"aku sudah menikah kak.. "
1 detik...
2 detik...
3 detik...
"Pffttt.. " Friska menatap heran kearah Rivan yang menahan tawanya
"Kamu tidak cocok menjadi pelawak Friska. Ayolah, jangan bercanda" ujar Rivan tertawa keras bahkan sampai meneteskan air mata
Sementara Friska mengerucutkan bibirnya kesal
"Ish! aku serius kak!" ujar Friska kesal. Ingin rasanya dia mengatakan bahwa itu hanya sekedar bualan saja, namun kenyataan pahit tidak bisa dipungkiri
Rivan menghentikan tawanya sejenak, lalu mencoba sedikit serius menatap ke arah Friska
"Kamu menikah dengan siapa, hm?" tanya Rivan sedikit serius karena takut membuat Friska kembali kesal, padahal dalam hatinya dia tidak mempercayai Friska sama sekali
"Ardigo, namanya Ardigo. Aku hanya tau itu" balas Friska acuh tak acuh karena sebenarnya dia terlalu malas untuk menyebut dan mengingat laki-laki tersebut.
Rivan hanya menaikkan sebelah alisnya pertanda semakin bingung dengan ucapan Friska. Istri mana yang hanya mengetahui suaminya sebatas nama saja? nama pendek pula
Mengerti dengan kebingungan dan ketidakpercayaan Rivan, Friska pun mulai menceritakan kejadian kemarin secara detail. Dan respon pertama yang ditunjukkan Rivan adalah terpaku dan bibirnya terkatup rapat dengan sorot mata yang tak terbaca. Jantungnya bagaikan dicabut paksa dari tempatnya bertepatan dengan berakhirnya cerita dari Friska. Bagaimana tidak, rasa yang selama ini dipendamnya terhadap Friska harus dia hentikan mulai detik ini. Mungkin Friska hanya menganggapnya sebagai seorang kakak, namun Rivan tidak bisa memungkiri bahwa dia mencintai Friska.
"Kak!" Ia tersadar dari lamunanya ketika lengannya ditepuk pelan oleh tangan mungil Friska. Dari raut wajah Friska dapat dia pastikan bahwa gadis itu sudah memanggilnya daritadi
"Kakak kenapa? dari tadi aku panggil tapi tidak merespon" ujar Friska sedikit sebal
Rivan mencoba menunjukkan senyum hangatnya yang selama ini dia tujukan kepada Friska, meski terlihat sedikit kaku.
"hehe maaf ya, aku hanya terkejut mendengar ceritamu. Ternyata sekarang adikku sudah menjadi istri orang. Aku tidak bisa lagi sering-sering mengganggumu" ujar Rivan tertawa sumbang mencoba bersikap senormal mungkin. Ia bahkan melupakan penyebab pernikahan Friska yang dipaksa untuk menikah untuk menjaga nama baik seseorang yang kini berstatus sebagai suaminya tersebut. The point is, dia sudah menikah. ME-NI-KAH! Satu kata yang mampu membuat nafas Rivan berhenti sejenak
"Itu hanya status kak, aku tidak benar benar menjadi istrinya. Dia menikahiku hanya untuk menjaga nama baik keluarga dan perusahaannya. Aku memberitahu kakak karena kakak adalah satu-satunya keluarga yang aku punya" ujar Friska. Dia memang sudah menganggap Rivan sebagai kakak, ayah, dan pelindung untuknya.
"Lalu apa rencanamu selanjutnya? dia terpaksa menikahimu, aku takut dia akan menyakitimu. Kalau kamu tidak yakin dan merasa tertekan dengan semua ini, aku bisa menemui suamimu untuk meminta pembatalan pernikahan" tanya Rivan serius sarat akan kecemasan. Bagaimanapun, dia takut Friska mendapat perlakuan buruk dari suaminya itu, mengingat pernikahan mereka yang hanya pernikahan sandiwara. Rivan berharap Friska menyetujuinya, karena jujur saja dia tidak rela Friska dimiliki oleh orang lain.
"Percuma kak, aku rasa dia tidak akan mau. Justru dengan pembatalan pernikahan, image nya akan semakin buruk. Mungkin aku akan menjalani pernikahan ini dulu, setidaknya sampai isu buruk tentang dia mereda. Bagaimanapun aku harus bertanggung jawab karena telah mengacaukan pernikahannya" ujar Friska pelan.
