Wulan berlarian ke arah Max dan Etienne yang tengah berjalan keluar dari pintu utama sekolah. Ia menarik lengan Max keras. Memaksa pemuda itu untuk menoleh. Etienne yang berdiri di samping Max memanyunkan bibirnya sembari keningnya mengerenyit.
"Max, je veux parler avec toi (aku ingin bicara denganmu)!"
Max hanya menoleh sekilas pada Wulan. Kemudian melanjutkan langkahnya. Etienne menggaruk - garuk kepalanya pertanda ia sedang kebingungan.
"Max!" panggil Wulan.
"Max!" Etienne mengulangi panggilan Wulan.
Max mendecak. Lalu menghentikan langkahnya. Wulan memandang Etienne sekilas. Pemuda itu hanya mengedikkan bahunya.
"Quoi (apa), Miss?" tanya Max. Ia berbalik dan mendekat ke arah Wulan.
"Bon allez, je part (ya sudah, aku pergi)." Etienne menyeletuk sembari mengangkat kedua tangannya. Memandang Wulan dan Max secara bergantian dan kemudian berlalu.
"Max, ada masalah apa kau dengan Monsieur Arsenault?" cecar Wulan.
"Aku tidak menyukainya. Itu saja."
Wulan memperhatikan wajah Max yang sedikit tertunduk. Tinggi badan Max yang beberapa senti lebih tinggi darinya, membuat Wulan harus memiringkan kepalanya.
"Hanya itu?" tanya Wulan tak percaya.
"Iya."
Max membenarkan letak tas punggungnya dan melangkah meninggalkan Wulan menuju keluar area sekolah. Ia berjalan cepat menelusuri trotoar dan berhenti di seberang pintu masuk stasiun kereta bawah tanah Michel - Ange Auteuil.
Begitu lampu untuk pejalan kaki menyala, Max menyeberang jalan dan menuruni tangga masuk ke dalam stasiun.
Ia memasukkan T tiketnya ke lubang tiket di depan palang pintu otomatis. Setelah mesin menandai strip magnetik tiket dan keluar di lubang lainnya, Max mengambil tiket, lalu mendorong pintu otomatisnya.
Max melangkah membaur dengan mereka yang lalu lalang menuju peron.
Ia merasakan ada seseorang yang berdiri di sampingnya. Senyum tipisnya terbit ketika mendapati seraut wajah manis dengan mata indahnya tengah menatap tajam padanya.
"Apa lagi, Miss?" tanyanya.
"Apa pun masalahmu dengan Monsieur Arsenault, perlakuanmu padanya tidak bisa dibenarkan. Kau harus menjaga kesopananmu di depan seorang Guru. Apalagi, umurnya jauh lebih tua darimu," terang Wulan dengan lugasnya.
"Aku akan menghormati seseorang kalau memang dia pantas untuk dihormati."
"Memangnya Damien tidak pantas untuk dihormati?"
Max mengedikkan bahunya. "Kau nilai saja sendiri, Miss," ujarnya seraya melangkahkan kaki masuk ke dalam metro yang baru saja berhenti di hadapannya.
Wulan mengikuti Max dan duduk di sebelah pemuda itu.
"Ajakan makan malamku masih berlaku, Miss," kata Max sembari menyenggol pelan lengan Wulan.
"Memangnya kau punya uang?"
Max tergelak. "Uangku datang dan pergi dengan mudah."
Wulan mencebik. "Bagaimana kalau makan malam di apartemenku saja?" tawarnya membuat mata Max berbinar.
"Aku sangat setuju."
"Mais (tapi) .. ada syaratnya."
"C'est quoi (apa itu)?"
"Ajak teman - temanmu juga. Etienne, Frederick emm .. Chen."
"Tidak bisa!" seru Max lantang. Membuat beberapa orang yang ada di dalam kereta menoleh ke arahnya sekilas.
"Pourquoi (kenapa)?" tanya Wulan dengan wajah keheranan. "Aku ingin mengenal kalian lebih dekat."
Max mendecak. Wajahnya terlihat muram. "Mereka sangat menyebalkan, Miss. Mereka cerewet, tidak sopan dan makannya banyak."
"Memangnya kau tidak menyebalkan?" tukas Wulan.
"Aku berbeda, Miss."
Wulan terbahak mendengar penuturan bocah tengil di sampingnya itu. Lalu ia merogoh tasnya dan mengambil buku jurnal kecil dan pensil. Ia membukanya dan menuliskan sesuatu di sana.
