STALINGRAD, SURESNES.
Max mengurungkan niatnya masuk ke dalam apartemennya ketika dilihatnya seorang gadis baru saja keluar dari pintu sebelah.
Ia menyilangkan kedua lengannya di depan dada. Menatap tajam ke arah gadis berwajah Timur Tengah itu. Pakaian di balik mantelnya terlihat sangat minim. Dipadu dengan sepatu boot panjang selutut dengan hak tinggi. Riasan wajahnya pun sedikit mencolok.
"Mau kemana kau?" tanya Max.
"Ben (ya), pergi." Gadis itu menjawab singkat. Lalu berlalu dari hadapan Max.
"Nadia!" seru Max sembari menarik lengan gadis itu dan mendorongnya ke dinding koridor.
Nadia menepis tangan Max kesal. "Kau mau apa?"
"Hei, kau pikir aku tidak tahu kalau kau masih berhubungan dengan si Damien itu?"
"Bukan urusanmu!" sergah Nadia.
"Tentu saja itu urusanku. Dia hanya memanfaatkan ...." Max mendecak. Lalu menaik turunkan telapak tangannya sembari memandang tubuh berbalut pakaian mini Nadia.
Nadia mendecih. "Kau bukan Kakakku, Max. Urus saja hidupmu sendiri."
Max mencengkeram kerah mantel Nadia geram. "Ibumu akan sedih kalau tahu kelakuanmu seperti ini!"
"Aku butuh uang untuk bersenang - senang, Max."
"Apa harus dengan cara menjual tubuhmu pada Damien?"
Nadia mendorong dada Max kasar hingga punggungnya menabrak dinding.
"Kau pikir kau lebih baik dariku, Max?" sindirnya. Ia menatap tajam ke arah Max dengan tatapan sengit. Kemudian melangkah cepat meninggalkan pemuda itu.
"Jangan campuri urusanku!" teriak Nadia dari kejauhan.
Max mengepalkan telapak tangannya. Hendak ditinjunya dinding koridor, namun ia mengurungkan niatnya. Hingga akhirnya terdengar suara telapak tangannya beradu dengan tembok.
Ia membuka pintu apartemen dengan kasar. Dalam hatinya ia tak akan peduli jika Ludovic, Ayahnya, akan meneriakinya begitu melihatnya masuk.
Namun, ruang tamu nampak sepi. Ia tak melihat sosok pria paruh baya yang biasanya duduk atau pun tertidur di atas sofa kesayangannya. Ia pun bergerak memeriksa kamar tidur Ayahnya. Nihil.
Masa bodoh.
Max berniat untuk masuk ke dalam kamarnya ketika mendengar suara pintu diketuk seseorang.
Ia segera membukanya. Mendapati seorang wanita berumur empatpuluhan berwajah khas Timur Tengah berdiri dan tersenyum padanya. Tangannya memegang satu piring makanan.
"Max, aku bawakan shawarma untukmu," ucap wanita itu sembari mengangkat piring di tangannya. Ia pun masuk ke dalam dan memeriksa ruangan yang tampak sepi. "Mana Ayahmu?"
"Aku tidak tahu, Maman (mama)."
Max memanggil wanita itu dengan sebutan Mama. Ia memang telah menganggapnya sebagai Ibunya sendiri. Wanita itu hanyalah seorang tetangga yang dengan senang hati merawat Max dari bayi. Ketika sang Ayah depresi karena kematian Ibu kandungnya dan tidak mau menerima kehadiran Max di dunia ini. Sang Ayah menganggap, kelahiran Max menjadi penyebab kematian wanita yang begitu dicintainya.
Ia yang waktu itu baru saja melahirkan seorang bayi perempuan, dengan hati lapang berinisiatif untuk mengambil Max dan merawatnya seperti anaknya sendiri.
Saat usia Max menginjak 10 tahun, sang Ayah mulai bersedia menerima kehadiran anaknya itu. Namun, tetap saja memperlakukannya dengan sangat buruk. Hingga sekarang.
Wanita yang ada di hadapannya ini, Nyonya Dasia Kareem, seorang wanita keturunan Lebanon dengan wajah teduh dan menenangkan. Max sangat menyayanginya.
"Makanlah, Max." Nyonya Dasia menarik kursi dari bawah meja makan dan meletakkan piring yang dibawanya ke atas meja. Lalu ia menyuruh Max duduk di hadapannya.
"Merci, Maman."
Max mengambil satu potong makanan khas Lebanon favoritnya itu dan menggigitnya. Sembari pandangannya menelusuri wajah teduh namun terlihat lelah di depannya itu.
"Ada apa, Maman?" tanya Max sembari mengunyah makanannya.
Nyonya Dasia menarik nafas dalam - dalam. "Nadia .. anak itu semakin susah diatur," ujarnya. "Hampir setiap malam dia keluar rumah dengan pakaian minim, lalu pulang larut dalam keadaan mabuk. Apa yang dilakukannya di luar sana?" Nyonya Dasia menghela nafasnya kembali. "Jika ditegur dia selalu mengamuk. Aku bingung sekali menghadapi anak itu."
Max mengurungkan niatnya untuk kembali menggigit potongan shawarma di tangannya.
"Maman, aku akan menjaganya untukmu."
Nyonya Dasia menepuk - nepuk lengan Max lembut. Sorot matanya mendamba pengharapan yang besar padanya.
