"Kita sampai di kerajaan tengah malam, dan tubuhmu sangat dingin, kau pingsan dan lemah, itu semua karena kita melewati lembah terlarang milik Vampire golongan Zombie yang telah menyedot energi manusia, aku harus bertindak cepat atau kau akan mengalami syock dan membuat syaraf serta organ-organ tubuhmu mati. Aku yang sudah mengganti pakaianmu, aku juga yang tidur denganmu dengan memelukmu agar tubuhmu menyerap panas tubuhku. Kurasa aku memiliki kewajiban itu untuk menyelamatkan nyawa istriku. Kau keberatan."
Callista diam.
"Jika kau diam, aku tahu jawabannya." Lucas mengakhiri pembicaraan itu kemudian dengan cepat berbalik dan keluar dari kamar dalam sekejap kedipan. Hal itu membuat Callista terkejut kembali.
"Apakah dia marah lagi?" Kata Callista lesu.
"Dia begini dan begitu dengan cepat, bahkan aku belum sempat menjawab, dan dia menhyimpulkan semuanya sendiri, aku bahkan tidak marah, aku ingin berterimakasih padanya." Callista memeluk selimut dan merasa bersalah karena telah bersikap kasar.
Setelah kepergian Lucas beberapa wanita datang untuk merapikan kamar dan membantu Callista.
Saat itu Callista hanya berdiri kaku di dekat dinding kamar dan berfikir apakah wanita-wanita ini juga Vampire. Beberapa yang lain terlihat masih muda.
"Nona airnya sudah siap." Kata seorang gadis yang paling muda di antara wanita-wanita yang lain.
Callista masih memperhatikan para wanita yang sedang membersihkan kamar.
"Ba...Baaik..." Jawab Callista kaku.
"Jangan takut, semua pelayan wanita yang melayani anda adalah manusia."
"Ya? Apa kalian manusia?" Tanya Callista.
"Tentu saja. Kami adalah wanita-wanita serta gadis-gadis yang menjadi tumbal kekayaan."
Callista semakin kebingungan.
"Jadi apakah mereka semua adalah istri Lucas, seberapa banyak Lucas memiliki istri dari tumbal yang di berikan padanya?!"
"Berapa banyak manusia yang ada di sini?" Tanya Callista.
"Mungkin ada 100 atau lebih, tidak termasuk anda Nona. Oh ya perkenalkan nama saya Seina, kami semua di sini melayani Pangeran Lucas dan Kerajaan." Kata Seina sembari membungkuk kan punggungnya.
"Jadi istri Lucas ada 100 orang dan semuanya melayaninya di sini. Sebenarnya itu tidak terlalu mengejutkan karena aku membaca bahwa Vampire memiliki kekuatan Sekks yang tinggi dan kekuatannya besar dalam urusan ranjang, namun aku pikir mereka adalah tipe setia yang hanya memiliki satu pasangan. Hah... Kembali lagi pada mereka yang menjadi tumbal, ternyata mereka tidak mati namun di perbudak di sini? Begitupun aku, setelah Lucas bosan denganku nantinya aku juga akan menjadi pelayan seperti mereka. Aku sudah terlalu memandang tinggi diriku sendiri karena bisa tidur di samping Lucas dan di berikan perlindungan serta perhatian lebih, pada akhirnya tidak ada kisah yang akan baik-baik saja seperti layaknya cinderella, pada akhirnya aku pun akan menjalani kehidupan sebagai pelayan juga seperti di keluarga Fernando, tapi di sini mungkin akan jauh lebih mengerikan. Beberapa dari mereka bahkan ada yang memandangiku aneh."
Kemudian Callista mandi dan bersiap, setelah selesai beberapa wanita itu mengantar Callista ke ruang makan, dimana Lucas sudah menunggunya.
Callista menarik nafas, dan masih berdiri di ujung ruangan makan, ia tidak bisa melihat jelas semua makanan yang terhidang. Tapi yang jelas di sana ada banyak buah-buah sisanya tidak terlihat.
"Apakah aku akan makan makanan mentah yang berlumuran darah, atau aku harus minum darah. apakah ini semacam ritual lebih dulu sebelum aku menjadi pelayan yang setia pada vampire?"
Callista kemudian melihat para pelayan yang sudah menyelesaikan tugas mereka undur diri dari ruangan sembari memberikan hormat pada Callista.
Lucas mengisyaratkan pada Callista untuk duduk di dekatnya dengan menarik kursi itu menggunakan kekuatannya.
Hanya dengan Lucas melihatnya, kursi itu bergerak mundur sendiri, dan lagi-lagi membuat Callista terkejut.
Callista kemudian berjalan mendekat dan duduk.
"Seperti kata Lucas. Aku harus membiasakan diri." Batin Callista sembari menahan dadanya yang nyeri karena berulang kali terkejut.