Wulan menyobek kertas yang baru saja ia tulisi dan menyerahkannya pada Max.
"Alamatku. Kalian bisa datang akhir pekan. Jam tujuh malam."
"Kau serius mau mengajak mereka juga, Miss?" tanya Max. Berharap wanita cantik itu akan berubah pikiran.
"Ya," jawab Wulan sembari mengangguk mantap.
Max mendecak sebal. Dengan wajah cemberut ia menyilangkan kedua lengannya di depan dada.
"Bagaimana kalau sekarang saja aku ikut ke apartemenmu?" tawarnya dan disambut satu pukulan kecil di ujung kepalanya.
"Hari sabtu. Jam tujuh malam. Ajak teman - temanmu."
"Tapi aku ingin berdua denganmu."
Wulan membelalakkan kedua mata indahnya.
"Ma - maksudku, aku tidak bisa bebas mengobrol denganmu kalau ada mereka."
"Memangnya kenapa? Bukankah mereka adalah teman - teman dekatmu. Sudah kubilang, Max .. aku ingin mengenal kalian lebih dekat," terang Wulan. "Owh, kau juga bisa mengajak Nadia. Atau yang lainnya."
"Nadia?" Max mengerenyitkan dahinya.
"Ya," jawab Wulan sembari berdiri dan bersiap - siap untuk keluar metro ketika mendengar pengumuman pemberhentian di stasiun berikutnya.
"Bye, Max." Wulan melambai kecil pada Max begitu kereta telah berhenti dengan sempurna.
"Tunggu, Miss."
Max mengikuti langkah Wulan keluar dari pintu otomatis dan berjalan mensejajarkan langkahnya dengan Wulan menuju tangga naik ke jalan raya.
"Kenapa kau turun di sini?" tanya Wulan keheranan.
"Aku jalan saja dari sini. Lagi pula hanya beberapa kilometer saja."
Keduanya berjalan bersebelahan di sisi jalan. Max menyunggingkan senyum tipisnya setiap kali melirik ke arah wanita mungil di sampingnya itu.
"Berapa umurmu, Miss?" tanya Max memulai obrolannya.
"Tidak sopan menanyakan umur pada seorang wanita," hardik Wulan. "Yang jelas aku jauh lebih tua darimu. Bahkan sangat jauh."
Max terkekeh. "Maaf," ucapnya sembari mengacak rambut hitam setengah gondrongnya. "Kau berasal dari negara mana, Miss?"
"Menurutmu?" tantang Wulan sembari menaik turunkan telapak tangan di depan wajahnya sendiri. Memaksa Max untuk menebaknya.
"Emmm ...." Max memiringkan kepalanya dan mencoba meneliti wajah Wulan. "Thaïlande?"
Wulan menggeleng.
"Philippine?"
"Non, Indonesie."
"Owh, aku pernah mendengarnya. C'est tres loin d'ici (sangat jauh dari sini)," gumamnya. "Aku belum pernah pergi ke luar negeri, Miss," ujar Max sembari terkekeh malu.
"C'est pas grave (tidak apa - apa). Umurmu masih sangat muda. Masih banyak waktu untuk berpetualang nanti."
Wulan menghentikan langkahnya di depan sebuah pintu masuk sebuah apartemen.
"Aku sudah sampai," ujarnya. "Ya sudah, sampai besok kalau begitu, Max."
"Kau tidak mau menyuruhku masuk?"
Wulan mendecak. "Aku harus beristirahat, Anak Nakal!"
"Aku hanya bercanda, Miss." Max menyunggingkan senyum jahilnya.
Wulan memukul pelan bahu Max. "A demain (sampai besok)," ujarnya sembari mendorong pintu dan melangkah masuk ke dalam gedung.
Beberapa saat Max berdiri mematung sembari terus menyunggingkan senyumnya. Lalu ia mendongak ke atas berharap Wulan muncul di salah satu balkon berpagar besi di sana.
***
***
***
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 85 Episodes
Comments
Violet Agfa
seerruuu
2021-04-24
1
yuko྅≞⃗ .☀
bakalan ada yg jedag jedug ni, senyam senyum ndi Max..aku jd mesam mesem dw, 😄😄..ingeet..ajak temenmu , ada ettiene , chen..nah...nah ..adekmu ajak sekalian , biar makin deket PDKT nye
besok besok dateng ndiri ..muehehe
2021-04-12
0
cimplung
ihiiiiwwww...modus ach si max...
si wulan pasti lemes tu di belakang pintu...🤣🤣
2021-04-12
0