Wulan berjalan mondar - mandir di kamarnya. Dadanya masih saja berdegup dengan kencang. Sesekali ia menarik nafas dalam - dalam sembari memegangi dadanya.
Entah karena perjumpaan tak disengajanya dengan Pierre yang membuatnya tertekan, gelisah dan panik seperti ini, atau karena kekurangajaran Max yang menciumnya secara tiba - tiba.
Wulan mengginggit - gigit kukunya. Lalu beberapa saat kemudian memijit - mijit keningnya. Tak berapa lama ia membungkuk memeluk perutnya.
Ia menghempaskan badannya ke atas ranjang. Berbaring terlentang memandangi langit - langit kamarnya. Wajah Pierre melintas di benaknya. Pria itu berhasil mencapai bahagianya, bersama dengan wanita yang mungkin selama ini ia damba.
Wulan mulai memutar kembali waktu. Perkenalannya dengan Pierre dari sebuah situs online dating membawanya pada beberapa kali pertemuan dengan pria bermata abu - abu itu. Pierre datang ke Indonesia untuk menemuinya. Ia jatuh cinta. Sangat. Hingga ia mengangguk setuju begitu pria itu melamarnya setelah satu tahun menjalin hubungan. Ia pun mengikrarkan janji hidup bersama dengan Pierre di depan altar. Menyerahkan seluruh hidupnya pada pria Perancis yang romantis itu.
Menginjakkan kaki di La République, Lyon menjadi kota pilihannya untuk mengulang kembali janji pernikahan mereka. Di suatu hari musim panas yang indah.
Satu tahun bersama, Pierre mulai menunjukkan perubahan sikap yang drastis. Entah karena stres dengan pekerjaan kantornya ataukah bosan, Pierre mulai menunjukkan sikap tempramennya. Masalah sepele bisa berujung lebam - lebam di wajah Wulan. Cinta membuatnya bodoh. Membuatnya lemah. Seburuk apa pun Pierre memperlakukannya, ia tak pernah mampu untuk melangkah pergi.
Ia sangat mencintai Pierre dan terus menggantungkan harapan padanya. Sampai pada setahun yang lalu Pierre lah yang pergi meninggalkannya. Membuatnya benar - benar terpuruk. Ia merasa gagal. Bahkan untuk kembali ke Indonesia saja ia tidak sanggup. Ia adalah tulang punggung keluarga. Selama hidup bersama, meskipun Pierre memperlakukannya dengan buruk, untungnya ia masih sudi bertanggung jawab memberi nafkah finansial pada Wulan, yang selalu ia kirimkan pada keluarganya di Indonesia.
Dan, dua minggu yang lalu, satu lembar kertas dari Pengadilan Tinggi Kota Nantes, membuatnya resmi menjanda. Tak seorang pun dari keluarganya yang tahu tentang perceraiannya dengan Pierre.
Belum saatnya mereka tahu, mungkin.
Wulan mengusap wajahnya kasar. Menarik nafasnya dalam - dalam untuk membuat dirinya menjadi lebih tenang.
Kini justru bayangan wajah Max, si bocah bengal itu yang melintas di benaknya tanpa permisi.
Apa yang dipikirkan anak itu ketika nekat menciumnya di depan Pierre. Benarkah ia hanya ingin membantunya? Agar ia tidak terlihat seperti seorang pecundang di hadapan pria yang telah menjungkirbalikkan dunianya itu.
Ataukah?
Ah, C'est pas possible ( ah, tidak mumgkin).
***
LYCÉE JEAN - BAPTISTE SAY, SURESNES.
"Miss!"
Max berlarian mengejar langkah Wulan yang baru saja masuk pintu utama sekolah. Ia meraih lengan Wulan ketika wanita cantik itu hanya menoleh ke arahnya sekilas dan melanjutkan kembali langkahnya menelusuri koridor.
"Aku minta maaf, Miss," ucapnya ketika Wulan kini berdiri di hadapannya. "Aku tidak bermaksud apa - apa. Hanya ingin membantumu. Ide menciummu terlintas begitu saja."
"Terimakasih, Max," sindir Wulan. Lalu berbalik badan hendak meninggalkan Max.
"Tunggu, Miss!" serunya kembali meraih lengan Wulan. Namun segera ditepisnya pelan.
"Apa lagi?" tanya Wulan dingin. Rasanya ia masih kesal dengan bocah bermata biru di depannya ini.
"Kita ke Le Marais akhir pekan ini. Ada sesuatu yang ingin kutunjukkan padamu."
Wulan memicingkan matanya. Menatap Max penuh selidik.
"D'accord (oke)?"
Wulan berpikir sejenak. Lalu menarik nafasnya dalam - dalam. Mata biru Max memandangnya dengan tatapan memohon. Wulan luluh.
