Callista terus bertanya-tanya pada dirinya sendiri. Jika dirinya di jadikan sebagai pertumbalan, kenapa ia harus memakai gaun pengantin, apakah akan ada pernikahan?
Jika Ya, pernikahan dengan makhluk malam adalah hal yang sangat mengerikan atau lebih tepatnya ini semua bukan hanya sekedar di mangsa lalu mati, apakah akan terjadi hubungan malam pertama?
Callista memikirkan perjanjian dengan makhluk malam itu jelas tak bermoral, bagaimana ibu tirinya begitu tega menumbalkannya sekaligus menikahkannya dengan makhluk menjijikkan.
Callista tentu sangat kecewa, ia putus asa, sangat sedih, menikah tanpa adanya pendeta, tanpa di gereja dan tanpa para undangan, apalagi di laksanakan pada malam hari dengan hati yang dipenuhi ketakutan dan kegelisahan, tentu saja membuat hati Callista terus menerua sedih dan sangat terpukul.
Ya, yang jelas di tumbalkan atau pun menikah, semua akan tetap terlaksana, mau atau tidak mau pertumbalan atau pernikahan itu akan tetap terlaksana.
Jika benar akan ada pernikahan, tidak akan seperti gadis-gadis lainnya, calon suaminya bukanlah manusia, dia adalah seorang Vampire.
Yang paling parah Vampire adalah musuh mereka, musuh bebuyutan manusia, karena Vampire menghisap darah manusia.
"Sudah waktunya. Tidak perlu terharu, hapus air matamu dan berhenti mengatakan hal-hal yang mengundang amarah Tuan Vampire, atau kita semua akan di makan hidup-hidup. Apa kau paham!" Teriak pelayan tersebut.
Suara pelayan itu menggema di ruangan kecil berukuran 3X3, dimana mereka menyekap Callista, tentu saja suara sang pelayan yang mengatakan sudah waktunya langsung membuat Callista mati lemas.
Callista menghela nafas panjang dan dalam-dalam berkali-kali, meski kakinya terasa lemas tak mau berjalan dan tidak berdaya namun ia harus keluar untuk menemui "DIA" yang tak boleh di sebutkan namanya, karena jika tidak ia tahu ibu tirinya pasti akan datang menyeretnya.
"Rasanya aku ingin kabur dan pergi, tapi harus kemana? Sejauh apapun, mereka akan tetap menemukanku." Kini Callista berdebat dengan dirinya dan di dalam hatinya.
Pintu dibuka oleh pelayan, Callista melangkah dengan gemetar, dan sebenarnya tubuhnya sudah mulai menggigil, jika Callista benar-benar tidak berjuang dengan keras, pasti ia sudah pingsan dan terjatuh di atas lantai.
Setelah melewati ambang pintu dan melanjutkan berjalan ke sepanjang koridor, Callista tidak bisa menghitung berapa kali dia menarik nafas dalam-dalam agar ia tidak lemas dan terjatuh di lantai.
Callista sempat berpikir atau kah dia pura-pura pingsan saja, atau pura-pura mati lemas, agar pertumbalan itu di batalkan.
Tetapi Callista berfikir kembali, tidak akan semudah itu mengelabui Vampire, dan tidak semudah itu perjanjian hitam di batalkan, pada akhirnya niatan itu pun ia singkirkan dari kepalanya, karena Vampire pastilah tahu jika ia sedang berbohong.
"Aku... Membenci kalian semua! Aku mengutuk kalian semua tidak akan pernah bisa hidup tenang!" Akhirnya yang Callista bisa hanyalah mengutuk mereka dari dalam hatinya.
Callista terus berjalan dengan menundukkan kepala dan wajahnya, lalu ia melirik dan mengangkat sedikit kepalanya, antara penasaran serta takut dengan "DIA" Si Makhluk Malam.
Jantung Callista semakin berderu, bagaimana sosok dan wujudnya, karena dalam angannya, pria di depannya tentu saja berbeda dengan pria-pria yang ada di kehidupannya, dan pastinya pula pria yang ada di hadapannya berbeda dengan semua pria yang di lihatnya karena mereka adalah manusia, sedangkan pria yang ada di hadapannya bukanlah manusia melainkan vampire.
Dan yang di tunggu-tunggu pun tiba, akhirnya Callista justru terkejut, itu adalah hal yang paling mengejutkannya.
Ketika Callista mengangkat sedikit kepalanya dandapat melihat sedikit wajah pria itu, Jantung Callista langsung berdenyut, pria Vampire itu berbeda dari ekspektasinya, bahkan dari bayangannya yang telah berhari-hari menghantuinya dan memggerogoti hati serta pikirannya, berhari-hari ia memikirkan sosok Vampire itu sangat menyeramkan.
