Sudah lima menit lalu kelas berakhir, namun Wulan masih duduk di kursinya. Telapak tangannya menopang kepalanya yang tertunduk dengan kedua siku di atas meja.
Kelas hening. Sepertinya semua siswa telah meninggalkan ruangan. Wulan masih tak berniat beranjak dari duduknya. Sedari pagi kepalanya sudah terasa berat. Ditambah lagi mengajar anak - anak bengal yang tentu saja menguras emosi dan tenaganya.
Wulan pelan mengangkat kepalanya ketika ada seseorang mengetuk - ngetuk mejanya.
"Hei, minum alkohol dan begadang tidak baik untuk wanita seumuranmu." Wajah tengil Max tepat berada di depan wajahnya karena posisi badannya yang condong ke arahnya.
Wulan mengerenyitkan keningnya heran. Wanita seumuranku? Dia mengatakannya seakan - akan aku ini wanita tua, sialan!
"Lihat matamu mirip .. panda," ujar Max seraya memutar - mutar jari telunjuknya di dekat matanya sendiri. Senyumnya tipis saja namun mampu membuat darah Wulan mendidih.
Namun sejurus kemudian Wulan bertanya - tanya dalam hati. Dari mana anak ini bisa tahu kalau semalam ia begadang dan minum - minum.
Mungkin Max hanya menebak saja.
Wulan buru - buru membereskan buku - bukunya di atas meja dan mengejar langkah Max keluar dari kelas.
"Max, aku sungguh - sungguh dengan perkataanku kemarin. Kau harus mengunjungi Patrick di Les Marais," ujar Wulan.
Max tak bergeming. Ia terus saja berjalan menelusuri koridor.
"Max, aku tahu kau punya masalah dengan keluargamu, atau lingkungan tempat tinggalmu, atau apa pun itu, tapi jangan biarkan semua itu menghancurkanmu. Kau harus tetap semangat dan meraih masa depanmu."
"Kau tidak tahu apa - apa tentang hidupku," sahut Max.
"Kalau begitu bagaimana kalau kau memberitahuku?" tantang Wulan. "Aku bisa memposisikan diriku sebagai teman bicara yang baik."
Max menyeringai. Lalu menoleh ke arah Wulan sekilas.
"Bagaimana dengan hidupmu sendiri?" Max balik bertanya.
"Apa?"
"Kau mau jadi pahlawan sementara kau sendiri tidak bisa mengurus hidupmu?"
Wulan tersentak mendengar perkataan Max. "Apa maksudmu?"
Max tersenyum sinis. "Urus hidupmu terlebih dahulu, Miss, baru kau bisa mengurus hidup orang lain," ujarnya sembari mempercepat langkahnya meninggalkan Wulan.
"Kau ...!" Wulan mengepalkan kedua tangannya geram. "Dasar anak menyebalkan," desisnya.
***
Sembari menyandarkan punggungnya di dinding luar sekolah, Max memperhatikan Wulan di kejauhan yang sepertinya tengah dirayu oleh Damien untuk masuk ke dalam mobil pria itu.
Etienne yang baru saja datang, menggerak - gerakkan telapak tangannya di depan wajah Max sembari mengikuti arah pandangan sahabatnya itu.
"Oo, Max!" panggilnya ketika beberapa saat Max tak menggubris kehadirannya.
Max mengangkat tangannya. Memberi isyarat pada Etienne untuk diam. Ia berjalan meninggalkan Etienne dengan wajah bengongnya, menuju ke arah Damien dan Wulan yang berdiri di sisi jalan.
"Miss, aku ingin bicara!" serunya membuat Wulan dan Damien terkejut. "Tentang pelajaran," lanjutnya menjawab keheranan kedua Guru itu.
"Harus sekarang? Ini sudah di luar jam sekolah, kami berencana untuk minum kopi," sahut Damien menunjukkan wajah tak sukanya.
"Je ne parle pas avec toi (aku tidak bicara denganmu)," tukas Max pada Damien. "Miss?" Ia memandang ke arah Wulan.
"Emmm .. ya, tentu saja," jawab Wulan ragu - ragu. Ia tidak yakin Max ingin berbicara tentang pelajaran dengannya. "Sorry, Damien, may be next time (mungkin lain kali)," ujarnya sembari melangkah meninggalkan Damien yang tampak kecewa.
Etienne yang melihat Max dan Wulan berjalan beriringan ke arahnya menggaruk kepalanya yang tidak gatal sama sekali.
"Aku pergi dulu," ucapnya pada Etienne.
Etienne memandang ke arah Wulan. Sementara Wulan hanya mengangkat tangannya sembari mengedikkan bahunya.
"Max, kau ini aneh sekali." Wulan yang berjalan di samping Max berucap. "Kau ingin membicarakan pelajaran denganku? Rasanya mustahil."
"Memang tidak." Max mencebik. "Aku hanya ingin membuat kesal Si Damien menyebalkan itu."
Wulan mendecak. "Sepertinya kau punya masalah besar dengan Damien, ya?"
"Aku tidak menyukainya. Itu saja," ucapnya membuat Wulan geleng - geleng kepala.
Max terus berjalan di trotoar entah menuju kemana. Wulan terpaksa mengikuti langkah pemuda itu. Sampai di seberang tangga menurun stasiun bawah tanah Michel - Ange Auteuil, Max tak menghentikan langkahnya. Ia terus saja berjalan lurus ke depan.
