Max menyandarkan punggungnya di pintu lokernya sembari memperhatikan Wulan yang tengah mengobrol dengan Damien di dekat deretan ruang guru.
Ia tidak menyukai Damien. Pria itu congkak dan menyebalkan. Sejujurnya ia tidak menyukai semua guru di sekolah ini. Atau lebih tepatnya, ia tidak menyukai sekolah. Tidak sabar rasanya menunggu satu tahun berlalu hingga ia bisa menyelesaikan pendidikan SMA yang sangat tidak berguna ini.
Sesekali Max melihat tawa Wulan yang sepertinya disebabkan oleh gurauan - gurauan Damien.
Ia akui, Guru Bahasa Inggris baru itu memiliki wajah yang cantik. Garis wajahnya halus dan terkesan rapuh. Entah wanita itu datang dari negara mana. Thailand, Philippine, Malaysia, mungkin.
Max bahkan tak bisa menebak usianya. Wulan terlihat seperti remaja seumurannya.
"Yoo!"
Satu seruan dibarengi tepukan keras di pundaknya membuat Max terkesiap. Etienne meringis di hadapannya.
"Kau sedang memperhatikan siapa?" tanya Etienne seraya menoleh ke sana kemari.
"Bukan siapa - siapa," jawab Max sembari berbalik dan mengunci lokernya. Lalu memberi isyarat pada Etienne untuk mengikutinya menuju kelas.
Max berjalan melewati Wulan dan Damien yang masih sibuk mengobrol. Ia melempar pandangannya sekilas pada wanita cantik itu.
Dengan wajah dinginnya, tentu saja.
Ia tak membalas senyuman Wulan untuknya. Lalu bergantian menatap Damien dengan tatapan sinis.
"Bonjour (selamat pagi), Miss." Etienne yang berjalan di belakang Max menyapa Wulan. Disambut dengan lambaian tangan wanita itu.
.
.
Wulan memandang sekilas pada Max yang berjalan melewatinya. Ia melontarkan senyumnya hendak menyapa pemuda itu. Namun Max buru - buru melempar pandangannya lurus ke depan. Pada akhirnya ia melambai pada Etienne yang berbaik hati menyapanya.
"Dua anak pembuat masalah," gumam Damien yang menatap sinis pada punggung Max dan Etienne yang mulai menjauh.
"Apa kau sudah pernah mencoba berbicara dari hati ke hati dengan mereka? Maksudku, apa yang melatarbelakangi keduanya menjadi anak yang bermasalah."
Damien terbahak. "Aku ini Guru Pembimbing, Wulan. Tentu saja aku sudah berbicara dari hati ke hati pada semua anak bermasalah di sekolah ini."
"Lalu?"
"Anak - anak yang lain cukup terbuka padaku. Tapi Max ...." Damien menggeleng. "Bungkam."
"Kurasa Max butuh seseorang yang dia percaya untuk berbicara tentang masalahnya."
Damien mengedikkan bahunya. "Mungkin. Artinya dia tidak mempercayaiku," kekehnya.
Wulan menghela nafas dalam - dalam. Sekilas sudut matanya menangkap bayangan Max yang tengah masuk ke dalam kelasnya.
"Emm .. Damien, permisi, aku harus masuk kelas."
"Okay, see you later, Wulan."
Wulan mengangguk dan berbalik melangkah menuju kelas.
.
.
"Bonjour, tout le monde (selamat pagi, semuanya)."
Wulan menyapa seisi kelas sembari meletakkan buku - bukunya di atas meja. Tentu saja suaranya tenggelam di antara kegaduhan yang tengah terjadi di sana. Ia melirik Max yang duduk diam sembari menyilangkan lengannya di dada dan bersandar di kursi. Rambutnya yang sedikit panjang dia biarkan tergerai begitu saja.
Max hanya menatap Wulan sekilas. Lalu mengalihkan pandangannya lurus ke depan.
Wulan mengambil satu buku dari atas meja dan menunjukkan sampulnya pada seisi kelas.
Pilgrim Of Tinker Creek by Annie Dillard.
"Ada yang membawa bukunya?" tanya Wulan.
Merasa tidak digubris, Wulan melangkah mengitari semua meja lalu menanyai langsung satu persatu siswa sembari mengetuk - ngetuk meja tepat di hadapan masing - masing dari mereka untuk meminta perhatian.
"Angela, kau membawa bukunya?" tanya Wulan pada gadis berambut ikal di hadapannya.
"Ben, non (ya, tidak)," sahut Angela asal.
Wulan melirik satu siswa perempuan di belakang Angela. Sepertinya dia membawa buku yang sama dengan buku yang sedang dipegang oleh Wulan.
"Ah, Pauline .. kau membawa bukunya, ya?"
