan Kun San , Tuan Kun San”. Berulang ulang mengetuk dan memanggil dengan sopan.
Karena curiga dan tidak ada jawaban …. Tentara tersebut mendobrak pintu rumah.
Masuk ke dalam kemudian ketika keluar menyuruh beberapa anak buah nya memeriksa rumah Ceng Kun dan juga garasi nya (tempat Kun San menaruh kereta pengangkut barang nya).
“Lapor Komandan, rumah Ceng Kun kosong dan tidak ada tanda tanda apapun.”
“Lapor Komandan, di kereta barang Tuan Kun San, terdapat merah seperti bekas darah.”
Komandan tersebut merasa panik.
“Darah ?”
Tanpa menunggu jawaban dari anak buah nya, Komandan tersebut berlari ke dalam garasi rumah Kun San.
Komandan tersebut terpaku melihat bercak/bekas darah di kereta dan beberapa garis darah di lantai.
“ Pembunuhan pembunuhan , kalau Li Zhong benar di bunuh, bagaimana aku harus bertanggung jawab(?) “, pikir Komandan itu.
Nama sebenar nya dari Kun San adalah Li Zhong, dan Li Zhong adalah anak dari Gubernur wilayah Jiaye.
Gubernur daerah Jiaye yang berkuasa saat iniadalah anak Raja.
Dengan kata lain, Li Zhong adalah cucu nya Raja.
Kalau di lihat dari segi penampilan, Li Zhong tidaklah tampan, juga tidak dalam kategori buruk muka.
Perhatian dari Li Zhong ke kaum wanita dan juga tahu dengan pasti kapan memanfaatkan kelebihan nya ( harta dan kekuasaan ), membuat tidak ada satu pun wanita yang di incar nya lolos dari jeratan nya, semua nya berhasil di nikahi oleh nya.
Komandan Yang , adalah Komandan yang selalu di percaya untuk menjaga Li Zhong, kali ini kecolongan.
Orang yang seharus nya di jaga dengan seluruh Jiwa raga malahan tewas.
Keringat dingin mengalir di tubuh Komandan Yang.
Sekitar sepuluh menit, Komandan Yang diam mematung, dan dua orang anak buah nya, yang tadi di suruh melakukan pengeledahan, tidak berani mengganggu Komandan Yang.
Setelah menguasai diri nya, Komandan Yang kembali menugaskan anak buah nya untuk meng interogasi seluruh warga.
Akhir nya di dapat informasi bahwa pada pagi hari, sebelum jam tiga, ada seorang warga yang melihat Keluarga Ceng cs membawa satu karung besar, yang di taruh di perahu, kemudian mereka semua menaiki perahu tersebut dan pergi meninggal kan Desa Nelayan.
Dengan menggertak kan gigi penuh amarah Komandan Yang pergi meninggal kan Desa Nelayan.
Di hari ke tiga di pagi hari, perahu Ceng Dao cs mendarat di suatu Desa Nelayan, seperti biasa, yang turun hanya Ceng Dao.
Terdengar bunyi peluit, Ceng Dao langsung lari menuju ke arah perahu.
Yang membunyikan peluit adalah Ceng Xu.
“Orang yang aneh, transaksi belum selesai, sudah lari, ada apa gerangan?”
Tak lama terdengar deru kaki kaki kuda yang mendekat. “Stop, berhenti.”
Ceng Dao lari sekencang nya.
Tiba tiba Ceng Dao merasa betis kaki kanan nya sakit, sebuah anak panah telah menancap di betis kaki nya.
“Tidak Ceng Dao.” jerit Teng Nio histeris.
“Ceng Xu dorong perahu ke laut dan tinggalkan aku sendiri.”
Ceng Xu malahan lompat dari perahu nya, dan mendekati Ceng Dao.
“Ceng Xu, apa kamu sudah gila, kita semua akan mati kalau sampai tertangkap.”
Tanpa memperdulikan ocehan kakak nya, Ceng Xu malah memapah Kakak nya ke arah perahu.
“Hahaha tikus tikus dungu, hari ini kalian akan ku tangkap, dan aku akan mendapat hadiah besar dari Kerajaan.”
Sambil menunggang kuda, tentara tersebut kembali membidik kan anak panah nya, mendadak ada hembusan angin, sehingga tembak kan nya meleset ke samping kiri dari Ceng Xu.
Aneh, kenapa mendadak ada angin besar, pikir prajurit tersebut.
“A Kuang, baru kali ini kulihat tembak kan panah mu meleset, apakah kemarin kamu kebanyakan minum anggur ?” ejek prajurit di sebelah nya.
(*Busur yang di pergunakan oleh prajurit yang di panggil dengan nama A Kuang , bukanlah busur sembarangan, panah yang dilepaskan dari busur tersebut mampu menempuh jarak beberapa kali lihat dari pada panah yang di lepaskan oleh busur biasa).
Panas oleh ejek kan teman nya, A Kuang kembali membidik, kali ini arah nya ke kaki Ceng Xu.
