Wulan terkejut ketika menyadari Adrienne, rekan sesama gurunya, melongok pada selembar kertas yang tengah dipandanginya sembari menyunggingkan senyuman - senyuman kecil.
"Wow, siapa yang melukisnya? Bagus sekali," ujarnya terkagum - kagum.
"Sangat bagus sampai - sampai ekspresi wajahku yang jelek terlihat begitu jelas," seloroh Wulan. Namun dalam hati ia begitu memuji hasil coretan tangan Max itu.
Ia tak menyangka. Max ternyata mempunyai bakat terpendam yang luar biasa. Sayang sekali semua itu tenggelam oleh sikapnya yang bengal. Mungkin Wulan harus melakukan pendekatan pada anak itu. Ia yakin Max punya potensi yang tinggi. Max butuh seseorang yang memberi dukungan padanya. Sebagai pengajar, mungkin itu salah satu tugas Wulan.
"Ada yang mencarimu," kata Adrienne seraya memajukan dagunya ke arah pintu ruangan.
Wulan yang tengah membereskan buku - bukunya dan bersiap untuk pulang melempar pandangan ke arah pintu dan mendapati Damien yang baru saja masuk. Senyuman pria itu tersungging.
"Kau pacaran dengan Damien?" tanya Adriene setengah berbisik.
Wulan terbahak dan menggeleng. "Tentu saja tidak," bisiknya. Lalu beranjak dari duduknya dan berjalan mendekati Damien.
"Kau sudah selesai? Aku antar pulang, ya?" tawar Damien begitu mereka berjalan melewati koridor.
"Tidak usah, aku naik métro (kereta bawah tanah) saja," tolak Wulan halus.
"Atau mau minum sesuatu, mungkin?"
"Emmm .. aku sedikit lelah, désolé (maaf), Damien."
Damien mengangkat kedua bahunya sembari mencebik. "Bon, ben, a demain alors (ya sudahlah, sampai besok kalau begitu)," ujarnya. Lalu melangkah meninggalkan Wulan.
Wulan pun melangkah ke arah yang berlawanan. Ia melihat Max yang tengah mengunci lokernya. Lalu menyampirkan tas ke punggungnya, bersiap untuk pergi.
"Max!" panggil Wulan membuat Max menghentikan langkahnya.
"Quoi (apa)?" tanya Max dingin. Ia melanjutkan langkahnya tanpa menunggu jawaban Wulan. Membuat Wulan berlarian mengejar langkah panjangnya.
"Hei, lukisanmu bagus sekali, Max. Ya, walaupun wajahku terlihat jelek," kekeh Wulan. "Tapi aku serius. Kau sangat berbakat."
Max hanya menarik sudut bibirnya. Ia tak terkesan dengan pujian Wulan.
"Kau sering melukis?" tanya Wulan.
"Tidak."
"Sayang sekali." Wulan merengut kecewa. "Padahal potensimu besar sekali, Max. Kalau kau bisa mengembangkan bakatmu, kau pasti akan menjadi pelukis yang hebat."
"Hmmm ...." Hanya itu yang keluar dari mulut Max.
Keduanya kini telah berada di luar gerbang sekolah. Max berjalan menelusuri trotoar tanpa memperdulikan Wulan yang terus berjalan di sampingnya.
"Apa kau pernah mengunjungi sebuah galeri lukis kecil di dekat Museum Picasso? Di Les Marais. Aku dan suamiku pernah membeli satu lukisan di sana. Pemiliknya seorang kakek, emm .. kalau tidak salah namanya ...." Wulan berpikir sejenak sembari mengelus dagunya.
"Patrick!" seru Wulan.
Dada Max berdegup kencang. Namun ia tetap tak bergeming.
"Aku rasa kau harus bertemu dan belajar darinya. Lukisannya sangat bagus. Mungkin satu aliran denganmu."
"Kau sudah bersuami?" tanya Max tiba - tiba. Tanpa menoleh pada Wulan di sampingnya.
"Hah?" Wulan terkesiap. "Emm .. maksudku, mantan .. suamiku." Ia tercekat. Rasanya masih janggal memanggil Pierre dengan sebutan mantan suami.
Max menuruni tangga stasiun kereta bawah tanah diikuti dengan Wulan.
Michel-Ange Auteuil, nama stasiunnya.
"Kenapa kau mengikutiku?" tanya Max begitu mereka tiba di samping rel kereta, menunggu métro datang.
"Kita satu arah, Max," tegas Wulan.
***
Max membuka pintu apartemennya pelan. Ruang tamu yang tak terlalu besar tampak lengang. Ia tidak melihat Ayahnya di sana. Biasanya pria paruh baya itu tengah menenggak minuman sembari menunggunya pulang, dan menggeledah isi dompetnya.
