LE MARAIS, PARIS.
Galeri lukisan itu tampak mungil terapit oleh cafe, toko souvenir dan restauran - restauran kecil. Papan namanya pun telah lusuh.
Liberté Galerie, begitu yang terbaca di papan bercat hijau tua itu. Pemiliknya, seorang pria tua bernama Patrick Gautier. Dulunya, ia adalah seorang pelukis jalanan yang mangkal di sekitar jembatan Pont Marie di sungai Seine, Paris.
Kini, galeri kecilnya ia isi dengan lukisan - lukisan klasik realisnya yang ia jual dengan harga murah.
"Bonjour (selamat pagi), Patrick."
Max yang baru saja melangkah masuk menyapa pria tua itu dengan senyuman hangatnya.
"Aah, Max .. kau mau mengambil alat - alatmu?" tanya Patrick dengan mata berbinar.
"Ya."
"Hari yang indah, semoga saja banyak yang meminta untuk dilukis olehmu," ucapnya seraya melayangkan pandangnya keluar jendela. Hari ini salju tidak turun. Cuaca sedikit cerah, walaupun udara dingin masih begitu menusuk.
Inilah yang dilakukan Max setiap akhir pekan. Menjadi pelukis jalanan seperti Patrick dahulu, dengan tempat mangkal yang sama.
Gairah seorang Maximilian Guillaume, anak bengal dan pembuat masalah, yang ia sembunyikan dari siapa pun. Bahkan dari sahabatnya sendiri, Etienne.
Patrick, adalah satu - satunya orang yang tahu akan bakat tersembunyinya ini. Perkenalan mereka terjadi beberapa tahun yang lalu, ketika Max pada suatu malam kedapatan polisi mencoret - coret dinding jembatan Pont Marie dengan lukisan graffitinya. Patrick yang menyelamatkannya.
Pria tua itu menyadari bakat yang dimiliki Max. Lalu dengan segala teknik yang ia kuasai, ia mengajari Max melukis dengan aliran klasik realis.
Voila. Di sinilah Max sekarang. Ia selalu menitipkan semua alat - alat lukisnya di galeri Patrick. Setiap akhir pekan ia mencari nafkah dengan melukis turis - turis domestik maupun mancanegara, yang datang menikmati suasana di sungai Seine.
Memang, uang yang ia dapat tidak seberapa dibanding dengan berjualan cannabis di Stalingrad. Tetapi, ia merasa, melukis mampu mengisi kekosongan hatinya selama ini.
"Á tout á l'heure (see you later), Patrick," ujar Max sembari menggendong tas besarnya dan melambai pada pria tua yang tengah sibuk membersihkan lukisan - lukisannya itu.
"Bonne chance (semoga berhasil), Max," sahut Patrick.
Max membuat bulatan dengan ibu jari dan jari telunjuknya. Memberi isyarat oke seraya mengedipkan sebelah matanya.
Ia berjalan keluar galeri. Menelusuri jalanan Le Marais yang mulai ramai, menuju jembatan Pont Marie yang berjarak sekitar lima kilometer.
Max meletakkan tasnya di sudut jembatan di mana ia biasa melakukan aktifitasnya melukis. Ia mengeluarkan peralatannya berupa kuas, palet, pisau palet, easel dan kursi mini fortable, juga cat berbagai warna.
Sembari menunggu pelaggan, Max mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Menara Eiffel berdiri gagah di seberang sungai. Lalu di sebelah kanannya, bangunan Museum Picasso dengan atap birunya terlihat elegan. Beberapa Bateaux Mouches ( kapal pesiar turis) melintas di sungai Seine yang berair hijau.
Tenang. Begitu yang Max rasakan. Ia menghirup udara dingin pagi itu dalam - dalam.
"Are you ready to paint (apa kau siap untuk melukis)?"
Max terkesiap mendengar seseorang berbicara padanya. Dia menoleh dan mendapati seorang wanita bermata sipit tengah menyunggingkan senyum padanya. Turis Jepang, sepertinya.
"Yes, Mam (ya, Nyonya)."
"How much (berapa)?"
"50 euro," jawab Max. "You can pay later, Mam (kau bisa membayarnya nanti, Nyonya)." Ia berujar ketika melihat wanita itu merogoh tasnya untuk mengambil dompetnya.
"Oh, okay. Emm .. aku ingin kau menambahkan menara Eiffel sebagai latar belakangnya."
"Okay. Do sit down, Mam (baik, silahkan duduk, Nyonya)." Max menyiapkan kursi kayu mini dan mempersilahkan wanita itu duduk.
"Beri aku lima menit untuk mempersiapkan alatnya, Nyonya."
***
Wulan tak berniat untuk melakukan apa - apa hari ini. Rasanya ia hanya ingin meringkuk saja di tempat tidur, berlindung di bawah selimut tebal yang hangat. Satu minggu mengajar di Jean - Baptiste Say membuatnya kelelahan.