"Okay."
Max tersenyum lebar seraya melangkah mundur dan membalikkan badannya meninggalkan Wulan.
Wulan menggeleng. Ia masih berdiri mematung sembari memandangi punggung Max yang mulai menjauh.
"Hmm .. sudah mulai akrab dengan si anak bengal itu rupanya."
Adrienne yang muncul entah dari mana membuat Wulan terperanjat. Ia hanya terkekeh menimpali rekan sesama gurunya itu.
"Aneh sekali. Baru kali ini aku melihat Max berbicara cukup dekat dengan seorang Guru." Adrienne berucap sembari mengimbangi langkah Wulan menuju ruang Guru. "Ditambah dengan senyuman," lanjutnya.
"Pendekatan pada para siswa. Bukankah itu tugas seorang Guru?" sahut Wulan.
"Ya, tentu saja. Tapi Max? Damien saja menyerah menghadapinya."
"Aku berusaha untuk membangun komunikasi yang baik dengan Max, dan juga murid - murid lainnya di sini."
"Hmm .. aku rasa lebih baik kau saja yang menjadi Guru Pembimbing," gurau Adrienne.
Wulan terbahak sembari membuka pintu Ruang Guru. Ia menyapa Paul dan Monique, lalu melangkah menuju meja kerjanya diikuti oleh Adrienne.
"Atau jangan - jangan anak itu menyukaimu, Wulan," kata Adrienne setengah berbisik.
Wulan membulatkan kedua matanya mendengar penuturan Adrienne. Ia menggeleng.
"Hati - hati, Wulan. Jangan sampai kau terjebak drama percintaan dengan muridmu sendiri."
"Kau bercanda," tukas Wulan.
"Aku serius, Wulan. Hmm .. aku terpaksa harus menceritakan ini padamu."
"Apa itu?" Wulan menggeser kursinya mendekat ke kursi yang tengah diduduki Adrienne.
"Ini tentang Damien," kata Adrienne. " Kasusnya terjadi satu tahun lalu. Pihak sekolah mengetahui hubungan terlarangnya dengan seorang murid dari kelas 11."
Wulan memasang wajah seriusnya. Menunggu Adrienne melanjutkan ceritanya.
"Aku menyebutnya hubungan terlarang karena memang di sini aturannya, tidak diperbolehkan seorang Guru menjalin hubungan asmara dengan Murid yang bisa dikatakan masih di bawah umur. Itu termasuk kekerasan seksual di mata hukum. Walaupun sebenarnya mereka melakukannya atas dasar suka sama suka. Akan menjadi skandal di sini."
Wulan mengangguk - angguk.
"Damien hampir saja dipecat. Tapi entah bagaimana akhirnya dia hanya diberi surat peringatan. Mungkin karena dia punya keluarga yang menjadi share holder di sekolah ini," kata Adrienne. "Nepotisme!" lanjutnya.
"Wow, Guru Pembimbing macam apa dia," gumam Wulan. Ia teringat kata - kata Max tentang ketidaksukaannya dengan Damien. Mungkin itu alasannya.
"Murid yang terlibat kasus dengan Damien itu masih berada di sekolah ini?" tanya Wulan penasaran.
Adrienne mengangguk. "Ya, satu kelas dengan Max. Namanya Nadia Kareem."
Kembali Wulan mengangguk - angguk. Tentu saja ia mengenal murid bernama Nadia Kareem itu.
"Berhati - hatilah, Wulan. Jangan sampai kau terlibat kasus seperti Damien dan Nadia."
"Tenang saja." Wulan menepuk - nepuk lengan Adrienne pelan. "Tidak akan pernah terjadi. Jatuh cinta dengan muridku sendiri? Membayangkannya saja terasa aneh."
Adrienne mencebik sembari mengangkat kedua tangannya.
"Apa pun bisa terjadi, Wulan. Aku hanya memperingatkanmu. Kau tidak ingin kehilangan pekerjaanmu, bukan?"
Wulan tersenyum. Tentu saja tidak.
"Bon, ben (baiklah). Aku harus masuk ke kelas. Sampai nanti, Adrienne," ujar Wulan seraya bangkit dari duduknya dan melangkah keluar dari Ruang Guru.
***
***
***
La Républic - Julukan untuk negara Perancis.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 85 Episodes
Comments
𝑀𝒶𝓎𝑀𝑜𝓊
nadia kareem🤔🤔🤔masih ada hubungan ama nadiem kareem ga🤭🤭🤭🤭
2021-06-20
0
Daisy🇵🇸HilVi
hais max suka sama nadin kah🤔
2021-05-29
0
Emi Wash
oh makanya max sebel sama damian...karna cinta segitiga sama kaki kah....?😀😀
2021-05-19
0