"Je pense que oui (kurasa begitu)."
"C'est bien (bagus), Pauline," puji Wulan seraya tersenyum. "Apa ada lagi di antara kalian yang membawa buku ini?" Wulan mengangkat bukunya sembari mengedarkan pandangannya ke seisi kelas. " Seperti yang sudah aku jadwalkan untuk hari ini," gumamnya.
"Etienne?" tanya Wulan.
Etienne menggaruk kepalanya yang tidak gatal sama sekali.
"Aku lupa, Miss," kekehnya.
"Yang lain?" tanya Wulan kembali pada seisi kelas.
Tidak ada jawaban. Sepertinya hanya siswi bernama Pauline saja yang punya niat untuk membawa buku itu, sesuai jadwal hari ini yaitu reading.
"Okay, kita bergantian saja." Wulan membuka halaman pertama pada buku di tangannya.
"Siapa yang pertama akan membacanya .. emmm ...." Wulan memperhatikan satu persatu wajah - wajah di depannya itu sembari berpikir untuk menunjuk salah seorang di antara mereka.
"Aku saja, Miss!" seru Etienne sembari mengangkat tangannya, disambut dengan sorak sorai seluruh kelas.
"Baiklah ...." Wulan berjalan mendekati Pauline dan mengambil buku di atas mejanya lalu memberikannya pada Etienne.
"Baca halaman pertama," titahnya.
"Aku tidak yakin dia bisa membaca."
Sebuah suara menyeletuk dari sudut ruangan.
"Ta gueule (diam)!" hardik Wulan sembari mengangkat tangannya, tanpa menoleh ke arah asal suara. "Ayo, Etienne!"
"Emmm .. He .. aven .. and .. e .. arth .. in .. jest." Etienne mengeja judul pada halaman pertama dengan logat Perancisnya yang begitu kental.
Tentu saja seisi kelas meledak karena tawa. Mengejek Etienne yang kini wajahnya telah memerah menahan malu.
Wulan melirik Max yang masih duduk tak bergeming di depan Etienne. Sekilas dilihatnya pemuda itu menyunggingkan senyum geli. Mungkin ia tak tahan mendengar logat Etienne yang sangat lucu.
Ini kali pertama Wulan melihat ekspresi hangat di wajah Max.
***
Pierre mendekati Wulan yang terperangah menatap layar ponsel yang ada di tangannya.
Dengan kasar ia merebut benda itu.
"Lancang!" hardiknya geram.
"Siapa Emelie? Kenapa dia mengirim kata - kata mesra untukmu?" Suara Wulan bergetar. Dadanya berdegup kencang. "Kau selingkuh?"
Plakkk.
Wulan mengaduh begitu sebuah tamparan mendarat di pipinya.
"Jangan asal bicara!" teriak Pierre.
"Bagaimana kau akan menjelaskannya?" Wulan menunjuk ponsel yang kini ada di tangan Pierre.
"Aku tidak harus menjelaskan apa - apa."
"Kau mengkhianatiku, Pierre!"
"Sudah kubilang jangan asal bicara, dasar wanita tidak berguna!"
Plakk.
Plakk.
"Arrrgh!"
Wulan berteriak keras. Membuka mata dan terduduk di atas ranjang. Peluh membasahi wajahnya. Ia memegangi dadanya yang berdegup kencang.
Ditariknya nafas dalam - dalam, lalu menghembuskannya pelan. Ia memejamkan matanya sejenak. Rasa nyeri di dadanya kembali datang. Tidak, tidak hanya di dadanya. Rasa sakit itu memenuhi relung hatinya. Namun ia tak mampu untuk menangis lagi. Air matanya seakan telah habis.
Lalu bagaimana ia mengatasi rasa sakit ini.
Sendirian. Di malam yang begitu senyap. Begitu hampa. Hanya sesekali terdengar suara sirine mobil patroli polisi yang meraung - raung dari kejauhan sana.
Wulan melangkah gontai keluar dari kamarnya. Mencari sesuatu yang bisa membasahi tenggorokannya yang terasa kering.
Diambilnya sebuah gelas dari lemari dapur dan diisinya dengan air kran. Wulan meneguknya hingga habis.
Sedikit lebih baik.
Namun sepertinya ia belum bisa melanjutkan tidurnya. Dadanya masih terasa berat. Pikirannya melanglang buana ke masa lalu.
Masa lalu yang terus saja menghantuinya. Meskipun ia telah mengucapkan selamat tinggal padanya.
***
***
***
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 85 Episodes
Comments
Seikha Aludra
Alone
2021-07-06
0
El Shanum
yang sabar Wulan 😢😢😢
2021-06-03
0
Daisy🇵🇸HilVi
trauma😫
2021-05-29
1