Namun ruangan itu hening.
Max yang merasakan ada sesuatu yang aneh segera melangkah menuju kamar Ayahnya. Pintunya sedikit terbuka. Max membuka pintu pelan dan terperanjat mendapati Sang Ayah tergeletak di lantai dengan posisi menelungkup.
"Oh, no, Papa!" serunya sembari menghambur pada pria itu dan dengan susah payah membalikkan badannya.
"Papa!" panggilnya seraya menepuk - nepuk pipi Ayahnya. "Papa! Papa!" Max semakin panik. Dia mengguncang tubuh Ayahnya dengan keras.
"Ludovic!" panggil Max putus asa.
Ludovic, Sang Ayah, membuka matanya pelan. Dia mengerjap - ngerjapkan matanya. Lalu memandang sekeliling. Begitu melihat sosok Max yang tengah memegangi dadanya, ia segera menepis tangan puteranya itu.
"Minggir!" hardiknya seraya mendorong tubuh Max hingga terjengkang ke belakang.
"Putain (sialan)!" maki Max antara kesal dan lega melihat Ayahnya baik - baik saja. Ia menangkup kening dengan kedua tangannya.
"Sedang apa kau di sini, sana keluar!"
Max memukul lantai dengan kepalan tangannya. Lalu segera bangkit dan melangkah meninggalkan kamar Ludovic.
Ia terduduk lesu di lantai kamarnya sembari menyandarkan punggungnya ke tepian ranjang.
Sudut matanya mengembun.
Laki - laki tidak boleh menangis.
Dengan sekuat tenaga Max menahan agar air matanya tidak terjatuh. Ia mendongak menatap langit - langit kamarnya.
***
RUE DE LA ROCHELLE, STALINGRAD, SURESNES.
Gang itu sempit, kumuh dan penuh dengan bak sampah. Max, biasanya melakukan transaksi penjualan cannabisnya di tempat itu.
Seperti saat ini, Max ditemani oleh Etienne, tengah menemui seseorang yang beberapa hari lalu memesan barang darinya.
Transaksi berjalan dengan lancar. 1000 euro masuk dalam kantongnya. Separuhnya akan disetorkan pada Nicholas dan Havier, si pemasok barang.
"Minum?" Etienne menaik - naik alisnya.
"Tentu," sahut Max sembari menghisap rokoknya dan membantingnya ke lantai. Lalu menginjaknya.
Keduanya bergerak keluar area Stalingrad.
.
.
Max dan Etienne duduk di lantai trotoar di deretan pertokoan yang telah tutup. Di seberang jalan ada toko liquor tempat di mana mereka membeli dua botol Benedectine beberapa saat lalu.
Max menenggak minumannya langsung dari botolnya. Merasakan cairan hangat yang mengalir di tenggorokannya.
"Hei, bukankah itu Miss Wulan?" tunjuk Etienne pada seseorang yang baru saja masuk ke dalam toko liquor.
Max melempar pandangannya ke seberang. Ia hanya melihat sekilas seorang wanita bermantel tebal dengan topi rajut musim dinginnya menghilang di balik pintu toko.
Beberapa menit kemudian wanita itu keluar dengan membawa satu tote bag yang ia apit dengan satu lengannya.
Max memberi isyarat pada Etienne untuk diam ketika melihat sahabatnya itu hendak memanggil Wulan yang berdiri mematung di depan toko, dengan wajah yang terlihat murung.
Tempat di mana mereka duduk cukup gelap. Sehingga Wulan tak bisa melihat keberadaan mereka. Namun Max dan Etienne bisa melihat wajah Wulan dengan jelas di bawah bias lampu jalan.
Sesekali Wulan terlihat menarik nafas dalam - dalam, lalu mendongakkan kepalanya ke langit beberapa saat, menyentuh wajahnya dan membuat gerakan seperti menghapus air mata di pipinya.
Max tertegun. Wanita mungil di seberang sana itu terlihat rapuh. Sendirian, kesepian.
Jika ia sedang memegang peralatan lukisnya saat ini, ingin rasanya menuangkan pemandangan indah di depan matanya itu ke atas canvas.
Woman from nowhere.
Mungkin begitu judul yang akan ia sematkan pada lukisannya.
Tak terasa pandangan matanya mengikuti gerakan tubuh Wulan yang mulai menjauh.
***
***
***
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 85 Episodes
Comments
Byla
Wulaan..
2022-01-17
0
Seikha Aludra
Cocok nih max-wulan😊
2021-07-06
0
Atoen_
aaah lagi2 penggambaran yg luar biasa... seolah-olah bisa melihat secara gamblang setting yg di ceritakan ... 👍👍👍👍👍
2021-06-03
0