Namun tentu saja tak sebanding lelahnya melupakan masa lalu.
Ponsel di atas nakas bergetar. Dengan malas Wulan mengambilnya dan memeriksa layar. Satu pesan masuk. Damien.
Hei, kau ada rencana hari ini?
Wulan menggeleng. Lalu berpikir sejenak apakah akan membalas pesan dari Damien atau tidak.
Pria itu cukup baik. Cukup tampan. Cukup perhatian. Dan Wulan bisa menangkap adanya sinyal - sinyal ketertarikan Damien padanya.
Tapi, Ah, pria Perancis. Mungkin akhirnya akan sama saja dengan Pierre. Manis di awal, pahit kemudian. Terlihat romantis di permukaan, tapi kenyataannya, penggerutu, kasar. Cerdas bagai filosofer, namun empati terhadap orang - orang terdekatnya nol.
Wulan mulai menggeneralisasi semuanya. Trauma. Mungkin saja.
Sepertinya aku hanya ingin berdiam diri saja di rumah. je suis fatigué (aku capek).
Ia membalas pesan Damien. Lalu meletakkan kembali ponsel ke atas nakas. Ia meringsek masuk ke dalam selimutnya. Menutupi wajahnya dan berusaha memejamkan matanya kembali.
Ponselnya bergetar kembali. Sepertinya ada balasan dari Damien. Namun Wulan tak berniat untuk memeriksanya.
Ia hanya ingin bepergian dengan pikirannya. Melanglang buana entah kemana. Menjauh dari segala gundah yang merongrong lubuk hatinya.
Traveling without moving.
Di akhir pekan musim dingin yang .... dingin.
***
LYCÉE JEAN BAPTISTE SAY, SURESNES, PARIS.
Wulan melirik jam di pergelangan tangannya. Ia duduk di belakang mejanya dengan muka ditekuk. Sepuluh menit lagi kelas akan berakhir. Suasana kelas, seperti biasa, gaduh. Entah apakah anak - anak nakal ini sedang mengerjakan tugas yang ia berikan setengah jam yang lalu, atau mereka sama sekali tak menyentuh kertas soal yang ia bagikan.
Masa bodoh.
Hari ini sudah cukup ia menguras emosinya. Mencoba meminta perhatian seisi kelas untuk memperhatikan pelajaran yang diberikannya.
Ia mengalihkan pandangannya pada Max. Pemuda itu tampak sibuk mencoret - coret kertas dengan pensilnya. Wulan mencebik. Apa dia tengah mengerjakan soal?
Mungkin roh Raja Louis XIV sedang merasukinya. Wulan tertawa dalam hati.
"Okay, ayo kumpulkan kertas soal kalian!" seru Wulan, setelah sepuluh menit berlalu.
Mereka tidak menggubris seruan Wulan, namun satu persatu mereka mengumpulkan kertas soal ke atas mejanya sembari mengantri keluar dari kelas.
Wulan menepuk jidatnya. Hanya ada dua orang yang mengerjakan. Lainnya, masih berupa soal tanpa jawaban.
"Hei, Etienne!" seru Wulan yang melihat Etienne hendak keluar kelas tanpa menyerahkan selembar kertas yang dibawanya. "Mau kemana kau? Sini kumpulkan dulu soalmu."
Etienne meringis sembari mengelus tengkuknya. "Aku belum mengerjakannya, Miss. Soalnya terlalu susah untukku."
Wulan merebut kertas di tangan Etienne. Lalu mendecak kesal. "Sudah sana!" usirnya pada pemuda itu.
Kini giliran Max yang berjalan ke arahnya. Menyerahkan kertasnya pada Wulan.
"Jawabanku ada di balik kertas," ujarnya sembari berlalu. Sekilas Wulan menangkap senyum tipis Max tersungging.
Wulan membalik kertas yang Max serahkan padanya. Matanya membulat sempurna.
Sebuah lukisan pensil dirinya yang tengah duduk di belakang meja dengan muka ditekuk dan lengan dilipat di depan dada. Di bagian bawahnya tertulis sederet kata dalam bahasa Inggris berbunyi, your face is horrible (wajahmu jelek).
Sialan anak itu.
Wulan kesal, bercampur kagum memandangi lukisan pensil yang halus dan mendekati realis itu. Ia tersenyum sembari menyelipkan kertas ke dalam bukunya.
***
***
***
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 85 Episodes
Comments
Vlink Bataragunadi 👑
aku kyknya nyerah duluan deh kl dikasih murid ky gini stress aku (╥﹏╥)
2022-12-16
0
🐊⃝⃟ Queen K 🐨 코알라
Ow.... ow... ow..... Max mulai jinak 🤣🤣🤣
2021-07-29
0
sami
haduh ga kebayang kalo saya suruh ngajar kelas yg anak2nya bengal semua gitu..
mending resign dech😅
2021-06-17
0