***
LYCÉE JEAN - BAPTISTE SAY, SURESNES.
Wulan menyapu pandangannya ke seluruh ruangan kelas. Sembari menunggu anak - anak didiknya itu mengerjakan tugas yang ia berikan.
Ia melihat gadis itu, Nadia Kareem, sedang menggigit - gigit pensilnya sembari mengobrol dengan temannya. Penampilan emo nya cukup mencolok. Eyeshadow tebal yang membuat kedua matanya terlihat smokey, pakaian serba hitam, dan sepatu boot ala personel band musik cadas.
Ia tak terlalu memperhatikan Nadia sebelumnya di kelas. Sampai Adrienne menceritakan kasusnya dengan Damien.
Untuk anak seumurannya, Nadia terlihat matang. Wajahnya sedikit binal, dan tubuhnya sintal.
Pandangan Wulan kini beralih ke kursi Max. Ia baru menyadari kalau anak itu tidak ada di kursinya. Rupanya ia tidak masuk kelas. Padahal tadi pagi ia melihatnya berangkat ke sekolah.
Kemana anak itu?
Dan ketika kelas berakhir, Wulan memberi perintah pada seisi kelas untuk mengumpulkan kertas soal mereka. Wulan mencebik. Sebuah kemajuan, ada lima anak yang mengerjakan. Termasuk Etienne. Sebelumnya Wulan cukup dibuat kesal dengan hanya dua orang saja yang mau mengerjakan soal.
"Etienne!" panggilnya pada pemuda itu. Ia hendak keluar ruangan kelas setelah mengumpulkan kertas soalnya.
"Oui, Miss," jawabnya sembari melangkah mundur dan berhenti di depan meja Wulan. Ia mengerlingkan matanya genit. "Mau mengajakku kencan, Miss?" godanya.
"Dalam mimpimu!" hardik Wulan membuat Etienne tergelak. "Di mana Max?"
Etienne mendecak. "Kenapa kau selalu menanyakan Max?"
"Aku melihatnya berangkat sekolah pagi ini, tapi kenapa dia tidak masuk kelas?"
"Mana aku tahu, Miss," sahutnya. "Kau rindu padanya, ya?"
Wulan berdiri dari duduknya dan memukulkan tumpukan kertas ke ujung kepala Etienne dengan keras. Membuat pemuda itu mengaduh kesakitan.
"Pergi sana!" seru Wulan geram.
Etienne melangkah pergi sembari meringis dan mengusap - usap kepalanya.
Wulan merapikan buku - buku dan kertas - kertasnya lalu membawanya keluar ruangan kelas. Ia berjalan melewati koridor menuju ke toilet Guru yang berada di ujung lorong.
Ia sibuk memasukkan kertas - kertas soal ke dalam tasnya ketika sayup - sayup terdengar suara ribut - ribut saat melewati toilet pria. Wulan menghentikan langkahnya dan mengamati pintu masuk ruang toilet yang sedikit terbuka. Ia melangkah pelan mendekat. Suara seseorang yang saling berseru satu sama lain terdengar jelas.
Wulan pun memberanikan diri untuk melongok ke dalam ruang toilet yang terdapat beberapa wastafel di sana. Ia terperanjat melihat Max yang tengah mendesak seseorang ke dinding dan mencengkeram kerah bajunya. Satu telapak tangannya yang telah terkepal telah bersiap untuk memukul wajah seseorang itu.
Damien.
"Max, apa yang sedang kau lakukan?" pekik Wulan tak percaya dengan apa yang dilihatnya.
Baik Max maupun Damien, mereka sama - sama terkejut dengan kehadiran Wulan di sana.
Max menurunkan tangannya dan mendorong tubuh Damien ke dinding. Sementara Damien dengan sigap merapikan pakaiannya yang terlihat berantakan.
"Damien, kau baik - baik saja?" tanya Wulan pada Damien yang kini berjalan ke arahnya.
"Ya, Wulan, aku baik - baik saja," jawabnya sembari berdiri di samping Wulan dan menyunggingkan senyum miringnya pada Max.
"Apa masalahmu, Max?" hardik Wulan tajam.
Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Max berjalan melewati Damien dan Wulan. Lalu mendorong pintu toilet dengan kasar dan berlalu.
"Anak ini benar - benar menjengkelkan." Wulan menggumam sembari melangkah keluar dari dalam toilet, diikuti oleh Damien.
Ia melihat punggung Max sekilas sebelum menghilang di persimpangan koridor.
"Aku tidak tahu kenapa dia begitu, Wulan. Tiba - tiba dia masuk ke toilet dan menyerangku." Damien mencoba memberi penjelasan.
Wulan menghela nafas pelan. "Aku akan bicara dengan anak itu."
Damien memejamkan matanya sejenak sembari mengangkat kepalanya. Lalu menyapu rambutnya ke belakang.
Raut mukanya terlihat gelisah.
***
***
***
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 85 Episodes
Comments
Dewa Qin
oalah...jadi max udah tau kelakuan damien,makanya dia pura2 menanyakan sesuatu pada wulan agar wulan tak terjerat bujuk rayu damien yg jelas2 masih berhubungan dengan nadya.adik angkatnya
2023-07-16
0
Seikha Aludra
Pantesan Max benci Damien 🙄
2021-07-06
0
𝕭𝖚𝖊 𝕭𝖎𝖒𝖆 💱
hhmm....ternyata semuanya berhubungan..
2021-06-08
0