Rivan hanya terdiam mendengar penjelasan Friska, jika ditanya siapa yang paling terluka disini maka dia akan menjawab dengan lantang bahwa dia lah orang nya. Ia berniat menunggu Friska menyelesaikan kuliahnya lalu mengutarakan isi hatinya dan berharap Friska mau menjadi wanita satu-satunya di hidupnya, istrinya. Namun sepertinya niat yang telah disusunnya rapi tersebut harus dia kubur dalam-dalam
"Baiklah, kalau kamu butuh sesuatu jangan sungkan untuk menghubungiku. Aku akan selalu ada untukmu" ujar Rivan lembut sambil menggenggam tangan Friska di atas meja. Friska hanya mengangguk pelan sambil tersenyum, bersyukur karena dalam keadaan apa pun Rivan selalu ada untuknya
"aku kerja dulu ya kak" ujar Friska yang dibalas anggukan pelan oleh Rivan
Sepeninggal Friska, Rivan memegangi dadanya yang terasa sesak sejak tadi. Terlepas dari rasa cinta yang memang mungkin tidak ada diantara Friska dan suaminya, tapi Rivan bukanlah pria brengsek yang berniat untuk menghancurkan pernikahan orang lain,sekalipun dia harus tersiksa. Namun rasa tidak rela tetap saja menggerogoti hatinya
Secepat inikah rasa ini harus berakhir? Gumam Rivan tersenyum getir
****
Jam sudah menunjukkan pukul 5 sore dan itu artinya sudah waktunya Friska untuk pulang. Setelah mengganti seragamnya dengan pakaian biasa, Friska pun menyambar tasnya dan bergegas untuk pulang
"Mau pulang sekarang Fris?" tanya Tasya, rekan kerja sekaligus sahabat Friska. Mereka kuliah di kampus yang sama dengan jurusan yang sama pula
"Iya Sya, aku pulang duluan ya" balas Friska
"Mau aku antar?" tawar Tasya
"Tidak usah Sya, aku pulang sendiri saja" tolak Friska. Dia belum menceritakan tentang pernikahannya kepada Tasya, jadi dia tidak mau jika Tasya sampai tahu bahwa dia tidak lagi tinggal di apartemen lamanya.
"Baiklah, hati-hati ya" ujar Tasya lalu melambaikan tangannya memperhatikan punggung Friska yang menghilang di balik pintu
Beruntung lah apartemen Ardigo tidak terlalu jauh dari kafe, hanya membutuhkan waktu sekitar 20 menit dengan berjalan kaki. Sesampainya di apartemen, Friska menemukan Ardigo dan Vano yang sedang menonton acara televisi. Keduanya kompak menoleh ketika mendengar pintu apartemen terbuka dan kembali kompak mengalihkan tatapannya ketika melihat Friska yang berdiri di dekat pintu masuk
Friska masuk dan langsung menuju kamarnya untuk membersihkan tubuhnya yang terasa lengket. Setelah mandi dan memakai pakaian rumahan, dia pun melangkah menuju dapur berniat membuat makan malam. Ketika sampai di dapur, dia menemukan makanan yang tadi pagi dimasaknya masih terletak utuh dan tak tersentuh.