Dan, lagi-lagi, mau tidak mau Callista harus duduk dengan wajah yang bertopeng penuh ketenangan menyembunyikan tubuh tegangnya, ia tidak ingin menyulut amarah Lucas lagi seperti pagi tadi.
Namun semua yang ada di dalam pikiran Callista salah, ketika Callista duduk, ia melihat daging steak yang sudah matang. Makanan-makanan yang di masak dengan begitu menarik dan terlihat lezat, bahkan hidungnya pun berkedut karena makanan-makanan itu tercium begitu lezat.
Kemudian Callista mengedarkan matanya lagi ke beberapa menu yang ada di hadapannya, ada soup jagung, soup asparagus, beberapa ikan yang sudah di fillet dengan di goreng tepung lalu di siram saos dan tentunya masih banyak lagi makanan lainnya yang sudah di masak matang, semua itu membuat bau harumnya tentu saja menyentak hidungnya.
"Apa yang kau pikirkan?" Kata Lucas, tangannya terulur maju mengambil piring besar milik Callista.
"Dia selalu bertanya apa yang aku pikirkan, dia benar-bebar tidak bisa membaca pikiran dan hatiku?" Batin Callista.
Ketika Lucas mengambil piring miliknya yang berisi steak, Callista melirik apa yang akan Vampire itu lakukan, ternyata di luar dugaannya, Vampire itu mengiris daging steak miliknya menjadi beberapa bagian dan hingga potongan terkecil yang pas untuk masuk ke dalam mulut Callista.
Kemudian Lucas menyerahkan piring besar itu kembali di hadapan Callista.
"Makanlah."
Lucas kemudian sibuk mengiris daging steaknya sendiri yang di masak berbeda dengan milik Callista, setengah matang dan masih memiliki sedikit darah.
"Kenapa aku melihatnya bukan seorang Vampire melainkan seorang pria." Lagi-lagi Callista berperang dengan batinnya.
Callista menusuk daging yang sudah di potong oleh Lucas menggunakan garpu, dan memasukkannya ke dalam mulut.
"Astaga!" Mata Callista membulat.
Lucas melihat wajah Callista yang syock.
"Apa makanannya tidak enak?" Tanya Lucas khawatir.
Namun, Callista masih diam, ia sibuk mengunyah dan menelannya.
"Aku akan menyuruh para pelayan mengganti makanannya."
"Tidak! Maksudku, ini adalah makanan yang terenak yang pernah ku makan seumur hidupku!" Kata Callista dengan mata berkaca-kaca.
"Apa? Seumur hidupmu?"
"Ya, aku hampir tidak memiliki rasa pengecap di lidahku karena ibu tiriku selalu memberikan makanan basi, atau pun nasi yang sudah kering lalu aku memasaknya, aku mencampur nasi kering itu dengan air agar lunak dan bisa dimakan." Callista melanjutkan menusuk daging steak itu lagi.
Lucas mengepalkan tangannya dan melanjutkan mengiris steak miliknya.
"Kau bisa makan lagi."
"Bolehkah?"
Lucas mengangguk dan memanggil pelayan untuk menyiapkan steak lagi untuk Callista.
"Apa kau juga mau makan soupnya? Soup jagung dan soup asparagus bagus untuk pemulihan kesehatanmu."
Lucas mengambil sendok dan kemudian mengambil sedikit soup jagung lalu menyuapi Callista. Tak berapa lama steak pesanan Callista datang, Lucas memotong-motong steak itu lagi dan kembali menyodorkannya di hadapan Callista.
Gadis itu dengan polosnya memakan semua yang ada di hadapannya.
"Astaga ini juga enak. Aku sangat menyukainya." Callista makan sembari berbicara dan menutup matanya sembari memperlihatkan wajah berbinar yang bahagia.
Kemudian ia mengelap air matanya yang menggembung dengan punggung tangannya, dengan makanan-makanan yang enak di hadapannya ia merasa sedang ada di surga.
Lucas hanya melihat setiap ekspresi yang Callista buat.
Tangan Lucas terulur dan menghapus sisa saus di sudut bibir Callista dengan lembut membuat Callista membuka mata dan tersentak.
"Kau masih takut?"
Bersambung~
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 90 Episodes
Comments
@emak aisyah
bukan takut tapi kaget mungkin ya
2023-12-22
0
💠⃟⃝♠Yeyen
terbiasa mendapatkan perlakuan buruk makanya Callista reflek kaget.
SEMANGAT Thor 🤗
2023-12-17
1
𝐙⃝🦜しÏA ιиɑ͜͡✦ᵉ𝆯⃟🚀ʰⁱᵃᵗᵘˢ
astaga Calista...kau polos sekali...jd terharu dg tingkah polos lugumu...Calista seperti mutiara terpendam yg baru ditemukan...hmm
2023-12-12
4