"Max, bagaimana kalau akhir pekan ini kita pergi ke Le Marais?" tawar Wulan. "Kita temui Patrick."
"Terserah," sahutnya.
"Okay." Wulan tersenyum senang. "Bagaimana kalau sekarang aku traktir kau makan."
"Aku belum lapar."
"Ayolah ...." Wulan berjalan mendahului Max sembari menoleh ke sana kemari, mencari restauran yang cocok dan tentu saja sesuai dengan isi dompet.
Ia berhenti di depan sebuah restauran Arabia yang berada di ujung persimpangan jalan. Wulan mengamatinya sejenak. Beberapa orang terlihat keluar masuk restauran.
Dari pintu masuk kaca, Wulan bisa melihat dengan jelas ruangan di dalam sana. Ia mengerjap - ngerjapkan matanya ketika melihat sesosok pria yang tengah bersiap - siap untuk keluar restauran.
Ia memastikan kalau pria yang dilihatnya itu adalah, Pierre.
Dadanya berdegup kencang. Wulan menggeser tubuhnya beberapa langkah dan merapatkan punggungnya ke dinding restauran. Ia merasakan keram di perutnya. Dadanya pun terasa nyeri. Keringat dingin membasahi keningnya.
"Miss? Ça va (kau tidak apa - apa)?" tanya Max terkejut. Disentuhnya punggung Wulan pelan.
Wulan mengangkat tangannya. Memberi tanda kalau ia baik - baik saja. Sementara Max menoleh ke pintu restauran, mendapati seorang pria tampan berjambang tipis dengan rambut rapi dan mata abu - abunya, mengandeng seorang wanita berambut pirang, berjalan ke arahnya dan Wulan.
"Wulan?" panggil pria itu.
Wulan mengangkat wajahnya pelan. Benar adanya. Pierre. Pria itu ada di hadapannya. Pria yang memporakporandakan hatinya. Pria yang membuat lima tahun dalam hidupnya seperti berada dalam limbo, dunia antara hidup dan mati.
Pria yang pernah sangat ia cintai.
Bibir Wulan bergetar. Ia bahkan tak mampu mengucapkan nama pria itu. Matanya nanar memandang ke arah wanita yang berada di samping Pierre. Sepertinya ia diperlakukan dengan baik oleh mantan suaminya itu. Lihatlah, Pierre menggandeng mesra tangannya. Hati Wulan terasa perih.
Kenapa kau tidak pernah menggandengku seperti itu, Pierre.
Max memposisikan dirinya di samping Wulan dan menatap tajam pada Pierre. Sepertinya ia mengerti apa yang sedang terjadi. Ia dengan mudah menebak siapa pria di hadapannya ini.
"Apa kabar, Wulan?" tanya Pierre. "Ah, perkenalkan ini Amelie, calon isteriku."
Wanita yang dipanggil Amelie itu tersenyum. Sebuah senyum penuh kemenangan.
Wulan tercekat. Ia mengenal nama itu. Calon isteri? Secepat itu. Tentu saja, mereka telah menjalin hubungan lama. Jauh sebelum perceraiannya dengan Pierre.
"Dan kau?" tanya Pierre pada Max.
"Aku kekasihnya." Max merangkul Wulan mesra. Maraih dagunya dan melu mat bibir tipisnya lembut.
Wulan yang tak menyangka akan mendapat perlakuan seperti itu dari Max tak sempat menghindar. Ia membulatkan matanya. Terkejut bukan main.
"Kami akan bertunangan sebentar lagi," ujar Max begitu melepaskan ciumannya.
Pierre terbahak. " Ah bon (ohya)?" Ia memandang Wulan tak percaya. "Apa kau begitu putus asa sampai - sampai menjadikan seorang anak remaja sebagai kekasihmu?"
"Hei, umurku 25 tahun, okay?" hardik Max geram. "Allez, Bébé (ayo, sayang)!"
Max meraih lengan Wulan kemudian berlalu dari hadapan Pierre dan Amelie.
Wulan masih saja terdiam. Ia terlihat shock. Hingga beberapa meter mereka berjalan, ia berhenti dan menarik kasar lengannya dari genggaman Max.
Plakk.
Satu tamparan mendarat di pipi Max. "Kau benar - benar kurang ajar!" teriaknya.
Max mengelus pipinya yang terasa panas.
"Keterlaluan sekali kau, Max. Aku Gurumu, for god's sake (demi Tuhan)!"
"Hei, aku hanya ingin membantumu," erang Max.
Wulan hendak menampar kembali wajah Max namun segera diurungkannya. Ia menghentakkan telapak tangannya yang terkepal erat.
Tanpa menoleh pada Max, Wulan berlalu cepat dari hadapan pemuda itu.
"Miss!" panggil Max. Namun Wulan tak menghiraukannya. Ia terus saja melangkah menjauh.
"Miss!"
"Wulan!"
"Merde (sial)!" makinya.
***
***
***
Terimakasih Kangspoer a. k. a Septira Wihartanti author kecenya Lady's Gentleman atas rekomendasi visualnya Maximilian. 🤣🤣
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 85 Episodes
Comments
Byla
Dan ya Othor kesayanganku juga Septira.. Dan gw mulai tertarik nih baca kisah ini.. Menarik.. Salam kenal Othor Lady
2022-01-17
0
Byla
Shuuttt man!!
2022-01-17
0
🪴Thalia💚
Cool!!!!!!
2021-12-25
0