Apakah mereka tidak memakannya? lalu mereka makan apa tadi pagi? Batin Friska bingung dan sedikit kecewa karena kerja keras nya tadi pagi membuatkan sarapan tidak dihargai sama sekali. Tidak mau ambil pusing dengan itu semua, Friska pun mulai mengeluarkan bahan-bahan masakan dari dalam kulkas dan mulai memasaknya
Setelah selesai dan menyajikan makanan di atas meja, Friska pun melenggang menuju ruang tengah untuk mengajak Ardigo dan Vano makan malam karena sekarang jam sudah menunjukkan pukul 7 malam
"Pak..-"
"Saya bukan bapak kamu" sela Ardigo cepat tanpa mengalihkan tatapannya dari layar televisi
"Eh om..-"
"Kapan saya menikah dengan tante kamu?" sela Ardigo lagi
Aduh! memangnya aku harus memanggilnya apa? Batin Friska bingung sekaligus kesal
"Terserah bapak saja. Aku tidak tau harus memanggil apa, aku hanya ingin mengajak bapak dan Vano untuk makan malam. Makanannya sudah aku siapkan" ujar Friska berusaha sesopan mungkin
"Saya tidak mau! makan saja sendiri masakanmu itu. Soal makanan saya dan Vano, itu urusan saya!" balas Ardigo datar
"Loh pak, kenapa begitu? Itu makanannya sudah aku masak banyak. Sayang kalau tidak dimakan" ujar Friska
"Siapa suruh kamu memasak? dengar ya, kita menikah hanya sebagai status. Jadi kamu tidak perlu melakukan tugas layaknya seorang istri. Lagipula saya tidak tau apa saja yang kamu masukkan ke dalam makanan itu" ucap Ardigo datar dan menatap remeh ke arah Friska
"Astaga! aku tidak sejahat itu. Lagipula aku juga akan memakannya" ujar Friska mulai kesal
"who knows?" balas Ardigo mengedikkan bahu
"Apa karena itu juga bapak dan Vano tidak memakan nasi goreng yang tadi pagi aku buat?" tanya Friska
"Iya. Jadi berhenti sok bersikap seperti istri saya dengan memasak setiap saat" ujar Ardigo dingin dan menatap Friska tajam
"Pak, dengar ya! Aku tau dan sangat tau bahwa kita menikah hanya sebagai status dan untuk menjaga nama baikmu. Justru karena itu, aku tidak mau hanya menumpang tinggal dan makan disini. Aku tidak minta kamu untuk menganggapku sebagai istri, karena aku sadar diri kalau aku tidak pantas untuk status itu. Setidaknya anggap saja aku sebagai pembantu disini, dengan begitu aku tidak perlu merasa berhutang kepadamu " ujar Friska berusaha setenang mungkin
"itu urusan kamu" balas Ardigo enteng sambil memainkan ponselnya untuk memesan makanan delivery order.
"Makanan cepat saji itu tidak baik untuk kesehatan. Apalagi untuk Vano yang masih kecil" ujar Friska tetap kekeuh
"Apa peduli kamu tentang kesehatan anak saya? Saya yang sudah mengurusnya selama 4 tahun, dan sekarang kamu baru sehari disini sudah sok nengajari saya?" bentak Ardigo yang langsung membuat Friska menjengit kaget
Sabar Fris.. sabar. Kamu sedang menumpang di apartemennya, jadi terima saja. Lagipula itu juga anaknya, bukan anak kamu. Batin Friska menenangkan dirinya. Dia berusaha sekuat mungkin menekan rasa kesal nya dan memilih untuk diam
"Iya, aku tidak tau apapun tentang anakmu. Dan maaf sudah ikut campur" ujar Friska sesopan mungkin dan memilih berlalu ke dapur, karena dia takut khilaf lalu mencakar wajah tampan suami nya tersebut
Sesampainya di dapur, Friska langsung duduk dan memakan makanannya dalam diam. Menghadapi mulut pedas Ardigo ternyata menguras banyak tenaga Friska, buktinya makanan yang katanya untuk mereka bertiga itu kini habis tak bersisa. Meskipun tadi Friska sempat hendak menyerah karena terlalu kenyang, namun dia kembali menyemangati dirinya sendiri karena takut membuang makanan
Setelah selesai merapikan meja makan dan mencuci piring, Friska berjalan melewati ruang tengah menuju kamarnya. Ia melihat Ardigo dan Vano yang sedang makan sambil menonton TV.
Sebegitu bencinya ya dia kepadaku, bahkan makanpun harus disini. Arghh.. aku sungguh menyesali perbuatanku kemarin. Andai saja aku tidak mengacaukan pernikahannya. Tuhan, aku mau segera bebas dari sini. Batin Friska sendu melihat keduanya. Sedangkan kedua lelaki beda generasi tersebut tidak menyadari kehadirannya melainkan sibuk makan sambil menonton acara kesukaan Vano di Televisi
*****
To be continued
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 92 Episodes
Comments
aryuu
sadisnya ardigogogogogogok
2024-10-11
0
Nuryati Yati
pedes amat mulut nya Ardigo pen tk tapok sandal 😁
2024-05-12
4
Nurhayati Hutagalung
bagus kak cerita nya semangat
2024-05-02
0