Mendadak kuda yang di tunggangi oleh A Kuang terjatuh, sehingga A Kuang ngusruk/ terlempar ke depan.
“Hahaha A Kuang, seperti nya hadiah Kaisar akan jatuh ke tangan ku.” kembali orang tersebut mengejek, sambil meninggal kan A Kuang di belakang nya.
Ceng Xu dengan susah payah mendorong perahu ( Biasa nya berdua dengan Ceng Dao).
Seluruh Keluarga Ceng sangat ketakutan.
Jarak antara Keluarga Ceng cs dengan pengejar nya tinggal sekitar tiga ratus meter.
A Kuang kembali hendak menembak kan anak panah nya, kemudian membatalkan niat nya.
Lima orang prajurit berkuda menyusul dari belakang, melewati A Kuang dan menuju ke arah Keluarga Ceng cs.
Lima puluh meter dari Keluarga Ceng cs, prajurit yang tadi mengejek A Kuang, sudah mengeluarkan pedang nya.
Mendadak prajurit tersebut terlempar ke belakang. Setelah terlempar, prajurit tersebut berdiri sambil memegang mulut nya, ternyata tiga buah gigi nya telah rontok.
Ceng Xu buru buru naik ke perahu dan mendayung perahu bersama dengan Ceng Dao, menjauhi pantai.
Seluruh prajurit ( enam orang) minus A Kuang, merebut dua perahu nelayan, dan melanjutkan pengejaran.
Hanya beberapa meter dari pantai, mendadak ke dua perahu tersebut terbalik.
“Hmm untung aku tidak terburu nafsu untuk kembali melakukan pengejaran, seperti nya Keluarga Ceng di lindungi oleh Dewa.” pikir A Kuang.
Di dalam perahu, Teng Nio menaburkan obat ke luka nya Ceng Dao.
“Masih untung panah nya tidak di lumuri dengan racun, Ceng Tian, tolong ambil kan kain pembalut di tas warna merah.” kata Teng Nio.
Tidak ada gerak kan sama sekali dari Ceng Tian, karena curiga, Teng Nio, yang tadi nya menunduk, mengangkat kepala nya menengok ke arah Ceng Tian.
Di lihat nya wajah Ceng Tian ternganga terkejut dan takut.
Mengikuti arah pandangan Ceng Tian, di lihat nya seorang paruh baya yang sudah ada dalam perahu.
“A a an anda siapa (?) apakah anda Dewa yang tadi telah menolong kami ?” Tanya Teng Nio dengan suara tergetar karena ketakutan.
Suara Teng Nio menyadarkan Ceng Xu dan Ceng Dao akan kehadiran tamu tak di undang.
“Nyonya jangan takut, saya hanya lah seseorang kultivasi (*Pertapa ?), dan tiga anak Nyonya di takdirkan untuk menjadi murid saya.”
“Anda, bukankah anda yang mengaku sebagai ahli kimia dan memberikan cairan ajaib kepada ku ?” seru Ceng Xu terkejut bercampur senang.
(*apakah pembaca sudah menebak siapa kah orang ini (?) )
“Hahaha, kamu benar, apakah kalian bertiga bersedia menjadi murid ku ?”
“Kami bersedia”. Kata Ceng Xu dan Ceng Dao bersamaan.
“Bagaimana dengan kamu Ceng Tian ?” Kata orang paruh baya tersebut.
“Ceng Tian bersedia asalkan Paman orang yang baik dan membolehkan Ceng Tian memakai ilmu yang Ceng Tian dapatkan dari Paman untuk membasmi kejahatan.”
“Wah wah wah anak Nyonya memang hebat, masih kecil sudah memiliki tekad untuk membasmi kejahatan.”
“Tak heran Paman Guru meramalkan dua ratus tahun lalu, untuk menolong Keluarga Ceng..” pikir Sun Ciang dalam hati.
“Baik Ceng Tian, apa yang kamu inginkan,Paman akan lakukan.”
“Kalau begitu Paman, Ceng Tian sekarang adalah murid Paman.”
“Hahaha, baik baik, mulai sekarang kalian bertiga harus memanggil Paman sebagai Guru.”
“Baik Guru, seru mereka bertiga dengan senang hati.”
“Sekarang arahkan kapal ke arah tenggara.”
“Maaf Guru, kalau kita ke arah tenggara, kita akan sampai ke karang hitam, bukankah itu daerah Bajak Laut ?”
“Tempat Guru ada di seberang samudera, perahu kecil ini tidak cocok untuk menyeberangi samudera.”
“Kita ke sarang Bajak Laut untuk meminjam kapal mereka.”
“Maaf Paman penolong, apa tidak berbahaya apabila kami pergi ke sana?” kata Teng Nio dengan perasaan ragu.
“Jangan khawatir kan hal itu Nyonya, di jamin kita semua akan selamat.”
“Oh iya jangan panggil saya sebagai Paman penyelamat, nama saya adalah Sun Ciang.”
Bersambung .. 😀🙏🏼. Terima kasih para pembaca.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 47 Episodes
Comments