Dunia atas atau yang orang orang dari planet di tempat Ceng Tian tinggal menyebut nya sebagai Dunia para Dewa.
Dunia yang indah dengan udara yang menyejukkan, sungai di mana air nya bening. Udara di sana mengandung enerji yang tinggi, yang sangat bermanfaat untuk orang orang yang berkultivasi.
Orang orang di Dunia Dewa menyebut dunia mereka adalah dunia atas, sedangkan dunia tempat Ceng Tian tinggal adalah dunia tengah.
Daya tarik/gravitasi di dunia atas lebih kuat daripada di dunia tengah, begitu juga benda benda yang ada lebih kuat.
Semua seperti nya serba teratur dan damai, tapi apakah benar benar ada kedamaian di dunia atas (?)
Seperti nya tidak, karena di bagian timur dari dunia atas itu ditempati oleh mahluk mahluk aneh, diantara nya mahluk laba laba.
Di suatu tempat, masih di dunia atas terdengar suara orang yang menggerutu.
“Dunia atas, sial sial, tahu begini mending tetap berada di dunia tengah !”
Seorang pemuda yang membawa air dengan di pikul menaiki anak tangga, sambil terus mengomel.
“Sun Ciang, berhenti menggerutu, cepat isi semua gentong yang di atas !.”perintah seorang pemuda.
Terlihat seorang pemuda sedang duduk sambil kipas kipas dengan kipas bulu nya.
“Selagi masih muda jangan malas .”kata Sun Tek, yang kemudian minum segelas air.
“Hmmm air teh yang sungguh nikmat.”kata Sun Tek.
Kalau Ceng Tian melihat Sun Ciang sekarang , pasti Ceng Tian akan kebingungan, karena Sun Ciang sudah tidak memiliki jenggot l yang sepanjang satu meter dan kelakuan nya sekarang seperti anak kecil.
“Sun Ciang, kelakuan mu seperti anak kecil, masa ex Ketua Partai Naga Sejati seperti ini?”kata Sun Tek.
“Bodoh amat dengan Partai Naga Sejati, toh mereka tidak melihat !”sungut Sun Ciang.
(*Sun Ciang sebenar nya adalah anak dari kakak kandung Sun Tek).
Kelakuan mereka berdua, sebenar nya membawa nostalgia masa lalu untuk mereka berdua.
“Hmm baiklah, karena Ayahmu menitipkan kamu ke aku, dan mengingat kebaikan ayahmu, kamu boleh minum.”kata Sun Tek.
Tanpa di perintah dua kali, langsung saja Sun Ciang minum satu gelas dan pada saat gelas kedua, Sun Ciang terbatuk batuk (kebesekan), karena minum terburu buru.
“Hahaha Sun Ciang Sun Ciang, maka nya jangan rakus .”kata Sun Tek.
Tawa Sun Tek terhenti, karena terdengar ada yang memanggil nya.
“ Tuan Sun Tek, Tuan Sun Tek”.
Beberapa meter dari Sun Tek sudah berdiri seorang paruh baya.
“Maaf mengganggu kegembiraan Tuan Sun Tek, tapi Nona Besar ingin berbicara dengan Tuan, dan Tuan di minta datang ke ruangan no 73.” kata Ramzi.
Oh terima kasih senior Ramzi, baik saya akan datang.”
Tak lama kemudian baik Sun Tek maupun Ramzi, mereka berdua sudah lenyap dari pandangan Sun Ciang.
Memasuki halaman kastil tempat Nona Besar tinggal, Sun Cek dan Ramzi berjalan perlahan (*tidak boleh terbang dan atau memakai ilmu, kecuali ketika diserang musuh).
Ramzi adalah tipe orang yang jarang bicara dan merupakan satu dari tiga pengawal kepercayaan nya Nona Besar. Hanya ada keheningan ketika mereka berdua berjalan di dalam kastil.
Dalam keheningan, Sun Tek menganalisa Ramzi, dan dalam pikiran nya merasa bahwa kalau terjadi pertarungan di antara mereka berdua, sudah pasti senior Ramzi yang akan menang.
Sebalik nya Ramzi pun menilai Sun Tek, merasa walaupun yakin bisa mengalahkan Sun Tek, tapi membutuhkan kerja keras.
Yang menjadi kebingungan Ramzi adalah kenapa Sun Tek bisa mendapat perhatian khusus dan istimewa dari Nona Besar, padahal dalam hal ketampanan, harta, maupun ilmu, semua yang mengejar Nona Besar, di atas Sun Tek. Walaupun bingung, tapi Ramzi adalah seorang yang professional dalam tugas, tidak pernahbicara yang tidak perlu.
“Tuan sudah tiba di ruangan no 73, maaf tidak bisa menemani, karena ada urusan lain”. Ketika sudah sendiri, Sun Tek yang biasa nya percaya diri, mendadak tidak percaya diri dan ragu ragu untuk mengetuk pintu, hati Sun Tek dah dig dug, karena Nona Besar adalah orang yang di cintai oleh Sun Tek.
Tok tok tok
“Nona Besar, ini saya Sun Tek.”
“Iya silahkan masuk.”
