LICÉE COLLÉGE JEAN - BAPTISTE SAY, SURESNES, PARIS.
Wulan membasuh wajahnya dengan air segar guna menghilangkan rasa kantuk yang menyerangnya siang ini. Ia memperhatikan wajahnya di pantulan cermin di atas wastafel toilet khusus guru. Diambilnya sebuah lipstik dari dalam tasnya. Lalu memoles bibirnya dengan warna salem yang manis.
Ia tersenyum pada seorang wanita yang baru saja masuk ke dalam toilet. Kemudian menyambar tasnya dan beberapa buku yang terletak di sampingnya dan melangkah keluar.
Wulan sibuk merapikan buku - bukunya hingga tak terlalu memperhatikan langkahnya, ketika bahunya menyenggol bahu kokoh seseorang dan membuatnya terkesiap.
"Owh, je suis désolé (aku minta maaf)," ucapnya seraya mengangkat wajahnya, mendapati sesosok tampan berjambang tipis di hadapannya.
"C'est pas grave (tidak apa - apa), aku yang tidak memperhatikan jalan," sahut sosok tampan itu sembari menyunggingkan senyumnya. "Owh, kau murid baru di sini? Aku baru pertama kali melihatmu," sambungnya.
Wulan terbahak. "Aku guru baru di sini."
"C'est pas vrai (ah masa)." Ia pun tercengang. "Kau terlihat seperti anak kelas 12."
"Itu sebuah pujian," sahut Wulan.
"Je m'appelle Damien (namaku Damien)." Pria yang menyebut namanya Damien itu mengulurkan tangannya. "Aku guru pembimbing di sini."
"Wulan. Guru Bahasa Inggris baru. Senang bertemu denganmu." Wulan menyambut uluran tangan Damien.
"Enchanté (senang bertemu denganmu)."
Wulan mengangguk. "Maaf, aku permisi dulu. Aku ada kelas sekarang."
"Oui, à tout à l'heure (ya, sampai nanti)."
Wulan berlalu dari hadapan Damien dan berjalan cepat menelusuri koridor menuju ke area kelas 12.
Damien memandangi punggung mungil Wulan yang mulai menjauh. Bibirnya tersenyum dan mencebik. Lalu melangkah ke arah berlawanan.
***
"Good Morning."
Wulan menyapa dan mengedarkan pandangannya ke seluruh kelas. Nampak Max duduk diam dan menunduk dengan hoodie yang menutupi kepala dan sebagian wajahnya.
"Sudah kalian kerjakan PRnya?" tanya Wulan.
Tak ada jawaban. Tak ada yang menggubrisnya. Hanya terdengar gelak tawa dan keributan. Wulan menghela nafas dalam - dalam.
"Aku sudah megerjakannya, Miss." Suara Etienne terdengar diantara keributan kelas.
"Okay, coba aku lihat." Wulan berjalan mendekat pada Etienne. Dia melirik Max sekilas. Pemuda itu tak bergeming.
Wulan memeriksa buku yang disodorkan Etienne padanya. Dia mengangguk - angguk.
"Bagus, Etienne." Wulan menepuk - nepuk pundak pemuda berkulit hitam itu. "Yang lain sudah ada yang mengerjakan?" tanyanya pada seisi kelas. Tentu saja tidak ada yang menggubrisnya.
"Max, buka penutup kepalamu." Wulan meraih hoodie yang menutup kepala Max, namun pemuda itu dengan cepat menepis tangannya.
Sekilas Wulan melihat memar di pelipis Max.
"Ada memar di pelipismu. Kau baik - baik saja?" tanya Wulan.
"Bukan urusanmu!" seru Max seraya menjauhkan kursi yang didudukinya dari Wulan.
"Biar kulihat."
"Menjauhlah dariku!" Max kembali menepis tangan Wulan yang hendak memeriksa pelipisnya.
Wulan menggeleng pelan.
"Etienne, bisa kau tulis jawabannya di papan tulis?"
"Okay, Miss," kekeh Etienne seraya mengikuti langkah Wulan menuju ke depan kelas.
Etienne berdiri di depan papan tulis dan tersenyum jahil pada Wulan. Ia mengendus tubuh Wulan dengan tiba - tiba.
"Bersikaplah sopan, Etienne!" seru Wulan seraya mendorong wajah Etienne menjauh darinya.
Etienne terbahak seraya mengangkat kedua tangannya. Dia segera menuliskan jawaban beberapa soal Pekerjaan Rumah di papan tulis.
"C'est bien, Etienne, merci (bagus, Etienne, terimakasih), kau boleh kembali ke kursimu."