Sosok Vampire yang ada dalam angan-angannya adalah sosok yang memiliki wajah menjijikan, dan tubuh seperti monster yang kotor.
Tentu saja itu di luar dugaan Callista, mata pria Vampire yang ada di hadapannya berwarna kuning terang sedikit lebih orange, dalam bayangan Callista mata Vampire pasti berwarna merah darah menyala dan menakutkan.
Kemudian yang berbeda lagi dari bayangan Callista adalah giginya.
"Kenapa taringnya tidak terlihat? Apakah Vampire itu tidak memiliki taring, apakah dia adalah Vampire dengan spesies yang berbeda dari yang biasanya di ceritakan oleh orang-orang di dalam buku?" Kata Callista dalam hati.
Yang paling mengejutkan jantung Callista adalah, pria Vampire itu ternyata sangat tampan. Benar-benar sangat tampan, belum pernah Callista melihat pria dalam bentuk manusia yang bisa setampan itu.
Meski wajahnya sedikit pucat namun tidak sepucat Vampire yang pernah Callista baca di dalam buku sebelumnya, atau gambar-gambar yang Callista lihat dimana semua foto Vampire yang tersebar di internet memiliki kulit yang sangat putih dan pucat ssperti mayat hidup.
Tapi, tetap saja pria itu terlihat pucat dibandingkan dengan manusia, dan hal yang paling mencolok lagi adalah, Vampire itu memiliki tubuh yang tinggi, tubuhnya juga sedikit berotot berbeda dengan manusia, Vampire itu tubuhnya lebih besar dan tinggi. Apalagi parasnya begitu tampan dan mempesona.
Callista termangu, sejenak ia lupa bahwa dirinya kini benar-benar menatap terus menerus hingga tak berkedip pada wajah pria Vampire itu, hingga seolah sedang terjerumus jatuh dalam ketampanannya.
Memang benar, wajah Vampire yang cantik atau tampan dapat menyihir atupun menghipnotis setiap manusia, dan kali ini Callista merasa seperti sedang di hipnotis atau sedang tersihir dengan ketampanan tersebut.
Vampire menggoda para manusia dengan menggunakan ketampanan dan kecantikan mereka, lalu mereka akan menghisap darah para manusia dengan membuat mereka bergairah lebih dulu.
"Apakah aku sedang terhipnotis oleh ketampanannya, aku tidak bisa memalingkan wajah dan tidak dapat menahan diri untuk tidak memandanginya, aku terus saja ingin menatap wajah yang tampan itu." Kata Callista dalam hati.
Callista pun akhirnya tersentak kembali ke dunia nyata ketika merasakan bahunya di cengkram oleh Abigail dengan sangat kuat.
"Ulurkan tanganmu!" Perintah Abigail ketus dengan suara berbisik.
Callista masih kebingungan, apakah tangannya akan di hisap darahnya. Tentu saja Callista langsung bergidik ngeri.
Perlahan, dengan rasa takut yang menggerogoti dirinya Callista pun mengulurkan tangannya sembari menunduk dan memejamkan mata. Callista sangat takut dan ngeri. Hingga tubuhnya terlihat gemetaran.
Meski pria Vampire itu sangat tampan namun kini ketakutan akan gigitan Vampire lebih mendominasi diri Callista.
Tangan Callista di sambut dengan sentuhan lembut dari tangan pria Vampire itu.
"Aku Lucas Demian."
Callista terkejut, suara pria vampire itu datar, rendah, namun terdengar tegas dan dalam. Tak bisa lagi Callista nilai dengan kata-kata, bahkan suaranya seperti melodi yang dingin dan dalam.
Yang membuat Callista terkejut lagi adalah tangan yang seharusnya dingin dan kasar, ternyata begitu lembut dan cukup hangat. Semua hal yang Callista pelajari seolah menjungkir balikkan pikirannya.
Seharusnya Vampire memiliki tubuh yang dingin seperti es, kenapa Vampire ini berbeda.
"Ca... Callista Fernando." Kata Callista dengan terbata-bata dan tubuh gemetaran.
Bersambung~
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 90 Episodes
Comments
Lia Liya
jangan2 masih saudara nya Edward Cullen
2024-06-07
0
Al Fatih
tidak semua vampir itu menyeramkan lho Calista,, contohnya sj Edward Cullen 🤭😅
2024-05-10
1
Hai semuanya saya mau merekomendasikan cerita bagus lainnya bergenre percintaan non-human
Hades Mengejarku by Nona A
Jangan lupa mampir dan tinggalkan jejak
2024-03-21
1