Dengan mantap Wulan mendorong pintu kelas yang sedikit terbuka dan melangkah masuk. Suasana kelas yang tadinya ramai kini hening. Belasan pasang mata menatapnya penuh selidik.
Wulan menyapu pandangannya ke seluruh ruangan kelas. Dipandanginya wajah - wajah anak remaja di hadapannya itu. Matanya menangkap lima siswa yang ia temui beberapa saat lalu. Mereka terlihat saling berbisik dan menahan tawa. Dalam hati Wulan mendengus. Ini tidak akan mudah.
"Good morning." Wulan menyapa dengan bahasa Inggris. "Namaku Wulandari Laksana, aku guru Bahasa Inggris kalian yang baru."
Suara berisik mulai terdengar di seluruh ruangan kelas.
"Sial, aku kira kau murid baru." Sebuah suara menyeletuk dari arah pojok ruangan. Disambut gelak tawa seisi kelas.
Wulan menghela napas dalam - dalam. Suara itu berasal dari salah seorang gerombolan lima siswa yang menendang bola ke arahnya.
"Terimakasih untuk sambutan hangatnya, Anak - anak," sindir Wulan.
Ia meraih buku panjang berwarna hijau di atas meja dengan tulisan Registre De Présence Quotidien (Buku Kehadiran Harian) di sampulnya.
"Okay ... aku ingin mengenal kalian satu persatu." Wulan kembali menyapu pandangannya ke seluruh ruangan. Sebagian siswa sibuk saling mengobrol satu sama lain, sementara yang lainnya bermain - main dengan sobekan - sobekan kertas yang digulung dan melemparkannya satu sama lain. Mereka sama sekali tidak mempedulikannya.
"Jerome Cotillard?" panggil Wulan seraya menatap sekeliling ruangan.
"Oais, c'est moi (Ya, aku) ," sahut seorang siswa berambut cepak dan pirang dengan malas.
"Jules Lingevin?"
"Oais." seorang siswa bertubuh ceking dengan jaket hoodie kedodorannya mengangkat tangan.
"Etienne Kwame?"
"Oui, c'est moi, Sexy (Ya, aku, Sexy)." Siswa berkulit hitam yang dipanggil Etienne berseru dari pojok ruangan. Disambut sorak - sorai dari seluruh penjuru kelas.
"Merci (terimakasih), Etienne." Wulan tersenyum dramatis. "Maximilian Guillaume?" lanjutnya di tengah - tengah suara gemuruh kelas.
"Maximilian Guillaume?" ulangnya setelah beberapa saat tak ada jawaban dari siswa yang bernama Maximilian.
"Alors, il est ou, Max? (wah, mana Max)?" gumam Etienne seraya memukul bahu temannya yang duduk di depannya.
Perhatian Wulan tertuju pada pemuda yang duduk di depan kursi Etienne. Si pelempar bola berkulit pucat dan berambut hitam setengah gondrong yang diikat sembarangan.
Ia hanya mengangkat tangannya tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Wajah tampannya yang angkuh dengan jelas menantang tatapan tajam dari Wulan.
"Owh, namamu Max," ujarnya dengan senyum sinis.
Senyum tipis Max tersungging seraya menoleh ke kanan dan kirinya, menanggapi gerombolannya yang kini menggodainya seraya melemparinya dengan buntalan - buntalan kertas.
Wulan kembali menarik nafas dalam - dalam. Sungguh berat pekerjaannya ini. Menghadapi siswa - siswa SMA yang sepertinya akan sangat sulit untuk diatur.
Ia melanjutkan mengabsen nama - nama seluruh kelas yang berjumlah dua puluh orang hingga selesai.
"Baiklah, kita mulai saja pelajarannya!"
***
Adrienne terbahak melihat Wulan yang tertunduk memijit tengkuknya. Wanita itu mengerti apa yang baru saja dialami oleh rekan kerja barunya itu.
"Bagaimana kesanmu tentang kelas 12?" tanya Adrienne seraya menyeruput kopinya.
"Ouh ... mereka anak - anak yang sangat ramah dan menyenangkan." Wulan berucap ironis.
"Jadi?"
Wulan menyuapi dirinya dengan sesendok kentang rebus dan potongan daging sapi panggang. "Aku adalah seseorang yang tidak mudah menyerah."
"Aku suka semangatmu, Wulan."
"Aku butuh pekerjaan ini, jadi, aku harus bertahan," kekehnya seraya menyapu pandangan ke sekelilingnya.
Suasana cafeteria tampak ramai. Siswa dan guru membaur jadi satu di jam makan siang seperti ini. Mata Wulan menyipit ketika melihat sesosok wajah angkuh muncul dari pintu cafe diikuti oleh beberapa remaja di belakangnya. Termasuk Etienne.
"Kau lihat siapa?" tanya Adrienne membuatnya terkesiap.
"Ouh, hanya beberapa siswa dari kelas 12 yang unik." Wulan mengacungkan kedua jari telunjuknya dan membentuk tanda kutip.
Adrienne menoleh ke belakangnya dan memutar kedua bola matanya. "Max dan teman - temannya. Mereka yang paling nakal dari yang nakal." ujarnya.
"Yeah, aku tahu."
"Mereka tinggal di Stalingrad, kau tahu bukan lingkungan seperti apa itu?"
"Ya," sahut Wulan cepat. Dia menoleh kembali ke arah Max yang secara kebetulan juga tengah menatap ke arahnya. Pemuda itu menyunggingkan senyum tipis dan sinisnya. Buru - buru Wulan mengalihkan pandangannya pada piring makan siangnya.
"Mereka benar - benar tidak punya sopan santun dengan Guru," gumam Wulan.
"Begitulah ...."
Terdengar suara gelak tawa dari arah Max dan yang lainnya. Namun Wulan tak berniat untuk memperhatikan mereka.
***
Max menyandarkan punggungnya di pagar luar sekolah sembari menghisap rokoknya dalam - dalam. Di sampingnya Etienne dan beberapa temannya sibuk saling bergurau satu sama lain.
"Miss!" seru Etienne tiba - tiba sembari melambai ke arah Wulan yang baru saja muncul dari gerbang sekolah. "Kenapa terburu - buru?" godanya.
Pandangan mata Max beralih pada sosok mungil dengan rambut hitam indah tergerai dan berwajah manis itu.
"Jangan merokok di lingkungan sekolah!" seru Wulan sembari memandang Max sekilas, kemudian berlalu meninggalkan anak - anak remaja itu.
Etienne terbahak sembari menyenggol bahu Max. "Jangan merokok!" serunya sembari mengambil rokok dari jemari Max dan menghisapnya sendiri.
Max mendecak kesal. Dia menoleh memandangi punggung Wulan yang mulai menjauh.
"Boleh juga Guru baru itu ya, benar kan, teman - teman?" celetuk Etienne disambut gelak tawa teman - temannya.
Max memukul ujung kepala Etienne keras. "Seleramu wanita tua!" serunya. "Jangan lupa nanti malam, tempat biasa!" serunya sembari berlalu dari hadapan Etienne yang tengah mengelus - elus kepalanya.
***
***
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 85 Episodes
Comments
𝕭𝖚𝖊 𝕭𝖎𝖒𝖆 💱
oohh max yg ini....kesayangan cicik 😄😄😄
2021-06-08
2
Daisy🇵🇸HilVi
kirain maxime boutier thor🤭
2021-05-29
3
atmaranii
mnarik thorr crtamu...smngatt
2021-05-25
1