Terdengar suara yang sungguh merdu
Ketika sudah masuk ke dalam ruangan, suasana dalam ruangan sangatlah indah, banyak bunga dengan berbagai macam bentuk dan aneka warna berada di ruangan ini.
“Humph sudah kubilang jangan panggil aku Nona Besar, nama ku adalah Siu Mei.”
“Maafkan aku Nona Besar eh maksud ku Siu Mei.” “Kenapa masih ragu, bukankah diam diam kau menaruh hati pada ku .”
Muka Sun Tek, memerah bagaikan udang rebus. “Hahaha lihat muka mu yang merah.”
“Aku mengundang mu kemari karena ada dua tujuan. Yang pertama menanyakan apakah kamu mau menikah dengan ku dan yang kedua untuk mencari seseorang.”kata Siu Mei.
“Sebelum kamu menjawab ya atau tidak untuk pertanyaan pertama, akan kuceritakan sebuah kisah.”kata Siu Mei.
Kira kira lima ribu tahun lalu, ada seorang gadis naga di culik dan di bawa lari ke dunia tengah.
Dunia tengah tersebut di huni mahluk setengah laba laba. gadis tersebut melahirkan sebuah telur.
Tak lama setelah melahirkan telur, dunia tengah kaum laba laba tersebut di serang oleh sekelompok naga.
Singkat cerita gadis naga tersebut kembali ke dunia atas, minus telur nya yang di tinggal di dunia tengah.
Gadis Naga tersebut adalah aku.
“Kamu telah mendengar kisah masa lalu ku, sekarang silahkan di jawab, bersedia atau tidak untuk menikah dengan ku?”tanya Siu Mei.
Sun Tek terdiam untuk sesaat, dan Siu Mei dengan sabar menunggu.
“Apapun masa lalu mu, saya bersedia menikah dengan mu.”
Siu Mei bernafas lega, karena telah menjadi tekad nya, apabila ada orang yang setelah di ceritakan masa lalu nya yang kelam, dan orang tersebut menolak menikahi nya, maka Siu Mei akan membunuh nya.
Sun Tek sama sekali tidak tahu bahwa ia baru saja terbebas dari lubang maut.
“Lantas siapa orang yang harus kucari?”tanya Sun Tek.
“Orang yang harus kau cari adalah anak ku, yang lima ribu tahun ku tinggal berupa telur di dunia tengah”.
“Sudah ribuan kali aku bermimpi melihat anak gadis ku dan bukankah kamu punya ilmu untuk melihat masa lalu dan juga masa mendatang?”tanya Siu Mei.
“Ini ini, tapi …. .”
Belum selesai Sun Tek bicara, sudah di potong oleh Siu Mei.
“ Jangan khawatir dengan umur mu yang akan terpotong, kamu akan saya berikan pil ginseng naga, yang akan menambah umur mu sebanyak sepuluh ribu tahun.”kata Siu Mei.
“Benarkah, hmm baiklah kalau begitu”, kata Sun Tek.
Sun Tek mulai bermeditasi, pikiran nya menembus waktu lima ribu tahun yang lalu. Di lihat nya ketika orang orang dari dunia atas satu persatu merubah wujud nya menjadi menjadi Naga. Ada Naga berwarna merah, ada juga Naga berwarna biru dan ada yang hijau.
Naga Merah ketika mulut nya terbuka, api langsung keluar dari mulut nya, Naga biru dari mulut nya keluar kilat, sedangkan dari mulu Naga hijau keluar racun.
Satu juta pasukan laba laba, dalam waktu singkat sudah rata dengan tanah. Walaupun sudah tidak ada musuh, para Naga tersebut masih saja menumpahkan amarah nya.
Tiba tiba saja terdengar suara yang keras dari angkasa….
“Cukup, kalian sudah melanggar aturan langit dengan turun ke dunia tengah dan membuat kekacauan, kalau kalian teruskan, dunia tengah akan hancur, dan itu akan merembet ke dunia atas.”
Di setiap Naga, sudah ada tangan emas raksasa yang mencengkram mereka, dan semua yang berasal dari dunia atas, termasuk Siu Mei juga ikut menghilang. Menyisakan satu buah telur.
Ketika suasana sudah aman, ternyata ada segelitir laba laba yang selamat. Mereka membawa telur tersebut.
Singkat cerita , manusia laba laba yang membawa kabur Siu Mei, pada akhir nya di jadikan sebagai Dewa oleh Suku Laba laba.
Ribuan tahun berlalu dan telur tersebut di keramatkan oleh suku Laba laba, sampai pada suatu ketika, ada ledakkan gunung api.
Gunung api tersebut mengeluarkan lahar panas, di mana singkat cerita lahar panas tersebut mengubur telur tersebut.
Suku Laba laba yang selamat dari ledakkan dan terjangan lahar, mengamati telur tersebut.
Baru setelah lahar nya dingin dan membatu, mereka mendekati telur tersebut, mereka yang di dekat telur, tiba tiba terpental karena ada bayangan Naga Merah yang menghantam mereka, dari bawah, yaitu dari telor.
Dari telur tersebut muncul seorang anak gadis yang cantik jelita.
Bersambung 🤛🙏🏼
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 47 Episodes
Comments