Etienne menghadiahi Wulan sebuah ciuman jarak jauh sembari terkekeh. Wulan menggelengkan kepalanya. Ia memandang Max sekilas yang tanpa ia duga tengah menatap tajam ke arahnya. Wulan buru - buru mengalihkan pandangannya pada buku yang sedang dipegangnya.
"Anak - anak, mohon perhatiannya, s'il vous plaît (tolong)!" serunya seraya mengetuk - ngetuk meja dengan penghapus whiteboard. Meminta perhatian pada seisi kelas yang masih saja tak menggubrisnya. Saling mengobrol satu sama lain, membuat keributan, dan ada juga yang tertidur sembari menelungkupkan kepala di atas meja.
"Diam semua! Nona Cantik mau bicara!" seru Etienne tiba - tiba. Membuat seisi kelas hening sejenak. Namun sejurus kemudian, buku - buku beterbangan ke arah pemuda itu. Suasana menjadi riuh kembali.
"Ya Tuhan ...." gumam Wulan lirih seraya memijit keningnya.
Simple Present Tense.
Wulan menuliskan tiga kata itu di papan tulis untuk memulai pelajarannya.
"Sudah pernah mendengarnya?"
"Okay, rumus ini digunakan untuk kalimat kejadian yang sedang berlangsung, atau bisa juga menyatakan kebiasaan."
Subject + Verb 1 (s /es) + Object.
"Ingat, penambahan s atau es dalam Verb 1 hanya untuk subject ...."
He, She, It.
"Sedangkan Verb 1 yang tidak ditambahkan s atau es, berlaku untuk subject ...."
I, You, We, They.
"Aku berikan contoh untuk kalian ...."
He goes to school everyday.
I go to school everyday.
Wulan yang tengah menghadap ke arah papan tulis dan menuliskan beberapa kalimat di sana mendengar suara kursi di tarik dengan kasar. Dan ketika ia menoleh, dilihatnya Max dengan tas di punggungnya tengah melangkah keluar kelas.
"Max, kau mau kemana?" tanya Wulan.
"Aku bosan," jawabnya dingin.
"Kau pikir bisa meninggalkan kelas seenaknya?" hardik Wulan geram.
Max hanya menyeringai. Lalu tanpa menanggapi perkataan Wulan, ia berlalu meninggalkan kelas.
Wulan menghela napas dalam - dalam. Mencoba menahan kekesalan dalam hatinya.
"Anak - anak, tolong perhatikan pelajarannya!" serunya sembari mengetuk - ngetuk papan tulis dengan penghapus.
"Tolong ... perhatikan ... pelajarannya!" Ia mengulang seruannya sembari menggedor papan tulis dengan kepalan tangannya.
Namun tetap saja tidak ada yang menggubrisnya.
Wulan mengusap wajahnya dengan kasar. Mengatur nafasnya guna mengendalikan rasa marah yang mulai memuncak.
Anak - anak sialan!
***
Dari jauh, Wulan melihat Damien yang tengah berbicara serius dengan dua orang siswa lelaki dan perempuan. Ia mendekati mereka dan berdiri di belakang Damien.
"Kalian berdua ke ruanganku sekarang!" seru Damien dengan suara beratnya.
Dengan wajah sebal, kedua siswa itu berlalu dari hadapan Damien.
"Qu'est qui passe (ada apa)?" tanya Wulan.
"Owh, hei, Wulan," sapa Damien begitu melihat Wulan telah berdiri di belakangnya. "Ah, itu, aku menangkap basah mereka berbuat tidak senonoh di dekat toilet."
"Ya ampun." Wulan bergumam.
"Bagaimana kelasmu?" tanya Damien yang melihat wajah Wulan penuh kesuraman.
"Menyenangkan." Wulan berucap ironi.
Damien terbahak. "Owh, aku harus memberi bimbingan pada dua siswa bandel tadi. Mau minum kopi nanti setelah jam sekolah selesai?" tawar Damien.
"Oais, bien sûr (ya, tentu)."
"D'accord, alors à bientôt (kalau begitu sampai nanti)," ucap Damien sembari melempar senyumnya dan disambut dengan anggukkan kepala Wulan.
***
***
***
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 85 Episodes
Comments
Dewa Qin
wiiih ngadepi murid kayak mereka bisa2 sebulan langsung serangan jantung
2023-07-16
0
🐊⃝⃟ Queen K 🐨 코알라
Damian kayanya mencurigakan
2021-07-29
3
Seikha Aludra
Bikin esmoni tiap hari ini mah
2021-07-05
2